Political brands: who gets your vote?

David Cameron and Nick Clegg in the final leaders’ debate in 2010. Photograph: WPA Pool/Getty Images

As the general election looms, marketing experts assess the political parties for brand strength and relevance

Political campaigning for the 2015 general election has not exactly been a masterclass in marketing. Some efforts, such as the Conservative’s first election poster, which showcased a German road, and Labour’s pink bus tour to court female voters, have even been met with widespread derision.
Continue reading

Pemilukada dan Ketidakberuntungan Pemilih

PEMILUKADA serentak 2015 segera berlangsung. Selain masih didominasi pemain lama, pemilukada juga masih diwarnai dengan disfungsi parpol dalam melahirkan sosok kandidat yang sejalan dengan ekspektasi pasar politik.

Mekanisme Pasar Politik

Dalam sistem demokrasi, parpol memiliki beragam peran yang sangat strategis. Salah satunya memberikan suplai atas kebutuhan dan permintaan pemilih terhadap sosok pemimpin dan model kepemimpinan yang diharapkan mayoritas pemilih. Dalam perspektif marketing politik, proses suplai dan permintaan yang terjadi dalam panggung politik sangat ditentukan kondisi struktural-sistemik di satu sisi dan juga kondisi internal tiap-tiap organisasi parpol di sisi yang lain.

Continue reading

Marketing Politik, Citra dan Media Baru

Lazimnya sebuah perusahaan yang memiliki divisi pemasaran, sistem politik juga memiliki strategi pemasaran. Umumnya, pemasaran digunakan perusahaan untuk menyeleksi pelanggan, menganalisa kebutuhan mereka, sebelum menetapkan produk inovasi, iklan, harga, dan strategi distribusi yang berbasis pada riset informasi. Dalam politik, aplikasi pemasaran berpusat pada proses yang sama, namun analisa dari keputuhan bermula dari pemilih dan penduduk. Sedangkan produk pemasaran politik merupakan kombinasi dari mulai pelaku politik, pencitraannya, dan platform pendukung yang dipromosikan dan disampaikan kepada khalayak yang tepat.

Sesungguhnya, memasarkan seorang politisi untuk menjadi anggota DPR, DPRD, DPD Presiden, Wakil Presiden, Gubernur, atau Bupati, tidak beda dengan menjual McDonald’s atau sebuah BMW. Ia harus bisa mengantisipasi kebutuhan dan keinginan dari pasar, agar sukses ‘terjual’. Hanya saja, dalam politik, proses tersebut lebih dinamis, dan sulit diprediksi karena kekuatan dan kompetitor yang juga dinamis. Sikap pelanggan atau pemilih, dalam hal ini juga berubah secara konstan akibat pengaruh media yang secara konstan memberitakan para kandidat.
Maka, ada dua perbedaan mencolok dalam hal pemasaran bisnis dengan pemasaran politik.
Continue reading