Menang-Kalah, Irwandi Bentuk Partai Lokal

Banda Aceh-Irwandi Yusuf didampingi Istrinya Darwati A.Gani hari ini memilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 2 TK Perkib Lampriet, Senin (9/4).

Irwandi tiba di TPS pukul 09.45 WIB, puluhan wartawan media cetak lokal niasonal dan luar negeri menunggu kedatangan Irwandi.

Dalam daftar udangan Irwandi kebagian nomor undangan 48 dan Darwati nomor undangan 49. Dalam pemilihan ini baju Irwandi memakai baju orange lambang PSSB Bireuen begitiu juga Darwati memakai baju Orange.

Ditanya mengenai kemenangan, Irwandi yakin “kita akan menang 1% di atas para kandidat , hitungan mutlak keseluruhannya 43% pasangan Irwandi-Muhyan akan meraup suara di Pemilukada Aceh kali ini,” katanya.

Disinggung masalah saksi Irwandi bilang “saksi-saksi kita di beberapa daerah di Pantai Timur Aceh banyak yang mengundurkan diri karena ancaman dan intimidasi seperti di Aceh Utara saksi kita disekap selama 2 x 24 Jam apa ini tidak namanya penculikan’ , katanya.

Bersama istri tercinta DarwatiIrwandi menyebutkan kalah dan menang dirinya akan mendirikan partai politik lokal baru di Aceh, untuk mengikuti ajang pesta pada tahun 2014 Jika pun kalah saya sudah siap, banyak pekerjaan yang menampung saya apakah jadi dosen, petani ataupun jadi supir Hammer untuk dapat keliling Aceh.[003]

Source : The Globe Journal

Ex-combatants in politics — Aceh’s post-conflict challenge

Wherever you look, whoever you turn to when talking to people in Aceh today, the feedback seems virtually universal: Aceh will turn red. In other words, the political movement founded by former rebel group GAM (the Free Aceh Movement), the Aceh Party (PA), is expected to win the governorship and a considerable number of top jobs at the district level in the April 9 elections. 

More significant will be the differences between the contesting parties. Even more important, perhaps, is, if they win, how did they achieve it? Will there be smooth or violent elections? Will it be a fair vote, or will there be threats and silent intimidation?

History has demonstrated that former armed fighters — ex-armed rebels, ex-guerillas, or ex-revolutionaries — tend to become a critical agency in post-conflict situations. 

Very recently, we have seen how Timor Leste has been able to turn a volatile situation into a stable one that led to successful presidential elections. Only a few years earlier, though, in 2006, the country almost became a failed state. 

Back then, the new military corps came into a serious conflict with the national police, resulting in many deaths. Both recruited from ex-guerillas who felt that they were discriminated against. 

Independent Indonesia also faced such challenges. The drive toward the formation of a professional military had provoked the resistance of politically motivated and idealistic armed revolutionary units. It ultimately led to the so-called Madiun Affair in 1948.

Now, Aceh, too, has to deal with its former armed fighters. Like Indonesia’s ex-revolutionaries in the late 1940s and Timor Leste’s former guerillas in the mid 2000s, the Acehnese ex-rebel combatants have to find new and secure positions in a post-conflict situation.

Soon after the Helsinki Peace pact in 2005, one faction of former rebels, known as the ex-Libyan-trained fighters of the late 1980s and the generation of 1998, had consolidated its power and influence away from the elder, exiled leaders of the 1970s who founded the AM, Aceh Merdeka, later renamed GAM. 

These young ex-combatants subsequently supported the Irwandi Yusuf–Mohammad Nazar candidacy, who won the gubernatorial election in 2006. The GAM’s sharp split has thus since become a persistent fact.

The older GAM generation, led by Malik Mahmud and Zaini Abdullah, succeeded in turning the tables thanks to the legitimacy bestowed upon them by the Wali Nanggroe (Aceh-state guardian) Hasan di Tiro. PA, which they founded in 2007, became a mass party. Its hegemonic influence was confirmed as they were able to bring home the Wali in 2008. 

For the first time in Indonesia’s history, it was possible for a supreme rebel leader to return home and it was massively and intensely welcomed by people. That in itself was an exemplary democratic achievement of post-Soeharto Indonesia. But it didn’t subsequently bring a better, stable and peaceful democracy to Aceh itself for three reasons. 

