Polling CAJP: Parlok Unggul 60,49 Persen

BANDA ACEH – Keikutsertaan enam partai politik lokal (parlok) dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 di Aceh, tampaknya akan membuat peta kekuatan parpol di Aceh berubah. Jika dalam beberapa pemilu terakhir Aceh selalu dikuasai oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Golongan Karya (Golkar), maka dalam Pemilu 2009 keadaan itu diprediksi akan berubah.

Dari berbagai polling (jajak pendapat umum) yang dilakukan oleh sejumlah lembaga, kehadiran partai lokal yang merupakan salah satu point dari kesepahaman bersama (MoU) Helsinki, selalu mendapat sambutan antusias dari masyarakat Aceh. Hal yang sama kembali terlihat dari hasil polling SMS partai politik (parpol) yang diumumkan diselenggarakan Center for Aceh Justice and Peace (CAJP).

Meski tidak sepenuhnya memenuhi unsur objektif, karena dilakukan melalui SMS, hasil polling yang diumumkan pada, Senin (14/7), menunjukkan bahwa parlok akan menggungguli partai nasional dalam Pemilu 2009. “Dari hasil polling didapatkan jika pemilu dilaksanakan sekarang 60,49 persen responden menjawab akan memilih partai lokal, 25,51 persen memilih partai nasional, dan sisanya 14 persen mengatakan tidak tahu,” ujar pendiri CAJP, Dewi Meuthia dalam konfersnsi pers hasil polling CAJP, kemarin.

Dewi Meuthia yang juga istri Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar mengatakan, polling tersebut dilakukan dengan mengambil populasi masyarakat Aceh yang menggunakan telepon seluler. Menurut Dewi Meuthia polling seperti ini akan dilakukan secara simultan dan berkesinambungan hingga penyelenggaraan pemilu 2009. “Dengan hadirnya parlok diharapkan partisipasi masyarakat lebih baik. Parlok merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perdamaian Aceh, karena MoU Helsinky mengamanatkan seperti itu,” imbuhnya.

Ketua Tim Polling CAJP, Muhsin A Gani S Ked mengatakan lebih dari 2.000 sms masuk ke nomor panitia, setelah dibuka polling selama satu minggu sejak Senin lalu. “Analisa kami di CAJP, hasil ini tidak akan terlalu berbeda pada hasil Pemilu 2009 nanti. Kami memprediksikan rumus ’Rule of 25‘ yaitu 25 persen masyarakat akan memilih partai karena uang, 25 persen karena paksaan, dan 25 persen memang massa fanatik, sisanya adalah massa mengambang,” jelas Muhsin.

Ia memprediksikan kecendrungan masyarakat tidak memilih partai manapun atau golongan putih (golput) akan banyak terjadi. “Teori tiga M yaitu Money (uang), Men in Government (kekuasaan) dan massa fanatik juga berlaku pada pemilu tahun depan,” sebutnya. (ami)

Soource : Serambi Indonesia

Leave a Reply