siwah.com

Tag: PT

  • Mencari Desain Riset Perguruan Tinggi

    Hari-hari ini, ketika para lulusan sekolah menengah diterima di perguruan tinggi, isu biaya pendidikan mahal kembali mengemuka. Wacana memang kemudian lebih ke bagaimana membuat masyarakat yang tidak mampu bisa mengakses pendidikan, bukan kepada upaya peningkatan kualitas ilmunya.

    Tentu saja tidak ada yang salah dengan wacana itu, apalagi undang-undang menjamin hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan. Hanya saja, sisi lain untuk menjadikan perguruan tinggi setara dengan universitas-universitas bergengsi di luar negeri masih jarang dibahas.

    Padahal, pengembangan penelitian adalah salah satu hal yang paling mendasar untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi. Riset tidak hanya mendukung pendidikan, tetapi juga pengabdian kepada masyarakat.

    ”Perguruan tinggi adalah tempat kelahiran dan mengembangkan ilmu-ilmu baru. Karena itu, riset menjadi keharusan,” kata Prof Dr Terry Mart, lektor pada Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, pekan lalu.

    Tanpa riset, ilmu yang diajarkan akan mandek dan hakikat universitas akan terdegradasi menjadi lembaga pendidikan setingkat akademi atau bahkan SLTA. ”Ilmu hanya akan sekadar ditransfer dari buku teks luar negeri, tak ubahnya produk-produk impor lain, kepada mahasiswa,” kata Terry menambahkan.

    Riset nasional

    Lewat rancangan Dewan Riset Nasional, sebenarnya Indonesia memiliki Agenda Riset Nasional yang berlaku lima tahun. Namun, gaungnya di masyarakat dan pemangku kepentingan ternyata masih kurang. Padahal, bidang-bidang riset yang dicakup lumayan aktual dan strategis. Bidang teknologi informasi, misalnya, menyoroti riset pengamanan dan keamanan informasi pada era pengungkapan informasi rahasia oleh Wikileaks.

    Secara keseluruhan, Agenda Riset Nasional memang lebih berat ke pengembangan riset-riset yang bersifat terapan. Sebaliknya riset ilmu dasar tidak banyak porsinya. Walau begitu, pilihan ini sah-sah saja mengingat Agenda Riset Nasional memang menjadi panduan lembaga-lembaga riset pemerintah, bukan untuk perguruan tinggi.

    Dengan demikian, tugas perguruan tinggi memang menjadi lebih berat: mengembangkan penelitian yang sesuai dengan keilmuannya sekaligus mengembangkan penelitian dasar, dengan anggaran yang terbatas pula.

    Menurut Prof Dr Bambang Hidayat, anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, sebenarnya Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional juga punya agenda riset untuk dikerjakan universitas. Namun, karena prinsip otonomi penelitian adakalanya lebih menonjol dan harus memberi ruang kreatif bagi segenap sivitas akademika, agenda tersebut akhirnya menjadi panduan yang amat longgar. Apalagi, pemerintah juga tidak bisa menjamin anggaran penelitian yang diperlukan.

    Maka penelitian di perguruan tinggi pun jalan sendiri-sendiri. ”Ibaratnya ke mana dana mengalir, ke sana para peneliti akan berlayar,” papar Terry.

    Memang riset perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian kadang ketemu jika ada dana khusus untuk itu—misalnya dalam program Riset Unggulan Strategis Nasional—hanya saja kolaborasi ini tak banyak.

    Inilah yang kemudian salah satunya berdampak pada terabaikannya penelitian dasar dan sosial yang secara intrinsik tidak langsung dapat dimanfaatkan. Tidaklah mengherankan apabila para peneliti dasar dan sosial ini banyak beralih ke dunia baru yang jauh dari keilmuannya karena mereka justru ditelantarkan di ”habitat”-nya.

