siwah.com

Category: Feature

  • Warung Kopi Pontianak, Etalase Sosial Kalbar

    warung kopi hijas di pontianak, kalbar

    Sungai Kapuas pernah sibuk sebagai jalur transportasi air pada tahun 1960-an. Dari sana lahir tradisi minum kopi di sekitar Pelabuhan Pontianak, Kalimantan Barat. Tempat rehat transportasi air itu lalu bersemi jadi penyangga kelas menengah di seluruh pelosok Kalbar.

    Minuman kopi—dengan berbagai variannya—bahkan telah merambah ke kafe-kafe dan hotel-hotel berbintang di Pontianak. Warung kopi telah bermetamorfosis sebagai etalase sosial dan penggerak ekonomi masyarakat sekaligus.

    Warung kopi di Pontianak adalah tempat berkumpul hampir semua kalangan dengan semua ragam karakternya. Riuh pembeli bisa dijumpai di hampir semua warung kopi di Pontianak, bukan hanya pada pagi atau siang, melainkan juga malam hingga hari berganti.

    Pagi hari, orang datang ke warung kopi sebelum berangkat kerja atau masuk ke kantor. Siang hari, giliran para pekerja dengan mobilitas tinggi, seperti salesman dan pebisnis kelas menengah dan bawah yang memenuhi warung kopi. Malam harinya, orang-orang yang sudah suntuk dengan kesibukan siang hari melepas penat di warung kopi.

    Jalan Gadjah Mada dan Jalan Tanjungpura merupakan pusat warung kopi di Pontianak. Selain toko-toko yang buka sejak pagi hingga dini hari, ada banyak pula warung kopi yang buka pada malam hari saja. Warung kopi juga mudah ditemui di pelabuhan dan pasar-pasar tradisional.

    Pemilik Warung Kopi Winny, Heriwonoto (28), mengatakan, kebiasaan minum kopi di Pontianak sudah menggejala pada awal tahun 2000-an. Ketika itu orang mulai betah berlama-lama di warung kopi.

    Melihat peluang itu, Heri mengubah warung kelontong milik orangtuanya, yang mulai sepi karena bertambahnya pasar swalayan, menjadi warung kopi. Winny lalu menjadi salah satu warung kopi terlaris di Jalan Gadjah Mada.

    ”Saya berangkat dari hobi minum kopi di beberapa warung kopi yang sudah ada dan melihat orang bisa betah berjam-jam ngobrol di warung kopi. Saya tangkap fenomena itu dengan menyediakan banyak meja bagi pembeli dan tidak membatasi jam duduk mereka,” tutur Heri.

    Penyuka minuman kopi memang bisa menghabiskan waktu berjam-jam sambil ngobrol di warung kopi. Obrolan di warung kopi bisa mulai dari persoalan sehari-hari, isu terhangat, bisnis, hingga perbincangan politik.

    Suraji (37) mengaku dalam sehari bisa beberapa kali memesan kopi di Djaja, warung kopi langganannya di Jalan Tanjungpura. ”Minum kopi sekaligus bisnis. Saya membeli dan menjual emas. Sering juga saya bertransaksi di warung kopi Djaja, tergantung kesepakatan dengan pembeli atau penjual,” kata Suraji.

    Dari warung kopi bahkan bisa lahir keputusan-keputusan politik. Wakil Wali Kota Pontianak Paryadi mengakui, obrolannya di warung kopi ketika menjadi anggota DPRD Kota Pontianak membuahkan peraturan daerah.

    Bahkan, sejumlah strategi kampanye ketika mencalonkan diri menjadi wakil wali kota Pontianak berpasangan dengan calon wali kota Sutarmidji pada tahun 2008 dirumuskan oleh Paryadi di sebuah warung kopi.

    Di Kota Pontianak, jumlah toko yang memang khusus menjadi warung kopi ada sekitar 100 buah. Namun, ada lebih dari 100 toko lain yang tak melulu menjadi warung kopi. Ada yang, misalnya, juga sekaligus menjadi warung makan.

