siwah.com

Tag: Aceh Damai

  • Rakyat Aceh Ingin Damai

    Banda Aceh, Kompas – Kemelut pemilihan kepala daerah di Aceh yang berkepanjangan serta serangkaian kekerasan telah menyandera kepentingan rakyat Aceh. Padahal, rakyat hanya menginginkan perdamaian dan keberpihakan pembangunan kepada mereka.

    Hal tersebut disampaikan sejumlah warga yang ditemui Kompas, Senin (16/1), di Aceh.

    ”Kami sebenarnya tidak peduli siapa pun yang menjadi pemimpin di Aceh ini. Asalkan bisa damai, aman, tidak ada konflik lagi, dan cari uang mudah, kami sudah bersyukur,” kata Zainuddin (40), nelayan di Lampulo, Kuta Alam, Banda Aceh.

    Zainuddin tidak mengerti mengapa pilkada di Aceh tidak kunjung dilaksanakan. ”Orang ramai membicarakan Pilkada Aceh. Ada yang menembak di sana-sini. Ada korban, tetapi pilkadanya saja tidak ada. Kami jadi bingung dan takut. Mau dibawa ke mana Aceh ini? Apa para pemimpin itu mau konflik lagi?” ujarnya.

    Ichsaluddin, karyawan asal Pidie, dan Desi, pedagang suvenir asal Sabang, yang ditemui terpisah, bahkan belum mengetahui siapa saja calon kepala daerah mereka. Desi lebih prihatin terhadap omzet tokonya yang menurun drastis sejak penembakan dan teror terjadi 1-2 bulan ini. Jika sehari-hari omzet penjualan suvenir Rp 800.000 hingga Rp 1 juta, kini hanya Rp 100.000 hingga Rp 200.000.

    Ichsaluddin berharap kedamaian dan keamanan yang sudah ada di Aceh tidak lagi terganggu. Dia ingat betul harus berlari-lari menghindari kontak senjata ketika masih remaja di Pidie.

    Wahyu (27), warga Gebage, Aceh Besar, juga ingat kewajiban warga untuk berkumpul dan diperiksa aparat setiap sore, apalagi jika terjadi kontak senjata. Tamparan, pukulan dengan popor senjata, atau tendangan menjadi hal biasa.

    Panglima Laot Bulohseuma, Aceh Selatan, Nasrudin, juga tak peduli terhadap kisruh pilkada saat ini. Selama 66 tahun merdeka, tak satu pun bupati, gubernur, dan presiden terpilih memperhatikan nasib warga Bulohseuma yang masih terisolasi. ”Apa jaminan kalau nanti calon-calon itu terpilih akan memperhatikan nasib kami,” katanya.

    Pengajar Sosiologi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Saleh Sjafei, mengatakan, konflik berkepanjangan dalam Pilkada Aceh sangat rawan berkembang menjadi arena konflik baru di Aceh. Jika itu terjadi, Aceh tak hanya gagal membangun peradaban baru, tetapi juga akan kembali mengalami kehilangan generasi. ”Hanya akan hadir generasi-generasi konflik,” ujarnya.

    Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh Alfian mengatakan, konflik Pilkada Aceh telah menyandera banyak kepentingan masyarakat. Keterlambatan pembahasan APBD Aceh adalah contoh nyata dari penyanderaan.

    Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo di Jakarta mengatakan, Polri berusaha mengamankan proses pilkada di Aceh.

    Source : Kompas.com

  • Pelobi Dibalik Helsinki

    Pengalaman ikut terlibat dalam perundingan damai Malino I dan II membuat dokter Farid Husain tak hanya pandai mengobati pasien. Tapi juga mempunyai resep-resep jitu dalam upaya ‘penyembuhan’ konflik. “Sederhana saja kok, seperti kalau kita hendak menyatukan kembali pasangan pisah ranjang itu lho,” ujar Farid Wagjdi Husain, ketika diminta cerita apa resep rahasia dari pekerjaan sampingan dia sebagai pialang penyelesaian konflik.

    Farid Husain suka memakai metafor ‘keluarga’ sebagai kerangka memahami konflik-konflik yang terjadi di Indonesia. “Seperti problem suami istri dalam keluarga, memang ada masalah dalam rumah tangga tapi belum sampai terjadi perceraian, malahan sebenarnya masih saling menyayangi. Makanya saya percaya dialog sangat dibutuhkan untuk mencari solusi perselisihan itu,” ujar dokter spesialis bedah dalam yang juga Dirjen Pelayanan Medik Departemen Kesehatan yang ditemui Forum Keadilan di sela-sela acara sosialisasi hasil-hasil perundingan MoU RI-GAM di Helsinki, Finlandia, yang diadakan kantor Menko Polkam, tanggal 20 Agustus 2005, di Hotel Borobudur, Jakarta.
    (more…)

  • Seminar Tiga Tahun MoU Helsinki: Jangan Kembalikan Aceh ke Era Konflik

    BANDA ACEH – Masa depan perdamaian Aceh masih meretas jalan panjang dan penuh rintangan. Untuk itu, merupakan kewajiban semua pihak menjaga agar konflik tidak kembali terulang yang pada akhirnya membuat masyarakat Aceh harus kembali didera penderitaan.

    Hal itu dikatakan mantan anggota Juru Runding Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, dr Zaini Abdullah, saat menyampaikan sambutan pada Seminar Tiga Tahun MoU Helsinki bertajuk Merajut Persaudaraan Menuju Damai Abadi di Aceh yang berlangsung di Hermes Palace Hotel, Selasa (12/8) kemarin.
    (more…)