    Desain riset ideal

    Sebenarnya, mau di negara maju atau negara berkembang, dana penelitian selalu ada batasnya sehingga prinsip efisiensi dan efektivitas menjadi yang utama. Oleh karena itu, tak ada jalan lain, kecuali memetakan kekuatan di sektor sumber daya alam, sumber daya manusia, dan yang terutama ilmu-ilmu unggulan di setiap perguruan tinggi. Peta ini menjadi basis desain besar penelitian di perguruan tinggi yang disinkronkan dengan Agenda Riset Nasional.

    Namun, desain penelitian harus mengakomodasi semua bidang pada suatu perguruan tinggi. Riset di bidang astronomi sama pentingnya dengan riset di bidang teknologi informasi. Riset di bidang sejarah sama pentingnya dengan riset di bidang medis. Karena begitu ada yang diabaikan, terjadilah pengerdilan bidang ilmu.

    ”Memaksa riset tertentu pada semua perguruan tinggi sama saja seperti memaksakan cita-cita seorang ayah kepada anak-anaknya. Desain riset di perguruan tinggi harus bersifat bottom up, beda dengan Agenda Riset Nasional yang lebih top down,” kata Terry.

    Bambang Hidayat menambahkan, agenda riset di perguruan tinggi juga harus bersifat lebih mendasar, mengungkap pertanyaan yang fundamental. ”Namun, saya tetap menyarankan adanya sinergi antara riset akademik dan riset industri,” ujar dia.

    Pengalaman Bambang selama mengajar astronomi di Institut Teknologi Bandung menunjukkan, selain pengembangan penelitian dasar yang bekerja sama dengan berbagai universitas di luar negeri, pihaknya juga mengembangkan penelitian di bidang terapan seperti penelitian instrumentasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan optoelektronika dengan Universitas Indonesia.

    Contoh pengalaman itu, ditambah dengan usulan Dirjen Dikti untuk mendanai dengan sistem hibah 70 persen dan kompetisi 30 persen, tampaknya bisa dipertimbangkan. Semoga desain riset perguruan tinggi segera terwujud demi mimpi membangun universitas kelas dunia.

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Deteksi Kecurangan di Kampus Lemah

    Jakarta, Kompas – Perguruan tinggi di Indonesia umumnya belum memiliki sistem pendeteksi kecurangan yang baik. Akibatnya, kecurangan akademik, terutama plagiarisme karya ilmiah, baru terungkap dan ditindak jika ada pengaduan dari pihak yang dirugikan.

    ”Untuk membuat komitmen antimencontek dan plagiat di kampus efektif dan menjadi nyata perlu terus dibangun infrastruktur dan tradisi yang mendukung implementasinya. Jika tidak, deklarasi cuma slogan tidak berguna,” kata Eko Purwono, pengajar Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dihubungi dari Jakarta, akhir pekan lalu.

    Tahun lalu, Eko bersama Hanson E Kusuma membuat survei bertajuk ”Pengalaman dan Persepsi Mahasiswa ITB tentang Tindakan Kecurangan Akademis” yang dipublikasikan di jurnal internal ITB. Hasilnya, kecurangan dalam pendidikan cukup tinggi, yang terjadi sejak di bangku SD.

    Temuan itu mendasari pemahaman betapa mencontek dan plagiat masih kuat dalam dunia pendidikan, termasuk dilakukan guru besar. Hasil penelitian yang dilakukan Komisi Pembelajaran ITB terhadap 8.182 mahasiswa yang terdaftar pada tahun ajaran 2009/2010, sebanyak 58 persen mengaku berbuat curang di SD. Sebanyak 78 persen di SMP dan 80 persen di SMA.

    Saat mahasiswa, kecurangan diakui menurun menjadi 37 persen. ”Bisa jadi karena cukup banyak dosen peduli pada integritas. Mahasiswa mengatakan dosen yang tegas dan terus mengingatkan soal integritas membuat mereka mengurangi perilaku mencontek,” ujar Eko.