    Kopi bubuk yang diperlukan satu warung kopi bervariasi 1 kilogram-5 kilogram per hari, tergantung dari sedikit atau banyaknya pembeli yang datang. Kopi bubuk ini diperoleh para pengusaha warung kopi dari perajin yang menggoreng dan menumbuk kopi sendiri. Biji kopi berasal dari petani lokal, di antaranya dari Singkawang.

    Kopi yang biasanya menjadi kesukaan masyarakat Pontianak adalah kopi hitam yang disaring ampasnya. Namun, ada pula yang suka kopi susu—campuran kopi hitam saring dan krim.

    Makin ramainya warung kopi tak terlepas dari harga murah yang ditawarkan. Satu gelas kopi hitam saring rata-rata hanya Rp 2.500, sedangkan satu potong makanan ringan Rp 1.500. Dengan uang sedikit, pembeli puas berlama-lama. Slruuup….cleguk!

    Warung kopi pun turut menggerakkan perekonomian Pontianak karena menampung pekerja tanpa pendidikan khusus, seperti lulusan sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas.

    Di Warung Kopi Winny, Pontianak, misalnya, Heri menampung 18 pekerja yang kebanyakan berasal dari Kabupaten Landak, Bengkayang, dan Kubu Raya.

    Kakak beradik Ite (25) dan Rika (18) yang bekerja di Winny mengakui bahwa warung kopi itu telah menyelamatkan perekonomian keluarga mereka. ”Mereka yang baru bekerja mendapat gaji Rp 450.000, bulan kedua naik menjadi Rp 500.000. Kalau yang sudah lama, bisa mencapai Rp 1,1 juta. Itu gaji bersih karena kebutuhan sehari-hari untuk makan dan tempat tinggal sudah saya tanggung,” tutur Heri.

    Warung kopi juga biasa menerima titipan makanan ringan dan makanan tradisional. Satu warung kopi mendapat sedikitnya 10 jenis makanan ringan dari 10 pembuat kue yang berbeda.

    Budayawan Tionghoa, Lie Sau Fat atau XF Asali, menuturkan, kebiasaan minum kopi yang kini ada di Pontianak awalnya dibawa oleh sejumlah mantan koki kapal-kapal besar China ke Kabupaten Sambas, Kalbar. ”Mereka adalah etnis Hainan,” tutur Asali.

    Asali sudah menjumpai toko kopi di Pemangkat, Sambas, sekitar tahun 1942. Dari Sambas, kebiasaan warung kopi itu lalu diikuti oleh masyarakat di pesisir hingga Pontianak. ”Di Pontianak, tradisi minum kopi makin ramai sejak 1969.”

    Namun, warung kopi juga pernah menjadi lahan prostitusi terselubung di daerah Sungai Raya, Pontianak, era tahun 1970-an. Tahun 1990-an, kawasan prostitusi itu dibubarkan.

    Etalase sosial bernama warung kopi tidak hanya mengukuhkan perubahan sosial yang ada, tetapi juga berfungsi sebagai penyangga kekuatan sosial ekonomi masyarakat kelas menengah dan bawah di sana selama beberapa dekade.

    Apa jadinya pedalaman Kalbar dan Pontianak tanpa jejaring warung kopi. Agustinus Handoko

    Source: kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Menyoal Perang Mata Uang Dunia

    Isu perang mata uang yang digembar-gemborkan oleh Amerika Serikat, Dana Moneter Internasional, dan Bank Dunia tiba-tiba saja mereda. Apa alasan sebenarnya di balik munculnya isu perang mata uang tersebut dan apakah China memang biang kerok timbulnya masalah perang mata uang yang kini ramai dipermasalahkan itu?

    Sebelum pertemuan G-20 yang diadakan di Seoul, Korea Selatan, baru-baru ini, kita dibuat khawatir akan peluang timbulnya perang mata uang di perekonomian global. Namun, kekhawatiran tersebut ternyata tidak terwujud. Dalam pertemuan tersebut, negara-negara G-20 tampak sepakat untuk menunda pemecahan masalah nilai tukar ini, paling tidak sampai pertemuan berikutnya.

