Political Marketing itu “Menjual Figur”

Pengamat komunikasi politik Heri Budianto mengatakan bahwa secara general masyarakat kini sudah krisis kepercayaan terhadap partai politik (Parpol). Itu dikarenakan kegagalan Parpol dalam menjalankan kaderisasi yang baik serta banyaknya partai yang terlibat kasus korupsi telah membuat masyarakat lebih memilih ketokohan figur, dan tidak begitu mementingkan profil parpol. “Secara umum masyarakat lebih memilih seorang tokoh figur dibandingkan partai politiknya,” ujarnya.

Dirinya juga menyebutkan ketokohan figur telah “memanjakan” partai sejak era reformasi bergulir. Contoh ada Almarhum Gus Dur di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), meski dia sudah tidak ada tapi figur atau tokohnya masih melekat hingga sekarang. Ada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di partai Demokrat, dan masih banyak lagi tokoh atau figur yang membawa parpol mampu menarik massa. “Fenomena ketokohan memang mengemuka pascareformasi dan ketika sistem demokrasi kita terapkan. Dan itu mampu membawa massa dalam partainya,” imbuhnya.


Lebih jauh Dia menyebut partai politik saat ini lebih menerapkan sistem “political marketing” sebagai tumpuan dalam merebut hati rakyat. Namun yang dijual oleh partai itu bukan partainya, namun figur. “Wajar saja banyak parpol muncul dengan membawa seorang figur karena itu dirasa strategi yang paling efektif dalam menarik massa,” tegasnya.

Menurut dia juga, dunia politik tanah air kerap kali diidentikkan dengan politik ketokohan, dimana pemimpin atau calon presidennya menjadi sorotan tersendiri dalam menarik apresiasi dan dukungan dari rakyat. Fenomena ini selalu dibuktikan adanya, pada tiap periode pemilu di Indonesia. “Partai yang unggul dalam perolehan suara pemilu, umumya karena memboyong satu atau dua figur yang memiliki elektabilitas tinggi di masyarakat. Berkaca pada pemilu-pemilu sebelumnya di Indonesia, partai yang berada di urutan teratas perolehan suara merupakan partai besar dengan popularitas figur-figur mereka,” ujarnya.

Tengok saja pada Pemilu tahun 2014 lalu, kemenangan partai dalam pemilu pun faktanya tak lepas dari peran serta figur tokoh yang membangun pencitraan untuk mendongkrak suara partainya. Hal ini dibuktikan dengan kemunculan sosok seperti Jokowi sebagai pemimpin yang terkenal dengan keluguannya, dan kedekatannya dengan rakyat, membuat PDIP tak luput dari ikon Jokowi dalam setiap kampanyenya.

Atau sosok Prabowo yang tahun ini sukses mendongkrak suara Partai Gerindra dengan begitu signifikan dari periode pemilu sebelumnya, ditambah sosok Soeharto dengan pencitraan keberhasilannya sebagai Presiden RI di era Orde Baru, masih tak lepas menjadi figur sorotan di partai Golkar. “Ke depan pasti muncul tokoh-tokoh baru yang akan menjadi perhatian publik dan mampu membawa massa dalam parpolnya, siapa pun itu kita tunggu saja,” paparnya.

Tapi menurut dia lagi, tanpa kita sadari fenomena pertarungan figur tokoh sebagai strategi pemenangan di pemilu, mengindikasikan iklim yang tidak sehat bagi perpolitikan tanah air. Sebuah persoalan lokomotif di gerbong partai politik akan menjadi tidak sehat apabila hanya mengandalkan gerbong-gerbong tertentu saja, sehingga budaya politik dalam partai tidak dapat mapan dan berkembang.

Padahal, dalam menjalankan fungsinya, partai tidak hanya dapat mengandalkan suara lewat figuritas tokoh sebagai lokomotif partainya tapi kinerja bagus yang memang ditunggu oleh seluruh masyarakat agar mampu membawa Indonesia bisa lebih baik. “Membawa seorang figur dalam sebuah parpol untuk menarik massa boleh-boleh saja. Tapi yang terpenting adalah figur maupun tokoh itu mampu dan bisa membawa Indonesia lebih baik,” tukasnya. (agus)

Source : neraca.co.id

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply