Ekonomi, Popularitas Presiden dan Partai Politik

Berbagai survei dan pengamatan umum menunjukkan, masalah ekonomi menjadi perhatian utama pemilih dalam menilai pemerintah, khususnya presiden.

Masalah harga kebutuhan pokok, pekerjaan, dan kemiskinan merupakan hal-hal utama yang menurunkan popularitas Presiden Yudhoyono. Hal serupa juga dialami Presiden Megawati saat berkuasa. Pada masa demokrasi yang relatif singkat, pemilih menentukan pilihan calon presiden berdasar popularitas serta harapan dan tidak bertumpu pada kemampuan calon presiden. Hal ini nyata sekali saat SBY terpilih menjadi presiden dan popularitas Megawati menentukan kemenangan PDI-P tahun 1999.

Namun, ketika akan memilih untuk kedua kali presiden yang sedang berkuasa, pemilih cenderung menentukan pilihannya berdasar kinerja, terutama yang menyangkut kehidupan pemilih. Hal ini menjadi alasan mengapa Presiden Megawati saat itu gagal terpilih sebagai Presiden. Belakangan, popularitas Presiden SBY pun cukup menurun.

Semasa pemerintahan Megawati, kinerja ekonomi makro sebenarnya tak buruk, dengan pertumbuhan moderat, inflasi dan suku bunga relatif rendah. Namun, tingkat pengangguran dan kemiskinan relatif tinggi. Para pemilih menilai Presiden Megawati saat itu tak dapat memenuhi janjinya untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat umum. SBY dipilih karena popularitas pribadi dan harapan lebih besar, bukan atas pertimbangan kinerja.

Pengaruh ekonomi

Kondisi ekonomi makro kita kini cukup baik dilihat dari sudut pertumbuhan, tetapi tingkat inflasi cukup tinggi. Ini memberatkan masyarakat karena harga kebutuhan pokok naik tajam. Sementara itu, tingkat pengangguran dan kemiskinan juga tinggi meski Badan Pusat Statistik menunjukkan adanya pengurangan.

Jika tingkat inflasi ini tidak dapat dikendalikan hingga pemilihan presiden tahun 2009, Presiden SBY akan menghadapi keadaan yang amat berat, bahkan mungkin lebih berat dari yang dihadapi Presiden Megawati saat itu. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa popularitas Presiden SBY makin turun, paling tidak menurut survei Indobarometer dan CSIS belakangan ini.

Presiden SBY dan Megawati sebagai dua kandidat teratas dari beberapa calon presiden akan berhadapan dengan pemilih yang menilai mereka berdasarkan kemampuan dan kinerja saat memerintah, bukan popularitas mereka. Dengan kata lain, pemilih akan menentukan pilihan di antara dua kandidat utama presiden ini at face value. Sedangkan calon presiden lain masih bisa berharap dan mengandalkan popularitas seperti terjadi pada Megawati atau Presiden SBY saat itu.

Partai politik

Hal itu juga berlaku pada partai politik. Kekalahan PDI-P tahun 2004 karena alasan serupa dengan kekalahan Megawati, apalagi keduanya identik. Atas alasan serupa, popularitas Golkar juga menurun karena aktivitasnya—terutama di DPR—identik mempertahankan kebijakan, terutama ekonomi dan pemerintah.

Meski banyak politikus Golkar tidak menerima hal ini, di mata pemilih Golkar adalah partai yang memerintah. Survei menunjukkan, popularitas PDI-P mengalahkan Golkar.

Seperti Presiden SBY dan Megawati yang dinilai pemilih at face value, maka Golkar dan PDI-P juga dinilai pemilih at face value. Kedua partai ini tidak lagi hanya dapat beretorika dengan menebar janji, tetapi akan ditentukan lebih besar oleh kredibilitasnya.

Kedua partai ini harus dapat meyakinkan masyarakat bahwa mereka dapat berbuat lebih baik untuk kepentingan pemilih. Bahkan, Golkar tidak dapat menghindar dari kebijakan pemerintah yang didukungnya, termasuk kebijakan kontroversial menaikkan harga BBM. Istilahmya, Golkar can run but it can not hide dari konsekuensi kebijakan pemerintahan SBY. Sedangkan partai politik lain masih dapat bermain pada janji dan popularitas.

Bagi stabilitas dan dukungan kebijakan, sebenarnya grand coalition PDI-P-Golkar, akan amat baik. Kemungkinan dua partai ini akan menjadi dua terbesar dalam Pemilu 2009. Kedua partai ini juga sudah merasakan naik-turunnya kekuasaan. Namun, dalam pemilihan presiden, koalisi keduanya tidak mudah, apalagi pemilihan presiden amat bergantung pada tokohnya sendiri.

Terpilih kembali atau tidaknya Presiden SBY akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintahannya memperbaiki keadaan ekonomi, terutama dalam mengendalikan inflasi dan penciptaan kesempatan kerja. Untuk hal kedua ini amat sulit diwujudkan dalam waktu singkat. Pengendalian inflasi juga tidak mudah dilakukan ketika inflasi global juga cenderung meningkat.

Peran popularitas pribadi akan mengecil. Sedangkan peluang terpilihnya kembali Megawati, bergantung pada siapa calon wapresnya, apakah tokoh populer, aspiratif bagi pemilih muda, dan bisa memimpin, khususnya dalam memperbaiki taraf kehidupan masyarakat? Untuk calon presiden lain, mereka akan bergantung pada popularitas pribadi.

Umar Juoro Ketua Cides (Center for Information and Development Studies); Senior Fellow The Habibie Center

Source : kompas.com

Leave a Reply