Pilkada Ulang 21 Januari

Jakarta, Kompas – Komisi Pemilihan Umum Jawa Timur menetapkan jadwal pelaksanaan putusan Mahkamah Konstitusi terkait sengketa Pilkada Jatim. Penghitungan suara ulang di Pamekasan diselenggarakan pada 28 Desember 2008, sedangkan pemungutan suara ulang di Bangkalan dan Sampang dijadwalkan 21 Januari 2009.

”Jadwal itu ditetapkan dalam pleno KPU Jatim yang berlangsung sejak Selasa (16/12) petang sampai Rabu (17/12) pukul 01.00,” kata anggota KPU Jatim, Arief Budiman, Rabu. Keputusan KPU Jatim No 31/2008 tanggal 16 Desember 2008 mengatur tahapan, program, dan jadwal Pilkada Jatim 2008 untuk menindaklanjuti Pelaksanaan Putusan MK No 41/PHPU-D-VI/2008.
Continue reading

Pilkada Ulang Bulan Ini: Pemungutan Suara di 2 Kabupaten

Jakarta, Kompas – Komisi Pemilihan Umum meminta agar pemungutan suara ulang Pemilihan Kepala Daerah Provinsi Jawa Timur di Kabupaten Bangkalan dan Sampang, seperti putusan Mahkamah Konstitusi, dilaksanakan pada Desember 2008. Sebab, seluruh pilkada harus selesai pada bulan ini.

”Pemungutan suara ulang bisa dilaksanakan KPU Jatim, tetapi tidak boleh lebih dari Desember 2008. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah tak memperbolehkan ada pilkada pada tahun depan,” ujar Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary di Jakarta, Selasa (2/12).
Continue reading

Menimbang Peluang di Putaran Kedua

HASIL hitung cepat (quick count) sejumlah lembaga survei menyatakan tidak ada pasangan calon gubernur- wakil gubernur yang meraih 30 persen suara dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Timur.Itu artinya pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) dan Khofifah-Mudjiono (Kaji) yang memperoleh suara tertinggi pertama dan kedua akan bertarung pada putaran kedua. Jika nanti hasil penghitungan manual Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur juga tidak berbeda jauh dengan hasil quick count beberapa lembaga survei itu, sudah pasti pertarungan episode kedua benar-benar terjadi.

Dalam posisi ini, kedua pasangan diuntungkan dengan kelebihan masing-masing. Bagaimana pun, pasangan Kaji pada posisi diuntungkan sampai perhitungan sementara. Pertimbangan awal, Khofifah merupakan sosok perempuan satu-satunya di antara kelima calon. Selain itu, Khofifah memiliki karisma serta mencerminkan perwakilan kaum muda. Kehadiran Khofifah disambut hangat warga Jawa Timur.
Continue reading

Pilkada jatim: Pandangan Politik “Nahdliyin” Mulai Berubah

Surabaya, Kompas – Keberhasilan pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono atau Kaji yang diprediksi akan mengikuti putaran kedua Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada Jawa Timur menunjukkan sebagian besar kaum nahdliyin, atau warga Nahdlatul Ulama, tidak lagi mempersoalkan jender dalam kepemimpinan politik. Perubahan pandangan ini bahkan mulai terjadi di kalangan kiai dan ulama.

”Kalaupun masih ada pihak yang mau memunculkan isu jender lagi, baik dalam putaran kedua Pilkada Jatim atau bahkan dalam konteks Pemilu 2009, dipastikan tidak banyak lagi pihak yang mau menanggapi,” ujar peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Endang Turmudi, Rabu (23/7) di Surabaya, Jatim.
Continue reading

Unjuk Pamor di Pandalungan dan Madura

Pandalungan, yang arti aslinya “periuk besar”, sebagai bagian ”tlatah” atau geokultural terbesar di Jatim banyak dihuni dua etnis mayoritas, Jawa dan Madura. Pandalungan pun bermakna masyarakat hibrida atau masyarakat berbudaya baru akibat terjadinya percampuran dua budaya dominan itu. Di kawasan luas itu mengakar sekali pengaruh Islam dan Jawa. (Ayu Sutarto, 2006)

Pandalungan yang berarti “periuk besar” dari bahasa Jawa “dhalung” bermakna sebagai pertemuannya budaya sawah dengan budaya tegal. Tidak heran jika masyarakat di sana berciri agraris-egaliter, bekerja keras, agresif, ekspansif, dan memiliki solidaritas yang tinggi.
Continue reading

Sekondan Bukan Seken Komandan

Posisi wakil sebut saja dengan ”sekondan”. Dalam proses pencalonan kepala daerah, sekondan bukanlah barang seken (second) atau sekadar hiasan karena kemenangan pasangan juga sangat ditentukan oleh peran sekondan.

