Marketing Politik, “Berdagang” Ikon

Belakangan ini muncul beberapa partai politik baru, diantaranya Partai Solidaritas Indonesia, Partai Persatuan Indonesia, Partai Damai dan Aman, serta Partai Priboemi. Sepertinya, hasrat mendirikan parpol tetap menyala setelah satu setengah dekade Reformasi 1998. Bagaimana prospek sekaligus tantangan yang mereka hadapi?

Melihat hal itu, Pakar Manajemen dan ?Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia?, Rhenald Kasali mengatakan, jika kita ingin mengetahui seberapa besar tim sukses atau tim marketing dari partai politik (parpol) bisa menjual “ikonnya” dalam pilpres atau pilkada, itu bisa lihat dari seberapa besar tokoh tersebut mendapatkan simpati dari masyarakat bawah atau grass root. Pasalnya hingga kini itu menjadi tolak ukur keberhasilan dari cara marketing politik dewasa ini. “Masyarakat saat ini menginginkan pemimpin yang tegas, bersih, sederhana dan cakap dalam mengatasi berbagai macam masalah yang dihadapi bangsa ini. Pada dasarnya masyarakat sudah cerdas dalam memilih. Mereka ingin adanya perubahan,” ujar Rhenald saat dihubungi NERACA, Selasa.

Continue reading

Masyarakat Pilih Partai Aceh Karena Ingin Perubahan

Aceh Utara – Pada Pemilukada Aceh ini, Senin (09/4), masyarakat Aceh tampak lebih memilih cagub/cawagub dari Partai Aceh (PA) Zaini – Muzakir dan Cabup dan Cawabup, Muhammad Thaib-M.Jamil, M.Kes, ketimbang partai lain. Hal itu berdasarkan pantauan The Globe Journal di sejumlah lokasi TPS saat berlangsungnya perhitungan suara di sejumlah desa dan kecamatan di Aceh Utara.

Seperti yang dikatakan oleh sejumlah warga, salah satunya Andri. Ia mengaku memilih PA dengan alasan ingin menikmati perubahan kabupaten dan propinsi ketika dipimpin oleh kepal yang baru.

“Saya memilih PA, karena ingin merasakan perubahan Aceh, baik kota maupun kabupaten. Lagi pula mereka menjanjikan akan mengesahkan qanun untuk dayah,”ujar Andri kepada The Globe Journal di Lhoksukon.

Terkait hal tersebut, Juru Bicara Partai Aceh, Fakhrul Razi kepada The Globe Journal via telephone, mengatakan, hal sedemikian merupakan doa dari rakyat Aceh dengan memilih Partai Aceh sesuai hati nurani.

“Semua karena doa rakyat Aceh, dan kemenangan ini adalah kemenangan rakyat Aceh nantinya,”ujarnya sembari mengharapkan bahwa suara PA jangan ada yang hilang serta terjadinya kecurangan oleh lawan.

Saat disinggung mengenai teror meneror maupun aksi kejahatan yang terjadi saat kampanye dan sebelum kampanye, pihaknya telah melaporkan hal tersebut kepada pihak kepolisian setempat. “Ya.. PA juga mengalami beberapa intimidasi dan kekerasan, kami akan melaporkan setelah Pemilukada ini nantinya. Yang penting pilkada berjalan sukses dan demokratis,”jelasnya sambil menutupi pembicaraan.

Source : The Globe Journal

Partai Aceh Targetkan 80 Persen Suara untuk Zaini-Muzakir

BANDA ACEH-Partai Aceh menargetkan meraih 80 persen suara untuk pasangan kandidat calon gubernur Zaini Abdullah-Muzakir Manaf.

Target itu disepakati dalam pertemuan internal PA(Partai Aceh) yang berlangsung tertutup di kediaman wali Nanggoe di kawasan Setui Banda Aceh. Hadir dalam rapat itu ratusan mantan kombatan yang datang dari 23 kabupaten/kota se-Aceh.

