Obama dan Kaum Progresif

Meskipun belum resmi dicalonkan sebagai presiden AS, Barack Obama sudah dituduh mengkhianati prinsip- prinsip dasar partainya sendiri, Partai Demokrat. Yang menuduh, aktivis Demokrat, mewakili sayap kiri atau ”progresif”, label mereka sendiri.

Casus belli, alasan perlawanan kaum kiri, macam-macam. Misalnya, Obama mengatakan, ia ingin meneruskan program-program pemerintahan Bush yang faith-based, berdasarkan agama. Menurut kelompok progresif, program-program ini melanggar pasal konstitusi yang memisahkan negara dari agama. Obama juga menyetujui keputusan baru Mahkamah Agung yang memudahkan kepemilikan senjata api secara pribadi.

Bagi orang kiri, keputusan itu merupakan kemenangan besar kaum koboi kanan yang kelewat individualis dan mau bertindak sendiri terhadap penjahat. Lagipula, dia menyetujui penerusan program wiretapping (penyadapan) nyaris tanpa perlindungan hukum, yang diciptakan Bush setelah tragedi 11 September 2001. Bagi aktivis kiri, program penyadapan Bush mengancam sendi-sendi negara hukum AS.

Masih ada lagi. Obama menyetujui hukuman mati bagi penjahat berat, sebuah kebijakan yang dilawan pendukung hak asasi. Tentang Irak, ia memberi sinyal setelah dilantik sebagai presiden akan merumuskan kembali kebijakan antiperangnya. Semakin besar kemungkinan bahwa dia tidak akan memulangkan pasukan AS jika keadaan dalam negeri Irak masih belum stabil. Akhirnya, meski masih pada tahap desas-desus, ada kesan, garis besar kebijakan ekonominya akan terbuka pada angin globalisasi. Kaum kiri tentu (seperti di Indonesia) menginginkan proteksi bagi buruh dan hasil produksi domestik.

Koalisi besar

Bagaimana menjelaskan pernyataan dan tindakan yang seakan tidak konsisten atau berbalik arus dari semula? John McCain, calon presiden dari Partai Republik, meledek sifat flip-flop atau plin-plan Obama yang dianggapnya bukti bahwa calon Demokrat itu terlalu muda dan kurang berpengalaman menjadi presiden negara adidaya satu-satunya di dunia.

McCain sendiri berumur 71 tahun dan amat berpengalaman, sebagai perwira karier Angkatan Udara AS, tawanan perang Vietnam, dan sebagai senator dari Negara Bagian Arizona.

Kaum progresif di Partai Demokrat cenderung mengambil salah satu dari dua sikap terhadap apa yang mereka anggap sebagai pergeseran-pergeseran Obama. Sebagian kecil betul-betul melawan, misalnya dengan menolak memberi uang untuk kampanyenya. Kubu ini juga sedang menggalang kekuatan untuk memaksakan kehendaknya saat program partai disusun kembali pada konvensi partai di Denver bulan depan. Namun, kelompok lebih besar mengambil sikap wait and see.

Mereka memaklumi, dalam sistem presidensial AS, seperti di Indonesia pasca-amandemen, seorang calon presiden harus membuat koalisi besar untuk memenangi 50 persen lebih dari seluruh suara. Biasanya, dukungan dari mayoritas pemilih Demokrat atau mayoritas pemilih Republik tidak cukup. Pada tahun 2000, calon Republik, George Bush, menyebut diri seorang compassionate conservative, yang berarti konservatif (kanan dalam leksikon politik Amerika) yang juga punya perhatian, atau rasa sayang terhadap kaum papa.

Di Indonesia, Presiden Yudhoyono menyebut diri dan partainya nasionalis-religius. Artinya, beliau ingin menjembatani dua kutub nasionalisme dan agama yang selama ini terpisah.

Ketegangan akan reda

Sikap saya sendiri agak berbeda dengan kubu-kubu ini, yang sabar dan kurang sabar, mungkin karena tidak termasuk pendukung sayap progresif partai saya.

Pernyataan dan tindakan Obama seperti diutarakan cukup konsisten dan mencerminkan posisinya sejak awal. Garis besarnya bisa diketahui melalui dua buku yang ditulis sebelum beraspirasi menjadi politikus tingkat nasional.

Saya sendiri sudah mengikuti jejaknya sejak terjun sebagai aktivis kelompok Afrika-Amerika di Chicago; sebagai dosen fakultas hukum; Senator Negara Bagian Illinois, dan di Senat AS.

Bagi saya pribadi, daya tarik Obama justru terletak pada hasrat kuatnya untuk menciptakan visi baru yang tidak mewakili hanya kubu progresif atau Partai Demokrat. Dari dulu, dengan amat serius ia mencari solusi baru untuk masalah-masalah yang sudah terlalu lama memecah-belah bangsa AS.

Kini, banyak gagasannya diperolok kiri-kanan, baik dari sayap paling progresif di Partai Demokrat maupun dari sayap paling konservatif di Partai Republik. Mungkin sekali, suasana politik yang tegang ini tidak akan reda sebelum hari pemilu awal November. Setelah itu, jika Obama menang, mudah-mudahan bisa mulai meyakinkan kedua pihak dengan perbuatan nyata.

R William Liddle Profesor Ilmu Politik, Ohio State University, Columbus OH, AS

Source : kompas.com

Leave a Reply