Peran sekondan atau calon wakil gubernur dalam pilkada bisa dilihat dalam dua hal, meningkatkan popularitas dan memperkuat dana kampanye. Kombinasi kedua hal ini akan menghasilkan banyak pola dan variasi.
Continue reading

Saling Saing Rebutan Pemilih Muda dan Perempuan

Memilih satu dari lima pasang calon bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika setiap pasang calon berasal atau memiliki unsur ikatan yang sama, misalnya tradisi ke-NU-an yang menjadi ciri dominan Jatim. Ditambah lagi dengan adanya sikap apatis terhadap siapa pun gubernur yang terpilih.

Hasil jajak pendapat terhadap pemilih sesaat setelah memberikan suaranya (exit poll) yang dilakukan Litbang Kompas menunjukkan lekatnya aspek-aspek primordial seperti jender, etnis, dan agama dalam pilihan terhadap kandidat.
Continue reading

Pilpol Pilgub Wong Osing

”Karakter Banyuwangi lebih kurang bisa dilihat dari makanan khasnya. Rujak itu dari Sidoarjo, sedangkan soto dari Madura. Di sini rujak dan soto dicampur, jadilah rujak soto khas Banyuwangi. Atau pecel dicampur rawon, jadi juga pecel rawon yang cuma ada di Banyuwangi.”

Demikian tokoh budaya Banyuwangi, Hasnan Singodimayan, memberikan analogi dalam menggambarkan masyarakat Banyuwangi, terutama masyarakat Osing, yang merupakan suku asli di wilayah ujung selatan Jawa Timur ini. Karakter masyarakatnya pun menjadi kuat sebagai akibat perpaduan keragaman budaya dan tradisi yang ada di Banyuwangi.
Continue reading

Mataraman Itu Kental, tetapi Gagal

Pola kultur Mataraman yang masih ada sampai sekarang tentu memengaruhi cara masyarakat wilayah ini memandang kondisi sosialnya, termasuk terhadap calon pemimpin Jatim yang berlaga di ajang pemilihan gubernur 23 Juli lalu.

alon gubernur yang memiliki kedekatan sosiokultural dengan masyarakat Mataraman lebih ”dimudahkan” dalam urusan merebut hati pemilih di daerah ini. Padahal, bentangan Mataraman merupakan wilayah kultural basis dukungan bagi trio S, Soenarjo, Soekarwo, dan Sutjipto. Soenarjo yang diusung Partai Golkar dan Soekarwo (PAN, Partai Demokrat dan PKS) sejak awal sudah intensif bersaing di wilayah yang pemilihnya paling besar (mencapai 27 persen dari total 29 juta pemilih) di seluruh Jatim (Priyatmo Dirdjosuseno, 2008).
Continue reading

“Ngadatnya” Mesin Pengumpul Suara

Suka tidak suka, partai politik masih menjadi kendaraan politik untuk tampil di panggung kekuasaan. Dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim pada Rabu (23/7), kelima pasangan kandidat yang gagal melewati aturan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 sesungguhnya semua merupakan hasil usungan parpol. Makanya, kegagalan kelima kandidat itu untuk lolos justru menjadi ukuran juga ujian kemampuan parpol itu sebagai pengumpul suara.

inamika politik di wilayah Jatim selama 2004-2008 sebetulnya sudah menunjukkan kalau kemampuan mesin politik partai sebagai penggalang dukungan belum berfungsi optimal dan suka ngadat. Lihat saja kasus parpol yang sukses mendulang suara pada pemilu legislatif tahun 2004, ternyata tidak menuai keberhasilan dalam pilkada selama 2005-2008.
Continue reading