Firstly, the institutions and instruments to implement the Helsinki regulations are only partly able to accommodate the wishes and interests of the former combatants: the ex-Panglima Wilayah (regional commanders), the ex-Panglima Sagoe (district commanders) and their followers. 

Some have greatly benefited from Governor Irwandi’s rule and have become wealthy businessmen. Most, however, have benefited less and their followers not at all.

Secondly, the older PA leaders are now determined to gain power as this is their last chance to lead and rule the province. They do so by modernizing the party structure and organization, by resisting Governor Irwandi’s efforts to be re-elected, and — in general — by threats and intimidation. 

Thirdly, this has resulted in exhausting political-legal battle, often interspersed with violence, for months. 

The PA’s boycott of the elections gave rise to the prospect of greater instability. Jakarta’s intervention to avoid this by postponing the elections until April 9, in order to allow the PA to participate, may be well reasoned, but it also made the competition and anxiety even more intense.

For Governor Irwandi, who was poised to win if the elections were not postponed, now has to mobilize power and funds to compete with the PA. And the PA, in turn, has to play the game very carefully so that it should not arouse Jakarta’s suspicion of a secret agenda of independence if they not only rule the parliament but command the administration. 

The PA invited four Army generals to campaign for the party, including two former regional commanders, one of whom — Gen. Soenarko — had been particularly controversial due to allegations of harsh treatment of former rebels.

The postponement of the elections has shaped a dilemma for the ex-combatants: Either they stay put at Irwandi’s camp or change sides and support the PA. 

It’s a historic moment for them, one that would reveal their real motives as either opportunistic (for business reasons) or idealistic (wanting rural electorates). 

It’s important to note that the ex-combatants are rooted in the former GAM strongholds in rural areas. It explains why the statement of the older GAM leaders and its commander Muzakkir Manaf as being “neutral” in the 2006 elections resulted in a great victory for the Irwandi group, who used the GAM flag as a symbol. 

Now it’s the other way around: it’s the older leaders, with Zaini Abdullah and Muzakir Manaf as their candidates — brilliantly shortened to ‘Zikir”, meaning collective prayer to admire God almighty — that is taking the lead as they evoke GAM symbols and the late Wali Hasan Tiro’s legacy. 

Unfortunately, it’s hard to pinpoint the numbers and the strength — let alone the social-class bases — of the ex-combatant commanders who support Irwandi and the Zikir. But the latest survey suggests the latter would win with 46 percent (against 22 percent) which will not require a second round of voting. 

Whatever the outcome, it will reflect the general assessment of common Acehnese in villages, who know what contributions the ex-combatants made during the conflict, and will weigh it against their role in peace time as they decide at the private ballot boxes.

* Aboeprijadi Santoso,  The writer is a journalist.

Source : The Jakarta Post

Irwandi Kritik Program Saingannya

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Bekas Gubernur Aceh yang kembali mencalonkan diri dalam pemilihan 9 April nanti, Irwandi Yusuf, berkampanye di Lapangan Merdeka, Kota Langsa, Ahad (1/4) sore. Dalam kampanye di hadapan ribuan pendukungnya, Irwandi mengkritik sejumlah program rivalnya.

Program rivalnya yang dikritik yaitu program bagi-bagi uang sebesar Rp1 juta kepada setiap kepala keluarga di Aceh yang diusung kandidat dari Partai Aceh. Menurut Irwandi, program itu tidak realistis. “Itu sangat tidak mungkin bisa direalisasikan,” kata Irwandi.

Seperti diketahui, dalam kampanye di hadapan ribuan pendukungnya di Aceh Tenggara, calon wakil gubernur dari Partai Aceh, Muzakir Manaf, berjanji akan mengelola 70 persen dana bagi-hasil minyak dan gas untuk kesejahteraan rakyat. Muzakir bilang, setiap keluarga akan diberikan Rp1 juta.

Irwandi bilang, di Aceh saat ini terdapat 1,2 juta kepala keluarga. Jika satu juta dikali 1,2 juta, maka dalam sebulan dibutuhkan anggaran Rp1,2 triliun. “Kalau setahun, maka dibutuhkan dana Rp14,4 triliyun. Sementara dana yang dimiliki Aceh per tahun hanya Rp9,5 triliyun,” ujar bekas juru kampanye Partai Aceh pada pemilu 2009 ini. “Jadi tidak mungkin.”