    Faktor pemicu

    Pemicu utama munculnya isu perang mata uang adalah semakin membesarnya defisit perdagangan AS. Pada tahun 1993 defisit total perdagangan AS baru mencapai 115,6 miliar dollar AS, tetapi pada tahun 2000 sudah meningkat menjadi 436,1 miliar dollar AS.

    Defisit perdagangan bahkan meningkat lagi menjadi 503,6 miliar dollar AS pada tahun 2009. Jadi, dalam hampir 20 tahun terakhir defisit perdagangan AS mengalami peningkatan sebesar 335 persen.

    AS tentu saja tidak senang dengan perkembangan ini dan berusaha untuk memperbaiki neraca perdagangannya sebisa mungkin. Saat ini kebetulan China-lah yang memiliki surplus perdagangan terbesar dengan AS sehingga China menjadi sasaran utama AS untuk menekan defisit perdagangannya. Atau, dengan istilah AS, agar ketidakseimbangan global dapat diperbaiki.

    Memang, perkembangan surplus perdagangan China dengan AS amat mencengangkan. Pada tahun 1993 defisit perdagangan AS dengan China hanya mencapai sekitar 22,8 miliar dollar AS. Jumlah ini sudah naik menjadi 83,8 miliar dollar AS pada tahun 2000 dan pada tahun 2009 meningkat lagi menjadi 226 miliar dollar AS (gambar 1).

    Jadi, sampai dengan tahun 2009 defisit perdagangan AS dengan China sudah meningkat sekitar 170 persen dibandingkan dengan keadaan pada tahun 2000. Dan, situasi tampak semakin memburuk karena pada sembilan bulan pertama tahun 2010 ini defisit perdagangan AS dengan China sudah mencapai sekitar 201 miliar dollar AS.

    Perlu dikemukakan di sini bahwa kenaikan nilai nominal surplus perdagangan AS tersebut bukan karena disebabkan oleh membesarnya ekonomi AS saja. Kenaikan tersebut terjadi karena memang secara riil ekonomi AS menjadi semakin banyak menyerap produk dari luar negara tersebut. Hal ini terlihat dari rasio defisit perdagangan AS terhadap PDB-nya, yang meningkat dari 1,7 persen pada tahun 1993 menjadi 4,4 persen pada tahun 2000, memuncak di 6,1 persen pada tahun 2005, dan pada tahun 2009 (karena pengaruh resesi di AS yang menurunkan permintaan produk impor) menurun ke kisaran 3,9 persen (gambar 2).

    Kontribusi defisit dengan China cukup signifikan, mencapai sekitar 1,6 persen dari PDB AS pada tahun 2009. Karena itu, tidaklah mengherankan bila AS getol mencari cara agar defisit perdagangannya dengan China dapat ditekan. Dan, salah satu alasan yang oleh AS dianggap tepat adalah memaksa China memperkuat nilai tukar yuan dengan cepat.

    Memang, selama ini pergerakan nilai tukar yuan terhadap dollar AS relatif terbatas karena Pemerintah China mengontrol nilai tukar yuan dengan ketat. AS berpendapat bila nilai yuan menguat dengan signifikan, daya saing produk China di pasar AS akan tergerus, sementara daya saing produk AS akan meningkat. Akibatnya, diharapkan defisit perdagangan AS dengan China (dan negara-negara lainnya di dunia) akan segera turun.

    Sejarah

    Ketidakseimbangan global tidak terjadi saat ini saja. Pada masa lalu terjadi beberapa kali ketidakseimbangan global yang berbuntut pada perubahan sistem finansial dunia.

    Misalnya, setelah Perang Dunia Pertama banyak negara menjalankan kebijakan nilai tukar yang dijuluki beggar thy neighbor, di mana negara-negara berlomba-lomba melakukan devaluasi terhadap mata uangnya dengan harapan produknya menjadi lebih kompetitif di pasar global.

    Kebijakan nilai tukar seperti ini dianggap sebagai faktor utama dibalik terjadinya gejolak perekonomian dunia pada tahun 1930-an, sekaligus juga faktor utama yang menyebabkan terjadinya kekacauan di sistem perdagangan dunia kala itu.

