siwah.com

Tag: asia

  • Demokrasi Asia Beda dengan Barat

    Phnom Penh, Kompas – Asia memiliki nilai-nilai demokrasi yang berbeda dengan dunia Barat. Praktik pemenang mengambil semua (the winner takes all) yang biasa terjadi dalam demokrasi Barat, akan menimbulkan banyak persoalan jika diterapkan dalam demokrasi di Asia. Kondisi itu terjadi karena Asia sangat majemuk. Ada beragam kebudayaan dan agama yang menjadi pilar demokrasi.

    ”Asia memiliki nilai demokrasi sendiri yaitu kompromi, dialog, dan pendekatan yang lebih mementingkan budaya musyawarah. Namun, semua itu tetap dilakukan secara demokratis,” kata mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat berbicara dalam forum internasional ”Abad Asia: Tantangan dan Peluang”, di kantor Perdana Menteri Kamboja di Phnom Penh, seperti dilaporkan wartawan Kompas M Hernowo, Senin (19/9).

    Dalam acara yang dibuka Wakil Perdana Menteri Kamboja Sok An itu juga menghadirkan mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra, mantan Ketua Parlemen Filipina Jose de Venecia, serta Ketua Institut Pakistan-China Mushahid Hussain Sayed.

    Jusuf Kalla menuturkan, perdamaian seperti di Kamboja dan Aceh, tercipta karena ada kompromi dan dialog. Untuk membangun kompromi dan dialog memang tidak mudah, namun pengalaman membuktikan cara itu lebih efektif dan praktis. Negara-negara di Asia, lanjut Jusuf Kalla, juga membutuhkan lebih banyak kerja sama untuk menciptakan stabilitas keamanan yang akhirnya akan mendorong terjadinya stabilitas politik dan ekonomi.

    ”Pada tahun 1950-an, banyak orang berkata, Eropa adalah masa lalu, Amerika merupakan masa kini, dan Asia menjadi masa depan. Dengan 60 persen penduduk dunia tinggal di Asia, benua ini menjadi pasar yang amat produktif. Namun, itu semua tidak akan banyak berarti tanpa adanya stabilitas ekonomi dan politik,” papar Jusuf Kalla yang dalam acara itu sempat disebut Jose de Venecia sebagai pahlawan perdamaian di Aceh.

    Wakil PM Kamboja Sok An menambahkan, perdamaian menjadi pilar penting untuk menciptakan stabilitas politik guna mendukung pembangunan ekonomi dan kemakmuran. Beberapa negara Asia, masih mencari untuk menciptakan rekonsiliasi nasional guna membangun stabilitas politik. Namun, juga banyak negara di Asia yang telah memetik keuntungan dari pertumbuhan ekonomi global.

    Acara ini juga dimanfaatkan Jusuf Kalla untuk melakukan pembicaraan empat mata dengan Thaksin Shinawatra. Pertemuan itu membahas antara lain tentang masa depan ekonomi Asia, khususnya terkait Indonesia dan Thailand. Saat ini, Thaksin lebih berkecimpung di dunia bisnis.

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Universitas yang Tidur dalam Kemewahan

    Paling tidak lima tahun terakhir universitas-universitas di Indonesia secara serentak menslogankan ”universitas kelas dunia” seperti nyanyi vokal yang tidak jelas bunyi awal dan akhirnya. Bunyi nyanyi itu indah didengar dan dibayangkan, tetapi buruk dilihat dan pahit dirasakan. Realitasnya, universitas-universitas di Indonesia tidak pernah menduduki peringkat puncak di Asia, bahkan di Asia Tenggara.

    Dibandingkan dua jirannya, Malaysia dan Singapura, keterpurukan itu terlihat jelas. Beberapa universitas Malaysia dan Singapura pernah menduduki posisi puncak Asia. National University Singapura, misalnya, di ranking ketiga Asia tahun 2009, Universiti Malaya di ranking ke-4 Asia (2004), dan Universitas Kebangsaan Malaysia masuk 200 dunia pada 2006.

    Tahun ini, dari ranking versi QS (London), Indonesia secara keseluruhan belum mencatat capaian impresif, betapapun banyak komentar subyektif mengagulkan diri dari pejabat perguruan tinggi. Ketika Malaysia menempatkan lima universitasnya dalam 100 terbaik Asia, Indonesia hanya menempatkan dua universitas. Universiti Malaya (Malaysia) di ranking 42 Asia, turun setingkat dari 2009, Universiti Kebangsaan Malaysia (58), Universiti Sains Malaysia (69), Universiti Putra Malaysia (77) dan Universiti Teknologi Malaysia (90).

    Sementara Indonesia, posisi terbaik dicapai Universitas Indonesia (UI) yang masuk 50 besar Asia dan Universitas Gajah Mada (UGM, 85). Selebihnya di luar angka 100. Institut Teknologi Bandung (ITB) terlempar ke peringkat 113 Asia, kalah dari Universitas Airlangga (Unair, 109). Sementara Institut Pertanian Bogor (IPB) di peringkat 119 dan Universitas Padjadjaran (Unpad) serta Universitas Diponegoro (Undip) di ranking 161. Universitas luar Jawa yang tertua, Universitas Andalas Padang dan Universitas Makassar tidak masuk 200 Asia. Apa sebenarnya kunci di balik sukses dan ”sukses” para universitas di atas? Perbandingan bisa menjadi salah satu ilustrasi.

