siwah.com

Tag: akademisi

  • Tak Ada Salahnya Aktivis & Akademisi Terjun ke Dunia Politik

    JAKARTA- Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (PAN), Bima Arya Sugiarto, merilis buku autobiografi bertajuk ‘Titik Balik’ di Universitas Paramadina, Jakarta Selatan, Sabtu (27/7/2013) sore. (more…)

  • Survei ORI: Rakyat Aceh Lawan Intimidasi Pilkada

    BANDA ACEH – Occidental Research Institute (ORI), sebuah lembaga riset ilmiah yang berbasis peneliti dari Unsyiah dan IAIN Ar Raniry melansir hasil survei yang mereka lakukan, di mana ada peluang terjadinya intimidasi, politik uang, dan pengerahan massa pada pemilihan kepala daerah (pilkada) di Aceh yang diikuti 17 kabupaten/kota plus tingkat provinsi. Namun, 95 persen atau 10.233 dari total 10.722 responden yang diteliti menunjukkan perlawanan terhadap praktik intimidasi dalam pilkada.

    “Mayoritas responden menghendaki Pilkada Aceh 2011 berjalan damai dan demokratis. Sedangkan 5 persen lainya atau 539 responden bersikap apatis,” ungkap Peneliti ORI, Budi Azhari MPd dalam jumpa pers dengan wartawan di Rodya Cafe, Banda Aceh, Rabu (22/6). Dia menyebutkan ada satu kedekatan dan korelasi antara kekerasan dengan intimidasi serta pengerahan massa dalam Pilkada Aceh. Namun Budi menolak berspekulasi kemungkinan terjadinya intimidasi dan pengerahan massa karena dipicu situasi politik di Aceh yang kian memanas, menyusul terjadinya polemik tentang regulasi calon independen dan pembahasan Raqan Pilkada yang melibatkan elit partai, DPRA, dan penyelenggara pilkada.

    “Semua kelompok punya kesempatan yang sama untuk mengumpulkan massa. Ini bisa saja terjadi, baik dalam bentuk teror fisik dan juga dalam bentuk lain,” ujar Budi didampingi Direktur ORI, Maimun MA.  Survei dilakukan di 23 kabupaten/kota menggunakan mixed methodology design (gabungan data kuantitatif dan kualitatif) melibatkan 12.755 responden dengan sampel 555 orang per kabupaten/kota.

    Para responden terdiri dari PNS, istri TNI/Polri, petani, nelayan, pedagang/pengusaha, buruh/tukang, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, perangkat desa, dan ormas, dengan metode pengumpulan data lewat  wawancara terbuka (face to face).  Dalam penelitian ORI juga dikemukakan ada kencenderungan resistensi (perlawanan) para responden terhadap kemungkinan terjadinya praktik politik uang. Menurut Budi, mayoritas responden atau 10.772 orang yang telah menentukan pilihannya, sebanyak 10.449 (97 persen) di antaranya tidak setuju dengan money politics, sedangkan sisanya 3 persen atau 323 orang bersikap apatis.

    Budi menjelaskan, mayoritas responden memiliki kecenderungan akan bersikap terbuka, bahwa mereka akan menerima pemberian uang dari tim sukses kandidat, namun belum tentu akan memberi suaranya kepada calon bersangkutan.  Secara spesifik, lanjut Budi, survei ini dilakukan antara lain untuk mengetahui siapa calon gubenur Aceh yang dikenal publik, calon yang paling tepat menjadi gubenur periode 2010-2017, juga untuk mengetahui penyebab memilih calon tersebut serta kriteria yang layak menurut responden. “Jadi tidak ada kepentingan lain. Penelitian ini lebih untuk memberi kontribusi untuk publik dalam menentukan pilihannya,” kata Budi.

    Calon gubernur
    Survei yang dilakukan ORI bertema, “Gubernur Pilihan Rakyat Aceh dan Masalah-masalah yang Berkaitan dengan Pilkada Aceh 2011.”  Berdasarkan hasil survei tersebut, responden yang telah mengenal calon gubernur dari nama-nama yang berkembang dalam masyarakat adalah sebanyak 11.862 atau sekitar 93 persen sedangkan sebanyak 893 orang atau tujuh persen dari responden belum mengenal nama-nama tersebut.

    Dari 11.862 responden yang telah mengenal nama-nama calon, sebanyak 9.964 orang atau 84 persen telah menentukan pilihan sedangkan 1.898 orang atau 16 persen belum menentukan pilihan. Menurut data yang dilansir ORI, dari hasil survei dapat diketahui bahwa dari lima calon yang terdapat dalam draf wawancara (sesuai abjad; Darni M Daud, Irwandi Yusuf, Muhammad Nazar, Tarmizi A Karim, dan Zaini Abdullah), diperoleh hasil (persentase) urutan I-V dalam hal paling populer dan dikenal publik.(sar)

    Source : Serambi Indonesia

  • Membangun Karakter Jujur

    “DI ANTARA karakter yang ingin kita bangun adalah karakter yang berkemampuan dan berkebiasaan memberikan yang terbaik, giving the best, sebagai prestasi yang dijiwai oleh nilai-nilai kejujuran,” kata Mohammad Nuh, pada Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), tahun ini yang bertema Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa.

