Unjuk Pamor di Pandalungan dan Madura

Pandalungan, yang arti aslinya “periuk besar”, sebagai bagian ”tlatah” atau geokultural terbesar di Jatim banyak dihuni dua etnis mayoritas, Jawa dan Madura. Pandalungan pun bermakna masyarakat hibrida atau masyarakat berbudaya baru akibat terjadinya percampuran dua budaya dominan itu. Di kawasan luas itu mengakar sekali pengaruh Islam dan Jawa. (Ayu Sutarto, 2006)

Pandalungan yang berarti “periuk besar” dari bahasa Jawa “dhalung” bermakna sebagai pertemuannya budaya sawah dengan budaya tegal. Tidak heran jika masyarakat di sana berciri agraris-egaliter, bekerja keras, agresif, ekspansif, dan memiliki solidaritas yang tinggi.

ementara itu, dalam pola kepemimpinan, masyarakat Pandalungan masih menempatkan pemimpin agama Islam sebagai tokoh sentral. Tak pelak, di wilayah ini tokoh kiai masih kuat menjadi figur panutan. Peran kiai tidak hanya secara sosiologis, tetapi juga politis. Beberapa tokoh agama berpengaruh berada di wilayah Pandalungan seluas 14.454 kilometer persegi (31,1 persen dari luas Jatim), meliputi wilayah Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Lumajang, dan Jember.

Bersama wilayah Pandalungan, wilayah Madura juga masuk dalam kategori wilayah tapal kuda. Madura sendiri merupakan komunitas budaya terbesar ketiga di Jatim setelah Mataraman dan Pandalungan. Karakteristik kultur warganya pun berbeda dengan masyarakat di tlatah Mataraman. Kondisi lingkungan dan geografis di lahan kering turut membentuk budaya yang berbeda dengan budaya Jawa yang lahannya relatif subur.

Keberadaan Pandalungan plus Madura menjadikan sentimen politik di dua wilayah ini tidak lepas dari sentimen politik pesisir utara Jatim yang banyak didominasi oleh warna politik Islam. Representasi politik tersebut berada pada Partai Kebangkitan Bangsa yang menjadi partai politik dominan di dua wilayah itu.

Bagaimana dengan pertarungan di dua wilayah ini pada Pilkada Jatim? Hasil survei pascapencoblosan (exit poll) Litbang Kompas pada 23 Juli menyebutkan, wilayah Pandalungan dan Madura menjadi medan pertarungan antara figur NU Khofifah dan Saifullah Yusuf. Bersama pasangannya, dua kader NU ini meraih dukungan terbesar di dua wilayah yang mengantongi 34,2 persen jumlah pemilih di Pilkada Jatim ini, dibandingkan dengan tokoh NU lainnya, seperti Ali Maschan Moesa.

Kondisi itu terbukti, Saifullah dan Khofifah yang gagal main di putaran pertama, tetapi dibolehkan ikut di putaran kedua di Pilkada Jatim setelah Idul Fitri nanti, rupanya memperoleh berkah suara dari Pandalungan plus Madura.

Survei menyebutkan, di wilayah Pandalungan, pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) dan pasangan Khofifah-Mudjiono (Kaji) meraih suara terbesar, masing-masing 30,8 persen dan 32,3 persen. Hal yang sama terjadi di wilayah Madura, kedua pasangan calon ini juga meraih suara paling banyak dibandingkan dengan tiga pasangan lainnya.

Hal ini tentu tidak lepas dari figur kedua kader NU ini. Khofifah yang juga tercatat sebagai Ketua PP Muslimat NU dan Saifullah yang menjabat Ketua Ansor, diakui atau tidak, menjadi kendaraan bagi keduanya untuk mengakar ke bawah dibandingkan dengan calon-calon berlatar belakang NU lainnya. Di putaran berikut, siapa pun harus ada yang menang dan kalah. Satu menang, satu kalah.

(Yohan Wahyu/Litbang Kompas)

Source : kompas.com

Leave a Reply