Akrobatik Golkar Aceh di Pemilu 2014

Aryos Nivada

Satu tahun lagi seluruh partai nasional mampu lokal mempersiapkan diri sebelum menuju pemilu 2014, jikalau hitung tahun di 2013. Menjadi pemenang sebagai target politik meraih kekuasaan di ranah legislatif. Salah satu partai yang tertarik dianalisis yakni Partai Golongan Karya (Golkar).

Ketika mengetahui rekam jejak di pentas perpolitikan sudah malang melintang, bahkan kepiawaian merajut kekuasaan hingga sampai saat ini masih diperhitungkan lawan politiknya. Bisa dibilang Golkar di atas rata-rata partai lain dari segi politisi, manajemen kepartaiannya, strategi politiknya, kalkulasi kekuatan, dll.
Continue reading

Dinilai Marketing Politik: “Dompleng Ibas Mendongkrak Ical Itu Keliru”

INILAH.COM, Jakarta – Wakil Sekjen Partai Golkar Nurul Arifin membantah masuknya nama Sekjen Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas hanya sebagai marketing politik untuk menaikan simpati publik terhadap Capres Aburizal Bakrie alias Ical.

“Saya kira untuk dikatakan mendompleng itu tidak benar, siapa mendompleng siapa. Kami juga heran apa yang kami inisiasi ini mendapat respon negatif. Sesungguhnya yang kami usulkan positif, tapi kalau negatif saya tidak tahu,” ujar Wasekjen Partai Golkar, Nurul Arifin di Gedung DPR, Senayan, Selasa (3/7/2012).

Menurut dia, Partai Golkar memiliki kriteria tersendiri untuk kandidat cawapres pendamping Ical. Salah satunya mencakup generasi muda yang menjadi sorotan saat ini.

Masuk atau tidak nama Ibas dalam bursa cawapres pendamping Ical, Partai Golkar sudah memiliki basis massa tersendiri. Sehingga tidak perlu sosok lain yang dijadikan pendompleng elektabilitas Ical dan Golkar.

“Kriteria lainnya dia bisa bekerja dan melengkapi pak Ical dari unsur mana. Kalau sekarang kami dianggap mendompleng itu keliru sekali, tidak seperti itu pun Golkar sudah punya nama. Terlalu berlebihan kalau kami mendompleng justru kami ingin tahu persepsi masyarakat bagaimana jika dua orang ini dipasangkan,” ungkapnya.

Nurul menambahkan, Partai Golkar tidak memaksakan kehendaknya untuk meminang Ibas sebagai cawapres. Sebab, keputusan sepenuhnya ada ditangan Partai Demokrat sebagai partai tempat Ibas bernaung.

“Ini juga semua tergantung Demokrat, apa Demokrat mau bekoalisi dengan Golkar. Kami lihat selama ini yang mau berkoalisi adalah yang punya ideologi politik yang sama,” imbuhnya.

Golkar memahami jika saat ini Partai Demokrat masih bersikukuh ingin memajukan capresnya di 2014. Namun itu tergantung perkembangan politik nanti. “Kalau Partai Demokrat elektabilitas meningkat, saya kira tidak mustahil juga kalau Demokrat menginginkan posisi no 1. Politik ituday by day lah bisa berubah,” tandasnya.

Penilaian tentang marketing politik Ical datang dari Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Marzuki Alie, Senin (2/7/2012). Menurut Marzuki, masuknya nama Ibas sebagai kandidat cawapres Ical adalah sesuatu yang wajar.

Langkah Ical yang menggaet beberapa nama untuk menjadi cawapresnya adalah strategi marketing untuk bisa bertarung di 2014. “Biasa-biasa saja. Tidak perlu dipandang. Itu strategi marketing saja. Misalnya, saya mencalonkan diri, pasangan saya banyak,” ujar Marzuki.

