Figur Menangkan Jokowi-Ahok

Kemenangan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama dalam Pemilu Kepala Daerah DKI Jakarta putaran kedua, Kamis (20/9), banyak dipengaruhi oleh dua hal, yaitu modal kapasitas individu dan buruknya citra pihak lawan.

Pasangan yang akrab dipanggil Jokowi-Ahok tersebut dinilai memiliki integritas moral yang baik serta memiliki keberanian dan ketegasan dalam melaksanakan gagasannya. Selain itu, Jokowi yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Solo dan Ahok yang mantan Bupati Belitung Timur ini juga dipandang lebih aspiratif daripada pasangan petahana Fauzi Bowo dan mantan Kepala Lembaga Sandi Negara Nachrowi Ramli.Meski demikian, kekuatan karakter pasangan ini saja tampaknya tidak cukup menjadi bekal untuk merebut kursi DKI-1 karena lawan mereka cukup tangguh. Fauzi Bowo (Foke) dinilai cukup menonjol dalam pengalaman memerintah Jakarta dan sudah lebih dikenal oleh masyarakat setelah lima tahun memimpin.

Adalah proses politik sepanjang masa kampanye putaran kedua yang turut menentukan jatuhnya citra kepemimpinan Foke. Lemahnya kepiawaian pasangan Foke-Nara dalam membaca karakter publik Jakarta menjadi berkah bagi pasangan lawannya.

Citra

Sikap Foke-Nara atau timnya dalam menghadapi persoalan perbedaan etnis, agama, ataupun dalam mendekati calon pemilih menampilkan sisi miring yang cukup memberatkan langkah pasangan nomor urut satu ini. Buruknya citra juga diperparah oleh sikap elite-elite partai politik yang ramai-ramai mendukung pasangan ini sehingga justru menimbulkan gelombang kritik dan kecaman publik.

Bandul pilihan akhirnya justru mengarah ke calon yang terlihat low profile dalam menyikapi berbagai tuduhan. Model kampanye negatif berbau SARA yang dialamatkan kepada pasangan Jokowi-Ahok justru merugikan pasangan Foke Nara.

Dukungan terhadap Jokowi-Ahok pun mengalir, sebagaimana terlihat dari hasil survei pasca-pemilihan (exit poll). Mereka yang pada putaran pertama golput, lebih mengarahkan dukungan kepada pasangan nomor urut tiga ini.

Dalam hitung cepat yang dilakukan Litbang Kompas, pasangan Jokowi-Ahok unggul dengan perolehan suara 52,97 persen, sementara pasangan Foke-Nara diprediksi hanya mendapat sekitar 47,03 persen. Dukungan terhadap Jokowi-Ahok juga didapat dari pemilih-pemilih yang sebelumnya pada putaran pertama mencoblos pasangan lain, terutama limpahan dari pemilih pasangan Faizal Basri-Biem Benyamin.

Pasangan Jokowi-Ahok juga mendapat simpati dari kalangan berpendidikan tinggi dan kelas menengah atas yang relatif mandiri dalam pengambilan keputusan. Dilihat dari karakter lingkungan, dukungan terhadap pasangan ini banyak diperoleh dari lingkungan kompleks perumahan daripada dari perkampungan yang relatif mudah dijangkau tim kampanye.
(Litbang Kompas)

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply