Era Politisi Cerdas

Doc: http://makassar.tribunnews.com/

Pada beberapa pekan lalu, saya baru menyelesaikan membaca sebuah buku berjudul I’Am Marketeers terbitan Kompas Gramedia 2015. Salah satu bagian yang menurut saya sangat menarik dan membuat saya tertawa sendiri, ketika Hendra Soeprajitno beserta tim redaksi Marketeers yang menjadi penyusun buku tersebut, mengulas ‘praktik political marketing di Indonesia’.

Apa yang menarik? Lantas mengapa saya tertawa? Karena pada halaman 96 -99, dari buku yang diadopsi dari kumpulan terbitan majalah marketeers itu, memiliki kesamaan dengan apa yang selama ini saya lihat, rasakan, dari berbagai fakta tentang karakter dan tingkah laku para politisi yang pernah saya jumpai.
Walau terkesan menyederhanakan, namun dari berbagai ‘pengalaman lapangan’ selama ini, memang tiga pola dan karakter politisi Indonesia yang diuraikan dalam buku tersebut benar adanya. Pertama, sosok politisi bermental snob (politisi sombong). Karakter politisi seperti ini sesekali saya temukan dengan ciri-ciri utama ‘berkantong tebal’.

Dalam membangun karier politik, politisi dalam kategori ini senantiasa mengandalkan kekuatan transactional marketing melalui serbuan iklan koran, televisi, radio, serta menyebar baligho dengan jumlah dan ukuran yang besar. Politisi dengan karakter snob, berkeyakinan dengan gambar wajahnya terpajang di mana-mana dari kertas koran, sampai di jalan raya maka dirinya akan dikenal, lalu dipilih.
Padahal apa yang mereka lakukan barulah sebatas upaya peningkatan popularitas, belumlah sampai pada tahap likeability (disukai oleh pemilih). Para politisi sombong, juga punya kebiasaan buruk. Dari pengamatan saya, politisi jenis ini rata-rata cenderung melakukan politik transaksional yang memandang ‘suara pemilih dalam bilangan nominal’.

Mereka berkeyakinan untuk bisa terpilih, program, visi, dan gagasan menjadi tidak penting. Cukup melakukan kalkulasi sederhana, ‘berapa harga per-kepala’? Kedua, sosok politisi dumb (politisi bodoh). Karakter politisi tipe ini yang paling banyak dan paling sering saya jumpai.

Supranatural

Ciri utama para dumb, tidak mau mendengarkan saran orang lain, tidak percaya akan lembaga survei, dan pola tingkah laku yang paling menonjol adalah terlalu senang menceritakan berbagai kehebatan diri sendiri. Pada akhirnya politisi bodoh bukan menarik simpati pemilih namun justru membuat resistensi pemilih.

Politisi jenis ini, juga tidak punya visi dan orentasi yang jelas untuk apa mengikuti sebuah kontestasi politik. Kelompok ini, masuk dalam arena politik lebih karena keinginan untuk menaikan prestise sosial di tengah masyarakat. Atau yang lebih parah, karena tidak bisa bersaing di dunia kerja, lalu terjun ke partai politik untuk mencoba peruntungan dunia politik, siapa tahu bisa terpilih menjadi pejabat.
Kebiasaan lain dari karakter politisi seperti ini, senantiasa memandang sepele berbagai sterategi perencanaan dunia marketing politik moderen. Biasanya yang diandalkan oleh para dumb untuk konteks Indonesia atau terkhusus Indonesia timur yakni kekuatan ‘bisikan supranatural’ dengan mengambil para ‘konsultan dari LSI’; Lembaga Sanro Indonesia (lembaga dukun Indonesia; bahasa Bugis).

Bahkan, saking parahnya sering saya jumpai politisi dumb meminta para konsultan pesaing kami dari ‘LSI’ (lembaga sanro indonesia) untuk mengerahkan kekuatan para jin untuk bisa menang dalam sebuah pertarungan politik. Dengan bercanda, sering saya bertanya kepada para politisi seperti ini atau langsung menanyakan kepada dukun mereka, ‘apakah jin tersebut terdaftar sebagai pemilih?

Ketiga, politisi smart (politisi cerdas). Walau sedikit di negeri ini, namun saya cukup beruntung bisa berjumpa dengan sejumlah politisi yang menurut saya masuk dalam kategori smart. Politisi yang cerdas, menurut kategori saya bukanlah sekadar memiliki kemampuan dalam berteori atau kapasitas public speaking yang baik ketika berbicara di tengah khalayak ramai.

Politisi smart adalah mereka yang memang memiliki visi, gagasan, ide dan sekaligus punya talenta kepemimpinan yang mumpuni. Dalam menjalankan aktivitas marketing politik mereka, para politisi smart lebih mengandalkan hal-hal yang bersifat kreatif yang memiliki prinsip low budget, high impact!
Ciri dan karakter utama politisi jenis ini dari pengalaman yang saya temui terdiri atas empat hal. Pertama, mereka memiliki rasa percaya diri yang baik namun tetap rendah hati. Kedua, berfokus pada solusi penyelesaian masalah, dan bukan melakukan dramatisasi atas masalah yang dihadapi.

Ketiga, mengedepankan ide kemajuan dibandingkan mengandalkan uang. Empat, membuka diri dengan siapapun dan menerima ide-ide perubahan. Dengan empat karakter tersebut, para politisi cerdas mampu menjadi cahaya terang di tengah panggung politik yang gelap.

Transformasi Pemilih

Seorang politisi cerdas, akan menyadari dengan baik bahwa zaman telah berubah demikian pula perilaku masyarakat. Pendekatan cara-cara konvensional, dalam merebut simpati pemilih ataupun strategi pendekatan kepada publik untuk mendapatkan dukungan bagi kebijakan pemerintahan yang diambil, tentu saja harus mampu menyesuaikan dengan perubahan zaman.

Jika dahulu, seorang politisi yang akhirnya menduduki posisi pemerintahan seperti kepala daerah memiliki legitimasi yang begitu besar di tengah rakyat bahkan direpresentasikan sebagai wakil tuhan, kini hal tersebut sudah tidak berlaku lagi. Para politisi yang akhirnya menjadi seorang pejabat pemerintahan kini lebih dipandang secara fungsional.

Apalagi, diperparah dengan citra kelembagaan politik yang diisi oleh para politisi seperti DPR, gubernur, bupati ataupun wali kota, cenderung dipandang senantiasa menjadi sarang korupsi. Kondisi ini, harus cepat disadari oleh para politisi ataupun mereka yang baru berniat menjadi seorang politisi.

Bahwa publik kini melihat kekuasaan politik secara horizontal dan bukan lagi secara vertikal hierarkis. Maka jika ada seorang politisi yang merasa memiliki legitimasi kekuasaan yang begitu besar ibarat raja-raja masa lalu, hal tersebut merupakan sebuah kesalahan besar.

Karena gelombang transformasi publik sedang terjadi di negeri ini yang harusnya cepat disadari juga oleh para politisi utamanya mereka para politisi sombong ataupun politisi bodoh. Bahwa kini kekuasaan tak lagi dibangun oleh dominasi elite, lomba bagi-bagi uang, atau sekadar berbagai cerita dan janji manis.

Apalagi hanya mengandalkan kekuatan mistik, para dukun-dukun politik, karena menurut saya era politisi cerdas akan segera tiba. Karena zaman sudah berubah dan politisi kita banyak belum berubah?

Oleh:
Rahmad M Arsyad
Direktur Riset IDEC/Pengurus ISKI Sulawesi Selatan

Source : Makasar Tribunnews

Leave a Reply