Menurut dia, Ical merupakan orang yang pintar dalam strategi marketing karena latar belakangnya sebagai pengusaha. Sehingga wajar beberapa nama penting seperti Ibas, Mahfud MD, Khofifah, Pramono Edhie, dan Sri Sultan masuk dalan radar cawapresnya. [yeh]

Source : inilah.com

Akbar Tandjung: Aburizal Belum Final

Semarang, Kompas – Kendati dalam Rapat Pimpinan Nasional Partai Golkar lalu merekomendasikan Aburizal Bakrie sebagai calon presiden, mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung menegaskan, penetapan Aburizal ini bukanlah keputusan final. Penetapan itu masih harus melalui proses.

”Kalau kita melihat penetapan Aburizal belum final karena baru akan disampaikan pada rapimnas mendatang. Waktu itu bisa saja ada pikiran-pikiran untuk melibatkan seluruh stakeholder,” ujar Akbar menjawab pertanyaan wartawan di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (21/4), soal pencalonan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie.

Menurut Akbar, penetapan capres pada waktunya akan dibahas di rapimnas. Rapimnas ini akan membicarakan segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah organisasi Partai Golkar, termasuk soal penetapan capres.

Ia menilai model konvensi yang dilakukan Partai Golkar pada Pemilu Presiden 2004 telah mengangkat citra Partai Golkar karena sejalan dengan reformasi Partai Golkar. Pada 2009 diakui tidak ada konvensi karena tiba-tiba Jusuf Kalla menyatakan maju menjadi capres. Apakah sekarang akan dibicarakan konvensi atau tidak menggunakan konvensi, bagi Akbar, tidak ada masalah. Yang penting prinsip-prinsip yang dianut Partai Golkar di era reformasi harus tergambar dalam proses perekrutan capres.

Namun, upaya Aburizal untuk segera diteguhkan sebagai calon tunggal presiden dari Partai Golkar diduga bagian dari usahanya menyolidkan dan memaksimalkan mesin politik partai tersebut. Hanya saja, Partai Golkar adalah organisasi besar hingga sulit untuk secara bulat sampai di satu titik kesimpulan hingga akhir.

Hal itu disampaikan M Qodari dari Indo Barometer dan Andrinof Chaniago yang pengajar kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Sabtu, di Jakarta. Aburizal, menurut Qodari, memang terlihat berusaha menjadi capres di Pemilu 2014.

”Dengan telah ditetapkan sebagai capres, Aburizal akan lebih mudah bertindak sebagai penentu di partainya saat-saat krusial. Ini yang agaknya diharapkan oleh Aburizal,” papar Andrinof.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Nurul Arifin menuturkan, peneguhan Aburizal sebagai capres dari Golkar sebagai jawaban dari permintaan mayoritas pengurus di daerah. Langkah ini juga untuk meningkatkan elektabilitas partai dan Aburizal.

Arus besar di Partai Golkar saat ini, menurut Qodari, memang mendukung pencalonan Aburizal. Namun, lanjut Qodari, kader Golkar biasanya memiliki kalkulasi sendiri pada saat-saat akhir. Fenomena itu terlihat, misalnya, dalam Pemilu Presiden 2004 dan 2009, saat dukungan kader Golkar secara faktual tidak bulat di satu orang. (SON/NWO)

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Di Kampanye PA, Fadel Muhammad Bilang Berjuang Mati-Matian untuk Zaini-Muzakir

BANDA ACEH – Pendukung Zaini Abdullah-Muzakir Manaf (Zikir), calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung Partai Aceh memenuhi lapangan depan Stadion Lhong Raya, Banda Aceh, Senin sore, 2 April 2012.

Dalam kampanye yang dimulai pukul 14.00 WIB tersebut hadir Wakil Ketua Partai Golkar yang juga Mantan Menteri Kelautan Fadel Muhammad, Nasir Djamil (Anggota DPR RI), Abdullah Puteh (mantan Gubernur Aceh ), Farhan Hamid (Wakil Ketua MPR RI), Hasbi Abdullah (Ketua DPRA), Muklis Abee (Ketua PA Banda Aceh).

Selain itu ada juga tiga mantan jenderal, yaitu mantan Pangdam Iskandar Muda Mayjen (Purn) TNI Soenarko, Mayjen (Purn) TNI Djali Yusuf, dan mantan Kasdam Brigjen (Purn) M.Yahya. Mereka duduk sepanggung untuk mendukung kampanye akbar pasangan Zikir ini.

