siwah.com

Category: News

  • Hermawan: Digital Marketing Tanpa Kemanusiaan, Bahaya



    Penulis: Sunarko | Editor: Sunarko

    JAKARTA, TRIBUN-BALI.COM – Trend marketing (pemasaran) di masa yang akan datang, akan semakin mengarah ke digital marketing. Tapi ada yang perlu diwaspadai.

    “Digital marketing tanpa humanity (kemanusiaan) itu bahaya,” kata begawan marketing Indonesia Hermawan Kartajaya ketika memberikan pidato kunci (keynote speech) di acara Munas (Musyawarah Nasional) IMA (Indonesia Marketing Association) Sabtu 16 Oktober 2021, yang dilaksanakan secara hybrid di Menara Astra, Jakarta.

    Hermawan menambahkan, dalam mengembangkan marketing, harus disandingkan dengan spirit entrepreneurship.

    “Kalau marketing tanpa entrepreneurship, akan jadi teori saja,” ujar Hermawan yang juga Honorary Founding Chairman IMA ini.

    Munas IMA kali ini dilaksanakan secara hybrid. Untuk yang hadir secara offline, satu chapter diwakili satu orang. Mayoritas presiden chapter hadir.

    Dari 47 chapter IMA di seluruh Indonesia, 44 di antaranya hadir di lokasi acara. Selain offline, juga diikuti sedikitnya seribuan participants dari seluruh Indonesia melalui 280 channel.

    Selain Hermawan, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi juga memberikan sambutan melalui online.

    Hermawan mengapresiasi tema Munas IMA kali ini, yaitu mengusung spirit kreatif dan inovatif.

    “Dua hal ini (kreatif dan inovatif) sangat penting bagi marketing, jika ingin sukses dan maju,” lanjutnya. Kreatif kalau dalam pewayangan diwakili sosok Bagong, yang selain lucu juga cerdas. Sedangkan inovatif diwakili sosok Petruk, yang selalu punya solusi terhadap masalah apa pun.

    Hermawan lantas menceritakan pertemuannya dengan pakar marketing dunia yang juga sahabatnya, Philip Kotler.

    “Philip mengatakan bahwa dunia di masa yang akan datang, akan semakin dipenuhi dengan ketidakpastian,” katanya. Di antara yang membuat ketidakpastian itu, selain masalah penyakit, juga isu-isu yang memunculkan kebencian.

    Nah, di era yang diwarnai ketidakpastian itu lah, sangat relevan jika spirit kreatif dan inovatif dikedepankan. Khususnya bagi dunia marketing.

    Dan khusus IMA, Hermawan menambahkan, saat ini telah menjadi organisasi marketing di Indonesia yang menjadi motor AMF (Asia Marketing Federation). Saat ini AMF diikuti 17 negara di Asia.

    Munas IMA kali ini adalah yang pertama dilaksanakan sejak organisasi itu berbadan hukum, meski sudah didirikan sejak 20-an tahun lalu oleh Hermawan Kartajaya.

    Saat ini, untuk kepengurusan IMA Pusat periode 2019 – 2021, dipimpin oleh Suparno Djasmin, Direktur di Astra International. 



    Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul Hermawan: Digital Marketing Tanpa Kemanusiaan, Bahaya, https://bali.tribunnews.com/2021/10/16/hermawan-digital-marketing-tanpa-kemanusiaan-bahaya.
    Penulis: Sunarko | Editor: Sunarko

  • KESENJANGAN SOSIAL, OPINI PUBLIK, DAN SIKAP PARTISAN

    KESENJANGAN SOSIAL, OPINI PUBLIK, DAN SIKAP PARTISAN

    Burhan Muhtadi & Eve Warburton
    Source Photo: Majalah Tempo

    SEBUAH ironi tersaji di depan mata.

    Sejak 2017, perekonomian Indonesia menjadi yang terbesar di kawasan Asia Tenggara dengan produk domestik bruto menembus US$ 1 triliun atau sekitar Rp 15 ribu triliun. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi mencatatkan prestasi yang patut dipuji. Setelah dihantam krisis ekonomi dan politik 1997-1998, Indonesia mampu menggeliat dengan rata-rata pertumbuhan pada 2000-2017 mencapai 4 persen. Tingkat kemiskinan juga menurun drastis, bahkan tinggal satu digit sejak Maret 2018.

