Menimbang Peluang di Putaran Kedua

HASIL hitung cepat (quick count) sejumlah lembaga survei menyatakan tidak ada pasangan calon gubernur- wakil gubernur yang meraih 30 persen suara dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Timur.Itu artinya pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) dan Khofifah-Mudjiono (Kaji) yang memperoleh suara tertinggi pertama dan kedua akan bertarung pada putaran kedua. Jika nanti hasil penghitungan manual Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur juga tidak berbeda jauh dengan hasil quick count beberapa lembaga survei itu, sudah pasti pertarungan episode kedua benar-benar terjadi.

Dalam posisi ini, kedua pasangan diuntungkan dengan kelebihan masing-masing. Bagaimana pun, pasangan Kaji pada posisi diuntungkan sampai perhitungan sementara. Pertimbangan awal, Khofifah merupakan sosok perempuan satu-satunya di antara kelima calon. Selain itu, Khofifah memiliki karisma serta mencerminkan perwakilan kaum muda. Kehadiran Khofifah disambut hangat warga Jawa Timur.

Meski sempat kalah start dibanding pasangan lain, Khofifah bisa mengejar ketertinggalan dengan hasil cukup memuaskan. Semua itu tak lepas dari pendekatan Khofifah yang kuat di kalangan warga nahdliyin, apalagi provinsi ini didominasi kalangan nahdliyin. Kondisi itu jelas menguntungkan bagi pasangan Kaji untuk mendulang suara, ditambah dukungan dana kampanye yang kuat.

Itu membuat mulus langkah Kaji dalam menggalang dukungan, baik di Surabaya maupun kabupaten/kota lain di Jawa Timur. Meski begitu, Kaji tidak bisa serta-merta menganggap enteng kekuatan pasangan Karsa. Perlu diingat, Soekarwo merupakan pemain lama di sana. Dengan demikian, pengaruhnya di masing-masing wilayah tidak boleh diremehkan. Kedua pasangan, baik Kaji maupun Karsa, memiliki kesempatan mencuri suara limpahan dari simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Golongan Karya (Golkar).

Namun, tampaknya sulit bagi Kaji merapat pada PDIP. Alasannya, beberapa pengurus PDIP, baik di daerah maupun pusat tercederai, terutama karena dukungan KH Hasyim Muzadi kepada Khofifah. Sulit bagi Mega untuk memberikan instruksi pelimpahan suara Sutjipto-Ridwan Hisjam (SR) kepada kubu Kaji. Alhasil, keputusan paling logis bagi PDIP adalah membuang suaranya kepada kubu Karsa.

Ini menjadi peluang besar mengingat massa PDIP di Surabaya serta beberapa daerah lain di Jawa Timur sempat dominan. Kekalahan pasangan Achmady-Suhartono (Achsan) juga menjadi berkah tersendiri bagi Karsa lantaran dukungan PKB lebih mengarah kepada Karsa daripada Kaji. Pilihan itu lantaran PKB kubu Gus Dur yang selama ini total mendukung Achsan tidak pernah akur dengan Partai Kebangkitan Nahdlatul Ulama (PKNU), salah satu partai pendukung Kaji.

Tentu kemungkinan PKB memberikan suaranya kepada Kaji sulit terwujud. Pertaruhan gengsi dan kepentingan antarpartai yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) itu tidak pernah surut. Bagi Kaji, melepas dukungan PKNU demi mendapat dukungan PKB juga sulit. Kesepakatan sebelumnya antara PKNU, PAN, dan Partai Patriot tidak bisa diganggu gugat.

Dengan demikian, kemungkinan besar PKB tidak mau memberikan suara kepada Kaji, meski Khofifah memiliki kedekatan dengan pimpinan PKB maupun simpatisan di tingkatan bawah. Karsa juga bisa memanfaatkan peluang merebut suara PKB di tengah amburadulnya kepemimpinan partai tersebut. Mereka bisa memanfaatkan perseteruan antara Khofifah dan Achmady, dengan mendekati Gus Dur.

Langkah ini bisa mengonsolidasikan massa PKB di Jatim pascakekalahan pasangan Achsan. Karsa juga bisa memantik perseteruan kubu Hasyim Muzadi dan Gus Dur. Khofifah selama ini lebih didukung Hasyim Muzadi daripada Gus Dur. Bukan rahasia umum lagi kalau Gus Dur sendiri sedang perang dingin dengan Hasyim Muzadi. Di pihak Partai Golkar, Ali Maschan Moesa sebelum pilkada sudah berseteru dengan Hasyim Muzadi.

Dengan demikian, Hasyim yang sudah mendukung Kaji tidak mungkin bertemu dengan Golkar. Demikian pula sebaliknya yang dirasakan pimpinan Golkar di daerah. Faktor ini ditambah kedekatan Soekarwo dengan partai berlambang pohon beringin itu sebelum menyatakan maju dalam pilkada. Itu memudahkan bagi Karsa merebut simpati pimpinan Golkar.

Namun, upaya membangun koalisi itu membutuhkan biaya besar.Tinggal melihat apakah Karsa memiliki ladang uang yang besar apa tidak? Dana pasangan Kaji dalam posisi tidak diragukan. Sebaliknya, menjelang berakhirnya kampanye, keuangan pasangan Karsa menipis. Situasi itu bisa dipahami lantaran Karsa sudah start kampanye sejak dua tahun lalu, sehingga kondisi keuangannya jelas akan menjadi hambatan. Kini tinggal bagaimana Karsa memperbesar pundi-pundi pendanaannya.

Bagi Karsa, satu-satunya jalan kalau ingin face to face dengan Kaji harus mendongkrak popularitas. Kedekatan pada kaum santri harus ditingkatkan karena kedekatan Khofifah sudah mengakar di kalangan pesantren, baik dukungan dari santri maupun kiai. Kubu Karsa bisa memanfaatkan kepiawaian Saifullah Yusuf untuk menandingi popularitas Khofifah di pesantren. (*)

HARIYADI
Pakar Politik Universitas Airlangga Surabaya
(//mbs)

Source : okezone.com

Leave a Reply