Sebelum Zaini Abdullah dan Muzakhir Manaf berpidato, tampil Fadel Muhammad berorasi. Fadel mengatakan Partai Golkar benar-benar mendukung Zikir.

“Kami telah berjuang mati-matian untuk pasangan yang ideal ini. Aceh sekarang sangat mendamba-dambakan pemimpin yang sangat peduli dan amanah dengan rakyatnya. Semoga Zikir yang kami usung bisa menjadi pemimpin itu,” ujar Fadel.

Dalam orasinya, Fadel juga mengatakan kepada massa, “coba buka kepalan tangan kanan kalian, dan lihat ada berapa jari di sana? Ya, ada lima jari di sana. Maka dari itu cobloslah nomor urut lima di pilkada nanti,” ujar Fadel yang disambut suara gemuruh dari pendukung Zikir.[]

Source : Atjehpost.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Fadel Muhammad Kampanye untuk Zaini-Muzakir

BANDA ACEH – Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Fadel Muhammad, hari ini akan berkampanye untuk pasangan calon gubernur-wakil gubernur, Zaini Abdullah – Muzakir Manaf. Politisi senior Partai Golkar ini saat ini sudah berada di Banda Aceh. Nanti siang dia akan meluncur ke Lapangan Harapan Bangsa, Lhong Raya, tempat Partai Aceh berkampanye.

Fadel adalah mantan Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Indonesia Bersatu II. Sebelumnya dia juga adalah Gubernur Provinsi Gorontalo sejak 10 Desember 2001 hingga 22 Oktober 2009. Pada pilkada Gorontalo 2006 yang dilaksanakan pada 26 November 2006, ia memperoleh 81 persen suara. Nilai ini merupakan tertinggi di Indonesia untuk pilkada sejenis dan tercatat di rekor MURI sebagai rekor pemilihan suara tertinggi di Indonesia.

Tokoh lainnya yang akan tampil kampanye di Banda Aceh untuk Zaini-Muzakir hari ini antara lain adalah Mayjend (Purn) Soenarko yang adalah mantan Panglima Kodam Iskandar Muda. Sejumlah tokoh lainnya dipastikan akan terlibat dalam kampanye hari ini.

Adapaun pasangan Zaini-Muzakir yang biasanya berkampanye di dua lokasi yang terpisah, dalam kampanye di Banda Aceh, mereka akan bersama tampil di panggung. Saat ini para pendukung dan simpatisan untuk pasangan Zaini-Muzakir dan Partai Aceh mulai berdatangan ke lokasi kampanye yang dirancang menjadi merah warna khas Partai Aceh.[]

Source : Atjehpost.com

Jelang 2014, Golkar Mulai Serius Garap Twitter

Jakarta – Suksesi legislatif dan presiden pada 2014 tinggal beberapa tahun lagi. Nah, partai politik pun bersiap diri. Selain menyebarkan ide-ide lewat dunia nyata, twitter pun digarap.

Pentingnya media sosial ini berkaca pada kesuksesan Presiden AS Barack Obama, yang mampu memaksimalkan kekuatan seluruh media sosial termasuk twitter dan facebook. Tidak heran, partai-partai di Indonesia mulai melirik cara ini. Salah satunya Golkar.

“Saat ini sedang di-set up. Tapi memang masih maju mundur karena kesibukan masing-masing (anggota tim),” jelas Wasekjen Golkar Lalu Mara saat berbincang dengan detikcom, Selasa (3/1/2012).

Golkar tidak main-main, seorang ahli disiapkan untuk merancang campaign lewat media sosial. “Ada namanya Rakhmat Djunaidi, dari Bakrie Telecom,” jelas Lalu Mara.

Golkar menilai, kekuatan media sosial, baik twitter dan facebook patut diperhitungkan. Apalagi anak-anak muda yang potensial menjadi pemilih umumnya memiliki akun di dua media sosial itu.

“Itu salah satu sasarannya,” jelas Lalu.