Kampanye Irwandi di Lapangan Merdeka juga diisi orasi politik dari bekas Juru Bicar Militer Gerakan Aceh Merdeka Sofyan Dawood, bekas Panglima GAM Aceh Rayeuk Muharram Idris, bekas Juru Bicara GAM di Stockholm Bakhtiar Abdullah, Fauzi Zainal Abidin Tiro (keponakan Hasan Tiro), dan Hasan Umar Tiro (putra Keuchik Umar, panglima GAM Pidie Pertama). []

Source : Acehkita.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Irwandi Yusuf: Kekerasan di Aceh Seperti Dibiarkan

TEMPO.CO, Langsa – Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengatakan berbagai tindak kekerasan di Aceh, termasuk yang menimpa tim sukses dan massa pendukung Irwandi sebagai calon gubernur, dilakukan Partai Aceh dan terkesan dibiarkan.

Menurut Irwandi, pelaku penembakan warga asal Pulau Jawa dan pelaku teror menjelang pelaksanaan pemilihan kepala daerah di Aceh sebenarnya sudah diketahui polisi. Tindak kekerasan tersebut dilakukan anak buah Ayah Banta. »Tapi Polda tidak berani menyatakan itu kelompok Partai Aceh dan KPA, juga atas perintah siapa mereka melakukan tindak kekerasan,” kata Irwandi kepada Tempo di Langsa, Jumat dinihari, 30 Maret 2012.

Irwandi menegaskan berbagai tindak kekerasan yang terjadi selama ini bukan dilakukan oleh orang yang tidak dikenal. Pelakunya jelas, termasuk yang menimpa tim sukses Irwandi di Lhoksukon, Jumat, 23 Maret 2012. Saat itu si pelaku dengan garang menunjukkan wajah dan menyatakan siapa dirinya kepada korban. »Kau lihat muka aku,” ujar Irwandi mengutip ucapan pelaku kekerasan berdasarkan laporan yang diterimanya. Namun si pelaku masih bebas dan tidak ditangkap. ”Kalau seperti ini penegakan hukum, sangat memalukan negara kita ini,” ucap Irwandi pula.

Irwandi bahkan memaparkan bahwa berbagai tindak kekerasan tersebut bukan terjadi dengan sendirinya melainkan berdasarkan perintah dari atasan. »Ada duduk rapat lagi,” tutur Irwandi.

Irwandi tak menampik adanya pengarahan Menkopolhukam dan Mabes polri bahwa harus bertindak tegas terhadap pelanggar hukum. ”Saat ini belum tegas, tapi entah besok. Kita tidak tahu,” katanya.

Sementara itu, juru bicara Partai Aceh, Fakrurrazi, membantah tindak kekerasan itu dilakukan oleh anggota Partai Aceh. ”Itu bukan dilakukan anggota Partai Aceh, tapi oleh simpatisan Partai Aceh,” katanya.

Fakrurrazi menjelaskan Partai Aceh sudah mengimbau kepada simpatisan dan kader agar tidak bersikap arogan dan anarkistis, serta harus menjaga ketertiban umum.

Fakrurrazi juga mengatakan tindak kekerasan dan arogan pun dilakukan oleh pendukung partai lain. Namun pemberitaan media selalu mengatakan bahwa pelaku tindak kekerasan adalah Partai Aceh. ”Itu adalah strategi calon lain untuk meraup suara dan itu tidak begitu menarik bagi kami karena kami sedang menggalang dukungan masyarakat yang semakin hari makin meningkat terhadap Partai Aceh,” Kata Fakrurrazi.

Hari ini, sebuah mobil operasional tim sukses Irwandi-Muhyan, pukul 12.00 WIB, dilempari di Desa Cot Kreut, Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen.

Mobil yang dikemudikan Mulyadi alias si Pe itu dilempari oleh orang yang bersembunyi di balik kebun sawit. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Kepolisian dan Koramil setempat sedang menyisir lokasi kejadian.

IMRAN MA

Source : Tempo.co

Posted with WordPress for BlackBerry.

Tiga Amanah Hasan Tiro untuk Rakyat Aceh

Sigli- Tiga amanah Teungku Hasan di Tiro sebagai hak rakyat Aceh. Amanah itu meliputi pendidikan, kesehatan, dan rumah. Demikian sebut Calon Gubernur Irwandi Yusuf melakukan konsolidasi dan silaturrahmi dengan Bekas Tentara Negara Aceh (TNA) angkatan dan pejuang GAM angkatan 76 beserta keluarga Alm. Tgk. Hasan Tiro di Pidie, Rabu (22/2).