    Mohammad Nuh mengatakan, pendidikan karakter tidak hanya untuk membangun karakter pribadi berbasis kemuliaan semata, tetapi secara bersamaan juga bertujuan membangun karakter kemuliaan sebagai bangsa, yang bertumpu pada kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa dan negara (Kompas, 2 Mei 2011).

    Mendiknas mencermati fenomena sirkus, yaitu tercerabutnya karakter asli dari masyarakat. Fenomena anomali yang sifatnya ironis paradoksal menjadi fenomena keseharian, yang dikhawatirkan pada akhirnya dapat mengalami metamorfose karakter. “Memang kadang-kadang menjadi lucu dan mengherankan, betapa tidak mengherankan penegak hukum yang mestinya harus menegakkan hukum ternyata harus dihukum. Para pendidik yang mestinya mendidik malah harus dididik. Para pejabat yang mestinya melayani masyarakat malah minta dilayani dan itu adalah sebagian dari fenomena sirkus tadi itu. Itu semua bersumber pada karakter,” ujar Mohammad Nuh.

    Pernyataan Mendiknas RI itu, menarik untuk direnung. Pertama,  karena martabat manusia ditentukan oleh karakternya. Bila seseorang itu berkarakter baik, maka baiklah keseluruhan orang itu. Begitu juga sebaliknya. Karakter menjadi nafas bagi pancaran akhlak. Dan ini sangat berkorelasi dengan kualitas pendidikan seseorang, juga pengetahuan dan pengalaman keagamaannya.

    Dalam konteks itu, maka penyiapan sumberdaya manusia yang berkarakter menjadi keniscayaan. Artinya, pendidikan karakter suatu yang mutlak  untuk menumbuhkan kesadaran manusia sebagai makhluk dan hamba Allah, yang seluruh rangkaian aktivitasnya senantiasa disandarkan pada nilai kebenaran dan kejujuran yang diajarkan dalam proses pendidikannya.

    Kedua,  karakter seseorang tidak bisa dibentuk secara instan atau sekadar  lewat transfer pengetahuan (knowledge) atau   lewat aturan-aturan formal ansic, tapi harus memberi contoh konkrit para penyuaranya. Seseorang tidak cukup dengan menyuarakan tentang kebaikan, tentang berbuat benar, tapi dirinya juga mesti menunjukkan sikap dan karakter yang baik dan berbuat benar.

    Karenanya, banyaknya upaya membangun karakter baik, akhlak mulia, belum menjamin bisa mengubah karakter itu jika tidak disertai dengan memberikan pendidikan nyata tentang hal itu. Misalnya, saat ini ada program kantin “jujur” di sekolah-sekolah. Mekanismenya, para pengunjung atau pembelanja warung ini diminta untuk melayani diri sendiri (self- service); mengambil sendiri barang yang diinginkan; membayar sendiri harga yang ditentukan, dan mengambil sendiri pengembalian uang apabila pembayarannya berlebih. Harapannya, dari mekanisme itu akan  bisa lahirlah istilah “kejujuran” karena para pembelanja dituntut mengaktualisasi kejujuran diri.

    Sisi lain, keberadaan kantin jujur yang beroperasi tanpa ada penjaga itu untuk mencerminkan suatu ikhtiar pendidikan kejujuran bagi anak-anak-tidak hanya berkutat dalam tataran pemahaman normatif, tapi dalam bentuk praktik. Hanya saja, apakah sudah memastikan kejujuran itu bisa diaktualisasi?  Sebab, jika  pembelanjanya tidak jujur, dimungkinkan berubah menjadi “koruptor” atau maling dalam waktu sekejap. Tentu di sini, kejujuran siswa  benar-benar diuji.

    Bermula dari rumah
    Sesungguhnya,  menanamkan karakter dan nilai-nilai kejujuran haruslah berawal dari rumah; Sejauhmana orangtua menerapkan kejujuran pada anak-anak mereka. Dengan kata lain menanamkan perangai yang jujur?? ?harus dimulai dengan?? ??menanam sahsiah pada keluarga. Sebab sekadar membangun “kantin jujur” di sekolah-sekolah, tidak akan menjamin perilaku jujur itu akan diaktualisasikan jika karakter manusianya tidak dibentuk.

    Ajaran Islam mengingatkan bahwa pribadi yang baik dan penampilan menarik, mesti dimulai seorang sejak masa kanak-kanak. Sifat-sifat jujur akan memberikan hasil dan kesan mendalam di tengah kehidupannya. Para Nabi dan Rasul memiliki kepribadian dan akhlak paling baik. Rasulullah Muhammad  SAW mengajarkan untuk mendidik diri dengan menanamkan sifat jujur dengan dasar iman.

