Berhala Survei…

Kamis (27/10), menjelang pukul 13.00, di sekitar lokasi Rapat Pimpinan Nasional II Partai Golkar di kawasan Ancol, Jakarta, terdengar pengumuman agar peserta acara itu segera memasuki ruang pertemuan. Pengumuman yang disampaikan berkali-kali ini tidak urung membuat sebagian dari sekitar 500 peserta, yang masih makan siang, buru-buru kembali ke ruangan.

Acara siang itu adalah mendengarkan paparan hasil survei dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Reform Institute.

Meski hasil survei dari dua lembaga itu telah dirilis dan diberitakan berbagai media, tepuk tangan tetap kerap terdengar saat Barkah Patimahu (LSI) dan Abdul Hamid (Reform Institute) menyampaikan paparannya. Berdasarkan survei lembaga itu, Golkar dan Aburizal Bakrie, Ketua Umum Golkar, memiliki tren positif.

Menurut dua lembaga survei itu, saat ini, Golkar menjadi partai dengan elektabilitas (tingkat keterpilihan) tertinggi.

Demikian juga berdasarkan survei Reform Institute, sekarang, Aburizal menjadi calon presiden untuk Pemilu 2014 dengan elektabilitas tertinggi. Sesuai hasil survei LSI, elektabilitas Aburizal sebagai calon presiden tahun 2014 masih di bawah Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto, Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Bagi Golkar dan Aburizal, hasil survei itu penting. Pasalnya, Aburizal akan mendeklarasikan diri maju dalam Pemilu Presiden 2014 jika elektabilitas Golkar mencapai 25 persen dan elektabilitas Aburizal minimal 20 persen. ”Jadi, deklarasi dilakukan dalam Rapimnas 2012,” kata Aburizal.

Namun, lembaga survei berbeda bisa memberikan hasil beda. Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS), misalnya, menyatakan, peringkat pertama calon presiden untuk 2014 adalah Prabowo. Aburizal di nomor empat. Namun, hasil survei itu tidak ditampilkan di Rapimnas Golkar.

Survei juga dapat menimbulkan polemik. Misalnya, meski sesuai survei angka untuk istrinya, Megawati, masih tinggi, Ketua MPR Taufiq Kiemas menyatakan, sudah saatnya kader muda muncul pada Pemilu 2014. Mereka adalah angkatan Puan Maharani, putri Taufiq dan Megawati.

Hasil survei, menurut Yunarto Wijaya dari Charta Politika, menjadi seperti berhala baru dalam politik Indonesia. Hasil survei menjadi sarana untuk menilai kekuatan elektoral diri sendiri dan menyerang lawan.

”Politik Indonesia seperti sebuah produk komersial yang dikendalikan oleh perilaku konsumen. Elite partai dan calon presiden hanya sebatas merespons keinginan pemilih dalam survei dan tidak lagi memiliki fungsi sebagai pencetus ”ide”. (nwo)

Source : Kompas.com

Leave a Reply