Capres dan Media Sosial

Ilustrasi, Kompas Cetak

KOMPAS.com – Siapa yang menguasai internet dan media sosial, dialah yang akan memimpin negara. Barack Obama sudah membuktikannya di AS. Bagaimana dengan calon presiden Republik Indonesia? Sejauh mana capres-capres memanfaatkan media sosial untuk menjaring pendukung?
Sebelum menjabat presiden Amerika Serikat 2008, Barack Obama, Senator Illinois ini, sukses memanfaatkan internet untuk menjaring pendukung dan mengumpulkan dana secara online. Obama memiliki jejaring sosial mulai dari Facebook, LinkedIn, Youtube, Twitter, Friendster, hingga MySpace. Pada pemilihan periode kedua 2012, Obama juga memanfaatkan jejaring sosial lainnya yang populer di Amerika, seperti Google Hangouts.

Menguasai komunikasi publik salah satu kunci kemenangan capres. Franklin D Roosevelt menggunakan radio untuk menjangkau pendukungnya, John F Kennedy memanfaatkan televisi untuk meraih kemenangan.

Barack Obama memanfaatkan internet, menyapa masyarakat akar rumput melalui media sosial yang bertebaran di Amerika. Obama mencatat sejarah, menjadi orang berkulit hitam pertama yang tinggal di Gedung Putih. Internet menjadi sarana ampuh bagi Obama.
Continue reading

Fraksi PDIP Dianggap Enggan Perjuangkan Jokowi

Joko Wdodo

.CO.ID, JAKARTA — Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Burhanudin Muhtadi menyoroti ketidakseriusan internal PDI Perjuangan (PDIP) dalam mendukung Jokowi menjadi capres. Dia menyatakan, Jokowi bisa gagal terpilih menjadi presiden meski memiliki elektabilitas lebih tinggi ketimbang tokoh lain.

“Itu isu serius. Ada keengganan fraksi memperjuangkan Jokowi. Tim tidak solid,” kata Burhanudin, Selasa (15/4).
Continue reading

Saling Punya “Kuncian”, Pilpres 2014 Bakal Lebih Panas

Ilustrasi Kompas

JAKARTA, KOMPAS.com — Atmosfer politik pada Pemilihan Presiden 2014 diprediksi lebih seru dan panas dibandingkan tahun 2009. Lima tahun lalu, figur masih tersentral pada sosok calon incumbent, Susilo Bambang Yudhoyono. Kini, meski bakal capres dari PDI Perjuangan, Joko Widodo, tengah di atas angin, bukan berarti pertarungan selesai. Lawan Jokowi bukan yang gampang ditaklukkan.

Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Kuskridho “Dodi” Ambardi, memprediksi, akan maju tiga calon presiden, yaitu Joko Widodo; bakal capres dari Partai Golkar, Aburizal Bakrie; dan bakal capres dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Ketiganya, menurut Dodi, saling punya “kuncian”. Ada titik lemah yang bisa dijadikan amunisi serangan oleh lawan. Hal inilah yang akan membuat situasi politik memanas.
Continue reading

Koalisi Partai Islam Persempit Jangkauan Penetrasi

Ilustrasi Poros Tengah Jilid II | Kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com — Peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), J Kristiadi, mengatakan, koalisi partai Islam tak mungkin terealisasi. Pasalnya, koalisi itu justru merupakan blunder yang akan mempersempit jangkauan penetrasi koalisi tersebut.

Kristiadi menjelaskan, terminologi partai Islam saat ini sudah tak berlaku dan membingungkan. Sebab, pada kenyataannya, kondisi partai di Indonesia sudah sangat terbuka dan diwakili semua unsur. “Dikotomi (partai Islam) itu sudah tidak valid. Sekarang ini ada perkembangan yang sangat baik, basis-basis partai tidak bisa dibasiskan oleh hal yang sifatnya primordial,” kata Kristiadi dalam sebuah diskusi di Kompleks Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (1/10/2013).
Continue reading

Capreskan Suryadharma, Ini Strategi PPP

Suryadharma Ali | KOMPAS/Totok Wijayanto

JAKARTA, KOMPAS.com – Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menetapkan Ketua Umumnya, Suryadharma Ali, sebagai calon presiden. Untuk mengusung Suryadharma, PPP akan mengomandoi koalisi yang berbasis partai Islam.

