Parlok bukan bentuk perlawanan terhadap demokrasi di Indonesia

BANDA ACEH – Kehadiran partai politik lokal (parlok) bukan merupakan bentuk perlawanan Aceh terhadap Negara Kesatuan RI, tapi sebaliknya justru mendukung proses demokrasi di Indonesia, kata Gubernur Aceh Irwandi Yusuf.

“Kehadiran parlok adalah bagian dari keistimewaan Aceh seperti yang tercantum dalam Undang-undang No.11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh,” katanya pada penutupan Kongres XXII PWI di Banda Aceh, Selasa malam.

April 2009 adalah momen penting bagi tonggak demokrasi di Indonesia. Untuk kedua kalinya akan dilaksanakan Pemilu nasional secara langsung.

Dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekdaprov, Husni Bahri TOB, Gubernur menyebutkan, ada 34 partai politik yang akan bersaing di tingkat nasional dan provinsi. Namun di Aceh ada keistimewaan sendiri dengan hadirnya enam parlok yang akan ikut menyemarakkan Pemilu mendatang.

Gubernur menyatakan, demokrasi di Aceh mendapat pujian dari berbagai pihak.

“Barangkali tidak terlalu berlebihan kalau saya katakan bahwa Aceh adalah provinsi yang paling demokratis  di Indonesia,” tuturnya.

Disebutkan, calon independen bermula dari Aceh, dan kini sudah diikuti daerah lainnya di Indonesia. Bukan tidak mungkin, parlok pun nantinya ada di daerah lain.

Gubernur menyatakan, PWI memiliki perhatian khusus terhadap proses demokrasi di Indonesia. Dalam Kongres XXI PWI di Palangkaraya, Kalimanatn Tengah lima tahun lalu, PWI mensosialisasikan berdirinya sebuah lembaga pemantau Pemilu yang diberi nama “Masyarakat PWI Pemantau Pemilu (Mapilu).

Lembaga itu dibentuk bertugas memantau pemilihan presiden dan legislatif, baik di tingkat nasional maupun daerah/provinsi.

Mengingat Pemilu di Aceh memiliki dinamika yang berbeda, Gubernur berharap jika PWI masih membentuk lembaga pemantau yang sama, agar pesta demokrasi yang berlangsung di daerah itu juga dipantau.

“Kami yakin dengan kehadiran pemantau pemilu PWI, pesta demokrasi di Aceh lebih semarak dan transparan,” ujarnya.

PWI adalah bagian dari sejarah negeri ini. Sejarah pula yang membuktikan bahwa wartawan memegang peranan penting dalam penegakan demokrasi, termasuk dalam pelaksanaan Pemilu, katanya.

Pada bagian lain sambutannya , Gubernur mengharapkan anggota PWI agar bisa menyebarkan informasi kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa tidak ada lagi konflik politik di Aceh.

“Aceh ingin bangkit. Kami menyambut dengan terbuka orang-orang yang ingin membangun Aceh. Aceh sekarang adalah Aceh baru, bukan Aceh masa lalu,” kata Gubernur Irwandi Yusuf.

Source : Harian Waspada

Leave a Reply