Polmark Ungkap Faktor Signifikan Kemenangan Anies-Sandi

Anies-Sandi Unggul di Quick Count (VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar)

Anies-Sandi Unggul di Quick Count (VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar)

VIVA.co.id – Direktur Polmark Indonesia, Eep Saefullah Fatah menjelaskan, alasan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno bisa menang telak di Pilkada Jakarta 2017.

“Sebabnya, karena suara Ahok-Djarot terkarantina. Maksudnya terkarantina, tak bisa meluas kampanye mereka. Suara Ahok turun hampir 14 ribu dari putaran pertama,” kata Eep dalam diskusi di Warung Daun, Jakarta, Sabtu 22 April 2017.
Continue reading

Big Data Could Impact the Trump-Clinton Election

Source: innovation-accelerator.co.uk

In the race for the White House, it has never been clearer that each and every candidate — just like cars and running shoes — is a brand.
The strategists, political ad agencies, campaign managers and candidates are constantly working to define their messaging and understand the nuances of their audience interests. That way, they can better communicate their platform and drive votes.

Brand marketers work much the same way and in the world of consumer products, analysis of data plays an important role.

Analyzing both online and offline behaviors, data scientists have the power to discern the unique characteristics of consumer populations and generate audiences that turn browsers into buyers.
Continue reading

The new era of Shopping for Votes:Susan Delacourt explains how politicians choose us and we choose them

Image Credits: Douglas & McIntyre

Are you a Tim Hortons voter or a Starbucks voter? Are you a Dougie, or a Jane, or a Zoe? Whether you have the answer or not, the nation’s major political parties are hard at work trying to place you into one of their micro-targeted categories of the voting market. Susan Delacourt is a senior political writer at the Toronto Star, and in Shopping for Votes she outlines the way marketing and consumerism has pervaded Canada’s political landscape.

When did ‘citizens’ get reduced to ‘taxpayers,’ and when did voting start to be seen as less of a civic duty and more of a consumer choice? As Canadians became 24/7 consumers, we began to demand similar things of our government as we do from businesses. Politics is no longer viewed as a public service where elected officials work to improve the overall well-being of society, but a business in which there are clearly defined deliverables and the target market is people who will potentially vote for you.

Continue reading

Denny JA: Belum 100 hari, Jokowi Sudah ‘Blunder’ Empat Kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pendiri Lembaga Survey Indonesia, Denny Januar Ali, berkicau soal ‘blunder Presiden Jokowi’. Melalui akun twitternya, @DennyJA_WORLD, ia menyoroti beberapa tindakan dan keputusan presiden, termasuk pemilihan jaksa agung dari partai politik.

Berikut isi kultwitnya: 1) Ada apa dengan Jokowi? Belum 100 hari pemerintahannya, ia sudah membuat empat blunder.
Continue reading

Eep: Jokowi Effect Ada

Metrotvnews.com, Jakarta: Banyak kalangan yang mengatakan popularitas dan elektabilitas bakal calon presiden Joko Widodo tidak berpengaruh signifikan dengan perolehan suara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam Pemilihan Umum Legislatif, 9 April lalu.

Tapi, CEO Pollmark Indonesia-Political Marketing Consulting Eep Saefullah Fatah mengatakan hal yang berbeda. Menurutnya, Jokowi Effect atau pengaruh Jokowi terhadap kemenangan PDIP cukup besar. Hal tersebut dilihat dari peta persebaran pemilih PDIP di sejumlah provinsi.

Continue reading

Politik Uang Kian Membudaya

Source: Kompas Cetak

JAKARTA, KOMPAS.com — Praktik politik uang selama penyelenggaraan Pemilihan Umum 2014 semakin mengkhawatirkan. Sebagian masyarakat tidak malu lagi meminta uang dari para calon anggota legislatif. Kondisi ini tidak bisa lagi dianggap remeh karena dapat menghancurkan nilai-nilai berdemokrasi.