“Mengingat kebutuhan koalisi dalam rangka persyaratan pencalonan presiden 2014, majelis-majelis bersepakat agar DPP PPP mengambil prakarsa untuk mengintensifkan silaturahim di antara sesama partai politik berbasis Islam,” ujar Sekretaris Jenderal PPP M Romahurmuzy di Jakarta. Selasa (1/10/2013).
Continue reading

Mencari Capres di Media Sosial

KOMPAS.com – Di negeri maya, jangan coba bermimpi menjadi presiden pemimpin mereka jika pengikut di Twitter atau jumlah tayang video Anda di Youtube hanya ratusan orang. Di negeri maya, Anda juga harus siap di-bully warga internet atau netizen jika dianggapnya jauh dari idealisme khas mereka.

Fenomena itu mulai menimpa para peserta Konvensi Pemilihan Calon Presiden dari Partai Demokrat. Perang di media sosial tak terelakkan. Media sosial, seperti Twitter, Youtube, dan Facebook, menjadi senjata termurah untuk mendongkrak popularitas. Twitter menjadi media terlaris. Continue reading

Dinilai Marketing Politik: “Dompleng Ibas Mendongkrak Ical Itu Keliru”

INILAH.COM, Jakarta – Wakil Sekjen Partai Golkar Nurul Arifin membantah masuknya nama Sekjen Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas hanya sebagai marketing politik untuk menaikan simpati publik terhadap Capres Aburizal Bakrie alias Ical.

“Saya kira untuk dikatakan mendompleng itu tidak benar, siapa mendompleng siapa. Kami juga heran apa yang kami inisiasi ini mendapat respon negatif. Sesungguhnya yang kami usulkan positif, tapi kalau negatif saya tidak tahu,” ujar Wasekjen Partai Golkar, Nurul Arifin di Gedung DPR, Senayan, Selasa (3/7/2012).

Menurut dia, Partai Golkar memiliki kriteria tersendiri untuk kandidat cawapres pendamping Ical. Salah satunya mencakup generasi muda yang menjadi sorotan saat ini.

Masuk atau tidak nama Ibas dalam bursa cawapres pendamping Ical, Partai Golkar sudah memiliki basis massa tersendiri. Sehingga tidak perlu sosok lain yang dijadikan pendompleng elektabilitas Ical dan Golkar.

“Kriteria lainnya dia bisa bekerja dan melengkapi pak Ical dari unsur mana. Kalau sekarang kami dianggap mendompleng itu keliru sekali, tidak seperti itu pun Golkar sudah punya nama. Terlalu berlebihan kalau kami mendompleng justru kami ingin tahu persepsi masyarakat bagaimana jika dua orang ini dipasangkan,” ungkapnya.

Nurul menambahkan, Partai Golkar tidak memaksakan kehendaknya untuk meminang Ibas sebagai cawapres. Sebab, keputusan sepenuhnya ada ditangan Partai Demokrat sebagai partai tempat Ibas bernaung.

“Ini juga semua tergantung Demokrat, apa Demokrat mau bekoalisi dengan Golkar. Kami lihat selama ini yang mau berkoalisi adalah yang punya ideologi politik yang sama,” imbuhnya.

Golkar memahami jika saat ini Partai Demokrat masih bersikukuh ingin memajukan capresnya di 2014. Namun itu tergantung perkembangan politik nanti. “Kalau Partai Demokrat elektabilitas meningkat, saya kira tidak mustahil juga kalau Demokrat menginginkan posisi no 1. Politik ituday by day lah bisa berubah,” tandasnya.

Penilaian tentang marketing politik Ical datang dari Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Marzuki Alie, Senin (2/7/2012). Menurut Marzuki, masuknya nama Ibas sebagai kandidat cawapres Ical adalah sesuatu yang wajar.

Langkah Ical yang menggaet beberapa nama untuk menjadi cawapresnya adalah strategi marketing untuk bisa bertarung di 2014. “Biasa-biasa saja. Tidak perlu dipandang. Itu strategi marketing saja. Misalnya, saya mencalonkan diri, pasangan saya banyak,” ujar Marzuki.

