Kalah di Beberapa Pilkada, Golkar Optimistis

Jakarta, Kompas – Meskipun banyak calon yang didukungnya mengalami kegagalan dalam pemilihan kepala daerah atau pilkada di sejumlah provinsi, seperti Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Sumatera Utara, Partai Golongan Karya tetap menyatakan optimistis menghadapi Pemilihan Umum 2009.

Optimisme Partai Golongan Karya itu disampaikan Jusuf Kalla saat menjawab pers seusai shalat Jumat di masjid di kompleks Istana Wapres, Jakarta.

”Memang ada perbedaan saat memilih dalam pilkada dengan memilih di pemilu legislatif. Saat orang memilih dalam pilkada, pertimbangannya adalah figur orangnya, bukan partai. Kalau dalam pemilu legislatif, yang berperan adalah partainya. Setelah itu baru orangnya. Tetapi, jika orang atau partainya bermasalah, tentu kalah juga. Sebab itu, saya tidak khawatir dengan Pemilu 2009 akan seperti itu hasilnya,” ujar Kalla, Jumat (18/4).

Menurut dia, selama tiga tahun terakhir ini, dari 340 pilkada di Indonesia, perolehan Partai Golkar sekitar 41 persen.

”Untuk pemilihan bupati di Jabar, banyak sekali yang dimenangi Partai Golkar. Pemilihan bupati di Sumut, Partai Golkar menang sampai 50 persen. Jadi, dalam pilkada sangat bergantung pada orang,” kata Kalla.

Ia menambahkan, dari 340 pemilihan bupati, wali kota, dan gubernur, di antaranya 320 pilkada adalah untuk kabupaten. ”Sebanyak 120 atau sekitar 41 persen dimenangi calon yang diusung Partai Golkar atau bersama partai lain, sedangkan tujuh pilkada provinsi di antaranya dimenangi oleh Partai Golkar,” ujarnya.

”Jadi, jangan salah menilai, dalam pilkada selama ini banyak kader Partai Golkar yang dicalonkan oleh parpol lain. Seperti di Sumut, calon gubernur Syamsul Arifin dicalonkan parpol lain. Akan tetapi, dia sebenarnya pengurus dan kader Partai Golkar,” ujar Kalla.

Ia juga menampik pendapat yang menyatakan bahwa dalam pilkada masyarakat menginginkan perubahan atau menginginkan orang muda. ”Di Sumut dimenangi bukan orang baru karena yang mereka pilih itu adalah mantan bupati dan tidak tergolong muda. Jadi, polanya berbeda-beda,” papar Kalla.

Secara terpisah, pengamat politik JB Kristiadi mengakui, karakter perilaku politik pemilih acap kali memang membingungkan dan berubah dalam setiap kali pilkada maupun pemilu. Akibatnya, baik pilkada maupun pemilu legislatif adakalanya tidak menunjukkan korelasi dalam kriteria memilih.

”Dalam pemilu legislatif dengan pilkada memang ada faktor- faktor yang bisa menyebabkan distorsi karena parpol itu hanya berfungsi sebagai penyanggah. Namun, setelah ada deal-deal politik, tidak ada lagi urusan dengan parpol. Justru selanjutnya jadi urusan para kandidat karena mereka memiliki tim sukses sendiri,” kata Kristiadi.

Munaslub Golkar

Menjawab mengenai adanya desakan agar dilakukan musyawarah nasional luar biasa (munaslub) Partai Golkar akibat beberapa kekalahan dalam pilkada itu, Kalla mengatakan, sampai saat ini belum ada daerah yang mengusulkan munaslub. ”Kalau setiap ada kekalahan pilkada terus munaslub, berarti ada 60 persen pengurus yang harus diganti karena perolehan Golkar 41 persen. Jadi, yang dikalahkan 60 persen,” papar kalla.

Mengomentari spekulasi yang menyandingkan dirinya dengan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid dalam Pemilu Presiden 2009, Kalla mengatakan, ”Saya masih berkonsentrasi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjalankan pemerintah,” ujarnya. (HAR)

Tulisan ini dikutip dari Kompas Cetak, Sabtu, 19 April 2008

Leave a Reply