Dalam acara yang dihadiri oleh Muhyan Yunan (pasangan cawagub Irwandi) dan sejumlah mantan panglima wilayah GAM di Gedung Olah Raga Pidie serta sekitar 708 orang (berdasarkan absensi).

Pada acara tersebut perwakilan ulama, GAM angkatan 76, dan keluarga alm.tgk.Hasan Tiro turut memberikan sambutan, Mantan GAM angkatan 76, Tgk.Hanafiah Pasi Lhok mengingatkan apabila terpilih Irwandi haruslah meneruskan program yang berpihak kepada rakyat. Menurut Hanafiah, pendidikan rakyat harus mendapat perhatian khusus untuk ditingkatkan.

“Kami juga berharap Irwandi dapat meneruskan perjuangan, untuk rakyat Aceh.”

Dalam sambutannya Irwandi mengajak mantan kombatan untuk terus bersatu dan tidak mau dipecah belah oleh alasan politik.

“Politik ini hanya sesaat, jangan gara-gara politik kesatuan dan kekompakan kita pecah, apapun pilihan politik yang terpenting mantan kombatan tetap bersatu, kita tetap bersaudara,” ajak Irwandi dalam pernyataan tertulis kepada The Globe Journal, Rabu(22/2).

Dia juga meminta para mantan kombatan untuk melawan semua intimidasi dan teror yang dilakukan orang-orang yang hendak memecah-belah kekompakan. Mantan kombatan juga harus menjadi pemberi rasa aman dan nyaman bagi masyarakat Aceh dalam pilihan politiknya.

Irwandi menegaskan,dirinya naik kembali sebagai calon pemimpin Aceh bukan karena keinginannya, tapi karena keadaan dan atas dukungan mantan panglima wilayah dan mantan kombatan GAM. “Dari tahun 2006 saya juga tidak berambisi jadi Gubernur, namun karena izin Allah dan keadaan yang mengatarkan saya jadi pemimpin di Aceh.”

Menurut Irwandi, kalau kedepan terpilih lagi, maka akan melanjutkan program-program yang sudah berjalan seperti selain akan memberlakukan pendidikan gratis sampai tingkat SMA, dan juga akan membuat program stimulus perbaikan ekonomi bagi masyarakat

miskin malalui program gratis abonemen listrik 2 amper bagi mas????arakat miskin.[003]

Source : The Globe Journal

Hak Jawab Irwandi-Muhyan Soal Pemberitaan The Atjeh Post

Tim sukses Seuramoe Irwandi-Muhyan menyampaikan keberatannya atas pemberitaan The Atjeh Post berjudul “Irwandi: Partai Lokal yang Sudah Ada Tak Akan Hidup Lagi.” Berikut isi hak jawab yang diterima redaksi The Atjeh Post, Sabtu, 18 Februari 2012.

 

Banda Aceh, 18 Februari 2012
Nomor : 047/SI-M/II/2012
Lampiran : -
Perihal : Hak Jawab Pemberitaan

Kepada Yth;
Pimpinan Redaksi The Atjeh Post
di – Banda Aceh

Dengan Hormat, sehubungan dengan berita di media saudara pada tanggal 16 februari 2012 yang berjudul “Irwandi: Partai Lokal yang Sudah Ada Tak Akan Hidup Lagi”, dapat kami sampaikan bahwa kami sangat berkeberatan karena pernyataan tersebut sama sekali tidak disebutkan saat wawancara dilakukan.

Pada paragraf kedua berita tersebut ditulis: “Partai lokal yang sudah ada tidak akan hidup lagi nantinya. Mari bersaing dengan partai baru ini,” kata Irwandi usai bertemu sejumlah mantan panglima wilayah GAM pendukungnya di Hermes Palace, Kamis, 16 Februari 2012. Pernyataan tersebut sama sekali tidak diucapkan dalam wawancara dan menurut kami hal tersebut sangatlah menyesatkan dan mengarah kepada provokasi yang membahayakan.

Pada paragraf ketiga berita tersebut, ditulis: Menurut Irwandi, pembentukan partai baru perlu dilakukan agar demokrasi di Aceh dapat berjalan baik. “Demo artinya banyak, bukan mono yang berarti hanya untuk kepentingan satu lembaga,” ujarnya. Penulisan di paragraf ketiga tentu saja terlihat sangat jauh berbeda dengan kutipan Irwandi sebelumnya.

