siwah.com

Tag: akbar

  • Akbar Tandjung: Aburizal Belum Final

    Semarang, Kompas – Kendati dalam Rapat Pimpinan Nasional Partai Golkar lalu merekomendasikan Aburizal Bakrie sebagai calon presiden, mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung menegaskan, penetapan Aburizal ini bukanlah keputusan final. Penetapan itu masih harus melalui proses.

    ”Kalau kita melihat penetapan Aburizal belum final karena baru akan disampaikan pada rapimnas mendatang. Waktu itu bisa saja ada pikiran-pikiran untuk melibatkan seluruh stakeholder,” ujar Akbar menjawab pertanyaan wartawan di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (21/4), soal pencalonan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie.

    Menurut Akbar, penetapan capres pada waktunya akan dibahas di rapimnas. Rapimnas ini akan membicarakan segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah organisasi Partai Golkar, termasuk soal penetapan capres.

    Ia menilai model konvensi yang dilakukan Partai Golkar pada Pemilu Presiden 2004 telah mengangkat citra Partai Golkar karena sejalan dengan reformasi Partai Golkar. Pada 2009 diakui tidak ada konvensi karena tiba-tiba Jusuf Kalla menyatakan maju menjadi capres. Apakah sekarang akan dibicarakan konvensi atau tidak menggunakan konvensi, bagi Akbar, tidak ada masalah. Yang penting prinsip-prinsip yang dianut Partai Golkar di era reformasi harus tergambar dalam proses perekrutan capres.

    Namun, upaya Aburizal untuk segera diteguhkan sebagai calon tunggal presiden dari Partai Golkar diduga bagian dari usahanya menyolidkan dan memaksimalkan mesin politik partai tersebut. Hanya saja, Partai Golkar adalah organisasi besar hingga sulit untuk secara bulat sampai di satu titik kesimpulan hingga akhir.

    Hal itu disampaikan M Qodari dari Indo Barometer dan Andrinof Chaniago yang pengajar kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Sabtu, di Jakarta. Aburizal, menurut Qodari, memang terlihat berusaha menjadi capres di Pemilu 2014.

    ”Dengan telah ditetapkan sebagai capres, Aburizal akan lebih mudah bertindak sebagai penentu di partainya saat-saat krusial. Ini yang agaknya diharapkan oleh Aburizal,” papar Andrinof.

    Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Nurul Arifin menuturkan, peneguhan Aburizal sebagai capres dari Golkar sebagai jawaban dari permintaan mayoritas pengurus di daerah. Langkah ini juga untuk meningkatkan elektabilitas partai dan Aburizal.

    Arus besar di Partai Golkar saat ini, menurut Qodari, memang mendukung pencalonan Aburizal. Namun, lanjut Qodari, kader Golkar biasanya memiliki kalkulasi sendiri pada saat-saat akhir. Fenomena itu terlihat, misalnya, dalam Pemilu Presiden 2004 dan 2009, saat dukungan kader Golkar secara faktual tidak bulat di satu orang. (SON/NWO)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Gara-gara Mr. A, Kedekatan Akbar-Anas Disorot

    VIVAnews – Kedekatan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, Akbar Tandjung, dengan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, mendapat sorotan tajam dalam dua pekan ini. Hal ini menyusul kisruh internal Partai Demokrat dan beredarnya SMS yang mengatasnamakan Nazaruddin, Bendahara Umum Partai Demokrat yang baru dipecat.

    Isu ini mencuat sejak Wakil Sekjen Partai Demokrat, Ramadhan Pohan, melontarkan isu ada ‘Mr. A’ yang berada di balik penyebaran SMS itu dan telah mengobok-obok Partai Demokrat.

    Isu itu langsung ditanggapi serius oleh Akbar. “Yang bersangkutan (Ramadhan Pohan) harus menjelaskan ke publik biar tidak terjadi kontroversi,” kata Akbar kepada VIVAnews.com, Sabtu, 4 Juni 2011.

    Sebelum berkecimpung di partai politik, Akbar menjelaskan dia dan Anas memang pernah sama-sama aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Keduanya sama-sama pernah menduduki posisi puncak, sebagai Ketua Umum PB HMI. Akbar pada periode 1972-1974, sedangkan Anas 1997-1999.

    “Anas memang junior saya. Tapi periodenya saat di HMI sangat jauh,” ujar Akbar.

    Akbar menjelaskan, setelah menjadi Ketua Partai Demokrat, dia sudah tidak lagi bertemu empat mata dengan Anas. “Seingat saya, belum pernah bertemu dengan Anas secara khusus. Saya sering bertemu dengan Anas di tempat umum seperti acara pernikahan,” ujarnya.

    Hanya saja, Akbar mengakui pernah menelepon Anas saat muncul kabar menajamnya friksi di Partai Demokrat. Saat itu, Akbar mengaku hanya sebatas menanyakan kabar.

    “Bagaimana kabar kamu Nas, baik, baik saja, kan? Jawab Anas, ‘Baik, Bang.’ Yang sabar, ya, memang dalam politik seperti itu. Abang juga pernah mengalami seperti itu,” kata Akbar.

    Akbar menambahkan, pembicaraan itu merupakan nasihat darinya sebagai seorang senior kepada juniornya. “Di dalam hidup ini, selalu akan mendapat cobaan, apalagi di dalam dunia politik. Kuatkan saja ya Nas,” Akbar berpesan.

    Setelah masuk dunia politik tahun 2005, karier Anas memang langsung meroket. Dia langsung menjadi pengurus DPP Partai Demokrat. Kemudian, saat mengikuti pemilu legislatif tahun 2009, ia terpilih menjadi Anggota DPR, dan lalu menjadi Ketua Fraksi Partai Demokrat.

    Karier Anas tidak berhenti sampai di situ. Pada Kongres Partai Demokrat tahun 2010, secara mengejutkan dia terpilih menjadi Ketua Umum, meski tak direstui Presiden SBY. Dia mengalahkan lawan-lawannya, Marzuki Alie dan Andi Mallaranggeng. (kd)

    Source : Vivanews.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.