siwah.com

Tag: segmentation

  • Ini Alasan Doto Zaini Bersedia Jadi Calon Gubernur

    BANDA ACEH- Kandidat Gubernur Aceh dari Partai Aceh Zaini Abdullah mengaku dirinya tidak punya keinginan kuat untuk mencalonkan diri sebagai gubernur Aceh.

    “Orang seumur saya seharusnya setelah perdamaian Aceh sudah bisa beristirahat bersama anak dan cucu saya, baik itu di luar negeri maupun di Aceh,” kata Zaini Abdullah saat bertemu Rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dan jajarannya di kampus itu, Selasa, 6 Maret 2012.

    Zaini lantas “buka kartu”. Katanya, ia bersedia mencalonkan diri dan kembali menjadi warga negara Indonesia karena tuntutan perjuangan yaitu perintah dari Malik Mahmud selaku Pemangku Wali Nanggroe.

    “Selain itu juga karena tuntutan dari Partai Aceh, dan saya pun mencalonkan diri sebagai gubernur dalam rangka berjuang untuk Aceh bersama Muzakir Manaf,” kata pria asal Pidie yang lama menetap di Swedia itu.

    Di hadapan para akademisi IAIN, Zaini juga menceritakan kembali tentang sejarah perjuangan orang Aceh dan sejarah dirinya bergabung bersama GAM. Menurutnya, orang Aceh harus terus mengingat sejarahnya.

    “Manusia yang hidup tanpa sejarah adalah manusia-manusia yang telah mati sebelum mati. Dia tidak tahu masa lalu, hingga tidak bisa berjalan ke masa depan,” kata Zaini.[]

    Source : Atjehpost.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Surat “Terakhir” dari Darwati

    Tiga hari lagi, masa jabatan Irwandi Yusuf akan berakhir, tepatnya 8 Februari 2012. Lima tahun menjabat gubernur Aceh, ia didampingi seorang wanita murah senyum yang tak segan-segan turun ke daerah, bahkan ke lokasi bencana sekalipun. Darwati A. Gani, perempuan itu, adalah first lady Aceh sejak 8 Februari 2006. 

    Hari ini, 5 Pebruari 2011, redaksi The Atjeh Post menerima sepucuk surat istimewa yang dikirimkan lewat surat elektronik (email). Pengirimnya, tak lain adalah first lady itu, Darwati. Menggunakan email pribadinya, Darwati mengatakan, surat ini dibacakan sebagai pidatonya di Mesjid Raya Baiturrahman untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

    Berikut adalah isi surat  first lady Aceh ini

    Banda Aceh, 5 Pebruari 2012
    Ibu dan bapak serta saudaraku sekalian

    Tak terasa sudah lima tahun saya mendampingi Bapak Irwandi Yusuf sebagai Gubernur Aceh. Dalam masa-masa itu, banyak hal yang telah kami lewati. Tantangan demi tantangan datang silih berganti. Tetapi, kami menikmatinya sebagai bagian dari tugas mulia. Selama itu pula kami mendapat hal-hal baru yang belum pernah ada sebelumnya.

    Ada empat hal yang ingin saya katakan. Pertama, saya ingin sekali mengatakan rasa terharu saya atas jalinan persaudaraan yang sudah kita jalin selama, lebih kurang lima tahun ini. Buat saya, persaudaraan itu rahmat besar. Satu saja bertambah saudara itu sudah membahagiakan. Apalagi jika lebih dari satu. Menjalin persaudaraan dengan seluruh masyarakat Aceh sungguh membahagiakan hati. Jika pun ada yang saya sedihkan itu karena saya belum bisa menjangkau secara langsung semua saudara saya yang ada di Aceh. Saya sudah berusaha masuk kampung ke luar kampung untuk bertemu semuanya. Tapi apa daya, luasnya wilayah Aceh tidak membuat saya bisa menjangkau seluruhnya. Tapi, saya yakin, jarak bukan penghalang, bertemu bukan segalanya,  jalinan hati kita yang saling terhubung dalam rasa keacehan dan keindonesiaan adalah segalanya.

    Jika satu saja bertambah saudara sudah membuat bahagia tentu sebaliknya, akan sedih sekali jika harus kehilangan saudara. Karena itu, jika mungkin, saya berharap jalinan persaudaraan yang sudah terbangun selama ini tidak berakhir meski masa tugas kami selama lima tahun akan segera berakhir tanggal 8 Februari 2012 ini.

    Bagi saya, persaudaraan adalah jalinan hubungan hati untuk selamanya. Jadi saya ingin persaudaraan diantara kita sepenuhnya persaudaraan yang didasari pada hati. Itu harapan saya dan tentu saja saya menghormati harapan dan sikap semua.

    Buat saya, ini persaudaraan yang amat indah. Saya tidak akan mengganti keindahan ini dengan memutus jalinan persaudaraan. Saya ingin terus menambah dan memperkuat kualitas persaudaraan baik selama bertugas maupun saat menjadi rakyat biasa.

