Para Ujung Tombak Keberhasilan Kandidat

Kampanye pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Sabtu (19/7) ini, berakhir. Meski hanya dua minggu, proses itu tidak hanya menguras energi dan pemikiran lima pasang calon peserta pilkada, tetapi juga orang-orang yang menjadi anggota tim kampanye mereka.

Bahkan, untuk memenangkan calon yang didukung, anggota tim pemenangan ini sudah bekerja beberapa bulan sebelum kampanye dimulai. Ketika calon yang mereka dukung belum resmi menjadi peserta pilkada pun, sebagian dari mereka sudah mulai memikirkan tema kampanye, jargon-jargon yang akan dipakai, hingga bentuk atribut yang hendak digunakan calon mereka.

Lamanya persiapan ini, antara lain, diperlihatkan Abdul Wahid Asy’ari, alumnus Pondok Pesantren Tebuireng. Untuk mendukung calonnya, yaitu Achmady, pada Maret lalu dia sudah menggelar diskusi untuk mengetahui peluang mantan Bupati Mojokerto itu sebagai calon Gubernur Jatim.

Intensitas kesibukan berlipat ketika masa kampanye tiba, seperti tergambar di sebuah rumah di kawasan Deltasari Indah, Surabaya, yang menjadi posko pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji).

Dari pagi hingga dini hari, anak-anak muda sibuk beraktivitas di dalam rumah yang terdiri dari dua lantai tersebut. Ada yang memotret, mengoordinasi wartawan, menyusun berita yang akan dimuat di situs Kaji, membagi-bagikan kaus, hingga mengoordinasikan daerah kampanye dengan tim lokal yang ada di setiap daerah.

Salah seorang anggota posko tim Kaji, Ahmad Millah, bahkan rela memutuskan cuti sementara dari pekerjaannya sebagai wartawan sebuah harian. Saat ditanya honor yang diterima di tim Kaji, dia hanya berujar, ”Ya, dapat uang pulsalah.”

”Saya tertarik dengan figur Ibu Khofifah dan rekam jejaknya yang bersih. Satu lagi, dia berbasis NU (Nahdlatul Ulama). Sudah saatnya pemimpin Jatim berasal dari kalangan muda NU,” tutur Millah tentang alasan keikutsertaannya di tim Kaji.

Ketertarikan kepada figur yang didukung memang menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang memutuskan bergabung di tim kampanye pasangan kandidat. Hal itu kemudian bersatu dan saling menguatkan dengan faktor lain yang bersifat perhitungan profesional dan rasional.

”Sudah lama saya bersahabat dekat dengan Gus Ipul. Itu yang membuat saya tertarik, dan kemudian bersedia membantunya dalam pilkada ini,” kata Mujtahidur Ridho, manajer kampanye calon wakil gubernur Saifullah Yusuf.

Bahkan, untuk kesediaannya ini, Ridho terpaksa meninggalkan istrinya yang sedang hamil di Surabaya. ”Agustus nanti, anak kedua saya lahir. Mudah-mudahan sehat,” ucap Ridho. Dia mengaku istri tersayangnya tidak marah ditinggal karena juga sudah lama mengenal Saifullah.

Sebagai manajer kampanye, tugas utama Ridho adalah mengoordinasikan kampanye Saifullah. ”Ini pengalaman buat saya,” kata Ridho yang akibat posisinya itu, hampir setiap 10 menit, dua telepon genggamnya selalu berdering. Selama dua minggu kampanye, rata-rata Ridho juga hanya tidur sekitar tiga jam sehari.

Tantangan berat

Mengoordinasikan kampanye dalam masyarakat yang amat plural dan berjumlah banyak, wilayah yang luas, dan waktu yang hanya dua minggu jelas bukan pekerjaan mudah. Kesulitan semakin ditambah oleh jadwal setiap calon yang berbeda.

Seperti disampaikan wakil ketua tim sukses pasangan Soenarjo-Ali Maschan Moesa (Salam), Gatot Sudjito. Menurut dia, bukan hal yang mudah mengatur jadwal antara Soenarjo yang memiliki komunitas seniman sekaligus birokrat dan Ali Maschan Moesa yang berasal dari komunitas nahdliyin dan intelektual.

”Pak Narjo dan Pak Ali memiliki jaringan dan kultur yang berbeda. Misalnya saja untuk mempertemukan mereka berdua di satu titik, itu sangat sulit. Tak jarang salah satu pasti datang terlambat karena harus hadir di komunitas yang lain,” ungkap Gatot.

”Bagi saya, yang penting sudah berusaha maksimal membantu Gus Ipul. Sekarang tinggal menunggu hasil 23 Juli mendatang. Jika kalah, ya pulang ke Jakarta, mengurus Pagar Nusa,” kata Ridho yang juga Sekretaris Jenderal Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa.

Hal hampir senada disampaikan Abdul Wahid Asy’ari yang akan segera kembali meneruskan usahanya sebagai distributor di bidang makanan jika ternyata Achmady tidak memenangi pilkada.

Pilkada 23 Juli mendatang seharusnya memang bukan segalanya dalam hidup. Karena itu, siapa pun yang menang atau kalah, para calon, tim kampanye, dan masyarakat Jatim harus menerimanya dan kembali menjalankan hidup sebagaimana seharusnya. (NWO/INA/IDR/VIN)

Source : kompas.com

Leave a Reply