3 Pemilu 3 Juara, Rakyat Terbiasa Perubahan

VIVAnews – Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi menyatakan bahwa pemilih di Indonesia paska reformasi sudah terbiasa dengan perubahan. Pandangan tersebut dia dasarkan pada tiga kali pemilu terakhir yang senantiasa berbeda.

“Secara historis, perubahan besar telah mewarnai Indonesia sejak reformasi bergulir tahun 1998. Setidaknya kalau observasi dibatasi pada partai apa yang mendapat dukungan rakyat paling banyak dan menjadi kekuatan utama dalam pemerintahan,” kata Burhan dalam konfrensi pers di Kantor LSI, Menteng, Jakarta, Minggu, 19 Februari 2012.

Burhan memaparkan perubahan pertama terjadi lewat pemilu 1999. Kemudian 2004, ketika dukungan pada PDIP anjlok hampir separuhnya, dari 34% menjadi 18,5%, sementara Golkar meraih posisi pertama dengan 22%.

“Perubahan politik kepartaian pada 2004 ditandai oleh kemunculan dua partai baru yang mendapat suara signifikan, yakni Demokrat (7,4%) dan PKS (7%),” ujarnya.

Sementara pada pemilu 2009 posisi teratas diambil alih oleh Demokrat dengan perolehan suara sekitar 21%. “Golkar merosot tajam, dari 22% menjadi 14%. Demikian juga PDIP dan partai-partai lain selain PKS,” katanya.

Burhan melihat dari pengalaman tiga kali pemilu tersebut, pola yang terlihat adalah perubahan kekuatan politik secara sangat berarti. Dia menilai tidak hanya berganti partai yang pada posisi pertama, tetapi berganti dengan partai berbeda.

“Tiga kali pemilu menghasilkan tiga partai berbeda yang mendapat suara terbanyak. Yang pasti (dari kondisi tersebut), rakyat Indonesia sangat terbuka terhadap perubahan politik, meski perubahan bisa ke arah yang lebih baik atau tidak,” ucapnya. (hp).

Source : vivanews.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply