siwah.com

Tag: aktivis

  • BEM yang Tak Lagi Diminati

    Pada masa Reformasi, Badan Eksekutif Mahasiswa menjadi salah satu penggerak mahasiswa untuk menuju perubahan. Memang tidak semua kampus mempunyai BEM. Kalaupun ada, peminatnya kemungkinan tak cukup banyak. Padahal, tidak ada salahnya aktif di BEM. Bahkan, banyak hal yang bisa didapatkan mahasiswa sepanjang mereka aktif di BEM.

    Memang sayang sekali kalau pada masa perkuliahan mahasiswa hanya datang untuk kuliah. Banyak hal yang bisa dilakukan di kampus. Salah satu pilihannya adalah aktivitas politik di kampus, seperti bergabung bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

    Organisasi mahasiswa ini selalu diidentikkan dengan perjuangan mahasiswa untuk mengaspirasikan pendapatnya melalui berbagai media, salah satunya demonstrasi. Namun, belakangan ini bisa dikatakan tak banyak mahasiswa yang memilih untuk menjadi aktivis politik di kampus. Alasannya bisa bermacam-macam.

    Mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, Yosa Jeremia, mengatakan, pada saat regenerasi kepengurusan BEM, mereka melakukan perekrutan terbuka, siapa saja boleh mendaftarkan diri.

    ”Banyak juga (mahasiswa) yang datang mendaftar, kemudian dilakukan tes tertulis dan tes wawancara. Dari tes tersebut, setiap mahasiswa yang mendaftarkan diri sudah diajarkan mengenai arti sebuah totalitas. Tes tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa itu menggunakan segala kemampuannya untuk menjadi pengurus BEM,” katanya.

    Menurut Yosa, masalah utama yang kemudian muncul adalah ketika mahasiswa sudah menjadi pengurus BEM. Di sini mulai muncul masalah pembagian waktu, terutama bagi mahasiswa yang tidak memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik. Mereka kemudian akan kerepotan membagi waktu antara kegiatan kuliah, mengerjakan tugas, dan berkegiatan sesuai tanggung jawabnya di BEM.

    ”Ada banyak pengurus BEM yang setelah mengikuti kepengurusan justru kuliahnya terbengkalai. Pengurus BEM biasanya juga tidak hanya mengikuti satu organisasi, tetapi mereka juga mengikuti beberapa organisasi yang lain. Di sinilah dituntut kemampuan mahasiswa untuk menjadi sosok yang bisa membagi waktunya dengan baik. Manajemen waktu yang baik akan membuat mereka bisa mengerjakan semua tugas sesuai fungsi masing-masing dengan baik, maka tak ada tugas yang terbengkalai,” ungkap Yosa.

    Segudang tugas

    Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muria Kudus, Jawa Tengah, Puji Hastuti, mengungkapkan, dunia perkuliahan yang disibukkan dengan segudang tugas dan kegiatan kampus yang menyita waktu cenderung menjadi alasan mahasiswa untuk tidak mau berkecimpung dalam aktivitas BEM.

    ”Pasalnya, padatnya jadwal kuliah dan kesulitan mata kuliah yang ditempuh setiap semester juga menjadi dalih mengapa mahasiswa tidak bergabung dalam organisasi,” ujarnya.

    Selain itu, biaya pendidikan yang mahal pun mengakibatkan mahasiswa dituntut agar lebih cepat lulus. Ini juga dijadikan salah satu alasan mahasiswa untuk tidak aktif di BEM.

    Desi Wulandari, mahasiswa FISIP Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mengungkapkan, biaya kuliah yang mahal menuntut mahasiswa untuk rajin kuliah dan tidak banyak melakukan aktivitas di luar perkuliahan sehingga bisa lebih cepat lulus.

    ”Kebijakan otonomi kampus membuat biaya pendidikan lebih mahal. Akibatnya, mahasiswa hanya rajin untuk kuliah, tidak mau lagi aktif di BEM yang pasti menyita banyak waktunya,” kata Desi.

    Terlambat lulus

    Konsekuensi aktivis BEM lumayan berat. Setidaknya, itu yang dirasakan Muhammad Arief, mahasiswa Jurusan Akidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri (FUSAP UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Dia sudah satu setengah tahun ini menjabat sebagai Ketua BEM FUSAP UIN Sunan Kalijaga.

    ”Dalam AD/ART kami, pengurus yang masih menjabat tidak boleh mengikuti KKN (Kuliah Kerja Nyata). Padahal, saya sudah semester VI dan harus ikut KKN. Tetapi, kalau ikut KKN, saya harus mundur dari jabatan. Saya memilih terlambat lulus kuliah,” katanya.

    Itu semua dilakukan Arief untuk mendapatkan banyak pengalaman yang bisa menjadi bekal setelah dia lulus dan menyandang gelar sarjana.

    ”Ini sudah menjadi keputusan pribadi. Saya yakin masa depan saya bukan hanya dari ijazah S-1. Saya bisa lebih matang ketika lulus daripada mahasiswa yang tidak mempunyai pengalaman berorganisasi,” kata Arief yang aktif di BEM sejak semester II.

    Syahrul Hidayah, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, mengatakan, menjadi pengurus BEM merupakan salah satu cara untuk berpartisipasi dalam kegiatan positif mahasiswa.

    ”Aktualisasi diri seorang mahasiswa dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yang positif. Mahasiswa memiliki bentuk idealisme masing-masing, yang diimplementasikan dengan tindakan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tidak bisa kita mengatakan bahwa anak BEM lebih baik dari yang non-BEM,” kata Syahrul.

    Banyak cara yang bisa dilakukan mahasiswa, lanjut Syahrul, misalnya ada yang memilih berbisnis sebagai sarana untuk memajukan dirinya, ada juga yang masuk menjadi anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM), ada pula yang terjun langsung ke masyarakat untuk melakukan berbagai kegiatan sosial.

    ”Oleh karena itu, mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa diharapkan terus mengembangkan kemampuannya, baik itu soft skill maupun hard skill. Semua itu juga bekal agar kita dapat menjadi pemecah permasalahan bangsa, bukan malah menambah kerumitan permasalahan,” tegasnya.

    Nah, kini tergantung dari tiap mahasiswa apa yang bisa disumbangkan untuk negara tercinta ini. BEM memang bukan satu-satunya kegiatan yang memberikan ”warna” dalam kehidupan mahasiswa. Banyak warna lain yang bisa menjadi pilihan kita….
    (SUSIE BERINDRA)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Teknologi Digital dalam Revolusi Politik

    ”Jika pemerintah Anda menutup internet, tiba waktunya untuk menutup (mengakhiri) pemerintahan tersebut” (slogan mutakhir di internet. The Economist, 12/2).

    Digunakannya teknologi digital atau teknologi-informasi-komunikasi (TIK) dalam kegiatan politik sebenarnya bukan cerita baru. Reformasi di Indonesia pada 1998 sudah menyaksikan penggunaan internet, yang baru beberapa tahun populer di negeri ini, juga layanan singkat melalui telepon seluler (SMS), yang juga baru marak sekitar tiga tahun, digunakan luas dari Gedung MPR/DPR saat itu, baik oleh mahasiswa, wartawan, maupun oleh aktivis politik.

    Setelah itu, dunia juga menyaksikan aksi people’s power kedua pada 2001 di Filipina untuk menggulingkan pemimpin yang diduga korup saat itu. Berikutnya, cerita tentang penggunaan TIK untuk pembangkangan politik juga muncul di sekitar aktivis politik China. Hari-hari ini, tak lama setelah Presiden Mesir Hosni Mubarak yang sudah berkuasa selama 30 tahun terguling, wacana TIK dalam revolusi politik masih terus hangat.

    Dari berbagai penuturan koresponden kantor berita dan surat kabar yang bertugas di Mesir, dan juga di Tunisia, banyak terungkap berbagai aspek dalam aksi yang secara mendalam akan mengubah jagat politik di Timur Tengah ini.

    Kita angkat kembali soal ini karena dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, penggunaan TIK hari-hari ini telah mengalami perubahan besar, khususnya dalam lingkup dan kecepatan. Kalau politisi yang mau maju dalam kontes politik lalu membuat website internet, sekarang ini sudah tergolong standar.

    Tukar info dan galang aksi

    Membaca analisis David D Kirkpatrick dan David E Sanger di The New York Times (13/2) kita dapat mengikuti luasnya aliran tukar-menukar info di kalangan para aktivis prodemokrasi di Tunisia dan Mesir. Saat demonstran Mesir menghadapi petugas keamanan pro-Mubarak, mereka teringat nasihat yang diberikan oleh rekan mereka, pendemo di Tunisia. Mereka harus menaruh jeruk, cuka, atau bawang merah di bawah scarf untuk menangkal gas air mata. Mereka juga diingatkan agar membawa soda dan susu untuk keperluan tersebut. Informasi itu sendiri dipertukarkan melalui Facebook.

    Pemuda-pemuda Tunisia dan Mesir curah pendapat menggunakan teknologi guna menghindari aksi mata-mata pemerintah. Mereka juga saling tukar info bagaimana bertahan terhadap peluru karet atau memasang barikade.

    TIK, yang banyak di antaranya berasal dari Lembah Silikon, juga diakui peranannya sebagai wahana untuk mengomunikasikan gerakan—dalam arti juga untuk memasarkan ide revolusi.

    Memasarkan ide secara online semakin berarti ketika aktivis (yang menurut perannya harus terjun di depan umum) banyak yang lalu ditahan. Aktivis yang bebas kemudian banyak yang beralih ke internet serta terus menyebarkan ide dan melakukan penggalangan melalui blog. Cara ini kemudian juga memberikan ketahanan bagi pergerakan. Ahmad Maher, misalnya, yang dikenal sebagai tokoh gerakan, membangun grup di Facebook dan menggunakannya sebagai simpul gerakan.

    Selain untuk sosialisasi ide, TIK juga dimanfaatkan untuk penggalangan dana, misalnya di Mesir untuk pembelian selimut dan tenda bagi aktivis yang ingin bertahan di Alun-alun Tahrir, aplikasi serupa dengan yang digunakan Tim Sukses Barack Obama saat pemilihan umum presiden.

    Mengapa Revolusi Mesir banyak ditopang oleh orang muda? Selain pemuda secara fitrah masih memiliki fisik dan semangat perjuangan kuat, pemuda masa kini juga lebih terekspos dengan TIK. Masuknya Wael Ghonim (31), yang merupakan eksekutif Google, ke dalam pergerakan Mesir menjadi aset tersendiri.

    Reaksi otoritas

    Dengan menyadari bahwa orang muda semakin punya kapasitas dan cakap menggunakan TIK, dan sementara itu kondisi sosial politik acap kali dilanda ketidakstabilan, wajar apabila mimpi buruk seperti Tunisia dan Mesir menghinggapi banyak rezim di dunia. Apabila di sini sempat muncul wacana untuk melarang TIK, seperti BlackBerry atau Twitter, karena potensial melahirkan ancaman terhadap negara, ini pun merupakan ekstensi permasalahan yang ditimbulkan oleh makin cairnya penguasaan TIK di kalangan masyarakat. Tidak terbatas pada kalangan muda yang prodemokrasi atau propemerintahan bersih di dalam negeri, tetapi juga oleh kalangan lain yang punya agenda selain itu di dalam atau di luar negeri. Wacana perang asimetri, yang antara lain diwujudkan dengan pemanfaatan TIK, diperkirakan juga ikut membentuk persepsi pemerintah mengenai potensi pemanfaatan TIK.

    Dalam kaitan ini, tak kurang di Amerika Serikat pun sempat muncul wacana untuk menutup layanan internet. Senator AS mengusulkan rencana undang-undang pemberian kekuasaan darurat kepada presiden untuk menutup sebagian internet sebagai pertahanan terhadap serangan cyber. Namun, di Mesir pada 28 Januari lalu, internet ditutup karena diketahui merupakan pilar fundamental perjuangan demokratisasi. Menyusul aksi Pemerintah Mesir di atas, otoritas internet di sejumlah negara, seperti Jerman, Austria, dan Australia, menegaskan, pemerintah negara-negara tersebut tidak akan menginginkan adanya kekuasaan semacam itu (menutup internet) (The Economist, 12/2).

    Seperti terbukti di Mesir, ditutupnya layanan internet dan seluler tetap tak sanggup menahan kuatnya tekanan aksi prodemokrasi. Tampaknya TIK telah ditakdirkan menjadi pilar kokoh penegakan politik terbuka dan demokratis. Dalam kaitan ini, rakyat—di mana pun berada—diingatkan bahwa akses internet kini semakin diterima sebagai bagian dari hak asasi manusia.
    OLEH NINOK LEKSONO

    Source: Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.