    Menurut Koordinator Kopertis Wilayah V Bambang Supriyadi, membangun budaya akademik kampus yang menjunjung kejujuran tak bisa instan. Perlu sosialisasi terus-menerus dan ada sistem mendeteksi kecurangan akademik.

    Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, mengatakan, setiap kampus perlu membuat aturan jelas dan sistem pendeteksi kecurangan. ”Lebih baik bila dikembangkan database digital karya-karya ilmiah dari tiap kampus dan institusi. Untuk memudahkan pengecekan orisinalitas karya ilmiah,” katanya. (ELN)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Hanya Dua, Jurnal Ilmiah Berakreditasi A

    JAKARTA, KOMPAS.com – Jumlah jurnal ilmiah nasional yang berakreditasi A atau ”Sangat Baik” masih sangat rendah. Kondisi itu membuat upaya menjadikan jurnal nasional berstandar internasional dan menjadi rujukan ilmuwan mancanegara masih sangat sulit.

    Hasil penilaian Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional periode II tahun 2010 terhadap jurnal berkala ilmiah terbitan perguruan tinggi, lembaga penelitian, ataupun organisasi profesi pada November lalu menunjukkan, hanya dua jurnal yang terakreditasi A dan 26 jurnal terakreditasi B. Sebanyak 46 jurnal, beberapa di antaranya berasal dari perguruan tinggi ternama, tidak terakreditasi.

    Jurnal terakreditasi A itu adalah The South East Asian Journal of Management yang diterbitkan Pusat Penelitian Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dan Microbiology Indonesia terbitan Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia, Jakarta. Panduan Akreditasi Berkala Ilmiah yang disusun Ditjen Dikti Depdiknas pada 2006 menyebutkan, ada delapan kriteria yang dinilai dalam proses akreditasi. Kriteria dengan bobot berbeda-beda itu adalah penamaan, kelembagaan penerbit, penyuntingan, penampilan, gaya penulisan, substansi, keberkalaan, dan kewajiban pascaterbit.

    Untuk meningkatkan kualitas jurnal Indonesia, Dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga mantan Direktur Riset dan Kajian Strategis IPB Arif Satria, akhir pekan lalu, mengatakan, setiap perguruan tinggi, apalagi fakultas atau program studi, tidak perlu membuat jurnal sendiri. Jurnal ilmiah cukup disusun oleh organisasi profesi ilmuwan sehingga kualitasnya lebih baik.

    ”Kita tak perlu mengejar jumlah, tetapi mengejar kualitas jurnal. Di sinilah peran organisasi keilmuan harus kuat untuk menghasilkan riset berkualitas. Ilmuwan dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian harus bisa berkolaborasi,” katanya.

    Namun, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Institut Teknologi Bandung Wawan Gunawan A Kadir menolak usulan itu. Upaya peningkatan mutu jurnal perguruan tinggi dapat dilakukan dengan peningkatan standar jurnal agar terindeks dalam basis data jurnal ilmiah global.

    Jika mengejar jumlah jurnal semata, menurut Wawan, potensi jurnal Indonesia bisa melebihi jurnal produksi Malaysia dan Thailand. Namun, ilmuwan Indonesia lebih banyak memilih memublikasikan penelitiannya di jurnal bergengsi yang menjadi rujukan ilmuwan internasional. (ELN/NAW/MZW)

    Source: kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • 150.000 Dosen Belum Optimal Meneliti

    Jakarta, Kompas – Dari sekitar 150.000 dosen di berbagai perguruan tinggi serta 10.000 peneliti di berbagai lembaga penelitian, kontribusi mereka dalam melakukan penelitian belum optimal.

    Dalam acara malam Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa (AKIL) 2010, akhir pekan lalu, terungkap hanya sekitar 176 usulan penelitian yang masuk. Dari 25 anugerah yang disediakan dengan penghargaan untuk setiap peneliti Rp 250 juta, dewan juri hanya memutuskan 15 peneliti yang layak mendapatkan anugerah kekayaan intelektual luar biasa.
    (more…)