Sekondan Bukan Seken Komandan

Posisi wakil sebut saja dengan ”sekondan”. Dalam proses pencalonan kepala daerah, sekondan bukanlah barang seken (second) atau sekadar hiasan karena kemenangan pasangan juga sangat ditentukan oleh peran sekondan.

Peran sekondan atau calon wakil gubernur dalam pilkada bisa dilihat dalam dua hal, meningkatkan popularitas dan memperkuat dana kampanye. Kombinasi kedua hal ini akan menghasilkan banyak pola dan variasi.

Popularitas memiliki tujuan mendulang suara sebanyak-banyaknya. Faktor ketenaran ini bisa hanya dalam lingkup yang kecil atau lokal. Maksudnya, calon dikenal hanya pada daerah yang mengadakan pilkada atau sekitarnya. Akan lebih menguntungkan jika calon populer dalam lingkup yang lebih luas atau nasional, dikenal di seantero Tanah Air. Secara marketing, ia sudah menjual terlebih dahulu, jauh-jauh hari.

Di beberapa pilkada gubernur yang sudah berlangsung, popularitas calon wakil gubernur ini sudah terbukti. Di Jawa Barat, popularitas aktor dan anggota DPR, Yusuf Macan Efendi, yang beken dengan nama Dede Yusuf, sedikit banyak mendongkrak perolehan suara. Masyarakat, tidak hanya di Jawa Barat, tentu sudah mengenal sosok bintang iklan obat sakit kepala ini sejak sebelum pencalonannya di pilkada. Kondisi ini berbeda dengan pasangannya, Ahmad Heryawan, yang baru mencuat setelah mencalonkan diri.

Di tingkat pemerintahan yang lebih rendah, ketenaran aktor Rano Karno sebagai calon bupati Tangerang juga telah terbukti. Tokoh sentral dalam sinetron ”Si Doel Anak Sekolahan” ini berperan besar mengantarkan pasangannya menduduki posisi nomor satu di kabupaten tersebut.

Pada Pilkada Gubernur Jawa Tengah lain lagi. Gubernur terpilih, Bibit Waluyo, tergolong seorang tokoh yang sudah didengar nama dan kiprahnya di tingkat nasional setelah menjabat sebagai Pangdam IV/Diponegoro (1999-2000), Pangdam Jaya (2001-2002), dan Pangkostrad (2002-2004). Lingkup kepopulerannya boleh dibilang sudah nasional, ia dikenal tidak hanya di Jateng.

Bibit Waluyo memilih sekondan seorang Rustriningsih, Bupati Kebumen yang menjabat selama dua periode. Namanya, selain dikenal di Kebumen dan Jateng, juga sering menghias media massa nasional sebagai bupati perempuan dengan kualitas yang baik. Kombinasi pasangan yang secara popularitas sama kuat ini tepat dan memenangi pilkada dengan mengantongi 43,44 persen suara. Rustriningsih menjadi sosok sekondan perempuan yang sukses. Bahkan, sebelum pemilihan, popularitasnya jauh melampaui ”komandannya”.

Namun, hanya berbekal popularitas lokal bukan berarti tak memiliki peluang untuk menang. Popularitas lokal telah mengantarkan pasangan Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugroho menjadi pasangan gubernur dan wakil gubernur Sumatera Utara terpilih.

Setelah faktor ketenaran, sekondan juga berperan besar dalam memperkuat dana kampanye. Pada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jabar, kekayaan calon gubernur Dede Yusuf lebih besar dibandingkan pasangannya. Begitu juga di Kabupaten Tangerang, kekayaan calon bupati Rano Karno lebih unggul ketimbang pasangannya.

Namun, ini bukan rumus mutlak. Ada pengecualian seperti yang terjadi di pilgub Sumut dan Jateng. Kekayaan calon gubernur yang akhirnya terpilih melebihi kekayaan sang sekondan. Oleh karena itu, bisa jadi sekondan tidak menyumbang banyak, baik soal popularitas maupun dana.

Sekondan Jatim

Bagaimana kekuatan sekondan di Jawa Timur? Pengamat politik dari Universitas Airlangga, Surabaya, Priyatmoko Dirdjosuseno, mengatakan, peran sekondan yang paling kuat hanya dimiliki oleh calon wakil gubernur Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Gus Ipul termasuk tokoh terkenal secara nasional disebabkan pernah menjabat sebagai Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (2004-2007). Ia pernah pula menjabat sebagai anggota DPR tahun 1999-2004. Selain itu, ia menguasai jaringan pemuda, GP Ansor, dengan menjadi ketua umum.

Dalam jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas, 15 Juli lalu, posisi Gus Ipul teratas dibandingkan keempat calon lain dalam hal kelayakan menduduki posisi wakil gubernur. Ia dipilih oleh 29,5 persen responden. Posisi kedua adalah Ali Maschan Moesa (20,8 persen) dan ketiga Mudjiono (20 persen).

Namun, dalam Pilkada Jawa Timur, sosok calon gubernur tampaknya lebih menjadi penentu kemenangan daripada sosok sekondan. Hasil jajak pendapat tersebut juga menyebutkan, sosok yang akan paling berperan menentukan perolehan suara adalah calon gubernur ketimbang sosok sekondannya. Separuh responden (54,7 persen) yang sudah mempunyai ketetapan akan memilih pasangan calon karena tertarik pada si calon gubernur. Hanya 6,2 persen responden yang pilihannya ditentukan oleh faktor sekondan. Sementara responden yang akan memilih berdasarkan kombinasi keduanya sebanyak 34,2 persen. Dalam survei pascapencoblosan (exit poll) yang dilakukan Litbang Kompas, 23 Juli, 80,4 persen responden memilih karena sosok gubernurnya, bukan wakilnya.

Sekondan dalam Pilgub Jatim, menurut Priyatmoko, tidak begitu kuat alias kartu mati. ”Perang antarcalon wakil gubernur kurang kuat, baik dalam menciptakan isu maupun mengangkat program,” katanya.

Meski demikian, keberadaan sekondan tetap diperhitungkan. Kubu Khofifah menyatakan, keberadaan sekondannya yang dari militer akan turut menentukan dalam meraih suara dari kalangan tersebut. Khofifah akan diuntungkan oleh jaringan militer yang dimiliki sekondannya.

Pertarungan yang cukup ketat akan terjadi antara pasangan Khofifah-Mudjiono dan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf dalam putaran kedua nanti. Kekayaan Mudjiono lebih unggul daripada Khofifah, tetapi secara popularitas Khofifah lebih terkenal. Popularitas Gus Ipul melebihi Soekarwo, tetapi soal kekayaan, Soekarwo lebih unggul. Yang pasti, sekondan bukan hanya hiasan atau seken komandan.

(GIANIE/Litbang Kompas)

Source : kompas.com

Leave a Reply