    Kedua, saya ingin menyampaikan terimakasih yang tak terhingga atas semua bentuk dukungan yang telah diberikan oleh segenap rakyat Aceh selama lima tahun ini. Sungguh, semua bentuk dukungan, sekecil apapun sangat berarti. Saya sangat menyadari, tanpa dukungan tidak ada yang bisa diwujudkan dalam kerja-kerja sosial, kerja-kerja kemanusiaan, kerja-kerja pendidikan dan kerja-kerja pembangunan lainnya.

    Saya juga ingin mengatakan betapa terharunya saya setiap kali melihat dukungan yang datang dari semua masyarakat Aceh. Sungguh, itu dukungan yang amat tulus. Saya bisa merasakan dari lubuk hati saya sehingga setiap dukungan menjadi sangat berarti dan membekas hingga saat ini. Ibarat matahari, dukungan itu memberi penerangan. Ibarat air, dukungan itu memberi kesejukan. Ibarat tanah, dukungan itu memberi kelapangan. Maka, izinkanlah saya membawa dukungan ini ke dalam kenangan hidup saya. Saya ingin menjadikannya sebagai catatan sejarah yang membanggakan.

    Ketiga, hari ini adalah Maulid Nabi Muhammad. Saya berharap zikir maulid ini dapat menjadi angin yang menyejukkan suasana politik yang agak memanas belakangan ini, dengan harapan Aceh akan selalu aman, damai, dan Pilkada juga bisa melahirkan pemimpin yg terbaik untuk Aceh ke depan. Lebih dari itu, melalui zikir akbar maulid nabi, diharapkan ada pencerahan oleh ibu Eli Risman terkait keteladanan Rasulullah agar kita bisa merajut ukhwah Islamiyah dalam menyiapkan generasi yang tangguh di era digital.

    Keempat, izinkan saya memohon maaf atas segala kekhilafan, kekurangan dan kesalahan saya selama lima tahun ini. Saya sadar tidak mungkin menjadi sosok sempurna. Jika tidak ada gading yang tidak retak maka tentu saja saya juga tidak luput dari kekhilafan, kekurangan dan kesalahan. Untuk itu, sekali lagi saya memohon sudi kiranya dimaafkan.

    Sungguh, banyak sekali yang masih ingin dimaksimalkan dari apa yang sudah diperbuat dengan dukungan semua. Juga masih banyak yang ingin dibuat lagi bagi masyarakat dan Aceh. Tapi apa daya, waktu membatasi niat, gagasan dan rencana yang ada.

    Terakhir, izinkan saya mengatakan tidak ada yang perlu ditangisi. Jabatan, tugas dan kesempatan itu hanya amanah sesaat aja. Jika pun ada yang harus ditangisi adalah karena saya belum maksimal berbuat.

    Demikianlah, wabillahitaufik wal hidayah, wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    Source : Atjehpost.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Dalam Zikir Akbar, Darwati Memohon Maaf

    BANDA ACEH – Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW,  ribuan kaum hawa menggelar kegiatan bernama Zikir Akbar di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Minggu 5 Februari 2012.

    Kegiatan yang dilaksanakan Tim Penggerak PKK Aceh ini berlansung sejak pukul 08.30 WIB. Terlihat sejumlah kaum hawa dari berbagai kalangan, baik muda maupun dewaasa menghadiri kegiatan Zikir Akbar itu yang berdatangan dari berbagai pelosok di Kota Banda Aceh.

    Selain zikir dan shalawat, dalam kegiatan itu juga ada tausiah yang disampaikan oleh Direktur Psikolog Yayasan Kita dan Buah hati Jakarta, Hj Ely Risman.

    Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Dawarti A. Gani, dalam sambutannya pada pembukaan acara itu mengatakan, dari kegiatan maulid nabi dan kegiatan zikir akbar diharapkan nantinya mendapat pencerahan dari teladan nabi, dalam melewati ujian hidup dalam bentuk rahmad , maupun ujian dan tantangan.

    Selain itu, Darwati mengaharapkan, melalui kegiatan zikir dalam rangka maulid itu dapat menyejukkan susasana politik yang agak memanas dalam beberapa waktu ini. “Dengan harapan Aceh akan selalu damai, aman, dan melahirkan pemimpin untuk Aceh ke depan,” kata isteri Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, ini. 

    Selain itu juga, dalam sambutannya Darwati mengucapkan terima kasih atas seluruh dukungan masayrakat Aceh yang diberikannya kepadanya dan Irwandi yusuf. Darwati juga memohon maaf atas kesalahan maupun kekurangan selama Irwandi memimpin dan dirinya yang mendampingi Irwandi selama 5 Tahun.[]

    Source : Atjehpost.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Marketing ala Maher Zain

    Saya kagum pada Maher Zain. Bukan saja karena tiket konsernya di Bandung, Surabaya, dan Jakarta terjual habis, tetapi juga kalau dipikir-pikir, tidak banyak orang yang bisa mengumpulkan orang seisi satu Istora Senayan untuk mendendangkan shalawat dengan harus membayar tiket seharga rata-rata lima ratus ribu rupiah. Bukankah itu hebat?

