Media dan Gerakan Kerelawanan

Kemunculan gerakan kerelawanan tidak terlepas dari media yang menjadi medium komunikasi ataupun wadah gerakan tersebut. Media ini berubah dari masa ke masa, dipengaruhi perkembangan teknologi. Sifat dan jenis media ini kemudian memengaruhi skala, wujud, dan intensitas gerakan.

Pada masa awal pergerakan kemerdekaan Indonesia, yaitu seperti saat berdirinya Budi Utomo tahun 1908 dan Sumpah Pemuda tahun 1928, hingga pada masa perjuangan kemerdekaan tahun 1945, kemunculan gerakan kerelawanan dibantu oleh media cetak, seperti pamflet, brosur, dan dalam skala tertentu, dan surat kabar.

Sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam, mengatakan, pers memiliki andil besar pada masa itu. Saat itu, pers sudah hadir di Jawa dan luar Jawa.

Melalui surat kabar, semangat kebangsaan dan kemerdekaan digelorakan. Saat itu, yang membaca surat kabar memang hanya kalangan tertentu, kalangan elite. Namun oleh sejumlah pihak tertentu, sering kali surat kabar itu juga disebarkan oleh kalangan elite kepada tokoh-tokoh pergerakan dan masyarakat sehingga bisa mendorong gerakan kerelawanan.

Tak hanya dari dalam negeri, majalah yang diterbitkan Perhimpunan Indonesia di Belanda pada sekitar tahun 1920, juga bisa beredar luas di tokoh-tokoh pergerakan di Tanah Air. Ini terjadi berkat andil dari Sugondo Joyopuspito yang pada tahun 1928 menjabat Ketua Panitia Sumpah Pemuda.

“Sugondo kerja di kantor pos, di Jakarta. Dia terima majalah itu, sebagian disensor oleh penguasa Belanda saat itu. Namun, dia bisa meloloskannya lalu menyebarkan kepada tokoh-tokoh pemuda. Jadi mereka tahu apa yang sedang diperjuangkan mahasiswa Indonesia di negeri Belanda,” jelas Asvi.

Kemudian pada era pendudukan Jepang, kemunculan gerakan kerelawanan kemerdekaan diuntungkan oleh niat propaganda Jepang.

Jepang yang ingin memperoleh dukungan rakyat Indonesia dalam perang melawan sekutu sengaja membuat film dokumenter dengan aktornya, Soekarno, Hatta, dan pemimpin pergerakan pada masa itu. Melalui film itu, mereka diminta menyuarakan agar rakyat mendukung Jepang. Namun dalam sebagian besar materinya, para tokoh bangsa justru menggelorakan semangat kebangsaan.

Saat kemerdekaan dideklarasikan, radio menjadi media utama yang menyiarkannya. Selain guna menghidupkan gerakan kerelawanan, upaya penyiaran itu bertujuan agar relawan bangkit bersiap mempertahankan kemerdekaan.

Namun karena belum semua rakyat memiliki radio, menurut Asvi, cara konvensional diambil. Sejumlah kurir dikirim ke banyak daerah di Jawa dan luar Jawa. Salah satu di antaranya SK Trimurti, yang berangkat dari Jakarta ke Jawa Tengah.

“Kisah unik menyertai perjalanannya. Di tengah jalan, ban mobil rampasan Jepang yang digunakannya meletus. Namun, dia tidak menyerah. Dia justru mengisi rumput di ban mobil itu supaya bisa terus jalan,” tutur Asvi.

Teknologi

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi kemudian menambah variasi media yang bisa membangkitkan kerelawanan.

Masuknya internet pada akhir abad 20, misalnya, turut menjadi alat mengobarkan semangat kerelawanan pada akhir era Orde Baru yang kemudian melahirkan Reformasi pada tahun 1998.

Pengajar Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Budiawan, mengatakan, melalui internet, tulisan-tulisan di luar negeri tentang kebobrokan rezim Orde Baru bisa diperoleh oleh kelompok pergerakan di Tanah Air. Mereka kemudian mencetak, memperbanyak, dan menyebarluaskannya dalam pamflet atau kopian naskah lantaran cakupan internet saat itu yang masih terbatas.

Selain melalui internet, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Trisakti 1998-1999 Usman Hamid menceritakan, telepon seluler dan alat komunikasi pager juga digunakan. Namun, penggunaan alat-alat itu, dan juga internet, belum terlalu masif karena saat itu belum banyak yang memilikinya.

Mulai 2006, ketika media sosial makin banyak dan kian banyak pula publik yang menggunakannya, media sosial menjadi penggerak utama gerakan kerelawanan.

Tiga kali gerakan kerelawanan melawan pelemahan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yaitu yang terjadi pada tahun 2009, 2012, dan 2015, menjadi contoh keberhasilan media sosial dalam membangun kesadaran kolektif.

Contoh lainnya adalah Gerakan Kawal Pemilu 2014 yang melibatkan sekitar 700 relawan berkerumun di kawalpilkada.id untuk merekapitulasi formulir C1 atau hasil perhitungan suara di tingkat tempat pemungutan suara. Gerakan ini mampu membangun kesadaran kolektif warga untuk sama-sama mengawasi penghitungan suara yang berpotensi dicurangi. Hasil rekapitulasi oleh gerakan ini bahkan mendahului pengumuman dari Komisi Pemilihan Umum dengan selisih hasil penghitungan yang tidak jauh berbeda.

Budiawan menilai perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah mengubah wujud gerakan kerelawanan. Dari gerakan yang sebelumnya berlangsung dalam waktu panjang dan intensitasnya relatif lebih rendah, kini menjadi lebih cepat dan lebih intens.

“Masa prainternet itu durasinya bisa lebih lama dan mereka lebih militan. Pasca internet, terlebih setelah banyak media sosial, sifatnya lebih cair. Ini karena dengan teknologi informasi seperti saat ini, orang dengan mudah bisa masuk dan keluar dalam jaringan relawan. Hanya dengan modal klik di internet, bisa jadi relawan,” tuturnya.

Gerakan yang cair ini memberi tantangan bagi masa depan gerakan kerelawanan di Indonesia. Namun, peluang yang tersedia juga jauh lebih besar. Tidak sedikit aksi yang berawal di ranah daring kemudian bisa mengambil bentuk dalam gerakan offline lewat kopi darat untuk membangun solidaritas dan kesadaran kolektif.
A PONCO ANGGORO/ANTONY LEE

Source : Kompas.com

Leave a Reply