    Setelah itu, negara-negara di dunia mencari bentuk baru sistem finansial global agar perekonomian dunia dapat terus bertumbuh secara berkesinambungan, misalnya pada tahun 1944 dibuat sistem Bretton Woods. Dalam sistem ini kebijakan beggar thy neighbor menjadi sesuatu yang dihindari. Proses penyesuaian global terhadap ketidakseimbangan yang terjadi diharapkan terjadi secara seimbang antara negara surplus dan negara defisit, di mana sistem cadangan devisa dan peran IMF diharapkan dapat menghindari terjadinya kejutan global yang berlebihan.

    Sistem ini pada akhirnya berkembang menjadi apa yang disebut gold dollar system (dollar menjadi instrumen cadangan devisa internasional utama), di mana negara reserve utama (yaitu AS) menjadi tidak harus memperbaiki keadaan neraca perdagangannya.

    Agar berjalan dengan baik, sistem ini juga mengharuskan negara reserve utama untuk menjalankan kebijakan moneter yang stabil.

    Sistem ini akhirnya gagal karena dua faktor. Pertama, Perancis tidak menyukai posisi AS yang dianggap menerima keistimewaan yang berlebihan karena AS tidak harus memperbaiki ketidakseimbangan dari neracanya (payment imbalances). Yang kedua, sejak tahun 1965, AS mulai melakukan ekspansi kebijakan fiskal dan moneter yang berlebihan (inflationary) antara lain untuk membiayai perang Vietnam.

    Kebijakan ini menyebabkan meningkatnya defisit AS, sekaligus meningkatkan cadangan devisa di banyak bank sentral di negara-negara Eropa.

    Pada akhirnya keadaan ini mendorong Perancis dan negara Eropa lainnya untuk menukarkan cadangan dollar AS yang mereka miliki dengan emas (kepada Pemerintah AS), yang tentu saja menggerus cadangan emas AS dengan signifikan.

    Akhirnya sistem Bretton Woods pun runtuh ketika Presiden AS Richard Nixon memutuskan untuk menghentikan penukaran emas tersebut pada tahun 1971.

    Keadaan saat ini sering disamakan dengan keadaan pada pelaksanaan sistem Bretton Woods, di mana saat ini banyak negara berkembang mengumpulkan dollar AS (dalam bentuk cadangan devisa) sebanyak mungkin. China saja, misalnya, mempunyai cadangan devisa lebih dari 2 triliun dollar AS. Karena itu, banyak ekonom menganggap keadaan saat ini tidak akan berkesinambungan, seperti pada sistem Bretton Woods yang lalu.

    Namun, menyalahkan keadaan ini timbul hanya karena China melakukan manipulasi nilai tukar rasanya tidaklah terlalu tepat. Tidak terlihat China melakukan devaluasi besar-besaran untuk meningkatkan daya saingnya dalam 10 tahun terakhir.

    Sebaliknya, dalam lima tahun terakhir ini nilai yuan justru mengalami penguatan yang cukup lumayan, sekitar 19,9 persen terhadap dollar AS (tabel 1). Penguatan nilai yuan ini tampak belum dapat menurunkan defisit perdagangan AS dengan China seperti yang diharapkan (gambar 2). Perlu dikemukakan juga di sini bahwa nilai yuan juga menguat terhadap rupiah.

    Sebaliknya, nilai dollar AS mengalami pelemahan yang cukup signifikan terhadap banyak mata uang dunia dalam lima tahun terakhir. Nilai yen Jepang, misalnya, sudah mengalami penguatan sebesar sekitar 43 persen terhadap dollar AS dalam lima tahun terakhir.

    Tampaknya, justru AS yang melakukan kebijakan melemahkan mata uangnya. Pemerintah AS tentu saja membantah hal ini dan mengatakan pelemahan yang terjadi adalah karena konsekuensi kebijakan mereka untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik mereka, termasuk langkah Bank Sentral AS, The Fed, untuk kembali membeli obligasi Pemerintah AS dalam jumlah yang besar dalam waktu dekat.