    Tidak dipungkiri, tentu saja kunci kesuksesan Maher Zain terletak pada musiknya. “Musik yang menyentuh jiwa,” kata Fadly dari band Padi yang menjadi penyanyi pembuka konser Maher. Tetapi menurut pendapat saya, kesuksesan Maher Zain merupakan kombinasi antara talenta seorang musisi dengan kecerdasan seorang pemasar (marketer).

    Yang utama dan paling penting, Maher amat memahami karakter dari target pasarnya. Target utama musik Maher yang masuk dalam genre pop dan R&B adalah generasi muda yang berusia belasan hingga tigapuluhan tahun. Generasi ini adalah generasi muslim modern yang amat fasih dalam menggunakan Internet, jejaring sosial, dan aneka perangkat teknologi (gadget) modern semisal BlackBerry. Generasi ini juga lebih kreatif dalam mengekspresikan diri, contohnya dalam menginterpretasikan busana muslim agar selaras dengan kaidah-kaidah Islam namun juga mengikuti tren fashion.

    Namun, generasi ini juga menghadapi tantangan-tantangan unik yang berbeda dibandingkan dengan tantangan generasi-generasi pendahulunya. Maher memahami tantangan-tantangan tersebut dan meramu pemahaman tersebut ke dalam lirik-lirik lagu, sehingga yang tercipta bukan saja musik yang enak didengar, namun juga menginspirasi. Tengok saja lirik lagu “Insya Allah” yang penuh berisikan harapan (don’t despair and never lose hope//’cause Allah is always by your side).

    Pilihan bahasa menunjukkan bahwa strategi pemasaran Maher Zain dilakukan dengan cermat. Meskipun bahasa Arab adalah bahasa ibu Maher, sebagian besar lagu yang dinyanyikannya adalah dalam bahasa Inggris, sehingga mempermudah upaya pemasaran dalam tataran global. Namun, menyadari betul akan keberagaman bahasa umat muslim dunia, Maher pun berkolaborasi dengan musisi dari berbagai negara untuk menyanyikan lagu-lagunya dalam bahasa-bahasa lokal: Arab, Perancis, Urdu, Turki, Melayu, dan Bahasa Indonesia. Kolaborasi ini membuat nama dan musiknya lebih cepat dikenal di negara-negara yang menggunakan bahasa-bahasa tersebut. Inilah contoh sukses dari slogan “Think globally, act locally”.

    Prinsip “Think global, act local” juga menjadi resep Maher dalam urusan penampilan. Jeans, jaket, dan topi baret adalah ciri khas penampilan Maher. Berbeda dengan pemusik-pemusik religi lain semisal Sami Yusuf atau Yusuf Islam yang berpenampilan lebih konservatif, dan amat kontras dengan pemusik-pemusik Indonesia yang seolah mewajibkan diri untuk berbaju koko ketika menyanyikan lagu bernuansa Islami. Penampilan yang dipilih Maher ini senada dengan irama musik R&B yang diusungnya, dan membuat Maher dapat diterima lebih mudah di kalangan generasi muda di berbagai  belahan dunia.

    Dalam hal performa panggung pun, Maher menyesuaikan diri dengan target pasarnya. Contohnya, pada konsernya di Jakarta dua minggu yang lalu, sepanjang konser saya menanti-nanti Maher menyanyikan lagu “Awaken” . Lagu ini berisikan ajakan bagi umat Muslim agar berhenti menyalahkan orang lain dan lebih banyak berintrospeksi  ke dalam (yes it’s easy to blame everything on the west, when in fact all focus should be on ourselves). Namun saya tidak heran ketika hingga akhir konser Maher tidak menyanyikan lagu tersebut. Karakter audiens  Indonesia lebih menyukai lagu-lagu yang easy listening, sehingga Maher memilih untuk tidak menyanyikan lagu-lagu yang terkesan “berat”.

    Terakhir namun tidak kalah pentingnya, dalam soal promosi dan distribusi, Maher dengan cerdas memanfaatkan jejaring sosial, YouTube dan platform berbasis Internet lainnya sebagai media untuk mempromosikan serta mendistribusikan musiknya agar lebih cepat dan mudah merambah pasar. Terbukti , meskipun tergolong penyanyi pendatang baru, Maher dapat dengan cepat mengalahkan penyanyi-penyanyi religi senior lainnya baik dalam hal prestasi penjualan maupun popularitas. Melalui YouTube, video klip “Insya Allah” saja telah diunduh lebih dari 11 juta kali dari tahun 2010 hingga kini.

    Maher juga mencatat rekor sebagai artis Muslim pertama yang jumlah fansnya di Facebook mencapai satu juta orang.

    Harmonisasi antara musikalitas Maher Zain dan strategi pemasarannya terbukti berhasil. Di manapun Maher menggelar konser, termasuk di Indonesia, tiketnya selalu terjual habis. Hanya tiga bulan sejak peluncuran album pertamanya yang berjudul “Thank You Allah”, Maher juga memenangkan penghargaan Lagu Religi Terbaik dari Nujoom FM, stasiun radio terbesar di Timur Tengah, mengalahkan penyanyi-penyanyi religi senior Sami Yusuf dan Hussein Al-Jismi.

