Nasib Profesor dan Program Doktor di Indonesia

Mengacu ke Pasal 49 Ayat 2 UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, profesor memiliki kewajiban khusus menulis buku dan karya ilmiah serta menyebarluaskan gagasannya untuk mencerahkan masyarakat.

Karya ilmiah yang dimaksudkan tentu saja yang serius. Namun, masih belum jelas seserius apa karya ilmiah dimaksud.

Tatkala Surat Edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi No 739/E/C/2011 tentang perpanjangan batas pensiun profesor diedarkan, barulah masalah kualitas karya ilmiah yang diinginkan pemerintah menjadi jelas. Dalam butir 2 surat edaran tersebut dinyatakan bahwa karya ilmiah yang dipersyaratkan tersebut adalah karya ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional dan yang terdaftar pada ”Scopus” atau yang setara.

Lalu untuk profesor yang masih aktif dan masih jauh dari usia pensiun, apakah harus melahirkan karya ilmiah seperti itu juga? Kalau tidak tercapai, apa akibatnya? Apakah tunjangan kehormatan dan sertifikasi pendidik yang dinikmati profesor selama ini akan dicabut?

Kalau memang tunjangan- tunjangan itu dicabut, gelar profesor tentu hanya jadi semacam ”pepesan kosong” (terbungkus dengan baik dan mengundang selera, tetapi isinya kosong). Kalau tidak dicabut, pemerintah juga berhak bertanya: untuk apa gelar profesor kalau dalam tiga tahun tak satu pun publikasi internasional bisa dilahirkan?

Untuk melahirkan karya ilmiah yang serius, seorang profesor harus melakukan penelitian yang serius. Inilah hal yang sangat mendebarkan dan ujian yang amat menggusarkan para profesor. Paling tidak karena empat alasan utama.

Pertama, selama ini posisi profesor selalu menjadi penguji (bagi mahasiswanya). Sekarang posisinya terbalik: para profesor yang harus diuji dan harus membuktikan kemampuan mereka.

Kedua, selama ini sangat sedikit dosen yang melakukan penelitian (tak sampai 10 persen dari total dosen yang ada).

Ketiga, dari dosen yang sangat sedikit tersebut, sangat sedikit pula yang memublikasikan karya ilmiahnya, apalagi di jurnal internasional.

Keempat, sudah jadi rahasia umum profesor adalah stasiun terakhir dalam perjalanan dunia akademik. Dalam pengertian, sangat sedikit profesor yang mau dan punya waktu meneliti dan memublikasikan penelitiannya secara internasional setelah mereka mendapat gelar profesor. Namun, dengan ketentuan baru ini, para profesor tentu tak punya alternatif lain: harus melakukan penelitian dan memublikasikan hasilnya di jurnal internasional.

Penambahan doktor

Sudah terlalu sering dianalisis bahwa jumlah doktor di Indonesia dan jumlah publikasi internasional yang dilakukan peneliti/dosen di Indonesia kalah jauh dibandingkan Malaysia, Arab Saudi, Banglades, dan lain-lain.

Kementerian Pendidikan Nasional tentu perlu kerja keras mengatasi persoalan ini. Melalui program 5.000 doktor, bekerja sama dengan Pemerintah Jerman, pemerintah berusaha keras menambah jumlah doktor secara signifikan. Upaya ini harus kita apresiasi karena dana yang dipakai adalah dana dari penghapusan utang Pemerintah Indonesia oleh Pemerintah Jerman.

Sementara penambahan jumlah doktor melalui program pascasarjana di dalam negeri berjalan sangat lambat. Sebab, tidak semua universitas negeri punya program S-2 dan S-3 bidang keahlian tertentu.

Ada tiga saran yang perlu dipertimbangkan sehubungan dengan masalah-masalah yang dikemukakan di atas.

Pertama, program doktor (S-3) di Indonesia sebaiknya disederhanakan dan jumlah mata kuliah diminimalkan atau dihilangkan sehingga mahasiswa punya banyak waktu untuk meneliti. Di jenjang S-1 dan S-2, para kandidat doktor sesungguhnya sudah mengambil banyak sekali mata kuliah. Program doktor seharusnya dapat dipahami secara sangat sederhana, tidak perlu dipersulit prosedur dan penanganannya.