Sejumlah calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat mengakui pernah dimintai uang oleh masyarakat saat berkampanye. Salah satunya Ace Hasan Syadzily, caleg Partai Golkar dari Daerah Pemilihan Banten I. ”Kalau dimintai (uang), ya, setiap saat, Mbak, tapi saya selalu menolak,” katanya, Senin (14/4).
Continue reading

Tipologi Pemilih

Kenalilah pemilih anda, ini adalah kalimat ampuh yang harusnya disemayamkan dalam diri setiap caleg yang maju dipileg nanti, kalimat sakral dan singkat ini sebenarnya sering digunakan oleh kalangan pebisnis agar lebih fokus dalam menjangkau konsumennya dalam bentuk yang berbeda yaitu mengenali konsumennya namun garis batas antara bisnis dan politik sekarang nyaris tidak berbatas, sebab strategi keduanya dalam merebut perhatian publiknya (konstituen) tidak jauh berbeda pula.

Untuk mencapai tahap ini, Firmanzah dalam bukunya, Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas (2007), menegaskan perlunya diketahui lebih dulu bahwa pada masing-masing pemilih terdapat karakteristik yang membedakan antara satu pemilih dengan pemilih lain. Dalam kalimat lain karakteristik ini disebut dengan tipologi, lebih tegasnya dalam Zamroni (2007) menyebutkan bahwa tipologi adalah karakter yang unik dan spesifik yang melekat pada orang-orang tertentu yang membedakannya dengan orang lain dan pemilih adalah warga negara yang menyalurkan hak pilihnya dalam pemilihan umum.

Continue reading

Partisipasi Pemilih Pemilu Diprediksi Rendah

JAKARTA, KOMPAS.com — Survei menunjukkan masih banyak warga yang tidak tahu penyelenggaraan Pemilu Legislatif (Pileg) 2014. Peneliti Senior Founding Fathers House (FFH) Dian Permata memprediksi partisipasi pemilih rendah dan justru akan menurun dibandingkan Pemilu 2009.

“Ada kecenderungan partisipasi pemilih akan rendah. Kalau KPU tidak mengejar ketertinggalan pengetahuan publik, bisa diprediksi, partisipasi justru lebih turun dibanding 2009,” ujar Dian di Jakarta, Rabu (29/1/2014).
Continue reading

Menjelang Penetapan Daftar Pemilih, Validitas Data Masih Saja Dipertanyakan

JAKARTA, KOMPAS.com — Sehari menjelang jadwal penetapan daftar pemilih tetap (DPT) oleh Komisi Pemilihan Umum, beberapa persoalan masih menjadi pertanyaan bagi para anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Salah satunya, perbedaan data antara KPU dan Badan Pengawas Pemilu.

“Bawaslu mendapatkan lebih dari 11 juta data pemilih bermasalah,” ujar anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai Golkar, Nurul Arifin, dalam rapat dengar pendapat dengan KPU dan Bawaslu, Selasa (22/10/2013) malam. Verifikasi yang dilakukan Bawaslu, kata dia, mendapatkan ada 171 juta pemilih, sementara KPU menyebutkan data pemilih per Senin (21/10/2013) memuat 186.127.400 pemilih.
Continue reading

Survei, Mayoritas Kelas Menengah Tak Pilih Partai Islam

VIVAnews – Elektabilitas partai-partai Islam terus merosot. Mereka diprediksi akan mengalami kekalahan dalam Pemilu 2014 mendatang. Kesimpulan serupa juga ditemukan lembaga survei Avara.

Avara menggelar survei nasional terbaru pada 15 Juli sampai dengan 23 Agustus 2013 di antara kelas menengah. Survei ini dilakukan melalui wawancara tatap muka 6 kota besar di Indonesia yaitu Jabodetabek, Medan, Surabaya, Makassar, Bandung, Semarang. Metode pengumpulan data secara stratified random sampling.
Continue reading