    Di Indonesia sendiri, tahun ini Maher Zain telah memperoleh 10 penghargaan platinum dari Sony Music Indonesia. Penghargaan ini mengukuhkan album “Thank You Allah”sebagai album internasional tersukses di Indonesia pada tahun 2011. Pemahaman yang baik akan pasar memang merupakan kunci dari strategi pemasaran yang sukses. Maher Zain adalah contohnya. Selain sebagai pemusik yang menginspirasi, Maher Zain ternyata juga seorang marketer yang handal!

    Oleh: Afia R. Fitriati, Penulis adalah dosen Islamic Marketing di Paramadina Graduate School

    Source : Republika.co.id

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Golkar Incar Suara Perempuan

    Jakarta, Kompas – Partai Golkar mengincar suara mayoritas pemilih, yakni kaum perempuan. Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie pada pembukaan Rapat Konsolidasi dan Pendidikan dan Latihan Kesatuan Perempuan Partai Golkar di Jakarta, Minggu (23/10), menegaskan, kedudukan perempuan sangat penting sebab mereka adalah bagian terbesar dari pemilih.

    ”Partai politik yang bisa mengelola dukungan perempuan pasti bisa memenangi pemilu. Kita berharap kader perempuan bergerak dari tingkat desa hingga pusat dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat. Golkar menyiapkan program ekonomi kecil yang langsung menyentuh kebutuhan perempuan dan rakyat kecil,” ujar Aburizal.

    Aburizal menambahkan, sejumlah kalangan memberi tahu dia bahwa Golkar dianggap sebagai partai paling matang dan mapan. Pada masa Golkar berkuasa ada pembangunan yang bisa dinikmati rakyat.

    Ia pun yakin, berdasarkan survei, Golkar akan meraih dukungan suara hingga 18,5 persen, di atas perkiraan perolehan suara Partai Demokrat (15 persen) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sebesar 14 persen. Dengan modal itu, Golkar pun optimistis menghadapi Pemilu 2014.

    Golkar, menurut Aburizal, melihat sukses Ratu Atut Chosiyah sebagai contoh bagi kader perempuan Golkar. Keberadaan Atut bisa menjadi motor kebangkitan peranan perempuan dalam partai dan kenegaraan.

    Koordinator Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch Ade Irawan, secara terpisah, meragukan komitmen Golkar memberdayakan perempuan. Keberadaan Atut juga bukan merupakan figur yang bersih karena ICW mengadukannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi terkait dugaan penyimpangan pemanfaatan dana hibah.

    Peran legislatif

    Di Semarang, Sabtu, Ketua Pemenangan Pemilu Wilayah Jawa II Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Firman Subagyo, pada rapat koordinasi anggota DPR dari Partai Golkar, mengingatkan, keluhan rakyat atas banyaknya program bantuan pemerintah yang didanai APBN tak tepat sasaran harus dicermati. Anggota legislatif dari Golkar juga harus mengawal program itu guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Kepedulian kader Golkar tentu akan dirasakan masyarakat dan bisa membuahkan dukungan pada Pemilu 2014. Apalagi wilayah Jawa II, meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta, berpotensi besar. (ong/who)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Sri Mulyani Akan Sulit Menangi Pemilu 2014

    Jakarta, Kompas – Tantangan Partai Serikat Rakyat Independen untuk mengikuti Pemilihan Umum 2014 relatif berat. Partai politik yang didirikan kalangan terdidik itu pun akan sulit memenangi pemilu sebab sosok mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang menjadi pendulum sulit dijual di kalangan bawah yang adalah mayoritas pemilih.

    Pendapat itu dikatakan pengajar Komunikasi Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Gun Gun Heryanto, Minggu (7/8), di Jakarta. Figur Sri Mulyani sebagai basis kekuatan utama Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) masih elitis. Hanya dikenal di kalangan kelas menengah ke atas, terutama kalangan terdidik, seperti kaum intelektual, akademisi, mahasiswa, dan aktivis lembaga swadaya masyarakat.

    Sosok Sri Mulyani kurang dikenal di kalangan bawah sehingga sulit dijual. Padahal, mayoritas pemilih di Indonesia berasal dari kalangan menengah ke bawah.

    Kondisi itu, lanjut Gun Gun, akan semakin menyulitkan Partai SRI dalam memenangi Pemilu. Apalagi, Partai SRI tidak memiliki basis massa yang jelas. ”Segmentasi pemilih itu hal yang paling krusial dalam pemetaan marketing politik. Karena tidak memiliki basis massa, Partai SRI akan punya kendala yang relatif berat,” katanya menjelaskan.

    Bukan hanya persoalan pemasaran politik, Partai SRI juga akan menghadapi ujian jangka pendek berupa aturan keparpolan, seperti diatur Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik. Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute itu juga mempertanyakan, apakah Partai SRI mampu melampaui seluruh persyaratan dalam UU Parpol. Jika berhasil, hal itu berarti Partai SRI siap berkompetisi dengan partai lain dalam pemilu.

    Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan Romahurmuziy mengingatkan, 44 persen pemilih di Indonesia berpendidikan rendah. ”Jika bicara demokrasi, suara aktivis atau intelektual dan suara buruh atau kaum ekonomi rendahan, sama, dihitung satu suara,” katanya.

    Pengamat politik Hermawan Sulistyo mengakui, Sri Mulyani bisa menjadi kuda hitam dalam Pemilu 2014. Kasus pemberian dana talangan ke Bank Century memang bakal menjadi ganjalan bagi Sri Mulyani. ”Tetapi, jika Bank Mutiara yang saat ini merupakan transformasi Bank Century berkinerja bagus, tentu orang akan mempertimbangkan kembali kebijakan pemberian dana talangan yang waktu itu diambil pemerintah,” katanya.

    Yakin menang

    Secara terpisah, Ketua Umum Partai SRI Damianus Taufan mengakui, persyaratan pendirian dan verifikasi parpol memang sulit. ”Tetapi, bukan berarti kami tidak bisa memenuhi syarat itu,” ujarnya.

    Menurut dia, Partai SRI akan dengan mudah membentuk kepengurusan di daerah karena figur Sri Mulyani. Masyarakat di daerah antusias mendukung penyusunan kepengurusan Partai SRI karena melihat sosok Sri Mulyani. Mereka meyakini sosok itu akan mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

    Hingga kini, Partai SRI memiliki kepengurusan di 33 provinsi dan hampir di seluruh kabupaten/kota. Selain itu, Partai SRI juga mulai menyiapkan kepengurusan di tingkat kecamatan. Damianus yakin, Partai SRI akan lolos verifikasi parpol yang dipersyaratkan. (nta/bil)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Di Bawah Pertarungan Etnisitas

    Suhu politik Provinsi Sulawesi Barat menghangat menjelang pemilihan gubernur pada Oktober mendatang. Perangkat-perangkat parpol yang biasanya ”mati” mulai aktif bergerilya mengumpul- kan dukungan massa. Para calon kepala daerah pun semakin giat menebar pesona kepada masyarakat dengan harapan dipilih menjadi gubernur. 

    Pemilihan gubernur Sulbar yang akan dilaksanakan pada Oktober 2011 diawali dengan ”konsolidasi” politik di antara elemen-elemen dalam sistem demokrasi. Elemen-elemen yang geliatnya paling terlihat adalah elite atau calon kepala daerah, partai politik, sejumlah aturan yang mengatur pencalonan, peserta pilkada, dan lembaga penyelenggara pemilihan. Di sisi lain, rakyat masih sebagai obyek dari dinamika yang berlangsung.

    Konsolidasi demokrasi di Sulbar terbilang unik. Sejak awal penjaringan, calon petahana Anwar Adnan Saleh yang diusung Partai Golkar berusaha menarik dukungan hampir semua parpol, baik yang memiliki kursi maupun tidak. Model koalisi ini merupakan upaya menutup peluang Salim S Mengga, mantan calon gubernur yang menjadi saingan kuat, yang dikalahkan Anwar pada 2006.

    Salim S Mengga yang mencalonkan diri untuk kedua kalinya ini sempat ”berdarah-darah” mencari dukungan parpol untuk mengantar dirinya menjadi orang nomor satu di ”Bumi Manakarra”. Parpol besar dan sebagian besar parpol kecil sudah merapat ke Anwar, sementara parpol lain (Gerindra, PDK, dan PNI Marhaenisme) sudah mantap mendukung Ali Baal Masdar. PAN yang belum mendapatkan mitra koalisi mengusung Jawas Abdul Gani (Ketua DPW PAN Sulbar) menjadi calon gubernur. Lewat PAN inilah, yang berkoalisi dengan PPD, PBR, PKB, dan Barnas, Salim S Mengga maju berpasangan dengan Jawas Abdul Gani.

    Ketika urusan pencalonan selesai, persoalan yang parpol pengusung berikutnya adalah bagaimana mengemas para tokoh tersebut agar laku dijual. Pasalnya, baik Anwar Adnan Saleh, Salim S Mengga, maupun Ali Baal Masdar merupakan tokoh populer yang memiliki basis dukungan sama kuat.

    Menurut Direktur Pusat Kajian Politik Sulbar Wahyuddin, ketika parpol menemui jalan buntu mempromosikan calon kepada pemilih, sentimen etnis dan kedaerahan tokoh bisa menjadi daya pikat kuat untuk masyarakat. Teknik ini masih efektif dilakukan di Sulbar karena mayoritas pemilih merupakan pemilih tradisional yang masih memperhitungkan ikatan emosional dengan calon pemimpin sebagai dasar memilih.

    ”Konsolidasi demokrasi berbasis etnis seperti ini memang tidak mendidik, tetapi seksi untuk dijual karena bisa merekatkan ikatan emosional antara pemimpin dan rakyatnya,” kata Wahyuddin.