Isi kutipan yang dipelintir tersebut kemudian dijadikan bahan untuk tulisan berikutnya yang memicu pendapat negatif dari pihak lain pada berita “Kautsar: Jika Tak Bikin Partai, Setelah Pilkada Mau Kemana?” dan “Ini Kata Nazar Soal Partai Irwandi”.

Untuk itu kami meminta kepada saudara untuk dapat menuliskan ulang berita tersebut dengan klarifikasi dan menampilkan secara utuh hasil wawancara. Kami sangat berharap media dapat memberikan informasi yang cerdas dan mendidik serta menjunjung prinsip jurnalisme damai bukan memberikan provokasi ditengah kondisi politik yang menghangat menjelang pelaksanaan pilkada Aceh.

Perlu kami beritahukan bahwa wawancara The Atjeh Post dilakukan setelah selesai Rapat Konsolidasi Eks-Kombatan di hotel Hermes Palace tanggal 16 Februari 2012. Saat wawancara, terdapat beberapa wartawan dari media lain yang ikut melakukan wawancara dan mendengar. Bersama Irwandi Yusuf juga ikut beberapa pengurus Seuramoë Irwandi-Muhyan.

Kami juga ingin mengingatkan untuk selalu melakukan konfirmasi dan mengutamakan penyampaian berita dan informasi yang memiliki validitas tinggi dan akurat sehingga media saudara dapat lebih berperan sebagai media informasi, pendidikan, dan hiburan serta menjadi alat pantau yang independen tanpa berpihak.

Demikian kami sampaikan, atas perhatian kami ucapkan terima kasih.

Atas nama, Seuramoë Irwandi-Muhyan
Muksalmina

Source : Atjehpost.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Irwandi Yusuf Bantah Ancam Wartawan

TEMPO.CO, Jakarta – Eks Gubernur Aceh Irwandi Yusuf membantah telah melakukan ancaman kepada Pemimpin Redaksi The Atjehpost.com Nurlis E. Meuko. Menurut Irwandi, dia hanya memarahi Nurlis lewat telepon. “Saya telepon Nurlis, saya marahin dikit, tapi tidak pake ngancam,” ujarnya kepada Tempo, Sabtu, 18 Februari 2012.

Irwandi menuturkan peristiwa itu bermula ketika media yang dipimpin Nurlis menulis berita tentang ajakannya membentuk partai baru bersama sejumlah mantan panglima wilayah GAM pendukungnya. “Tapi, yang ditulis, saya mau bentuk partai baru biar partai lokal lain mati semua,” katanya.

Hal ini, menurut dia, membuat eks Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar berkomentar keras. Irwandi kemudian menelepon Nurlis dan memarahinya. “Saya bilang, kalau gitu cara pemberitaannya, bisa-bisa di-banned (dilarang),” tuturnya.

Irwandi juga telah memberikan hak jawabnya yang telah dimuat di media tersebut. Menurut dia, ia sangat keberatan dengan isi pemberitaan itu yang katanya tak ia lontarkan saat wawancara berlangsung.

Sebelumnya, Nurlis E. Meuko mengatakan mendapat ancaman dari Irwandi Yusuf karena pemberitaan yang ditulis oleh medianya. »Aku bhan kau nanti,” kata Nurlis menirukan ucapan Irwandi.

Nurlis mengaku tak tahu arti “bhan” saat pembicaraan itu selain hanya bentuk ancaman. Belakangan ia tahu, bhan itu ternyata bahasa prokemnya eks GAM untuk tembak mati,” kata Nurlis. Dia kemudian melaporkan ancaman ini kepada Kepala Polda Aceh Inspektur Jenderal Iskandar Hasan.

Irwandi dan Nazar yang awalnya menjadi pasangan gubernur dan wakil gubernur kini kembali mencalonkan diri menjadi kandidat Gubernur Aceh secara terpisah. Pemilu kepala daerah akan dilaksanakan pada 9 April 2012.

Selain Irwandi, eks GAM yang berkumpul di Partai Aceh, yang menjadi pesaing utama Irwandi, turut mencalonkan jagonya. Yaitu bekas orang kepercayaan Hasan Tiro, Zaini Abdullah. ADI WARSIDI | NUR ALFIYAH

Source : Tempo.co

Posted with WordPress for BlackBerry.