    Lemah basis pustaka

    Adalah kenyataan, di Indonesia universitas yang masuk peringkat 200 besar Asia adalah universitas yang ada di Pulau Jawa. Maknanya, pembangunan pendidikan tinggi ternyata masih berfokus di pusat-pusat kekuasaan. Satu warisan sentralisme sejak awal republik, bahkan sejak kolonial.

    Di luar itu, universitas-universitas di Indonesia juga belum memiliki satu kebijakan pendidikan yang progresif dan reformatif untuk—katakanlah—membangun sistem dan fasilitas pendidikan berkelas dunia. Di Malaysia, fasilitas dunia segera tampak hampir di semua fasilitasnya, mulai laboratorium, ruang kuliah, perpustakaan, sampai anggaran operasionalnya.

    Sementara di Indonesia, dari segi perpustakaan saja, Universitas Indonesia (kini masuk 50 Asia) hanya bisa meminjamkan lima buku ke tiap mahasiswa, durasi 15 hari, dengan perpanjangan 45 hari. Sistem peminjaman dan pengadaannya juga umumnya bersifat lokal, bahkan manual. Di Malaysia, semua mahasiswa bisa meminjam 20 buku per kartu, masa pinjam 40 hari dan bisa diperpanjang sampai 140 hari. Semua dilengkapi sistem jejaring elektronik dan dapat bertukar akses dengan berbagai perguruan tinggi dunia.

    Perguruan tinggi di Malaysia amat sadar akan pentingnya buku. Itu terlihat dari upaya keras mereka meningkatkan kuantitas koleksi tiap tahun. Mereka punya tim pemburu buku dan jaringan pemesanan buku di berbagai tempat di dunia, termasuk Indonesia. Tidak salah jika berbagai terbitan dan kliping Indonesia disimpan di sejumlah universitas Malaysia.

    Kita dengan mudah menemukan koleksi lengkap majalah Editor, Tempo, Pandji Masyarakat, Suara Mesjid, Horison, dan majalah yang (mungkin) dianggap tak penting di Indonesia seperti Aneka Minang—terbit tahun 1970-an. Kita pun bisa mendapat majalah terbitan Hindia Belanda seperti Indische Verslag, Koloniale Studien, De journalistiek van Indie, dan Kroniek Oostkust van Sumatra Instituut, sekadar contoh. Semua majalah itu disimpan bersama ribuan jurnal lama dan terbaru dari berbagai disiplin ilmu yang terbit dari berbagai sudut dunia, dari berbagai universitas terkemuka dunia.

    Perpustakaan mereka dilengkapi ruang audio visual, yang menyimpan dokumen mikrofilm, CD-DVD, kaset, dan film. Juga disediakan ruangan untuk mahasiswa peneliti, ruang diskusi, dan ruang laboratorium komputer-cyber, serta bioskop mini untuk memutar film.

    Tidak salah jika mahasiswa Muslim Asia berbondong-bondong ke Malaysia untuk melanjutkan studi, termasuk dari Indonesia. Semua bisa mendapat beasiswa dan menjadi asisten riset. Gajinya jelas lebih besar dari gaji dosen golongan IVa di Indonesia.

    Di Indonesia

    Indonesia dengan kebijakan hebat meningkatkan porsi anggaran pendidikan hingga 20 persen, ternyata malah cenderung menswastakan universitas negeri. Artinya, memindahkan beban yang harus dipikul negara ke rakyat banyak. Dengan PDB tertinggi di ASEAN, sekitar 5.000 triliun rupiah, porsi 20 persen dari APBN tentu sangat signifikan. Namun, mengapa justru perguruan tinggi makin menguatkan diri sebagai komoditas mewah yang bisa diakses hanya oleh sebagian kecil penduduk?

    Sebenarnya Indonesia hingga saat ini—walau diam-diam—masih jadi acuan utama bagi Malaysia, dan mungkin bagi sebagian negara ASEAN. Bangsa Indonesia disukai karena dianggap lebih dinamis, kreatif, dan egaliter—ini sangat disenangi dosen-dosen Malaysia. Bangsa Indonesia memiliki dasar historis dan basis budaya pendidikan yang kuat dibandingkan Malaysia atau negara lain. Gairah intelektualnya lebih dahulu muncul dibandingkan Malaysia.

    Kondisi geografis, politis, historis, hingga kultural Indonesia menempati posisi tersendiri karena kekayaan, kebesaran, dan kematangannya. Namun, sayang, semua itu tidak dijadikan dasar kuat membuat perguruan tinggi yang bisa menjadi acuan terbaik. Kita ingat, di abad ke-7, di masa Sriwijaya, kita sudah punya universitas yang jadi acuan banyak negara. Mungkin itu salah satu universitas tertua di dunia.

    Sayang sekali, kita seperti tertidur dalam kemewahan warisan hebat di atas. Adakah karena kebijakan dan sistem yang tidak cerdas atau manusianya yang tidak cerdas. Jawabannya harus kita dapatkan bersama. Bersama-sama.

    WANNOFRI SAMRY Dosen Universitas Andalas, Mahasiswa Doktoral Universiti Kebangsaan Malaysia

    Source: kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.