Partai Lokal Belum Bisa Menjual

Banda Aceh | Harian Aceh—Kandidat Doktor Ilmu Pemasaran Politik Universitas Sains Malaysia, Fakhrurrazi Amir, berpendapat para pengurus parpol lokal Aceh belum mahir memasarkan diri sehingga terkesan gagap dan energinya tersedot untuk verifikasi. “Mereka harus memasarkan diri kalau ingin menarik simpati masyarakat,” katanya.

Dia juga mengingatkan Parlok hendaknya segera melakukan segmentasi pasar. Mereka harus lebih banyak memasarkan ide-ide dalam segala media. “Apalagi persaingan dengan partai nasional juga semakin ketat,” kata Fakhrurrazi Amir, kepada Harian Aceh, Jum’at (23/5).

Parlok, kata dia, dapat memasarkan ideologinya, tokoh-tokohnya kepada masyarakat karena jika diibaratkan sebagai produk mereka inilah produk parpol. “Alasan bahwa saat ini parlok sedang sibuk dengan urusan verifikasi kurang logis. Verifikasi parpol hanyalah urusan administrasi semata, seharusnya pemasaran parpol lebih diutamakan,” katanya.

Dosen pemasaran di Unsyiah ini menyatakan Parlok perlu melakukan segmentasi pasar. ”Apakah parlok nanti ingin memikat konstituen pria, wanita, remaja, buruh dan sebagainya. Tidak mungkin merekrut semuanya,” katanya.

Apalagi banyak parlok yang secara sadar atau tidak sadar sudah mensegmentasi pasarnya seperti PARA untuk perempuan, PRA untuk kaum muda dan buruh atau Partai Aceh untuk masyarakat bawah. Ideologi parlok harus dipasarkan dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Ia juga mengkritik PRA yang mempunyai ideologi sosialis yang mempunyai citra kaum marxis. Melihat pemasaran yang mereka lakukan, sepertinya PRA kurang tertarik mendekati isu-isu agama di Aceh. Mereka lebih suka memasarkan ideologi buruh. ”Padahal berapa oranglah kaum buruh di Aceh” kata pria berkaca mata ini.

Juga Partai Aceh yang sebelumnya bernama Partai GAM (tanpa singkatan), kemudian berubah mempunyai singkatan Gerakan Aceh Mandiri. “Sah-sah saja mengubah nama namun harus diingat, sosialiasi nama dan ideologi partai sebagai strategi pemasaran penting. Jangan sampai konstituen kebingungan dengan nama, apalagi banyak parlok mempunyai nama dan lambang yang mirip,” katanya.

Penggunaan media untuk pemasaran pun penting. Umbul-umbul, spanduk merupakan cara tradisional. Masih banyak cara lain seperti menampilkan tokoh dalam media. Hal ini sedang gencar dilakukan oleh partai nasional, PAN sebagai contoh. Keikutsertaan parlok dalam berbagai event kemasyarakatan, kata dia, juga bagus seperti yang sering dilakukan PKS. Ini semua untuk membentuk citra positif di masyarakat, tetapi bukan pula dengan melakukan ”iklan yang menyesatkan. “Apalagi ke depan persaingan partai sangat ketat,” demikian Fakhrurazi Amir.(t-7)

Tulisan ini dikutip dari Harian Aceh, 24 Mei 2008

Leave a Reply