    Dari latar belakang etnis ketiga pasangan calon, terlihat jelas bahwa parpol pengusung telah mendesain calon gubernur dan wakilnya sesuai karakteristik pemilih. Golkar memilih menyandingkan Anwar Adnan Saleh-Aladdin S Mengga—masih bersaudara dengan Salim S Mengga—dengan pertimbangan meraup suara dari pemilih beretnis Mandar di Polewali Mandar. Pilihan Aladdin boleh jadi karena Anwar secara kultur dianggap lemah karena diidentikkan sebagai orang Mamasa.

    Salim S Mengga-Jawas Abdul Gani merupakan pasangan paling ideal dari segi kultur. Salim merupakan putra Mandar dari Polman, sementara Jawas orang Mamuju. Ali Baal Masdar-Tashan Burhanuddin merupakan pasangan Mandar sejati karena keduanya orang Mandar.

    Persilangan antara etnis dan daerah para calon ini merefleksikan struktur geopolitik yang kompleks di Sulbar. Salim S Mengga, Ali Baal Masdar, dan Aladdin S Mengga merepresentasikan tokoh dari Polewali Mandar (Polman) beretnis Mandar. Anwar Adnan Saleh merupakan representasi tokoh Mamasa beretnis Mamasa. Tashan Burhanuddin merepresentasikan tokoh Majene beretnis Mandar, dan Jawas Abdul Gani merupakan tokoh Mamuju beretnis Mamuju.

    Jika persilangan itu dipetakan berdasarkan sebaran etnis dan potensi dukungan politik, etnis Mandar merupakan kelompok yang paling menjadi primadona. Di Sulbar, etnis Mandar menguasai 49,15 persen. Mayoritas terkonsentrasi di Majene dan Polman. Sisanya tersebar di Mamuju, Mamuju Utara, dan sebagian Mamasa.

    Potensi dukungan politik pun sebagian besar berasal dari etnis Mandar. Polman selalu menjadi daerah dengan pemilih terbanyak. Dalam pilkada 2011 ini saja, jumlah pemilih yang terdaftar di daftar pemilih sementara (DPS) tercatat 283.045 orang (34,79 persen). Mamuju dan Mamasa masing-masing sebesar 28,75 persen dan 12,70 persen. Majene sebesar 12,43 persen dan Mamuju Utara 11,32 persen dari total DPS se-Sulbar sejumlah 813.364 orang.

    Jika pemilih Polman dan Majene yang menjadi basis utama etnis Mandar digabung, akan terkumpul sekitar 47 persen atau hampir separuh bagian pemilih terkonsentrasi di kedua kabupaten itu. Jumlah ini hampir menyamai jumlah komunitas etnis Mandar di Sulbar.

    Kegagalan parpol

    Menurut pengamat politik Universitas Sulawesi Barat, Syahrir Ramdani, sentimen etnis dan kedaerahan yang menguat ini merupakan aspek penting yang diperhitungkan. Parpol tidak bisa mengonsolidasikan kekuatan di akar rumput hanya dengan menawarkan platform partai dan calon. Mengabaikan ikatan emosional sama saja menghilangkan spirit masyarakat untuk memilih.

    Menguatnya sentimen etnis di Sulbar merupakan bukti kegagalan parpol dalam melakukan konsolidasi. Alih-alih membangun kesadaran politik rakyat, parpol justru memanfaatkan sentimen etnis ini sebagai senjata memobilisasi massa. Sebut saja Golkar yang sudah cukup lama mengakar di Sulbar. Meskipun sudah mapan secara politis, Golkar belum mampu mengonsolidasikan kekuatan secara utuh di Sulbar.

    Tarik ulur Golkar dengan beberapa tokoh yang akan disandingkan menjadi wakil gubernur menunjukkan, partai ini kurang percaya dengan ketokohan kader sendiri. Pilihan terhadap Aladdin S Mengga, menurut Wahyuddin, lebih didasarkan pada perhitungan geopolitik. Dengan menempatkan Aladdin, Golkar berharap bisa memecah soliditas pemilih etnis Mandar di Polman yang diperkirakan sebagai basis utama Salim S Mengga dan Ali Baal Masdar.

    Kecenderungan parpol memihak calon petahana seperti itu, di mata Calvin K, anggota DPRD Sulbar dari Partai Buruh, dianggap sebagai hal wajar. Menurut dia, keputusan mendukung calon dalam pilkada merupakan wewenang pengurus pusat. Pengurus daerah hanya merekomendasikan nama-nama calon.

    Di sinilah sering muncul konflik kepentingan antara pengurus pusat dan pengurus daerah yang biasanya selalu membawa ekses pada konflik internal. Pilihan inilah yang membuat banyak parpol terjebak dalam politik transaksional yang bermuara pada politik uang.

    Sudah menjadi rahasia umum, biaya pilkada di Indonesia sangat besar. Mantan calon bupati Mamuju dari jalur perseorangan, Muhaimin Faisal, menuturkan, untuk mendaftar lewat parpol, calon dimintai biaya operasional untuk konsolidasi massa. ”Sekitar Rp 300 jutaan buat partai dengan satu kursi. Partai nonparlemen antara Rp 25 juta-Rp 30 juta,” ungkap Muhaimin. Maraknya politik transaksional dan menguatnya sentimen etnis itu membuktikan parpol belum optimal dalam menanamkan prinsip-prinsip berdemokrasi.
    (LITBANG KOMPAS)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Pemilih Muda Tentukan Pemenang Pemilu

    Jakarta, kompas – Pemilih muda, dengan usia 17-31 tahun, akan menentukan pemenang Pemilu 2014. Jumlah pemilih muda pada Pemilu 2014 diperkirakan 40 persen hingga 42 persen dari total pemilih.