Source : Detik.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Akbar: Ical-Dahlan Iskan, Nanti Dulu

VIVAnews - Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar, Akbar Tandjung, menilai masih terlalu dini untuk menyebut nama Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan sebagai calon wakil presiden untuk Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie. Masih butuh waktu untuk menilai Dahlan Iskan.

“Saya kira terlalu cepat menilai seorang menteri itu dikatakan berhasil,” kata Akbar Tanjung usai menghadiri acara ‘Mengenang Humor Gus Dur’ di kediaman Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Selasa dini hari 3 Januari 2012.

Menurut Akbar, sekalipun Dahlan Iskan sungguh-sungguh melaksanakan tugasnya sebagai menteri, penilaian keberhasilannya belum bisa dinilai sekarang. “Untuk dikatakan sudah berhasil tentu butuh waktu,” ujar mantan Ketua DPR ini.

Akbar menegaskan, Golkar sendiri belum ada pembicaraan internal untuk mencari pasangan Aburizal Bakrie. Tetapi analisa nama-nama yang akan digandeng dengan Aburizal sudah dilakukan.

“Itu sudah ada dan itu bisa saja. Tapi belum ada pembicaraan resmi dari Golkar,” ujar mantan Ketua Umum Partai Golkar ini. Golkar saat ini masih fokus pada konsolidasi daerah berdasarkan amanat Musyawaran Nasional dan Rapat Pimpinan Nasional.

“Golkar fokus mempersiapkan menghadapi pemilu legislatif 2014, agar bisa meraih suara sebagaimana diamanatkan Rapimnas, yakni 30 persen suara,” kata Akbar.

Nama Dahlan Iskan semakin populer setelah menjadi Dirut PLN. Bahkan setelah menjadi Menteri Negara BUMN, Dahlan kerap melakukan kegiatan yang nyaris tak pernah dilakukan anggota kabinet lainnya, seperti mendadak naik kereta listrik. (ren)

Source : Vivanews.com

Periode Penataan, Jangan Lagi Membongkar

Jakarta, Kompas - Setelah reformasi sejak 13 tahun lalu, kini Indonesia tidak lagi berada di masa transisi. Karena itu, sudah saatnya kita memasuki periode penataan kehidupan berbangsa dan diharapkan tidak ada lagi pembongkaran karena pembongkaran tidak menghasilkan sesuatu yang permanen.

”Secara umum, kehidupan politik 2011 masih diwarnai intrik, fitnah, gosip, politicking, politik uang, politik transaksional, demokrasi prosedural, dan pragmatisme,” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golongan Karya Aburizal Bakrie dalam acara refleksi 2011, di Jakarta, Selasa (27/12).

Di sisi lain, seiring dengan memudarnya fatsun politik, etika politik pun luntur.

Papua bergejolak

Di tataran politik nasional, tahun 2011, antara lain, ditandai oleh bergejolaknya Papua dengan mengemukanya tuntutan merdeka.

”Bahkan juga yang mengatasnamakan Kongres Majelis Rakyat Papua yang menyita perhatian tidak saja dalam skala nasional, tetapi juga internasional. Hal ini menunjukkan adanya permasalahan serius yang dapat mengancam masa depan NKRI,” kata Aburizal Bakrie.

Becermin pada kasus-kasus Papua selama tahun 2011, pelaksanaan otonomi khusus Papua di ambang kegagalan.

Tahun 2012 permasalahan Papua masih menyisakan potensi untuk kembali mengemuka manakala pendekatan yang dilakukan tidak efektif. Pendekatan ini tidak saja gagal menyejahterakan rakyat Papua, tetapi juga menggiring ke arah internasionalisasi kasus Papua.

Sementara itu, pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Indria Samego, mengatakan, Partai Golkar adalah partai tertua di samping PPP dan PDI-P, tetapi Partai Golkar merupakan yang terbesar karena mempunyai sumber daya manusia, materi, dan sarana kantor yang lebih baik. Partai Golkar pun mempunyai peluang lebih besar di luar konsolidasi dan perekrutan, misalnya pendidikan politik dan artikulasi kepentingan rakyat.