    Diskusi di atas menunjukkan bahwa tuduhan AS bahwa China telah melakukan manipulasi mata uang untuk meningkatkan daya saing produknya tampaknya tidak mempunyai landasan yang terlalu kuat. Keadaan ini membuat ”perang mata uang” yang diantisipasi banyak orang akan terjadi pada pertemuan G-20 di Seoul minggu lalu dapat dihindari dengan relatif mudah.

    Tampaknya AS harus lebih kreatif untuk memikirkan penyebab utama dari membengkaknya defisit perdagangan negaranya. Ada banyak masalah dalam negeri mereka sendiri yang harus mereka perbaiki untuk meningkatkan daya saing produk mereka di pasar global.

    Purbaya Yudhi Sadewa Chief Economist Danareksa Research Institute

    Source: kompas.com

  • Obama Serang Yuan

    Seoul summit
    Seoul, Kompas – Dalam komunike G-20, para pemimpin sepakat bekerja sama mencegah volatilitas pasar dan bersedia menyeimbangkan ekonomi gobal yang memang timpang, ditandai dengan defisit besar anggaran Pemerintah Amerika Serikat, sumber gejolak pasar.

    Akan tetapi, dalam pernyataan tersendiri, para pemimpin jauh dari kesan harmonis. AS menyerang yuan dan menyebutnya sebagai pembuat masalah.

    Pertemuan puncak negara-negara anggota G-20 hari Kamis (11/11) ditutup Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak dengan kesimpulan bahwa para anggota G-20 setuju bekerja sama membahas segala persoalan. Demikian dilaporkan wartawan Kompas, Simon Saragih, semalam.

    Tak lama kemudian Presiden AS Barack Obama melakukan jumpa pers tersendiri di tempat yang sama dengan menyebut satu per satu wartawan AS yang hadir dan wartawan non-AS hanya mendengar. ”Yuan itu menyebabkan iritasi, bukan saja bagi AS melainkan juga mitra dagang China yang lain,” kata Obama menjawab pertanyaan wartawan AS, yang menanyakan bagaimana perasaannya soal perilaku China terkait yuan.

    ”China yang kuat kita terima karena berguna bagi kemakmuran dunia dan juga AS. Namun, China juga harus menunjukkan tanggung jawab internasional dengan membuat kurs yuan merupakan refleksi keadaan pasar sebenarnya,” ujar Obama.

    China selama bertahun-tahun membeli dollar AS dan melakukan intervensi di pasar untuk menekan kurs yuan. Tidak seharusnya China terus menggenjot ekspor dengan melemahkan kurs yuan dan saatnya meningkatkan permintaan domestik agar berguna bagi perekonomian negara lain,” kata Obama.

    AS selalu mengkritik China dengan tuduhan bahwa China menumpuk surplus berupa cadangan devisa lebih dari 2,5 triliun dollar AS. Hal ini, menurut Obama, juga didorong dengan pelemahan kurs, yang membuat produk ekspor China menjadi jauh lebih murah dari seharusnya.

    China menjawab

    Kantor berita Xinhua pada hari yang sama juga memberitakan isi pidato Presiden China Hu Jintao, yang ditujukan khusus kepada G-20. Hu meminta AS untuk mengambil tindakan yang bertanggung jawab. ”Negara-negara maju harus mengambil tindakan bertanggung jawab dan mempertahankan kestabilan kurs,” kata Presiden Hu.

    ”Komunitas dunia harus memperbaiki sebuah kerangka untuk pertumbuhan yang kuat, berkesinambungan, dan berimbang serta meningkatkan kerja sama pembangunan … mengutamakan perdagangan yang terbuka,” tutur Hu.

    Bagi China, ketidakseimbangan yang dialami AS, berupa defisit anggaran dan perdagangan yang besar, lebih karena kebijakan ekonomi makro AS yang lebih mengandalkan utang ketimbang mengandalkan tabungan domestik dan penerimaan pajak.