    ”Partai politik mana pun yang bisa meraih dukungan anak muda, mereka bisa dipastikan memenangi pemilu,” ungkap Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Bidang Pemuda dan Olahraga Maruarar Sirait saat menyampaikan hasil survei DPP PDI-P terhadap pilihan politik pemuda, Senin (25/7), di Jakarta.

    Meski PDI-P yang melansir survei, menurut Maruarar, pelaksanaan survei dilakukan lembaga lain di luar partai dan dibuat seobyektif mungkin. Populasi survei adalah warga negara Indonesia berusia 17-31 tahun, sebanyak 1.042 responden. Survei dilakukan pada 17-28 Januari lalu.

    Menurut Maruarar, berdasarkan hasil survei, jika pemilu dilaksanakan saat ini, Partai Demokrat tetap akan mendapatkan pemilih muda terbanyak (21,3 persen). Adapun PDI-P mendapatkan 16,1 persen, Partai Golkar 12,3 persen, Partai Keadilan Sejahtera 4,1 persen, Partai Gerindra 2,9 persen, dan Partai Kebangkitan Bangsa 2,8 persen.

    Namun, ungkap Maruarar, hasil survei menunjukkan perubahan signifikan karena saat ditanya parpol dipilih dalam Pemilu 2009, responden yang memilih Partai Demokrat sebanyak 39,5 persen, sedangkan PDI-P hanya 12,7 persen dan Partai Golkar 8,7 persen. ”Partai Demokrat masih di atas, tetapi penurunannya cukup jauh,” katanya.

    Dari hasil survei, menurut Maruarar, mengenai media massa yang paling disukai, mayoritas responden (86,3 persen) memilih televisi dan hanya 6 persen yang memilih surat kabar. ”Celakanya, stasiun televisi kita juga dikuasai oleh politisi atau mereka yang secara tak langsung bermain politik,” katanya.

    Sekretaris Jenderal PDI-P Tjahjo Kumolo mengatakan, daya kritis pemilih pemuda menjadi penunjang bagi perubahan politik pada masa depan. Partai politik mau tak mau juga harus mengikuti karakter pemuda yang egaliter, antifeodal, dan mandiri.

    Aspirasi mahasiswa

    Di Bandung, Jawa Barat, Rapat Kerja Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia dimulai Senin kemarin. Rakernas ini akan merumuskan rekomendasi dan arah gerak berdasarkan aspirasi mahasiswa.

    ”Isu yang diusung berdasarkan pertimbangan matang dan obyektif,” kata Koordinator BEM Pusat M Sayyidi.

    Rakernas yang diselenggarakan di Balai Pertemuan Umum Universitas Pendidikan Indonesia tersebut diikuti 49 perguruan tinggi. Rakernas akan berlangsung hingga besok.

    Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UPI Dadang Sunendar mengatakan, Rakernas BEM hanya menjadi ajang diskusi ilmiah para mahasiswa. Tidak akan ada gerakan politik yang akan muncul dari acara tersebut. (bil/eld)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Kepengurusan Regeneratif Kejar Target 12 Juta Kader

    Jakarta, Kompas – Kepengurusan baru Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan periode 2011-2015 merupakan kepengurusan regeneratif karena didominasi kader muda. Kepengurusan ini menghadapi tantangan berat untuk menaikkan jumlah perolehan suara pada Pemilu 2014. Target 12 juta kader harus segera dicapai jika PPP tak ingin hilang dari Dewan Perwakilan Rakyat.

    ”Kepengurusan sekarang adalah kepengurusan kerja. Ini pekerjaan berat ke depan,” kata Ketua Umum DPP PPP Suryadharma Ali saat mengumumkan susunan Pengurus Harian DPP PPP periode 2011-2015 di Kantor DPP PPP Jakarta, Senin (25/7).

    Seusai Muktamar PPP digelar di Bandung, Jawa Barat, 3-6 Juli 2011, sebanyak 8 formatur segera merapat untuk menyusun kepengurusan baru. ”Kami bekerja tanggal 13-17 Juli dan 22-24 Juli,” kata Suryadharma.

    Hasilnya, pengurus Harian DPP PPP terdiri atas 55 orang: yaitu 1 ketua umum, 4 wakil ketua umum, 23 ketua, 1 sekjen, 23 wakil sekjen, 1 bendahara umum, dan 2 wakil bendahara umum.

    ”Dari 55 pengurus, 30 persennya adalah perempuan, yakni sebanyak 17 orang. Dari 55 pengurus, hanya 13 orang pengurus lama. Hanya satu orang yang berusia di atas 60 tahun, sedangkan lainnya di bawah kepala lima. Artinya, orang muda kami akomodir, ini kepengurusan regeneratif,” katanya.

    Menurut Suryadharma, pengurus tersebut adalah hasil akhir yang bisa dicapai formatur. ”Keterbatasan seat yang tersedia dibanding minat, maka persaingan menjadi ketat. Untuk itu, formatur mempertimbangkan berbagai macam aspek,” katanya.

    Beberapa nama terkenal yang sebelumnya disebut hendak bergabung dalam kepengurusan adalah KH Hasyim Muzadi, Khofifah Indar Parawansa, dan Saifullah Yusuf ternyata tidak termasuk dalam daftar susunan pengurus. Menurut Suryadharma, mereka tidak bisa terlibat dalam kepengurusan karena kesibukan masing-masing.

    ”KH Hasyim Muzadi memutuskan untuk berada di luar, tetapi akan tetap membantu PPP. Ibu Khofifah dalam Kongres Muslimat NU terpilih sebagai Pimpinan Pusat Muslimat NU sehingga tidak bisa terlibat di partai politik agar lebih berkonsentrasi pada Muslimat NU. Pak Saifullah Yusuf sekarang ini menjadi salah satu ketua NU,” katanya. (lok)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Partai Golkar Garap Kader di Pedesaan

    Bandung Barat, Kompas – Partai Golkar menggarap desa. Mereka menargetkan sampai tahun 2012 sudah mendapatkan setidaknya 100 kader penggerak teritorial desa di setiap desa di seluruh Indonesia.

    Pada Sabtu (2/7) pagi, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie mencanangkan pendidikan dan latihan kader penggerak teritorial desa (karakterdes) di Desa Cibogo, Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat. Selain sekitar 1.000 kader, hadir dalam acara tersebut antara lain Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham dan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung.

    Dalam acara tersebut, Aburizal juga berdialog lewat telekonferensi dengan unsur pimpinan Partai Golkar dan peserta karakterdes di beberapa daerah, yaitu Cilacap (Jawa Tengah), Probolinggo (Jawa Timur), Medan (Sumatera Utara), dan Gowa (Sulawesi Selatan).

    Menurut Aburizal, kegiatan itu untuk menyiapkan kader Partai Golkar sekaligus kader bangsa di desa-desa yang siap mengabdi untuk kemajuan bangsa. Kurikulum serta silabus pendidikan dan pelatihan bukan sekadar soal Partai Golkar, melainkan terutama materi kebangsaan.

    Aburizal menekankan, paradigma membangun Indonesia dimulai dari desa, berangkat dari persoalan riil yang dihadapi langsung oleh masyarakat desa. ”Partai Golkar tidak ingin pembangunan di desa-desa tidak bergerak, bahkan mundur. Partai Golkar tidak akan membiarkan desa-desa tertinggal,” kata Aburizal.

    Pembangunan desa semestinya didukung kebijakan pusat yang tepat, proporsional, dan aspiratif sehingga implementasi pembangunan serta otonomi daerah benar-benar menyentuh masyarakat di pedesaan. Politik anggaran tidak boleh lagi hanya bersifat sektoral dan terkonsentrasi di pusat.

    Kepada wartawan, Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham menyebutkan, pembangunan desa merupakan kemestian demi membangun bangsa. Akan tetapi, Idrus juga tidak menampik bahwa program kaderisasi itu merupakan bagian dari upaya Partai Golkar untuk menyiapkan kader-kadernya demi pemenangan setiap kompetisi politik, termasuk Pemilihan Umum 2014 sebagai puncaknya. ”Dengan membangun desa, ini, kan, kampanye permanen,” kata Idrus.

    Berdasarkan catatan Kompas, upaya ”kembali ke desa” secara intensif juga digulirkan parpol lain. Sebagai contoh, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menggelar program cabang pelopor untuk mendekatkan partai dengan kadernya di daerah lewat program nyata.

    Menurut anggota DPR dari Fraksi PDI-P, Eva Kusuma Sundari, upaya turun ke desa tergantung pada rencana kerja para anggota DPR yang sudah menerima surat keputusan untuk mengawal musyawarah cabang-cabang pelopor yang intinya mengefektifkan struktur anak cabang dan ranting atau anak ranting.

    Masa reses anggota DPR mendatang akan dipergunakan untuk percepatan implementasinya. Sejak Rapat Koordinasi Nasional pada Maret lalu, sebanyak 17 provinsi sudah menggelar musyarawah rencana kerja cabang.

    Wakil ketua bertambah

    Sebagai bagian revitalisasi kepengurusan Partai Golkar, jabatan wakil ketua umum pun ditambah dari dua orang menjadi empat orang. Pekan lalu, dua wakil ketua umum baru Partai Golkar, yaitu Sharif Cicip Sutardjo dan Fadel Muhammad, diangkat. Dua wakil ketua umum lain adalah Agung Laksono dan Theo Sambuaga.

    Menurut Idrus Marham, revitalisasi tersebut dilakukan untuk memastikan mesin politik partai bekerja secara optimal untuk memenangi setiap kompetisi politik di Indonesia. Koordinasi pemenangan pemilu juga ditambah dari lima wilayah menjadi tujuh wilayah. (DIK)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.