Mahathir: Barisan Nasional Harus Akui Kalah

jakarta, kompas – Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan, koalisi berkuasa Barisan Nasional harus mau mengakui bahwa mereka kehilangan kepercayaan rakyat. Jika tidak, BN tidak akan bisa membenahi diri.

”Adalah suatu sabotase jika partai berkuasa tidak mau mengakui bahwa mereka kehilangan kepercayaan pendukungnya. Dan jika mereka tidak mengakui telah kehilangan kepercayaan rakyat, mereka tidak mungkin membetulkan diri,” kata Mahathir, dalam jumpa pers seusai memberikan orasi ilmiah wisuda di Universitas Pancasila, Jakarta, Sabtu (10/5).

Mahathir menuturkan, dalam pemilu parlemen 8 Maret terlihat bahwa banyak pendukung partai berkuasa beralih mendukung oposisi. ”Hal itu terjadi bukan karena mereka suka dengan lawan, melainkan mereka memberikan pesan kepada partai berkuasa bahwa mereka tidak suka dengan tindakan partai berkuasa,” ujarnya.

”Malangnya, partai berkuasa mengatakan, ’Kami masih menang. Kami masih berkuasa’. Kalau tidak disadari (beralihnya dukungan), partai berkuasa akan kalah sama sekali,” ujar dia.

Mahathir termasuk tokoh BN yang gencar menyerukan agar Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi mundur dari jabatannya menyusul hilangnya dua pertiga mayoritas kursi parlemen dari tangan BN pada pemilu 8 Maret. Ia menganggap Badawi telah menghancurkan BN dan harus bertanggung jawab atas kehilangan besar sejak BN berkuasa tahun 1957.

BN hanya mampu meraih 140 kursi dari 222 kursi parlemen. Sisanya jatuh ke tangan oposisi. Bahkan, kelompok oposisi dapat merebut lima negara bagian dari tangan BN.

Salah satu iklim kurang baik yang diamati Mahathir menjelang pemilu kemarin adalah adanya upaya menghalangi pendukung partai berkuasa untuk menyuarakan pendapat mereka. ”Akibatnya, partai berkuasa tidak tahu bahwa pendukung mereka kecewa,” tuturnya.

”Serangan” Mahathir terhadap penggantinya, Badawi, dinilai semakin memperburuk citra BN di mata rakyat.

Situasi semacam ini bisa dimanfaatkan oposisi untuk meraih dukungan rakyat dan membuktikan bahwa mereka bisa memerintah lebih baik. Namun, tokoh oposisi Anwar Ibrahim pernah mengatakan, ia tak ambil pusing dengan urusan BN, dan memilih berkonsentrasi mengurus negara bagian di mana oposisi menang. (FRO)

Tulisan ini dikutip dari Kompas Cetak, Minggu, 11 Mei 2008

Leave a Reply