”Kejadian di Mesuji dan Bima tidak akan berkembang menjadi kekuatan anarki jika ada kekuatan partai politik besar sebagai katarsis politik sehingga kemarahan rakyat bisa tersalur. Tetapi, sejauh ini tidak ada peran partai politik, yang ada hanya NGO (organisasi nonpemerintah). Padahal, partai politik memiliki pengurus di level DPP hingga ranting di desa. Mestinya mereka bisa berperan menyalurkan suara rakyat,” ungkap Indria Samego.

Source : Kompas.com

Golkar Usulkan Sistem Pemilu Gabungan

JAKARTA–MICOM: Partai Golkar mengusulkan adanya sistem campuran dalam pemilu 2014 mendatang yaitu gabungan sistem proporsional tertutup dan terbuka.

Sistem proporsional terbuka berdasarkan suara terbanyak seperti pada Pemilu 2009. Sementara sistem terutup mengacu ke nomor urut yang ditetapkan partai seperti pada Pemilu 2004.

“Golkar menganggap yang terbaik adalah gabungan sistem terbuka dan tertutup. Terbuka sebesar 70% sementara tertutup 30 persen,” kata Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie usai membuka diskusi panel bertajuk “Membangun Demokrasi, Melahirkan Negarawan” di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (21/12).

Hadir sebagai panelis pengamat politik J Kristiadi, Komarudin Hidayat, Anis Baswedan, Radar Panca Dhana, dan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tanjung.

Menurut Ical, sistem campuran paling baik dari sistem yang pernah dilakaukan selama ini.

“Dalam sistem itu ada partisipasi langsung masyarakat dalam memilih wakil rakyatnya. Itu terjadi lewat sistem terbuka. Namun di sisi lain, perlu juga intervensi partai dalam memilih wakilnya sehingga mendapatkan anggota DPR yang berkualitas,” kata Ical.

Ditambahkannya, jika hanya menyerahkan ke sistem terbuka, pemilu hanya akan melahirkan wakil yang populer tapi tidak berkualitas. “Dengan ini (sistem gabungan) pemilu menjadi lebih baik,” ujarnya.

Ketika ditanya bagaimana sistem gabungan ini bakal dilaksanakan, menurut Ical, mekanismenya perlu dibicarakan lebih lanjut. (*/OL-3)

Source : Media Indonesia

Partai Nasdem Tak Pengaruhi Suara Golkar

VIVAnews – Partai Golkar menyatakan bahwa lolosnya Partai Nasdem sebagai salah satu peserta pemilu di 2014 tidak perlu dikhawatirkan akan menurunkan suara dari partainya.

Partai berlambang pohon beringin itu justru mempertanyakan slogan dari Partai Nasdem sebagai partai perubahan. Sebab, dikhawatirkan masyarakat nantilah yang akan menjadi kelinci percobaan.

“Sepuluh tahun reformasi digulirkan namun apa hasilnya. Dengan slogan perubahan, justru rakyat akan terantuk untuk kesekian kalinya. Rakyat lagi yang menjadi korban,” ujar Gandung Pardiman, Ketua DPD Partai Golkar DIY di Yogyakarta, Minggu 18 Desember 2011.

Gandung juga menegaskan, keberadaan Partai Nasdem tidak akan memengaruhi pemilih Partai Golkar meski di partai baru tersebut ada orang-orang yang dahulu sejalan dengan partai. “Partai Golkar sifatnya tidak personal, sehingga tidak akan memengaruhi suara Golkar,” tuturnya.

Apalagi, tambah dia, para petinggi Golkar yang dahulu ikut ormas Nasional Demokrat atau Nasdem telah kembali lagi ke Golkar dan menyatakan tetap loyal terhadap Golkar.

“Saya berkali-kali mendapatkan sms (pesan singkat) dari pengurus Golkar yang masuk ormas Nasdem yang menyatakan telah keluar dari ormas itu dan siap membesarkan Golkar,” kata Gandung.
Laporan: Juna Sanbawa | Yogya

Source : Vivanews

Posted with WordPress for BlackBerry.