Menurut dia, Ical merupakan orang yang pintar dalam strategi marketing karena latar belakangnya sebagai pengusaha. Sehingga wajar beberapa nama penting seperti Ibas, Mahfud MD, Khofifah, Pramono Edhie, dan Sri Sultan masuk dalan radar cawapresnya. [yeh]

Source : inilah.com

Akbar Tandjung: Aburizal Belum Final

Semarang, Kompas – Kendati dalam Rapat Pimpinan Nasional Partai Golkar lalu merekomendasikan Aburizal Bakrie sebagai calon presiden, mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung menegaskan, penetapan Aburizal ini bukanlah keputusan final. Penetapan itu masih harus melalui proses.

”Kalau kita melihat penetapan Aburizal belum final karena baru akan disampaikan pada rapimnas mendatang. Waktu itu bisa saja ada pikiran-pikiran untuk melibatkan seluruh stakeholder,” ujar Akbar menjawab pertanyaan wartawan di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (21/4), soal pencalonan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie.

Menurut Akbar, penetapan capres pada waktunya akan dibahas di rapimnas. Rapimnas ini akan membicarakan segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah organisasi Partai Golkar, termasuk soal penetapan capres.

Ia menilai model konvensi yang dilakukan Partai Golkar pada Pemilu Presiden 2004 telah mengangkat citra Partai Golkar karena sejalan dengan reformasi Partai Golkar. Pada 2009 diakui tidak ada konvensi karena tiba-tiba Jusuf Kalla menyatakan maju menjadi capres. Apakah sekarang akan dibicarakan konvensi atau tidak menggunakan konvensi, bagi Akbar, tidak ada masalah. Yang penting prinsip-prinsip yang dianut Partai Golkar di era reformasi harus tergambar dalam proses perekrutan capres.

Namun, upaya Aburizal untuk segera diteguhkan sebagai calon tunggal presiden dari Partai Golkar diduga bagian dari usahanya menyolidkan dan memaksimalkan mesin politik partai tersebut. Hanya saja, Partai Golkar adalah organisasi besar hingga sulit untuk secara bulat sampai di satu titik kesimpulan hingga akhir.

Hal itu disampaikan M Qodari dari Indo Barometer dan Andrinof Chaniago yang pengajar kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Sabtu, di Jakarta. Aburizal, menurut Qodari, memang terlihat berusaha menjadi capres di Pemilu 2014.

”Dengan telah ditetapkan sebagai capres, Aburizal akan lebih mudah bertindak sebagai penentu di partainya saat-saat krusial. Ini yang agaknya diharapkan oleh Aburizal,” papar Andrinof.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Nurul Arifin menuturkan, peneguhan Aburizal sebagai capres dari Golkar sebagai jawaban dari permintaan mayoritas pengurus di daerah. Langkah ini juga untuk meningkatkan elektabilitas partai dan Aburizal.

Arus besar di Partai Golkar saat ini, menurut Qodari, memang mendukung pencalonan Aburizal. Namun, lanjut Qodari, kader Golkar biasanya memiliki kalkulasi sendiri pada saat-saat akhir. Fenomena itu terlihat, misalnya, dalam Pemilu Presiden 2004 dan 2009, saat dukungan kader Golkar secara faktual tidak bulat di satu orang. (SON/NWO)

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Ada Skenario Untuk Mendegradasi Citra Anas

VIVAnews – Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum menjadi calon presiden dalam Pilpres 2014 yang mendapat citra negatif terbesar di antara delapan tokoh nasional lainnya, yaitu Aburizal Bakrie, Ani Yudhoyono, Hatta Rajasa, Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Sri Mulyani Indrawati, Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Surya Paloh. Anas mendapatkan perolehan angka mendekati empat persen.

Menanggapi hal itu, Ketua DPP Partai Demokrat, Gede Pasek Suardika tak mempersoalkannya. Justru ia optimis, tahun ini merupakan masa gemilang bagi Anas Urbaningrum.

Namun, menurutnya, citra negatif yang melekat pada Anas tak lepas dari peran media massa.

“Soal persepsi negatif, itu kami sudah tahu melalui pemberitaan media. Hampir semua pemberitaan korupsi diarahkan agar terkait dengan Anas Urbaningrum. Ini skenario untuk mendegradasi Anas Urbaningrum,” kata Pasek kepada VIVAnews.com, Minggu, 8 Januari 2012.

Soal kegemilangan Anas di tahun ini, sambung Pasek, lantaran dari beberapa pemberitaan tendensius yang mengarahkan Anas terlibat dalam praktik korupsi, terbukti sama sekali tidak benar.

“Kasus Wisma Atlit saja contohnya. Itu kan tidak bisa dibuktikan soal keterlibatan Anas. Anas katanya disebut sebagai ‘Ketua Besar’, tapi pada akhirnya terbukti bukan beliau,” kata Pasek.

Pasek optimis jika Anas Urbaningrum dijadikan sasaran tembak oleh beberapa pihak untuk menjatuhkan. Tak hanya menjatuhkan Anas secara pribadi, serangan itu disebut Pasek juga untuk Partai Demokrat.

“Anas sedang dirusak daya integritasnya. Untuk kasus Hambalang, silakan buka seluasnya. Pasti tak terkait dengan Anas. Anas sedang dianiaya. Banyak media yang memiliki tendensi, meski tak semuanya,” ujar Pasek. Laporan: Bobby Andalan | Bali

Source :  Vivanews.com

Prabowo Tegaskan Maju Jadi Capres 2014

VIVAnews – Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto secara tegas menyatakan siap maju dalam bursa calon presiden 2014. Prabowo siap bersanding dengan calon Wakil Presiden hasil koalisi.

“Gerindra membangun komunikasi politik dengan semua partai, baik PDI Perjuangan maupun partai besar lainnya,” kata Prabowo Subianto usai menghadiri pelantikan pengurus DPD Gerindra Provinsi Nusa Tenggara Timur di Kupang, NTT.

Menurut Prabowo, pintu koalisi terbuka lebar bagi partai manapun. Asalkan memiliki visi, misi dan perjuangan yang sama yakni mengutamakan kepentingan rakyat.

“Saat ini ekonomi Indonesia mulai membaik. Saya kira hal yang baik untuk rakyat mesti dipertahankan. Namun yang paling utama adalah mengembalikan kedaulatan pada rakyat termasuk kedaulatan ekonomi kerakyatan dan bukan ekonomi kapitalisme atau ekonomi neolib,” tegas Prabowo.

Prabowo menilai, pemerintah ke depan perlu mencermati kembali kebijakan yang cenderung merugikan rakyat, khususnya petani. Dengan sumber daya alam yang melimpah, kata Prabowo, ekonomi rakyat terus terpuruk.

“Bangsa ini kaya raya, tetapi ekonomi rakyatnya terpuruk karena kebijakan mengimpor bahan pangan dari luar negeri. Sehingga mematikan daya saing masyarakat Indonesia,” ujar mantan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ini.

Dukung

Kader dan simpatisan Partai Gerindra di Nusa Tenggara Timur secara resmi mendeklarasikan Prabowo Subianto sebagai calon presiden RI pada pemilu mendatang. Deklarasi dibacakan pewakilan masyarakat NTT  saat pelantikan pengurus DPD Gerindra NTT di Kupang.

Isi deklarasi antara lain: “Kami keluarga besar gerinra NTT dengan ini menyatakan mendukung Letnan Jenderal Purnawirawan Prabowo Subianto sebagai calon Presiden RI 2014-2019.”

Menurut Ketua DPD Gerindra NTT, Esthon Foennay, deklarasi ini merupakan bagian dari tekat untuk memanangkan Prabowo pada pemilu presiden. Prabowo dinilai figur yang paling tepat untuk memimpin Indonesia lima tahun mendatang.

“Konsep pembangunanya jelas, yakni mengedepankan eknomi kerakyatan. Hal ini sejalan dengan semangat nasionalisme Indonesia,” kata Esthon yang kini menjadi Wakil Gubernur NTT.

Menurut Esthon, dukungan terhadap Prabowo berasal dari 21 kabupaten dan kota di NTT. “Deklarasi ini merupakan aspirasi langsung dari masyarakat NTT dan tidak ada unsur rekayasa,” ujar dia. Laporan: Jemris Fointuna, Kupang

Source : Vivanews.com