Secara tradisi, terutama di Eropa, sejak awal berlangsungnya program pendidikan doktor, peran profesor sangat dominan dan peran institusi sangat sedikit. Proses pembentukan seorang doktor adalah proses kloning sehingga kandidat doktor tersebut mampu berbuat seperti kemampuan pembimbingnya. Profesor dan anak asuhnya (calon doktor) bekerja bersama dalam laboratorium, sampai suatu saat anak asuhnya betul-betul dapat dilepas (diwisuda) sebagai doktor.

Kedua, khusus untuk program doktor (S-3), profesor di satu universitas yang tak ada S-3-nya diberi juga hak membimbing calon doktor. Ekstremnya, program pascasarjana hanya mengelola pendidikan magister (S-2), sedangkan untuk program doktornya diserahkan kepada profesor setiap universitas.

Profesor yang ditunjuk membimbing calon doktor tentu yang telah memublikasikan karya ilmiahnya secara internasional dan di jurnal berpengaruh. Untuk saat ini kita punya sekitar 4.000 profesor yang tersebar di seluruh Nusantara. Banyak dari profesor tersebut tak punya mahasiswa S-3 karena bidang keahliannya tak ada program S-3-nya.

Ketiga, syarat untuk bisa diluluskan sebagai doktor harus benar-benar terukur dan diperketat. Kandidat doktor harus punya publikasi internasional di ”Scopus” sebelum bisa dinyatakan lulus. Dengan adanya syarat terakhir ini, Dikti tak perlu khawatir mutu doktor yang dihasilkan.

Kalau kebijakan pembimbingan doktor seperti ini bisa ditempuh, profesor-profesor yang tak punya program S-3 di universitasnya tetap dapat berkiprah. Sebab, untuk menghasilkan karya ilmiah secara internasional harus dilakukan penelitian secara serius. Untuk melakukan penelitian dengan serius, seorang profesor harus membimbing para kandidat doktor.

Kebijakan ini akan menghasilkan tiga dampak positif secara serentak: meningkatkan jumlah doktor, meningkatkan jumlah publikasi internasional, dan menyelamatkan profesor dari ancaman ”pepesan kosong”.

Syamsul Rizal Direktur Program Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Source : Kompas.com

BEM yang Tak Lagi Diminati

Pada masa Reformasi, Badan Eksekutif Mahasiswa menjadi salah satu penggerak mahasiswa untuk menuju perubahan. Memang tidak semua kampus mempunyai BEM. Kalaupun ada, peminatnya kemungkinan tak cukup banyak. Padahal, tidak ada salahnya aktif di BEM. Bahkan, banyak hal yang bisa didapatkan mahasiswa sepanjang mereka aktif di BEM.

Memang sayang sekali kalau pada masa perkuliahan mahasiswa hanya datang untuk kuliah. Banyak hal yang bisa dilakukan di kampus. Salah satu pilihannya adalah aktivitas politik di kampus, seperti bergabung bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Organisasi mahasiswa ini selalu diidentikkan dengan perjuangan mahasiswa untuk mengaspirasikan pendapatnya melalui berbagai media, salah satunya demonstrasi. Namun, belakangan ini bisa dikatakan tak banyak mahasiswa yang memilih untuk menjadi aktivis politik di kampus. Alasannya bisa bermacam-macam.

Mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, Yosa Jeremia, mengatakan, pada saat regenerasi kepengurusan BEM, mereka melakukan perekrutan terbuka, siapa saja boleh mendaftarkan diri.

”Banyak juga (mahasiswa) yang datang mendaftar, kemudian dilakukan tes tertulis dan tes wawancara. Dari tes tersebut, setiap mahasiswa yang mendaftarkan diri sudah diajarkan mengenai arti sebuah totalitas. Tes tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa itu menggunakan segala kemampuannya untuk menjadi pengurus BEM,” katanya.

Menurut Yosa, masalah utama yang kemudian muncul adalah ketika mahasiswa sudah menjadi pengurus BEM. Di sini mulai muncul masalah pembagian waktu, terutama bagi mahasiswa yang tidak memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik. Mereka kemudian akan kerepotan membagi waktu antara kegiatan kuliah, mengerjakan tugas, dan berkegiatan sesuai tanggung jawabnya di BEM.

