Demokrat: Masak Kubu JK-Wiranto Tidak Tahu Selebaran Gelap
JAKARTA, KOMPAS.com — Tim Kampanye Nasional (Timkamnas) SBY-Boediono meragukan bahwa Timkamnas JK-Win tidak mengetahui beredarnya selebaran gelap yang menyatakan bahwa Herawati, istri cawapres Boediono, memeluk agama Katolik.
Apa Masalahnya kalau Istri Boediono Bukan Islam?
JAKARTA, KOMPAS.com — Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto tak mau ambil pusing dengan laporan yang diajukan Tim Kampanye SBY-Boediono atas beredarnya selebaran yang berisi bahwa istri Boediono, Herawati, bukan muslimah. Juru Bicara Tim Kampanye JK-Wiranto, Yuddy Chrisnandi, mengatakan, pihaknya tidak mengetahui adanya penyebaran informasi tersebut. Yuddy pun meluruskan, saat berlangsung kampanye JK di Medan, kemarin, ada... Read More
Indonesia Bertabur Partai, Hanya 8 yang Siap Hadapi Pemilu
JAKARTA, KOMPAS.com — Partai politik Indonesia bertaburan dalam pemilu legislatif yang berlangsung pada April. Tercatat, ada 38 partai nasional yang bertarung untuk memperebutkan pilihan. Namun, dari partai sebanyak itu, hanya delapan partai yang dapat dikatakan siap menghadapi pemilu. Sisanya tidak sukses dalam pertarungan karena lemahnya dukungan finansial dan konflik internal partai.
JK Angkat Bicara soal Selebaran “Katolik”
JAKARTA, KOMPAS.com — Calon presiden Partai Golkar Jusuf Kalla menilai, laporan tim kampanye SBY-Boediono kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) terkait kasus selebaran gelap soal agama istri cawapres Boediono dalam kampanye di Medan “salah alamat”. Ditemui wartawan seusai mengadakan pertemuan dengan jajaran pimpinan Harian Kompas di Palmerah Selatan, Jakarta, Kamis (25/6) siang, Kalla terlihat sangat rileks... Read More
Sistem Suara Terbanyak Perlemah Kelembagaan Partai
JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik CSIS, Sunny Tanuwidjaja, menilai, sistem suara terbanyak untuk menentukan calon anggota legislatif (caleg) justru memperlemah kelembagaan partai. Ia juga menangkap terjadinya deinstitusionalisasi partai. Hal ini, menurutnya, tidak mendorong terjadinya peningkatan partai secara kelembagaan.
Melihat Nasib JK dari Pelat Nomor Mobilnya…
JAKARTA, KOMPAS.com — Bukan Jusuf Kalla namanya jika tidak membuat setiap pertemuan yang dihadirinya hangat dengan derai tawa. Hal itu pula yang terjadi siang ini di kantor Harian Kompas, saat ia bersama rombongan diterima oleh jajaran pimpinan Kompas, di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, Kamis (25/6) siang.
SBY dan JK Saling Klaim, ke Mana “Bersama Kita Bisa?”
JAKARTA, KOMPAS.com — Dua calon presiden incumbent, yang masih menjabat Presiden dan Wakil Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla, semakin sering saling sindir soal klaim peran masing-masing dalam keberhasilan program pemerintah. Tindakan saling klaim keduanya menambah semakin ‘panasnya’ pertarungan menjelang pemilihan presiden (pilpres). Pengamat politik UI, Andrinof Chaniago, menilai porsi klaim sudah over dosis... Read More
Hermawan: Capres Sombong Tak Disukai Rakyat
JAKARTA, KOMPAS.com — Pakar politik dari LIPI, Dr Hermawan Sulistio, menilai segala strategi kampanye capres, termasuk publikasi besar-besaran “Pilpres Satu Putaran” yang dianggap sebagai suatu sikap keangkuhan (jumawa), bisa berisiko tak disukai rakyat pemilih. “Tetapi, saya kira, sah-sah saja tim sukses menerapkan strategi kampanye masing-masing dalam politik,” katanya di Jakarta, Jumat (19/6).
Wuih… Nilai Iklan Kampanye Pilpres Rp 3 Triliun
JAKARTA, KOMPAS.com — Dewan Pers memperkirakan, pendapatan iklan kampanye pemilihan presiden yang diterima media massa nasional, hingga minggu ketiga Juni, sudah mencapai Rp 3 triliun. “Hitungan kasar omzet iklan sudah mencapai Rp 3 triliun merupakan penerimaan media elektronik seperti televisi dan media cetak nasional,” kata Wakil Ketua Dewan Pers Leo Batubara di Jakarta, Jumat (19/6).
Ketika Para Capres Terperangkap dalam
KOMPAS.com- Peforma tiga calon presiden pada Debat Capres malam tadi dinilai hanya mengedepankan penampilan yang “baik-baik” saja, penuh kesantunan dan tidak berani bersinggungan dengan perdebatan. Aksi saling dukung yang ditampilkan dipilih sebagai jalan aman akan ketakutan dicap sebagai sosok yang “tidak santun” oleh masyarakat.