    Source: Kompas.com

  • Salaman Tifatul-Michelle Obama Mendunia

    tifatul salaman dg Michelle

    VIVAnews – Momen salaman Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring dengan Ibu Negara Amerika Serikat, Michelle Obama, menjadi berita di sejumlah negara termasuk Amerika Serikat. Salah satu kantor berita Amerika, The Associated Press, ikut melaporkan soal kejadian yang menurut Tifatul, “tidak disengaja” itu.

    AP melaporkan dengan judul “Minister admits reluctant Michelle Obama handshake” alias Menteri mengakui enggan menyalami Michelle Obama. AP lalu mengutip tweet Tifatul yang menyatakan, mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera itu mengaku sudah berusaha agar tak menyentuh tangan Michelle Obama yang disodorkan kepadanya. Namun tangan kanan Ibu Negara AS yang mantan pengacara itu, kata Tifatul, terlalu maju sehingga salaman tak terelakkan.

    Tak lupa, AP menaruh sejumlah latar belakang sejumlah sensasi yang dimunculkan Tifatul, mulai dari soal komentarnya soal bencana alam disebabkan moral dan guyonannya soal kepanjangan dari penyakit AIDS.

    Sementara Yahoo! News juga menurunkan berita tersendiri di segmen Upshot-nya. Yahoo! menulis, Tifatul menjadi perhatian karena salaman dengan Michelle padahal sebelumnya dia selalu menghindar bersalaman dengan perempuan bukan muhrim.

    Tak lupa Yahoo! melampirkan tayangan video yang menunjukkan salaman itu. Meski Tifatul membantah sengaja menyalami Michelle, Yahoo! menulis, “video peristiwa itu terlihat bertentangan dengan penjelasan Tifatul — namun Anda hakimnya.”

    Masih di Amerika Serikat, sejumlah blogger juga mengulas peristiwa itu di situs ternama seperti Washington Post dan Huffington Post. Sejumlah media lokal seperti Chicago Tribune, kota asal Obama, juga menulis.

    Di Australia, Daily Telegraph, juga menurunkan laporan soal insiden salaman Tifatul dengan Michelle ini.

    Dan sekali lagi, benar atau tidak salaman itu tak sengaja, Andalah yang harus menjadi hakimnya.

    Source: vivanews.com

  • Vulkanologi, Inovasi, Kemitraan Iptek Ideal RI-AS

    Di tengah masih berlangsungnya letusan Gunung Merapi, juga di tengah lawatan Presiden Barack Obama ke Indonesia, satu hal terbayang di depan mata adalah AS mau berbagi sumber daya di bidang vulkanologi. Dari pihak AS, bantuan yang bisa diberikan tak sebatas pada dana, tetapi juga berbagi data dan pengetahuan tentang ilmu kegunungapian (vulkanologi), juga geologi, dan meteorologi (untuk merespons isu pemanasan global/perubahan iklim), serta mitigasi dan manajemen bencana alam.

    Komitmen kerja sama di bidang vulkanologi dalam kerangka Persetujuan Kemitraan Komprehensif Indonesia-AS ini, Senin (8/11), juga disampaikan oleh Duta Besar RI untuk AS Dino Patti Djalal menjelang kedatangan Presiden Obama di Jakarta. Menurut Dino, Badan Geologi AS yang dikenal sebagai US Geological Survey (USGS) akan mengirim sejumlah peneliti ke Indonesia (Antara, 8/11). Mereka, tambah Dino, akan bekerja sama dengan peneliti Tanah Air untuk meneliti fenomena gunung api di Indonesia. Dipilihnya tema vulkanologi sebagai wadah kerja sama kedua negara tak terlepas dari letusan Gunung Merapi sejak 26 Oktober silam.

    Di AS, yang di seluruh wilayah kontinen dan teritorinya terdapat 169 gunung berapi, pemantauan dan pemberian peringatan dini semakin menjadi perhatian. Didukung oleh ketersediaan dana dan iptek, USGS meluncurkan Sistem Peringatan Dini Nasional untuk Gunung Berapi (National Volcano Early Warning System/NVEWS). (Situs: volcanoes.usgs.gov, 21/1/10)

    NVEWS didirikan untuk memastikan bahwa gunung berapi di AS terpantau sesuai dengan tingkat ancaman yang ada. Rencana NVEWS sendiri dikembangkan oleh Volcano Hazard Program yang ada di USGS dan mitra terkait di Consortium of US Volcano Observatories.

