Visi Parlok – Parnas Membangun Rakyat

(BANDA ACEH) – Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (DPN-PKPI), Prof. Dr. Meutia Hatta, menilai kehadiran Partai Lokal khusus di Aceh sebagai peserta Pemilu Tahun 2009 mempunyai tujuan yang sama untuk membangun rakyat.

“Saya kira Parlok tidak harus bertentangan dengan kami, karena parlok punya visi dan misi yang sama dengan kami dan bekerjasama itu baik,” ujar Meutia Hatta kepada wartawan, usai menutup Muspimprov II dan Rakor Legislatif DPP PKPI Aceh, Minggu (13/7) di Banda Aceh.

Menurutnya, Indonesia juga diatur oleh kebersamaan dengan Pancasila dan UUD 1945 yang sebetulnya bila dilihat nilai-nilainya itu penuh dengan kebersamaan. Jadi parnas maupun parlok secara umum meski kalimat berbeda tujuannya tetap sama membangun rakyat, cetusnya.

Dikatakannya, nilai-nilai kebersamaan itu mempunyai makna ukhwah Islamiah dan ukhwah wahdaniah. “Kalau Parlok membangun Aceh tentu untuk rakyat Aceh, tidak beda dengan PKPI dengan prinsip keadilan dan persatuan untuk orang Aceh juga dan provinsi lain sebagai NKRI.”

Ditanya strategi PKPI menghadapi Pemilu di Aceh, Meutia mengatakan ada strategi umum dan khusus. Strategi khusus itu tentunya daerah-daerah sendiri yang menyusunnya karena daerah tahu bagaimana cara-cara yang paling efektif untuk bisa menjaring pemilih, akunya.

Terkait dengan target partai PKPI untuk mendulang suara empat persen pada Pemilutahun 2009, Meutia yang juga Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ini mengatakan kalau dilakukan secara serius dan bersama-sama pasti bisa tercapai.

Menanggapi tidak lulusnya verifikasi faktual Parlok PARA, yang berbasis dan peduli perempuan sebagai peserta Pemilu 2009 di Aceh, Meutia mengharapkan anggota dan kader Parlok tersebut bisa mencoba lagi pada pemilu mendatang.

“Kalau mereka tidak lulus mencoba lain kali lah. Saya kira anggota parlok PARA tersebut tetap mendorong kaum perempuan untuk maju. Jangan golputlah,” cetus putri sulung proklamtor Muhammad Hatta, yang berdarah Aceh ini.

Menurutnya, perempuan tidak harus disatu partai tapi harus masuk disetiap partai karena semua partai juga menangani masalah perempuan. “Kalau perempuan tidak cukup dipartai nanti masalah-masalah perempuan tidak tertangani dengan baik,” demikian Meutia. (b04)

Source : Harian Waspada

Leave a Reply