Media Sosial Bisa Petakan Pilkada DKI Jakarta

VIVAnews – Pilkada DKI Jakarta 2012 putaran pertama berdasarkan hasil quick count berbagai lembaga survei menempatkan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama sebagai pemenang.

Bersama calon incumbent Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli yang menepati posisi dua, mereka akan bertarung di putaran kedua Pilkada DKI 20 September 2012.

Lembaga pemantau media sosial, PoliticaWave, menyatakan jika aktivitas di jejaring sosial dapat memetakan dan memprediksi siapa yang nantinya bakal menjadi gubernur terpilih. Setidaknya, poin itu terbukti di putaran pertama.

“Survei popularitas cagub dan cawagub di media sosial ini dapat merefleksikan suara masyarakat. Jadi suara rakyat bisa tercermin di media sosial,” kata Direktur PoliticaWave, Yose Rizal, di Jakarta, Sabtu 14 Juli 2012.

Yose mengemukakan dalam survei PolitivaWave di enam jejaring sosial, yaitu Twitter, Facebook, blog, forum online, berita online, dan YouTube, Jokowi-Ahok menjadi kandidat yang paling sering disebut oleh pengguna media sosial menjelang Pilkada DKI Jakarta putaran pertama. Sementara Foke-Nara menempati urutan kedua.

Selanjutnya Faisal Basri-Biem Benjamin, Alex Noerdin-Nono Sampono, Hidayat Nur Wahid-Didik J. Rachbini, dan Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patri menempati urutan berikutnya secara berurutan.

PoliticaWave telah memantau dukungan para kandidat melalui enam media sosial itu sejak 1 Mei 2012. Pengukuran tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga kualitatif. “Kami analisis makna conversation, mendukung atau kontra terhadap kandidat. Lalu apakah bernada sentimen positif, negatif, atau netral,” papar Yose.

Yose menyebut bahwa para pengguna enam media sosial itu tidak melulu kelas menengah ke atas. Dalam perkembangannya, kalangan menengah ke bawah juga sudah mulai merambah dunia ini.

Berdasarkan data yang dikumpulkan PoliticaWave, pengguna internet sudah melebar dengan adanya smartphone dengan harga terjangkau. “Pulsa unlimited juga turut meningkatkan pengguna internet. Dengan demikian kelas menengah punya pengaruh yang besar dalam interaksi itu,” jelas Yose.

Praktisi sosial media, Arif Zulkifli, menyimpulkan temuan PoliticaWave itu mematahkan dua asumsi yang berlaku di sosial media selama ini. Pertama, twitter adalah dunia yang chaos dan tak terkontrol. Kedua, twitter adalah milik kelas menengah pengguna smartphone. Ketiga, twitter adalah media yang tidak dapat dibaca polanya.

“Berdasarkan validitas data-data PoliticaWave, percakapan di sosial media tak jauh beda dengan pendapat umum yang berlaku di masyarakat,” kata Arif.

Source : Vivanews.com

Leave a Reply