Mencari Capres di Media Sosial

KOMPAS.com – Di negeri maya, jangan coba bermimpi menjadi presiden pemimpin mereka jika pengikut di Twitter atau jumlah tayang video Anda di Youtube hanya ratusan orang. Di negeri maya, Anda juga harus siap di-bully warga internet atau netizen jika dianggapnya jauh dari idealisme khas mereka.

Fenomena itu mulai menimpa para peserta Konvensi Pemilihan Calon Presiden dari Partai Demokrat. Perang di media sosial tak terelakkan. Media sosial, seperti Twitter, Youtube, dan Facebook, menjadi senjata termurah untuk mendongkrak popularitas. Twitter menjadi media terlaris.Jika peserta konvensi disaring dengan jumlah pengikut Twitter-nya di atas 100.000, hanya tersisa empat peserta. Mereka adalah Dahlan Iskan (628.594 pengikut), Anies Baswedan (292.970 pengikut), Dino Patti Djalal (175.053 pengikut), dan Marzuki Alie (127.162). Walaupun pengikut Gita Wirjawan di bawah 100.000, yaitu 44.855 pengikut, di dunia media sosial gencar dibicarakan.

Data Politicawave, tiga besar calon yang paling banyak dibicarakan netizen adalah Dahlan Iskan (8,4 persen), Gita Wirjawan (5 persen), dan Anies Baswedan (4,6 persen).

”Jumlah pembicaraan lumayan besar. Namun, ketika memasukkan calon lain, yaitu Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi), data langsung jomplang. Lebih dari 50 persen percakapan tentang Jokowi,” kata Direktur Politicawave Yose Rizal.

Dari peserta konvensi Partai Demokrat, yang tampak sengaja berkampanye di sosial media adalah Anies Baswedan dan Marzuki Alie. Keduanya, antara lain, memasang video pidato mereka di konvensi Demokrat.

Tim Anies tampaknya amat sadar untuk berkampanye di Youtube, dengan menyiapkan berbagai video di media itu.

Di Youtube juga ditemukan video yang menampilkan sosok Dino Patti Djalal dan Gita Wirjawan di berbagai liputan televisi atau saat berpidato di berbagai forum internasional.

Dua sisi

Kampanye di media sosial bisa dimanfaatkan untuk memupuk citra positif, tetapi juga dapat memukul balik. Anies Baswedan sudah menuai dua hal ini.

Di Youtube, misalnya, pengguna akun Adi Prasetya memberi komentar pidato Anies, ”Subhanallah. Begitu cerdas dan tenang dalam penyampaiannya. Semoga kelak mampu membawa amanah bangsa ini.” ”World Class Speech,” kata Edi Supriyanto.

Namun, seseorang yang menggunakan akun Cak Nur Lover membuat tulisan di Kompasiana berjudul, ”Menguak Kedok Kelam Anies Baswedan”. Akun bernama Suratno segera menjawabnya dengan tulisan ”Anies Baswedan dan Paramadina”.

Di era banjir informasi, perang seperti itu tak terhindarkan lagi. Beruntung dalam kasus itu Anies memiliki ”pengikut” yang dengan sukarela menghadang isu-isu negatif. Keadaan ini berbeda dengan Marzuki Alie yang tampaknya belum menurunkan timnya untuk mengatasi hal serupa.

Padahal, di Youtube, pidato Marzuki Alie juga dikerjain pengunjung. ”Monoton khas pejabat yang tidak merakyat,” komentar Rahiyat Geno.

Kritik juga diterima Pramono Edhie Wibowo. ”Kalau di kartun-kartun, narasi kaya gini adalah nada pidato raja penjahat untuk menguasai dunia,” kata pemilik akun Bob Singadikrama tentang pidato Pramono Edhie.

Namun, ada juga pengkritik yang sekadar meninggalkan jejak sentimen negatif bagi Partai Demokrat. ”Enggak minat aku capres dari Demokrat,” kata Rudi Anto.

Di atas semuanya, Pandji Pragiwaksono di situs pribadinya, www.pandji.com, menulis, ”Saya mau punya presiden yang kalau ditanya orang, ’Siapa sih…?’ saya bisa jawab ’Googling aja namanya atau lihat di Youtube,’ karena saya begitu yakin calon saya punya track record yang jelas dan bersih.” (AMIR SODIKIN)

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply