Beda survei LSI dan SMRC soal kepuasan publik terhadap SBY

Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menunjukkan jebloknya suara Partai Demokrat telah menjadi pergunjingan publik, karena hasilnya yang anomali. Survei tersebut menyatakan kepuasan publik terhadap Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak sejalan dengan elektabilitas Partai Demokrat yang dibinanya.

Survei nasional yang dilakukan 6-20 Desember 2012 terhadap 1.220 responden itu menunjukkan 55,8 persen publik ‘sangat puas’ dan ‘cukup puas’ terhadap kinerja SBY. Namun demikian, angka tersebut itu tidak diikuti dengan elektabilitas Demokrat yang merosot hingga ke angka 8,3 persen.

“Sumber anomali itu adalah masalah internal di Demokrat sendiri, bukan di kinerja Presiden,” kata Direktur SMRC, Jaedi Hanan, Minggu (3/2).

Jaedi menjelaskan, Demokrat dalam dua tahun terakhir tidak mampu mengatasi opini publik yang sangat kuat bahwa kader-kadernya paling banyak melakukan korupsi.

“Bila masalah opini korupsi ini tak tertanggulangi pada 2013 maka Demokrat akan semakin merosot, atau setidaknya sulit untuk pulih dari keterpurukannya sekarang meskipun kondisi ekonomi dan kinerja presiden SBY dinilai massa nasional semakin positif,” papar Jaedi.

Tidak lebih dari empat jam setelah hasil survei dirilis, reaksi pun berdatangan dari elite Demokrat. Opini ‘korupsi’ itu dijadikan alasan para elite Demokrat agar SBY turun tangan menyelamatkan partai. Tindakan penyelamatan itu bahkan mengisyaratkan agar Anas – yang marak diberitakan negatif terkait korupsi Hambalang – diturunkan dari posisi ketua umum.

Jika melihat ke belakang, sebenarnya ada survei sejenis yang lebih dulu dirilis Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada 29 Januari lalu atau lima hari sebelum rilis SMRC. Meski dirilis lebih awal, riset lapangan lembaga pimpinan Denny JA ini lebih ‘update’ ketimbang SMRC. Riset lapangan LSI dilakukan pada 22-25 Januari 2013, sementara SMRC dua pekan sebelumnya yakni 6-20 Desember 2012.

Jika variabel ‘kepuasan kinerja’ dan ‘kepuasan kepemimpinan’ terhadap SBY dianggap sama, maka hasil survei dua lembaga itu sangat berbeda, meski dilakukan dalam waktu yang hampir bersamaan.

Survei SMRC menunjukkan 55,8 persen publik ‘sangat puas’ dan ‘cukup puas’ terhadap kinerja SBY. Sementara, survei LSI menyatakan cuma 35,9 persen publik yang ‘puas’ terhadap kepemimpinan SBY.

Survei SMRC juga menunjukkan 39,9 persen publik ‘kurang puas’ atau ‘tidak puas’ terhadap kinerja SBY. Sementara survei LSI menyatakan, 57,7 persen publik yang menyatakan ‘tidak puas’ dengan kepemimpinan SBY.

Margin of error masing-masing survei pun beda tipis, yakni SMRC 2,9 persen dan LSI 3 persen. Dengan kata lain, selisih dua tingkat kepuasan di atas masih di luar batas kesalahan yang ditentukan masing-masing lembaga survei.

Direktur Riset LSI Toto Izul Fatah berkomentar soal hasil survei SMRC. Menurut dia, cukup aneh jika kepuasan publik terhadap kinerja SBY tidak sejalan dengan elektabilitas Demokrat.

“Ini tidak connect (nyambung). Maka perlu ada penjelasan agar tidak ada tudingan miring terhadap SMRC,” kata Toto saat dihubungi merdeka.com, Selasa (5/2)

Toto memaparkan, dari hasil penelitian pihaknya, personalisasi SBY di tubuh Demokrat masih kuat. Karena itu, naik turunnya kepuasan publik terhadap SBY akan berkorelasi positif dengan elektabilitas Demokrat.

“Jadi jangan sampai ada anggapan bahwa ada desain untuk melengserkan Anas,” ujarnya.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) SMRC, Grace Natalie menegaskan survei yang rilisnya sempat tertunda dua kali itu, dilakukan berdasarkan kaidah dan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Kalau pun ada politikus Demokrat, yang kebanyakan pro-Anas, mengkritik sigi tersebut, Grace hanya berujar enteng: “Kalau wajah buruk jangan cerminnya yang dipecahkan dong.”
[ren]

Source : Merdeka.com

Leave a Reply