Rapat konsolidasi ini dilakukan tiga bagian. Pagi harinya diawali rapat dengan wadah mantan kombatan yang bernaung di Komite Peralihan Aceh (KPA), lalu dilanjutkan dengan rapat pengurus PA se-Aceh. Malamnya masih ada pertemuan kandidat Gubernur, bupati serta wali kota dari PA se-Aceh.

Ketua Tim Pemenangan Zaini-Muzakir, Kamaruddin A Bakar-biasanya disapa Abu Razak- mengatakan, “Putusan MK yang memerintahkan pelaksanaan pilkada pada 9 April 2012, setidaknya telah memberikan waktu yang cukup bagi KIP untuk dapat melaksanakan Pilkada secara sempurna dan berkualitas, apalagi putusan MK tersebut mengacu kepada hasil pleno KIP Aceh dan KIP seluruh daerah Aceh yang diusul kepada MK,” kata Abu Razak saat konferensi dengan wartawan, Minggu siang, 29 Januari 2012.

Menurut Abu Razak, KPA sangat menyayangkan ketika ada pihak tertentu yang mulai mempersoalkan putusan MK dengan memaksa pihak KIP melaksanakan hari pencoblosan sebelum tanggal 9 April 2012, kami yakin KIP sebagai pihak penyelenggara akan bertindak profesional, tidak gegabah, apalagi melakukan politisasi jadwal pilkada.

Berdasarkan bacaan situasi dan dinamika politik seperti ini, kata Abu Razak, tindakan akal-akalan untuk mempercepat pelaksanaan pilkada sebelum tanggal 9 April 2012 hanya akan memicu konflik baru dan instabilitas politik di Aceh.

KPA mengingatkan KIP konsisten melaksanakan tahapan pilkada secara matang dan bermutu hingga pada hari pencoblosan pada 9 April 2012.

Sementara di luar konferensi persnya Kamaruzzaman mengatakan kepada The Atjeh Post, “peserta yang datang kemari dari 23 daerah kota di Aceh, panglima wilayah, mantan TNA, di tiap wilayah ada 4 panglima, ketua ketua PA beserta sekretarisnya”.

“Dari dukungan partai lain, ada 18 partai yang menyatakan bergabung mendukung pasangan Zaini Abdullah dengan Muzakkir Manaf, kumpulan partai tersebut dari FLP2A juga menyatakan sikap untuk mendukung PA. Selain partai,  48 LSM juga akan mendukung PA,” ujarnya.

Menurut Abu Razak, dalam pertemuan itu semua sepakat bekerja untuk memenangkan pasangan Zaini-Muzakir. “Mereka langsung bekerja untuk mencapai target 80% simpati masyarakat,” kata Abu Razak.

Pertemuan ini juga membekali timses dari PA, untuk memenangkan pasangan Zaini-Muzakir. Abu Razak menambahkan, “kalau melanjutkan program gubernur saat ini, kalau memang programnya memberikan yang terbaik untuk masyarakat Aceh kenapa tidak, kami akan mendukung,” ujarnya. “Seperti JKA, mungkin karena doktor Zaini jebolan luar negeri kemungkinan program kesehatan masyarakat akan lebih baik lagi.”

Jubir PA Fakrurrazi mengatakan,“anggota KPA yang mendukung pasangan lain hanya 2%, karena sebagian pendukung mereka juga telah kembali mendukung PA, kami tetap terima siapapun yang mau mendukung PA. Partai ini terbuka bagi mereka, termasuk suku Jawa” kata Razi.

Menurut Razi, pihaknya akan menggalang sejuta tim sukses untuk pasagan Zaini-Muzakir. ‘Mesin politik PA adalah KPA, Muna, Elemen perempuan Putroe Aceh, eleman mahasiswa, organisasi paguyuban” kata Razi.[]

Source : Atjehpost.com