Marak, Ajakan Golput di Jawa Timur

SURABAYA — Setelah tersebar di Malang dan Batu, selebaran mengajak golong putih (golput) dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur (Jatim) mulai bertebaran di Surabaya. Di kawasan Jl Diponegoro, selebaran bertuliskan ‘independen atau golput’ banyak tertempel di tiang listrik, pohon, dan tiang lampu merah.

Selain bertuliskan ajakan untuk golput, selebaran itu juga bergambar perempuan memakai kebaya bernama Poppy Dharsono dan pria berkacamata bernama Prof Hermawan Sulistyo. Di bagian bawah, bertuliskan ‘menuju kualitas internasional untuk Jatim’.

Anggota Panitia Pengawas (Panwas) Pilgub Jatim, Abdullah Bufteim, mengatakan, pihaknya sudah mengetahui adanya selebaran itu. Dia juga telah menerima laporan itu dari Panwas Batu dan Malang. Menurutnya, selebaran itu memang sengaja disebarkan untuk memengaruhi masyarakat agar golput saat pilgub pada 23 Juli nanti.

”Saya sudah mendapat laporan dari Panwas Batu dan Malang. Itu sudah kami catat karena memang termasuk pelanggaran,” katanya kepada wartawan, Rabu (2/7).

Setelah mendapat laporan itu, panwas akan segera melaporkan ke pihak kepolisian. “Biar polisi yang mengusutnya karena sudah masuk dalam tindak pidana,” tuturnya.

Sepertinya, selebaran itu memang berniat mengganggu kelancaran pilgub. Sebab, Poppy Dharsono pernah mencalonkan diri di Jawa Tengah melalui jalur independen. Sementara itu, Hermawan Sulistyo juga pernah mendaftar menjadi cagub Jatim melalui jalur independen.

Sementara itu, isu golput ‘menggoyang’ Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jember. Ini setelah anggota KPUD Jember menuduh pernyataan ketuanya soal golput bisa mendelegitimasi lembaganya sendiri.

Kepada pers, Ketua KPUD Jember, Sudarisman, sempat menyampaikan bahwa persentase golput di Jember bisa mencapai 50 persen. Ia mendasarkan pada tren kenaikan angka golput sejak pemilihan umum legislatif, pemilihan presiden tahap pertama dan kedua, serta pemilihan bupati di Jember.

Ketua Kelompok Kerja Sosialisasi, Mochammad Eksan, mengecam pernyataan itu karena tidak berdasar. Bahkan, ia meminta agar Sudarisman tidak asbun (asal bunyi). Apakah KPUD Jember terpecah? Sudarisman menolak anggapan tersebut. “Perbedaan itu biasa. Cara pandang orang tidak sama,” katanya santai.

Sudarisman menyatakan, kekhawatiran terhadap prediksi golput yang akan mendelegitimasi KPUD Jember sendiri seperti yang dikemukakannya adalah terlalu berlebihan. Itu menunjukkan bahwa ketidakpercayaan diri menghinggapi pihak yang khawatir.

Prediksi golput 50 persen seharusnya ditanggapi dengan tenang. “Pernyataan itu seharusnya menantang diri saya (KPUD Jember) agar hal itu tak terjadi. Bukannya kemudian untuk dikecam,” kata Sudarisman.

Anggota KPUD Jember lainnya, Hanan Kukuh Ratmono, melihat bahwa pernyataan Sudarisman untuk mengingatkan semua pihak bahwa kemungkinan golput meningkat cukup besar. Pasalnya, kenyataan di lapangan menunjukkan memang banyak warga yang tidak tahu saat pelaksanaan pemilihan gubernur.

Tulisan ini dikutip dari Harian Republika Online

Leave a Reply