    Bila dari 129 gunung berapi di Indonesia sekitar 20 senantiasa beraktivitas di atas normal dan 4-5 di antaranya meletus, di AS separuh dari 169 gunung berapi muda yang ada juga berbahaya karena cara gunung itu meletus dan masyarakat yang ada di kawasan letusannya.

    NVEWS didirikan karena sekarang ini masih banyak dari gunung berapi yang dinilai belum dipasangi sistem pemantauan yang memadai, misalnya dengan seismometer, global positioning system (GPS) kontinu, sementara lainnya meski sudah dipantau tetapi dengan alat-alat yang sudah ketinggalan zaman.

    Dengan Rencana NVEWS, gunung berapi berbahaya bisa dipantau dengan baik jauh sebelum dimulainya aktivitas vulkanik sehingga para ilmuwan bisa memperkirakan secara akurat kapan gunung bakal meletus dan seberapa tingkat bahayanya. Juga bisa dibuat perencanaan lebih baik bagi masyarakat yang tinggal di sekitar gunung untuk mengambil langkah yang tepat dan pada waktunya. Adanya prosedur semacam itu yang didukung oleh ketelitian sarana pemantauan diyakini bisa membantu mengurangi risiko.

    Tidak berhenti di situ, Rencana NVEWS juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan komunitas vulkanologi Amerika melalui sejumlah langkah, dalam hal ini: meningkatkan kemitraan dengan pemerintah lokal dan petugas keadaan darurat; memberi kesempatan kepada universitas dan organisasi lain untuk riset kerja sama guna memajukan ilmu kegunungapian, teknologi pemantauan, dan strategi mitigasi (untuk memperkecil dampak bencana); penambahan staf dan otomasi guna memperbaiki monitoring 24/7 (24 jam dan tujuh hari seminggu) dan sistem komputer untuk mendistribusikan data kepada para ilmuwan, badan-badan terkait, dan masyarakat, serta menggabungkan sistem yang digunakan untuk memantau gunung berapi Amerika yang ada sekarang ini.

    Lawatan Presiden Obama kali ini ingin dijadikan sebagai momentum untuk meluncurkan kemitraan komprehensif di antara kedua negara. Konsep kemitraan ini dicanangkan saat Menteri Luar Negeri Hillary Clinton berkunjung ke Indonesia, Februari tahun lalu. Berikutnya, diluncurkan Komisi Bersama RI-AS untuk menjalankan Kemitraan Komprehensif oleh menlu kedua negara di Washington DC, September silam.

    Sebagai langkah selanjutnya, muncul Rencana Aksi Kemitraan AS-Indonesia yang mencakup kerja sama di berbagai bidang, seperti keamanan, pemerintahan, pendidikan, energi, perdagangan dan investasi, serta lingkungan hidup.

    Sebagai salah satu wujud komitmen AS, Utusan Presiden AS bidang Sains Bruce Alberts datang ke Indonesia bulan Mei silam, dan selama di sini dia mengunjungi beberapa fasilitas ilmiah di Indonesia, seperti Puspiptek Serpong dan Cibinong Science Center LIPI.

    Di luar vulkanologi

    Selain vulkanologi, dari AS kita juga dapat menimba ilmu-ilmu kebumian lain, seperti geologi, seismologi, dan juga geofisika dan meteorologi. Ilmu-ilmu tersebut dewasa ini kita rasakan tidak saja semakin penting, tapi—seiring dengan terjadinya rentetan bencana alam akhir-akhir ini—juga mendesak untuk kita kuasai.

    Di luar ilmu-ilmu kebumian, bidang praktis yang terkait dengan iptek dan industri adalah pengembangan tradisi inovasi. Presiden SBY telah membentuk Komite Inovasi Nasional, tapi Indonesia masih memerlukan bagaimana konsep-konsep inovasi dapat tumbuh dan berkembang secara subur.