    Kejujuran menghidangkan pesona kehidupan dan ketenangan bagi pelakunya. Sedangkan kebohongan membuat jiwa bimbang dan goncang. Hidup tidak berarti jika tidak dihiasi kejujuran. Limpahan harta yang banyak akan menjadi siksa bila tidak ada kejujuran. Sebab ini adalah pondasi utama membangun bangsa.

    Itu sebabnya, ajaran Islam memerintahkan agar menjauhi dusta dan ketidakjujuran. Sebab bohong akan membuat hukum  jadi rusak, kehormatan terinjak-injak dan berbagai kejahatan merajalela. Maka betapapun besarnya sebuah bangsa,  bila kejujuran telah sirna, maka hancurlah bangsa itu.

    Nabi Muhammad adalah manusia paling  jujur  sehingga disebut “al-amin”. Karenanya pendidikan kejujuran, menjadi prioritas, bukan dalam makna  mata pelajaran sendiri di sekolah atau mata kuliah sendiri di perguruan tinggi, melainkan para stake holder menunjukkan sikap dan menjadikan kejujuran menjadi karakternya. Pendidikan kejujuran bukan sekadar pengetahuan (knowledge), bukan pula sekadar ilmu (science), akan tetapi perilaku (behaviour). Implikasinya, menanamkan kejujuran itu dalam perbuatan nyata di tengah masyarakat. Karena,  apa pun bicara soal nilai-nilai kejujuran, kebaikan, moral atau pemberantasan korupsi, akan menjadi sulit jika hal itu tidak menjadi karakter. Maka di sinilah perlunya  pembinaan rohani anggota keluarga yang dilatih  dengan nilai-nilai agama  sedari kecil.

    Melatih anak-anak dengan memberi contoh dari yang dewasa (orangtua) di rumah dan (guru) di sekolah. Karena ada kata pepatah, “Jika mau mengetahui ikan itu busuk, maka periksalah kepala atau insangnya.” Jika kepala dan insang busuk, maka busuklah bernama makhluk ikan. Artinya, kebaikan atau keburukan bermula dari para pemimpin, dari orangtua, dari guru di lembaga pendidikan.

    Nah, ketika kita mengamati munculnya akhlak buruk  saat ini, bermakna bahwa dunia pendidikan kita telah gagal membentuk karakter tersebut.  Apalagi jika melihat berbagai kasus yang melanda dunia pendidikan itu sendiri. Mulai tindakan kekerasan guru terhadap siswa, anak-anak yang tidak lagi ta’zim pada gurunya, guru yang membiarkan murid menyontek dalam ujiannya, dan berbagai kasus lain. Sesungguhnya, itulah  potret buram dari pendidikan sebagai lembaga yang memanusiakan manusia,  telah menjadi kehilangan wibawanya.

    Seungguhnya, Allah  Yang Mahaadil, telah mengingatkan agar menjadikan seorang pemimpin yang adil  dan bijaksana.  Sebab bila terjadi suatu kedhaliman  pada suatu masyarakat, sesungguhnya itu dimulai dari pemimpinnya. Rasulullah SAW  ketika ditanyai seorang sahabat,  “Apa yang harus dilakukan para pemimpin?” Rasul menjawab bahwa  membela yang lemah dan membantu yang miskin.  “Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan ulama?” Nabi SAW  menjawab, “Memberi contoh yang baik dan menasihati pemimpin. Maka jangan kau lihat pemimpinmu yang suka harta. Jangan kau ikuti ulamamu yang mendekati mereka. Jangan kau temani orang-orang yang menjilat mereka.”

    Ironisnya, pemimpin sering bicara kesejahteraan tapi saat bersamaan ia serakah menumpuk harta. Ketika pemerintah mengklaim telah berhasil mewujudkan kesejahteraan ekonomi, hukum, dan seterusnya, namun faktanya kesejahteraan menurun, hukum makin kacau, pembangunan tak berjalan. Harga-harga naik, lapangan pekerjaan menyempit, pendidikan mahal dan kesehatan makin tak terjangkau, maka semua itu akan menjadi pengetahuan rakyat.

    Begitu juga banyak ulama, cendekia  bicara kebenaran, namun sering lupa bahkan saat bersamaan tidak bisa memberi contoh kebenaran-kebenaran itu. Maka jangan salahkan ketika melihat seseorang yang  rajin shalat,  tapi dengan entengnya melanggar rambu-rambu lalu lintas atau lampu merah yang secara akal sehat harus berhenti.

    Jangan kaget bila kita menemukan mereka yang pintar, rajin ibadah tapi suka berbohong dan tak berhenti menebar ghibah. Jangan heran bila banyak yang bicara tentang karakter kejujuran, namun senang korupsi. Karenanya,  membangun akhlak dan kejujuran tidak hanya sebagai kegiatan seremonial seperti biasanya, tetapi harus diwujudkan dalam kegiatan nyata.
    * Ampuh Devayan – Penulis adalah Wartawan Harian Serambi Indonesia

    Source : Serambi Indonesia