Mantan Gubernur Aceh Ancam Bunuh Wartawan

TEMPO.CO, Jakarta – Pemimpin redaksi The Atjehpost.com, Nurlis E. Meuko, diancam dibunuh oleh eks Gubernur Aceh Irwandi Yusuf. Ancaman pembunuhan ini diduga akibat pemberitaan di Atjehpost.com tentang pembentukan partai lokal Jumat kemarin. »Kemarin malam, dia (Irwandi) menelepon saya,” katanya kepada Tempo, Sabtu, 18 Februari 2012.

Saat menerima telepon itu, Nurlis mengira hanya telepon silaturahmi antarsesama teman. Saat menyentil tentang berita yang dibuat Atjehpost.com, baru pembicaraan menjadi tegang. »Aku bhan kau nanti,” kata Nurlis menirukan ucapan Irwandi. Nurlis mengaku tak tahu arti ‘bhan” saat pembicaraan itu selain hanya bentuk ancaman.

Lalu ia mencoba mencari tahu arti kata bhan ke para bekas kombatan Gerakan Aceh Merdeka. Irwandi dahulu pernah terlibat di GAM dengan menjadi juru bicara dan mewakili GAM saat MoU perdamaian Aceh di Helsinky. »Bhan itu ternyata bahasa prokemnya eks GAM untuk tembak mati,” kata Nurlis.

Nurlis mengatakan sudah melaporkan ancaman ini kepada Kepala Polda Aceh Inspektur Jenderal Iskandar Hasan. Tadi malam ia mengaku sempat mengkhawatirkan keselamatannya hingga terpaksa menginap di kantornya di Banda Aceh. »Kalau ancaman belum reda, saya berencana menginap di rumah Kapolda,” katanya.

Menurut ajudan Irwandi, bosnya itu sedang berada di dalam pesawat menuju Jakarta hingga sulit dihubungi. Irwandi kini kembali menjadi kandidat Gubernur Aceh. Pemilu kepala daerah akan dilaksanakan pada 9 April 2012. Selain Irwandi, eks GAM yang berkumpul di Partai Aceh, yang menjadi pesaing utama Irwandi, turut mencalonkan jagonya. Yaitu bekas orang kepercayaan Hasan Tiro, Zaini Abdullah. MUSTAFA SILALAHI

Source : tempo.co

Posted with WordPress for BlackBerry.

Partai Aceh Tak Ditinggal Mantan Panglima GAM

Banda Aceh, Kompas – Pengurus Pusat Partai Aceh membantah klaim kubu Irwandi Yusuf dan Sofyan Dawood bahwa ada 15 mantan Panglima Wilayah Gerakan Aceh Merdeka yang telah membelot dan sepakat membentuk partai baru untuk melawan Partai Aceh. Dari 15 panglima tersebut, hanya empat orang yang telah dipecat dan tidak loyal, selebihnya masih loyal dengan Partai Aceh.

”Klaim itu tidak benar. Mereka hanya melebih-lebihkan. Dari sejumlah orang yang diklaim oleh Sofyan Dawood itu justru tak diundang di Hermes dan namanya diklaim begitu saja. Kami sudah bertanya kepada Abu Sanusi (mantan Panglima Wilayah GAM Aceh Timur) dan Abu Yus (Meulaboh). Mereka tak tahu-menahu,” kata pengurus pusat Partai Aceh, Muhammad Kautsar, yang juga Sekretaris Jenderal Tim Pemenangan Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur dari Partai Aceh Zaini Abdullah-Muzakir Manaf, Jumat (17/2).

Seperti diketahui, mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf bersama sejumlah mantan Panglima Wilayah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menyatakan akan membentuk partai politik baru. Par- tai tersebut ditujukan untuk melawan Partai Aceh yang telah memecat mereka dari struktural.

Mantan juru bicara Pimpinan Pusat GAM Sofyan Dawood menyebutkan, ada 15 dari 17 mantan Panglima Wilayah GAM yang sudah setuju bergabung dengan partai baru tersebut nantinya. Dari 15 panglima itu, tiga di antaranya sudah kembali ke Partai Aceh.