”Ada banyak pengurus BEM yang setelah mengikuti kepengurusan justru kuliahnya terbengkalai. Pengurus BEM biasanya juga tidak hanya mengikuti satu organisasi, tetapi mereka juga mengikuti beberapa organisasi yang lain. Di sinilah dituntut kemampuan mahasiswa untuk menjadi sosok yang bisa membagi waktunya dengan baik. Manajemen waktu yang baik akan membuat mereka bisa mengerjakan semua tugas sesuai fungsi masing-masing dengan baik, maka tak ada tugas yang terbengkalai,” ungkap Yosa.

Segudang tugas

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muria Kudus, Jawa Tengah, Puji Hastuti, mengungkapkan, dunia perkuliahan yang disibukkan dengan segudang tugas dan kegiatan kampus yang menyita waktu cenderung menjadi alasan mahasiswa untuk tidak mau berkecimpung dalam aktivitas BEM.

”Pasalnya, padatnya jadwal kuliah dan kesulitan mata kuliah yang ditempuh setiap semester juga menjadi dalih mengapa mahasiswa tidak bergabung dalam organisasi,” ujarnya.

Selain itu, biaya pendidikan yang mahal pun mengakibatkan mahasiswa dituntut agar lebih cepat lulus. Ini juga dijadikan salah satu alasan mahasiswa untuk tidak aktif di BEM.

Desi Wulandari, mahasiswa FISIP Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mengungkapkan, biaya kuliah yang mahal menuntut mahasiswa untuk rajin kuliah dan tidak banyak melakukan aktivitas di luar perkuliahan sehingga bisa lebih cepat lulus.

”Kebijakan otonomi kampus membuat biaya pendidikan lebih mahal. Akibatnya, mahasiswa hanya rajin untuk kuliah, tidak mau lagi aktif di BEM yang pasti menyita banyak waktunya,” kata Desi.

Terlambat lulus

Konsekuensi aktivis BEM lumayan berat. Setidaknya, itu yang dirasakan Muhammad Arief, mahasiswa Jurusan Akidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri (FUSAP UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Dia sudah satu setengah tahun ini menjabat sebagai Ketua BEM FUSAP UIN Sunan Kalijaga.

”Dalam AD/ART kami, pengurus yang masih menjabat tidak boleh mengikuti KKN (Kuliah Kerja Nyata). Padahal, saya sudah semester VI dan harus ikut KKN. Tetapi, kalau ikut KKN, saya harus mundur dari jabatan. Saya memilih terlambat lulus kuliah,” katanya.

Itu semua dilakukan Arief untuk mendapatkan banyak pengalaman yang bisa menjadi bekal setelah dia lulus dan menyandang gelar sarjana.

”Ini sudah menjadi keputusan pribadi. Saya yakin masa depan saya bukan hanya dari ijazah S-1. Saya bisa lebih matang ketika lulus daripada mahasiswa yang tidak mempunyai pengalaman berorganisasi,” kata Arief yang aktif di BEM sejak semester II.

Syahrul Hidayah, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, mengatakan, menjadi pengurus BEM merupakan salah satu cara untuk berpartisipasi dalam kegiatan positif mahasiswa.

”Aktualisasi diri seorang mahasiswa dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yang positif. Mahasiswa memiliki bentuk idealisme masing-masing, yang diimplementasikan dengan tindakan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tidak bisa kita mengatakan bahwa anak BEM lebih baik dari yang non-BEM,” kata Syahrul.

Banyak cara yang bisa dilakukan mahasiswa, lanjut Syahrul, misalnya ada yang memilih berbisnis sebagai sarana untuk memajukan dirinya, ada juga yang masuk menjadi anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM), ada pula yang terjun langsung ke masyarakat untuk melakukan berbagai kegiatan sosial.

”Oleh karena itu, mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa diharapkan terus mengembangkan kemampuannya, baik itu soft skill maupun hard skill. Semua itu juga bekal agar kita dapat menjadi pemecah permasalahan bangsa, bukan malah menambah kerumitan permasalahan,” tegasnya.

Nah, kini tergantung dari tiap mahasiswa apa yang bisa disumbangkan untuk negara tercinta ini. BEM memang bukan satu-satunya kegiatan yang memberikan ”warna” dalam kehidupan mahasiswa. Banyak warna lain yang bisa menjadi pilihan kita….
(SUSIE BERINDRA)

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Mencari Ospek yang Mendidik dan Akademis

Ospek dalam bahasa yang lebih sederhana adalah masa orientasi studi dan pengenalan kampus. Tujuannya, mengenalkan kampus dan berbagai hal terkait dengan perkuliahan sebagai dunia baru yang akan dimasuki mahasiswa baru alias maba.

