Pemimpin Alternatif Jadi Pilihan Masyarakat

JAKARTA–MI: Masyakarat lebih memilih tokoh alternatif sebagai pemimpin. Hal ini terlihat dari kekalahan partai besar di daerah basis massanya dalam beberapa pemilihan gubernur, termasuk di Jawa Timur. Hal itu akan terulang kembali pada pemilihan umum 2009 mendatang.

Demikian diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Sugen Sarjadi Sindycated (SSS) Sukardi Rinakit ketika dihubungi Media Indonesia di Jakarta, Rabu (23/7). Fakta di lapangan menunjukkan partai-partai besar di daerah yang merupakan basis massanya terus mengalami kekalahan.

Basis suara nasional sebenar ditentukan oleh lima provinsi padat penduduk, yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra Utara, dan Sulawesi Selatan. Partai Golkar yang berbasis massa di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan tidak menang menang pada pemilihan gubernur di kedua daerah itu. PDIP hanya bisa menang pada daerah basis massanya di Jawa Tengah tapi kalah di basis massa Sumatra Utara. Sedangkan PKB yang berbasis massa di Jawa Timur pun kalah dalam pemilihan gubernur yang digelar Rabu (23/7).

Menurut Sukardi, fenomena kekalahan partai-partai besar di basis massanya itu akan memengaruhi hasil pemilu 2009. “Yang bisa menang di Pilkada kemarin itu adalah calon-calon alternatif. di Jawa Timur, Soekarwo itu tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Tapi Syaifullah Yusuf adalah sebuah sosok alternatif bagi masyarakat Jawa Timur,” kata Sukardi.

Karena itu, lanjutnya, partai pemenang Pilkada di lima basis massa itu berpeluang besar memenangkan pemilu 2009 ketika memunculkan calon presiden alternatif. Pasalnya, masyarakat Indonesia memiliki karakter yang melodramatis. Karakter yang memiliki sifat mudah lupa, mudah bosan, dan mudah kasihan. “Jadi 2009 itu yang terpilih adalah calon presiden alternatif, asalkan karakteristik masyarakat Indonesia yang mudah bosan itu tetap dipelihara,” ujar Sukardi.

Tapi, tambahnya, kalau sifat mudah bosan itu tidak dijaga oleh partai-partai yang akan memunculkan calon presiden alternatif, bisa jadi seorang pemimpin yang tidak berhasil akan terpilih lagi. “Karena masyarakat juga mudah lupa. Kalau insentifnya kuat di menjelang pemilu nanti, seperti ada pembangunan jalan, harga murah, tentunya akan melupakan kegagalannya dan memilih lagi karena di ujungnya baik,” ungkap Sukardi. (Far/OL-06)

Source : Media Indonesia

Leave a Reply