    AS menjadi salah satu contoh ideal karena di negeri ini banyak perusahaan yang bersemangat dan berpengalaman dalam inovasi, seperti Apple dan Google. Inovasi, proses nilai tambah, dan kewirausahaan tak disangsikan merupakan satu kunci penting yang harus dikuasai Indonesia guna meraih kemajuan. NINOK LEKSONO

    Source: Kompas.com

  • Mencari Negeri yang Hilang

    MENURUT Tgk Muhammad Taqiyuddin Lc, Kota Islam Samudra Pasai pun lenyap dalam perut zaman, mencapai titik kulminasi kepunahannya secara maknawi selama lebih seratus tahun terakhir. Karakteristik sejarahnya berhasil dicopot dan digantikan dengan berbagai mitos pada tempatnya. Lantas ia cuma dikenang dalam bagian kecilnya, tidak dalam bobot seutuhnya. Imperialisme boleh tertawa atas kemenangannya itu dalam kubur-kubur mereka, dan Barat boleh berbangga atas apa yang telah dipersembahkan oleh para leluhur mereka! Namun itu tentu tidak untuk selamanya.
    (more…)

  • Warga Blang Weu Temukan Mata Uang Kerajaan Pase

    TGK Azwar bin Muhammad (31) seorang warga Desa Blang Weu, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, belum lama ini menemukan kepingan emas murni berbentuk koin. Kepingan uang yang bagi masyarakat desa sering menyebutkan dengan nama “Dirham” ditemukan oleh ibunya di areal bukit yang tak jauh dari belakang rumahnya.

    Peneliti sejarah kebudayaan Islam di Lhokseumawe, Tgk Taqiyuddin Muhammad mengatakan, penemuan kepingan uang emas di jajaran kerajaan pase bukan pertamakali. Tapi, sejak puluhan tahun lalu mungkin sudah ratusan kepingan emas atau dirham ditemukan dalam kawasan kerajaan Islam Pase. Baik di Aceh Utara, Lhokseumawe dan Aceh Timur selalu ditemukan kepingan dirham.
    (more…)

  • BAN Perguruan Tinggi Tidak Berdaya

    Tangerang, Kompas – Proses akreditasi perguruan tinggi negeri dan swasta berjalan lambat karena minimnya tenaga asesor dan alokasi anggaran dari Kementerian Pendidikan Nasional. Padahal, permohonan akreditasi dari perguruan tinggi untuk tahun lalu saja mencapai sedikitnya 1.000 program studi.

    Hal itu dikemukakan Ketua Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Kamanto Sunato dalam workshop akreditasi ”AACSB Processes and Policies Described to Assist Schools in Their Pursuit of Quality of Management Education”, Senin (1/11) di Kampus Prasetya Mulya, Tangerang, Banten.
    (more…)

  • Orang Pintar Plagiat

    KOMPAS.com – Maraknya plagiarisme yang dilakukan orang-orang pintar di negeri ini menimbulkan keprihatinan yang besar di kalangan pendidik. Masalahnya, itu justru dilakukan para pendidik yang harus memberi contoh dan sehari-hari melarang anak-anak didiknya mengopi, mengganti nama, memanipulasi, atau sekadar mengutip tanpa menyebut sumber.

    Lebih mengkhawatirkan lagi ternyata plagiarisme yang dilakukan bukan sekadar mengutip tanpa menyebutkan sumber aslinya (yang sering disebut sebagai ”ketidaksengajaan”), melainkan pemalsuan 99 persen dengan hanya mengganti judul dan nama penulis dari karya orang lain.
    (more…)

  • Tesis dan Disertasi Aspal Kian Meluas…

    KOMPAS.com – Di ruang berukuran sekitar dua kali empat meter di sebuah gang di Rawamangun, Jakarta Timur, dua laki-laki masing-masing menghadap layar komputer, salah satunya berisi permainan kartu. ”Kalau tesis, kami yang mengerjakan, tetapi disertasi nanti bos yang bikin, kami semua membantu,” tutur Oni, salah satu dari ketiganya.
    (more…)