Aceh sulit bangkit karena tidak membuka diri

SULITNYA bagi Aceh untuk bangkit dari berbagai keterpurukan karena orang Aceh sulit membuka diri. Orang Aceh terlalu terpaku pada masa lalu yang melenakan, sehingga mata masih terpejam meskipun orangnya berjalan-jalan.

“Pola pikir masyarakat umum masih berputar-putar di sekitar wilayah tidak logis. Terutama mereka yang masih terlalu sibuk dengan berbagai kebiasaan tak bermanfaat, budaya-budaya primitif yang menolak logika,” kata Musmarwan Abdullah, seorang pemikir Aceh kepada Waspada, Rabu (6/8).

Pada umumnya Aceh sulit menerima sesuatu yang baru karena dianggap bertentangan dengan sosial budaya. Padahal, unsur-unsur pengetahuan dari luar banyak yang bisa disaring, diambil yang cocok, kemudian diamalkan, sehingga memunculkan pola pikir yang lebih kreatif.

Sejak 1990-an Musmarwan Abdullah sudah mengkritisi masalah Aceh dalam karya-karya tulisannya. Baik masalah ketimpangan sosial, kekerasan, ekonomi, politik, juga permasalahan rumah tangga yang banyak memberikan pengaruh dalam berbagai aspek kehidupan.

Lelaki bertubuh tegap dan berkulit gelap itu juga banyak mengamati perkembangan psikologi orang Aceh pasca konflik. Meskipun dua tahun mempelajari ilmu psikologi di salah satu Perguruan Tinggi di Medan, tapi dia mendalami bidang itu secara otodidak, juga mempelajari berbagai filsafat barat dan timur.

Pria lulusan Sarjana Bahasa Inggris ini, semasa konflik menulis berbagai kekerasan konflik di berbagai media cetak dengan bahasa yang lembut dan bersahaja. “Ketika itu saya harus menulisnya begitu. Kalau orang lain mengkritiknya karena mereka tidak tahu latar belakang masalah ketika itu,” kilahnya.

Selain itu dia juga mengkritisi sikap manusia sebagai perusak lingkungan, tidak ramah, dan sembarangan sebagai budaya yang merugikan dirinya, lingkungan dan satwa. Sampai sikap pejabat yang suka korupsi disindir laki-laki pengarang buku Pada Tikungan Berikutnya kelahiran Kembang Tanjong, Sigli, empat puluh tahun lalu.

Pria penggemar musik dan mahir bermain piano ini juga merambahi wilayah-wilayah yang lebih kompleks permasalahan rumah tangga, ketimpangan ekonomi, dan timbulnya dekandensi moral. Katanya, manusia begitu sulit mensyukuri apa yang sudah diberikan Tuhan, sehingga suka merampas milik orang lain, tak akan pernah puas.

Musmarwan terkenal sebagai penulis yang ramah, meskipun menyangkut peristiwa yang berdarah-darah.

Agaknya dia terpengaruh dengan karya-karya klasik Barat, yang suka membuat sindiran halus. Ini membuktikan bahwa pikirannya begitu matang. Artinya, dia bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak berapi-api, tapi mencerna dulu segala permasalahannya sebelum dituangkan dalam bentuk tulisan.

Dia yakin, kalau orang-orang Aceh mau menerima sesuatu yang baru, kelak daerah ini akan cepat berkembang. Seajuh ini, pemerintah Aceh sudah memperlihatkan perkembangan, meskipun masih tergolong lambat. Beberapa sektor pembangunan secara umum sudah nampak implementasinya, tapi belum menyentuh sampai ke kampung-kampung.

Source : Harian Waspada

Leave a Reply