Sebagai sebuah kegiatan yang menjadi. pintu pertama bagi maba, transfer ilmu menjadi kunci utama kegiatan ini. Transfer ilmu yang dilakukan kampus sebagai sebuah institusi direpresentasikan oleh kehadiran para senior yang sengaja dilibatkan dalam kegiatan ini. Tentu saja petinggi kampus dan dosen pengajar juga turut campur.

Idealnya, tidak ada praktik kekerasan dalam kegiatan ini. Tidak dalam level apa pun. Sangat keliru bila ospek justru memakan korban seperti yang kerap terjadi di sebuah kampus pencetak birokrat di negeri ini.

Sayangnya, hingga saat ini, ospek belum juga berhasil menampilkan dirinya sebagai kegiatan yang positif. Dalam benak mahasiswa, ospek adalah kegiatan yang mengerikan, yang sebisa mungkin harus dihindari.

Setidaknya dari tahun 1990-an hingga saat ini, metode yang dilakukan beberapa kampus masih sama. Ospek identik dengan tugas yang aneh dan nyaris tidak masuk akal, ditambah praktik kekerasan terselubung, kerap disebut sebagai hukuman bagi yang dianggap melanggar, dengan level yang berbeda-beda.

Annisa Iskandar asal Bandung, Jawa Barat, mengenang, saat ospek, dia diwajibkan membawa cokelat merek tertentu yang sangat sulit ditemukan. ”Waktu itu sampai ngubek seluruh Bandung. Tapi enggak ketemu juga,” kenangnya.

Gara-gara tak bisa membawa cokelat yang diminta sebagai salah satu bentuk tugas, Annisa pun mendapat hukuman. ”Hukumannya bikin paper. Tapi, paper- nya banyak banget. Sampai 30 lembar kalau enggak salah,” kenang Annisa.

Ia mengatakan, praktik kekerasan dalam berbagai manifestasi, misal bentakan dan omelan, terjadi selama ospek yang diikutinya. Annisa menganggapnya sebagai hal wajar, tetapi tidak bagi beberapa temannya.

Permintaan aneh

Febryanty Putry, mahasiswa Universitas Bakrie yang pernah mengecap kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di kawasan Depok, Jawa Barat, menuturkan, saat ospek dia juga diminta melakukan hal-hal yang menurutnya aneh, yaitu meminta tanda tangan kepada mahasiswa di lingkungan kampusnya.

Tidak hanya digelar di jurusan, ospek juga dilakukan di tingkat fakultas. Alhasil, waktu yang dibutuhkan untuk ospek sangat panjang. Hampir satu bulan lamanya, sementara mahasiswa sudah aktif di perkuliahan.

Setelah pindah ke kampus baru, Putry baru mengetahui bahwa kampus barunya menerjemahkan ospek dengan kegiatan luar ruang di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Selama kegiatan luar ruang itu, mahasiswa menginap selama tiga hari dua malam.

Tidak ada praktik kekerasan karena kegiatan yang dilakukan lebih bertujuan untuk membangun kedekatan dan keakraban di antara mereka. Di antara kegiatan yang dilakukan, disuntikkan berbagai informasi seputar kampus. Pulang dari Bogor, mereka menjadi keluarga besar yang akrab dan kompak.

Menurut Putry, model ospek seperti inilah yang seharusnya diterapkan di kampus-kampus. ”Ospek jangan sampai jadi ajang pamer senioritas. Kalau memang mau dihormati, ya bersikap baik saja. Kami sebagai junior akan hormat kepada senior kalau memang mereka pantas dihormati,” tegas Putry.

Tidak khawatir

Bhredipta, lulusan SMA AL Azhar 4 Kemang Pratama yang baru saja diterima sebagai mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, mengungkapkan, sebagai calon mahasiswa, tak tebersit sedikit pun kekhawatiran tentang ospek yang akan dijalaninya. Ia cukup yakin ospek di kampusnya akan berjalan baik-baik saja.