Kautsar mengatakan, dari 15 panglima yang disebut Sofyan Dawood, hanya ada empat mantan panglima yang diberhentikan dari Partai Aceh. Mereka adalah Panglima GAM Wilayah Sabang Ayah Merin, Muharam Idris (Aceh Rayeuk), Bachtiar Sarbini (Aceh Jaya), dan Saiful Cage (Bireuen). Mereka, ujarnya, dipecat karena alasan politik dan kriminal. (HAN)

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Partai Aceh Kian Terancam Pecah

Jakarta, Kompas – Eks Gerakan Aceh Merdeka yang menjadi elemen utama dalam Partai Aceh kian terancam perpecahan. Sejumlah mantan panglima wilayah GAM kini membentuk partai politik baru bersama calon Irwandi Yusuf.

Dalam rapat di Banda Aceh, Kamis (16/2), sejumlah mantan panglima wilayah GAM dan ratusan mantan pimpinan militer GAM sepakat membentuk partai baru, setidaknya sebelum Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) Aceh pada 9 April 2012. Rapat itu dihadiri mantan anggota GAM Irwandi Yusuf, Gubernur Aceh yang kini mencalonkan diri kembali, dan mantan Juru Bicara GAM Sofyan Dawood.

Sofyan menuturkan, dengan terbentuknya parpol baru, diharapkan dapat memperbaiki segala sesuatu yang tidak dapat dilakukan Partai Aceh sebagai parpol lokal yang menjadi wadah mantan eks kombatan.

”Para panglima ikut dari awal pembentukan partai itu (Partai Aceh). Namun, partai lalu berjalan tak sesuai aturan. Hingga akhirnya kami dipecat. Bukan mengundurkan diri,” katanya.

Dari 17 mantan panglima GAM, 15 di antaranya dipecat dari Partai Aceh. Alasan pemecatan karena mendukung Irwandi Yusuf sebagai calon gubernur dalam Pilkada 2012. Namun, tiga di antaranya kembali ke Partai Aceh, yakni Abu Yus (Meulaboh), Abdul Rahman (Aceh Barat Daya), dan Nurdin (Simeulue).

”Jadi, 70 persen mantan panglima GAM bergabung dengan kami,” kata Sofyan. Ada dua wilayah yang menolak bergabung dengan kelompok ini, yaitu wilayah GAM Aceh Utara dan Pidie.

Dengan membentuk partai baru itu, Sofyan mengakui, akan ada perpecahan di tubuh eks GAM. ”Kalau dikatakan pecah, bisa iya. Dikatakan tidak, bisa tidak. Partai Aceh bukan GAM. Namun, dalam Partai Aceh ada GAM. Begitupun kami nantinya,” paparnya.

Juru Bicara Tim Sukses Irwandi, Linggadinsyah, menyatakan, 12 mantan panglima GAM yang bergabung dalam partai baru adalah Muharam Idris (Aceh Rayeuk), Ayah Merin (Sabang), Bachtiar Sarbini (Meurhom Daya), Abrar Muda (Tapaktuan), Nurdin (Singkil), Win Kaka (Aceh Tenggara), Panji (Gayo Lues), Aman Begi (Aceh Tengah), Ramdana (Bener Meriah), Helmi (Tamiang), Abu Sanusi (Peurlak), dan Saiful Cage (Bireuen). Namun, Saiful meninggal tertembak beberapa saat lalu.

Juru Bicara Partai Aceh Fachrul Razi membantah ada perpecahan di tubuh partainya. Dukungan dari mantan panglima GAM masih solid.

Masuknya tiga jenderal purnawirawan TNI ke Partai Aceh dalam Pilkada Aceh 2012, kata Fachrul, tidak memengaruhi soliditas partainya. Ketiganya adalah Mayor Jenderal (Purn) Sunarko dan Mayjen (Purn) Djali Yusuf, keduanya mantan Panglima Kodam Iskandar Muda, serta Mayjen (Purn) Sulaiman AB, mantan Komandan Detasemen Polisi Militer. ”Masuknya mereka menunjukkan Partai Aceh itu terbuka,” katanya.

Dari Jakarta, Kamis, dilaporkan, pemerintah pusat dan DPR akan langsung mengawasi Pilkada Aceh. Kesepakatan ini diambil saat rapat konsultasi Tim Pengawas Pelaksanaan Otonomi Khusus Papua dan Aceh DPR dengan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo, Kepala Badan Intelijen Negara Marciano Norman, Ketua Komisi Pemilihan Umum Hafiz Anshari, anggota Badan Pengawas Pemilu Wahidah Suaib, serta wakil Pemerintah Provinsi dan DPR Aceh di Jakarta. (han/nta)

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.