    Terlepas dari rentetan kabar baik ini, kesenjangan antara kaum miskin dan kaya justru makin lebar. Koefisien Gini—yang mengukur ketimpangan antara kelompok miskin dan kaya— naik dari 0,30 pada 2000 menjadi 0,42 pada 2014, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan peningkatan ketimpangan paling cepat se-Asia Tenggara (Indrakesuma et al, 2015). Ketimpangan ini terutama disebabkan oleh akumulasi kekayaan yang menumpuk pada segelintir elite kaya. The Credit Suisse Research Institute merilis “Global Wealth Report” yang menunjukkan 1 persen orang kaya di Indonesia menguasai 49,3 persen dari total kekayaan di seluruh Nusantara. “Prestasi” ini hanya dikalahkan oleh Rusia, India, dan Thailand.

    (more…)

  • Politik, Kekuasaan dan Industri Media

    Politik, Kekuasaan dan Industri Media

    Source: Dreamstime.com

    MENJELASKAN politik memang sangat rumit. Kadang antara teori dengan fakta tidak berbanding lurus.Dimana teori menjelaskan sebuah perangkat pengetahuan yang begitu ribet dengan berbagai sistemnya: ada epistemologi, epitemologi dan aksiologi. Akan tetapi pada realitasnya, tidak berfungsi seutuhnya seperti bangunan pengetahuan yang dikehendaki oleh para penemu teori-teori tersebut.

    Memang antara teori dan realitas tidak pernah singkron. Terkadang realitas cepat duluan berlari dari pada konsep-konsep yang harus diperdebatkan. Realitas itu kaitanya dengan insting seseorang untuk mencapai tujuan, sedangkan konsepsi adalah merangkum seluruh kebenaran dari berbagai perorangan untuk disatukan menjadi bangunan baru pengetahuan, yang tentunya dianggap sebagai kebenaran.
    (more…)

  • Dosen Milenial Jadi Tumpuan

    Dosen Milenial Jadi Tumpuan

    JAKARTA, KOMPAS —  Pola pengajaran di perguruan tinggi diarahkan berbasis sistem dalam jaringan. Untuk itu perlu dukungan dari pengajar atau dosen muda yang berkualitas dan akrab dengan teknologi digital.

    Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kemristek dan Dikti Ali Ghufron Mukti dalam acara bertajuk ”Menyiapkan Dosen Masa Depan”, Kamis (19/4/2018), di Jakarta mengatakan, dosen di perguruan tinggi harus menguasai proses pembelajaran modern yang banyak memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi serta mendukung revolusi industri 4.0.

    (more…)

  • Inilah Pekerjaan Yang akan Hilang Akibat “Disruption”

    Mungkin Anda sempat menerima video tentang Google Pixel Buds. Wireless headphone seharga 159 dollar AS yang akan beredar bulan depan ini, dipercaya berpotensi menghapuskan pekerjaan para penerjemah.

    Headphone ini mempunyai akses pada Google Assistant yang bisa memberikan terjemahan real time hingga 40 bahasa atas ucapan orang asing yang berada di depan Anda.

    Teknologi seperti ini mengingatkan saya pada laporan PBB yang dikeluarkan oleh salah satu komisi yang dibentuk PBB – On Financing Global Opportunity – The Learning Generation (Oktober 2016).

    Dikatakan, dengan pencepatan teknologi seperti saat ini, hingga tahun 2030, sekitar 2 miliar pegawai di seluruh dunia akan kehilangan pekerjaan. Tak mengherankan bila mulai banyak anak-anak yang bertanya polos pada orang tua, “mama, bila aku besar, nanti aku bekerja di mana?”
    (more…)

  • Internet dan Ancaman Polarisasi Opini

    Pic Source: cjsmithlaw.com

    Menyaksikan pemilihan presiden Amerika Serikat dari dekat membuat penulis menyadari adanya kesamaan dengan pemilu Indonesia tempo hari.

    Fenomena pemberian dukungan terhadap para kandidat di media sosial serupa dengan apa yang Indonesia alami pada Pilpres 2014. Opini masyarakat di media sosial terpolarisasi pada dua titik ekstrem: dukung Donald Trump atau Bernie.

    Di Jakarta, meski pilkada DKI masih tahun depan, tetapi ”perang” status di media sosial sudah marak. Para pengguna media sosial berubah jadi agen propaganda yang saling kritik dan saling serang. Masyarakat saat ini tidak lagi membaca berita untuk mencari kebenaran sebuah informasi. Kebenaran pada dasarnya sudah ada di kepala mereka dan media hanya digunakan untuk mencari argumen pendukung.