Meski begitu, Bhredipta tidak mau tinggal diam. Ia banyak mencari informasi tentang ospek yang akan dijalaninya melalui internet dan ngobrol dengan kakak teman-temannya yang kuliah di UGM. Dari situ dia yakin ospek yang akan dijalaninya bukan ospek yang harus ditakuti.

”Soalnya wajib ikut. Kalau enggak, enggak bisa ikut kegiatan di kampus,” ujar Bhredipta. Materi yang diberikan antara lain sejarah UGM dan soal manajemen waktu. Ia sudah mempersiapkan mental dan fisiknya bila September kelak bertolak ke Yogyakarta dan menjadi salah satu peserta ospek.

Ia berharap ospek yang akan dia jalani berhasil membuka matanya terhadap kehidupan kampus yang akan dijalaninya kelak. ”Kondisi yang sudah pasti berbeda dengan saat sekolah di bangku SMA,” ujar Bhredipta.

Tentang ospek ideal, Bhredipta mengatakan, sesuai namanya, orientasi pengenalan lingkungan kampus, idealnya ospek mengajarkan atau memberi informasi tentang nilai-nilai yang dijunjung kampus tersebut, memberikan kemampuan dan nilai apa saja yang harusnya dimiliki maba.

”Harapannya bisa menjadi bekal maba untuk mengarungi kehidupan kampus. Intinya, ospek harus mendidik dan bersifat akademik karena itulah fungsi kampus,” kata Bhredipta.

Ia sepakat bila ospek harus meninggalkan jauh-jauh praktik kekerasan karena kekerasan hanya melahirkan generasi yang menyelesaikan masalah dengan kepala panas, tidak berpikir matang dan menyelesaikan segala sesuatunya dengan otot. ”Mau dibawa ke mana Indonesia kalau generasi mudanya seperti itu,” lontar Bhredipta.

Senada dengan Bhredipta, Annisa dan Putry juga sangat tidak setuju dengan praktik kekerasan dalam ospek. ”Bila sampai terjadi kekerasan, seharusnya mahasiswa yang mengalaminya berani melapor kepada pihak kampus. Dengan demikian, kekerasan yang terjadi tidak bertambah parah dan bisa segera dihentikan,” kata Putry.

Sementara Bhredipta mengatakan, ”Kekerasan enggak ada gunanya. Kalau memang kakak kelas ingin dihormati dan dihargai oleh kami, mahasiswa junior, prestasilah yang harusnya mereka tonjolkan. Lebih baik disegani, bukan ditakuti. Tentang ospek yang berupa kegiatan luar ruang atau outbound, Bhredipta mengatakan setuju asal tujuannya jelas.

Kembali ke khitah

Kepala Subdit Minat, Bakat, dan Penalaran IPB Direktorat Kemahasiswaan Bambang Riyanto menuturkan, dulu senioritas memang masih terjadi dalam kegiatan ospek di sejumlah kampus. Namun, saat ini sejumlah kampus sudah mengembangkan metode ESQ dalam ospek yang dilakukan sehingga bentuk-bentuk yang berkaitan dengan senioritas atau praktik kekerasan ditiadakan.

”Sebaiknya ospek memang dikembalikan pada khitahnya untuk memperkenalkan kampus kepada mahasiswa baru dan mengarahkan orientasi mahasiswa di kehidupan yang akan datang sebagai bagian dari masyarakat kampus,” kata Bambang.

Namun, Bambang tidak bisa menutup mata bahwa praktik semacam itu tidak sepenuhnya hilang. Bila IPB sudah menghapuskan segala praktik yang berhubungan dengan kekerasan dalam ospek, yang di IPB dikenal dengan nama Masa Perkenalan Kampus untuk Mahasiswa Baru (MPKMB), ini semata-mata agar tak menimbulkan masalah baru.

”Sudah banyak masalah dalam dunia pendidikan. Kita tidak mau timbul masalah lain,” tutur Bambang. Melalui MPKMB, mahasiswa baru mendapat gambaran tentang dunia pertanian dan bagaimana di masa depan mereka dapat berperan aktif di dunia pertanian.

(dwi AS Setianingsih) KOMPAS/HERU SRI KUMORO Mahasiswa baru Jurusan Teknik Industri Institut Sains Terapan dan Teknologi Surabaya (ISTTS) praktik membatik bermotif mangrove khas Surabaya di Kampus ISTTS, Surabaya, Agustus 2010

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.