    Dalam mengakses informasi, seorang bisa dengan tekun menyeleksi berita sesuai pandangannya, tanpa peduli benar atau salah. Bila di media mainstream berbeda, ia akan beralih ke media sosial untuk mencari pembenaran. Jika masih belum ada, ia akan mencari di laman apa pun, meski pengelolanya tidak jelas dan kebenaran informasinya diragukan. Setelah menemukan berita yang disukai, mereka akan membaginya di lini masa media sosial.
    (more…)

  • Kemendagri Sebaiknya Turun Tangan

    JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Dalam Negeri sebaiknya turun tangan untuk memastikan penyelenggara pemilihan kepala daerah tahun 2017 mempercepat pembahasan naskah perjanjian hibah daerah. Tekanan pusat diyakini dapat mempercepat pendanaan Pilkada 2017 sebelum batas waktunya.

    Batas waktu yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum untuk menandatangani naskah perjanjian hibah daerah (NPHD) dengan KPU setempat adalah Minggu (22/5) depan.

    Sementara itu, hingga Rabu (11/5), berdasarkan informasi dari KPU, baru 50 dari 101 kepala daerah yang menggelar Pilkada 2017 menandatangani NPHD dengan KPU setempat. NPHD berisi total anggaran untuk KPU guna penyelenggaraan pilkada dan menjadi syarat sebelum anggaran Pilkada 2017 dicairkan dari kas pemerintah daerah ke kas KPU.
    (more…)

  • APBD Dinilai Mampu Membiayai

    Litbang Kompas.com

    JAKARTA, KOMPAS — Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dinilai mampu memenuhi biaya pilkada. Pertimbangan itu membuat dalam draf revisi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pilkada, pembiayaan untuk pilkada tetap akan bertumpu ke APBD dan bukan APBN.

    Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, di Jakarta, Kamis (12/5), mengatakan, di sebagian dari 269 daerah yang menggelar pilkada tahun 2015 memang sempat ada masalah terkait anggaran. Namun, setelah ada monitoring dan fasilitasi dari Kemendagri, masalah itu terselesaikan.

    “Jika APBD 269 daerah yang menggelar Pilkada 2015 bisa membiayai pilkada, apalagi pilkada serentak setelah tahun 2015, APBD pasti juga bisa. Masalah justru bisa muncul jika pendanaan pilkada kemudian diubah dari APBN,” katanya.
    (more…)

  • Kebebasan Tanpa Keadilan

    Di negeri ini, kehidupan rakyat tidak pernah keluar dari siklus kekecewaan. Pemerintahan baru datang dengan janji baru, tetapi musim pengharapan bergegas tilas dilibas badai sumpah serapah.

    Belasan tahun Orde Reformasi digulirkan, pemerintahan demokratis tak kunjung menghadirkan pemerintahan inklusif yang memberikan ruang tumbuh bagi pemberdayaan rakyat dan kesejahteraan umum. Kebebasan demokratis tetap saja menjadikan negara sebagai alat untuk memperkaya segelintir elite penguasa dan pengusaha.

    Di bawah kendali modal, wacana publik didominasi argumen kepentingan pragmatis: kehilangan wawasan ideologis dan kesadaran emansipatorisnya. Isu reklamasi, misalnya, hanya dilihat dari segi boleh-tidaknya pantai dan teluk itu direklamasi; tanpa mempersoalkan segi yang lebih ideologis menyangkut strategi pemerataan pembangunan dan kesesuaiannya dengan rencana pembangunan tol laut; serta segi inklusif perihal siapa saja yang mendapatkan keuntungan dari proyek reklamasi tersebut.
    (more…)

  • Peta Baru Jagat Media

    Studi ekonomi-politik media hari ini harus memperhitungkan keberadaan raksasa-raksasa global teknologi informasi, seperti Google, Yahoo, Facebook, dan Microsoft.

    Merekalah yang mengambil keuntungan paling besar dari proses evolusi ekologi media dewasa ini, di mana masyarakat semakin bergantung pada mode komunikasi yang berbasis pada perantaraan medium internet dan perangkat telepon pintar. Penetrasi bisnis mereka telah melampai batas-batas geografis dan secara cepat mengubah konstelasi media secara global.

    Sebagai gambaran, kita dapat menyimak data ZenithOptimedia berikut ini. Tren iklan media digital mengalami pertumbuhan pesat lima tahun terakhir. Dari total belanja iklan global 548 miliar dollar AS tahun 2015, porsi iklan media digital mencapai 29 persen, melampaui porsi belanja iklan media cetak sebesar 12,8 persen. Belanja iklan televisi tetap dominan dengan porsi 37,7 persen. Namun, ZenitOptimedia memperkirakan, belanja iklan media digital melampaui belanja iklan media televisi tahun 2019.
    (more…)