siwah.com

Tag: cagub

  • Empat Pasangan Siap Bertarung

    Banda Aceh, Kompas – Empat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang akan bertarung dalam Pemilu Kepala Daerah Aceh, 16 Februari 2012 mendatang, pada Senin (2/1), secara resmi mendapatkan nomor urut pencalonan. Mereka adalah Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan, Darni M Daud-Ahmad Fauzi, Ahmad Tajuddin-Teuku Suriansyah, dan Muhammad Nazar-Nova Iriansyah.

    Penarikan nomor urut pasangan calon tersebut digelar oleh Komisi Pemilihan Independen (KIP) Aceh di Hotel Hermes, Banda Aceh, Senin. Pasangan Darni M Daud mendapat giliran pertama. Disusul Nova Iriansyah, Irwandi, dan Ahmad Tajuddin. Kecuali Muhammad Nazar, semua kandidat gubernur dan wakil gubernur hadir dalam acara tersebut.

    Dari hasil penarikan nomor tersebut, pasangan Ahmad Tajuddin-Teuku Suriansyah mendapat nomor urut 1. Gubernur petahana Irwandi Yusuf yang berpasangan dengan mantan Kepala Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh Muhyan Yunan mendapat nomor urut 2.

    Rektor Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Darni M Daud yang menggandeng Ahmad Fauzi sebagai calon wakil gubernur mendapat nomor urut 3. Wakil gubernur petahana Muhammad Nazar yang berpasangan dengan Nova Iriansyah mendapat nomor urut 4.

    Ketua KIP Aceh Abdul Salam Poroh mengatakan, penetapan nomor urut merupakan tahap akhir dari tahapan pencalonan, seperti tertuang dalam Surat Keputusan KIP Nomor 26 Tahun 2011 tentang Tahapan Pilkada.

    ”Setelah ditetapkan menjadi kandidat tetap dan nomor urut, maka para kandidat harus memperhatikan larangan berkampanye,” kata Poroh.

    Kandidat petahana diwajibkan mengambil cuti pada saat kampanye. Dari empat pasangan calon gubernur yang akan bertarung dalam Pilkada Aceh pada 16 Februari 2012, ada dua pejabat petahana, yakni Irwandi (Gubernur Aceh) dan M Nazar (Wakil Gubernur Aceh). Keduanya akan mengakhiri masa tugasnya pada 8 Februari.

    Dari 127 pasangan yang mendaftar dalam Pilkada Aceh (tidak termasuk kandidat yang mendaftar di KIP Pidie), hanya 115 pasangan yang dinyatakan lolos verifikasi. Adapun 12 pasangan lainnya tak lolos. Dari 12 pasangan yang gagal tersebut, dua di antaranya didukung koalisi partai. Selebihnya berasal dari jalur perseorangan. (HAN)

    Source : Kompas.com

  • Darni Daud Diultimatum, Pilih Rektor Unsyiah Atau Cagub

    Banda Aceh | Harian Aceh – Sejumlah anggota Senat Universitas Syiah Kuala memprotes sikap Darni M Daud yang tidak tegas dalam berpolitik. Mereka mengultimatum Darni segera menentukan sikap, pilih rektor atau calon gubernur.

    “Kalau memilih tetap menjadi rektor, harus mundur dari bursa calon gubernur. Begitu juga kalau memilih maju sebagai cagub, harus mundur dari rektor Unsyiah,” kata Prof Yusuf Azis, Guru Besar yang juga anggota Senat Unsyiah, Kamis (15/12).

    Dikatakannya, persoalan itu sebenarnya bukan boleh tidaknya Darni menjadi Cagub di saat masih memegang jabatan Rektor Unsyiah. “Tapi ini soal sikap dan wibawa sebuah lembaga pendidikan. Kalau ragu-ragu, kita khawatirkan yang bersangkutan justru akan kehilangan kedua-duanya,” kata Yusuf Azis.

    Yusuf Azis mengatakan ketegasan dari rektor sangat penting dalam kondisi perpolitikan Aceh saat ini. “Apalagi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 53 tahun 2011 mengharuskan setiap Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk bersikap netral. Hal ini sepatutnya dijaga serta ditaati,” sebutnya.

    Terlepas dari perdebatan apakah rektor termasuk jabatan fungsional atau struktural, lanjut dia, sikap Darni yang abu-abu akan merugikan karier politiknya serta kelembagaan Unsyiah ke depan. ”Janganlah ada statemen ke depan lagi, saya maju untuk hanya menunda Pemilukada. Kita berharap Darni harus tegas dalam berpolitik,” kata Dekan FKIP Unsyiah ini.

    Anggota Senat Unsyiah lainnya, Prof Husni Jalil menambahkan, PP No.53/2011 mengamanahkan bahwa PNS tidak boleh terlibat dalam kegiatan politik serta mendukung salah satu kandidat kepala daerah. “PNS bahkan dilarang memberikan Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk mendukung salah satu calon independen,” kata Guru Besar dari Fakultas Hukum Unsyiah ini.

    Dia menjelaskan, bagi para PNS yang ingin mencalonkan diri sebagai kepala daerah diwajibkan untuk menyerahkan surat pernyataan pengunduran diri dari jabatan PNS. “Ketegasan ini tercantum dalam Pasal 59 UU No.12/2008 huruf a. Jadi bukan harus mengundurkan diri dari PNS, tetapi cukup dari jabatan PNS,” sebut Husni Jalil.

    Tuntutan agar Darni M Daud menanggalkan jabatan rektor Unsyiah juga terus disuarakan sejumlah mahasiswa. Bahkan, para mahasiswa membentuk posko antipolitisasi kampus Unsyiah di lapangan kampus, terkait pencalonan sebagai kandidat gubernur Aceh periode 2012-2017.

    Selain Rektor, mahasiswa juga mendesak para dosen yang terlibat dalam tim sukses kandidat kepala daerah agar non-aktif sementara dari kegiatan kampus.

    Sementara itu, Sekretaris Senat Unsyiah Prof Said Muhammad mengatakan hingga kini belum ada rapat senat khusus terkait ultimatum terhadap Darni. ”Belum ada rapat senat terkait masalah ini. Pendapat para guru besar soal jabatan Rektor adalah pendapat pribadi,” tegasnya di sela-sela pengukuhan tiga guru besar baru di lingkungan Unsyiah, kemarin.

    Sebelumnya, Darni mengatakan dirinya tidak perlu mengundurkan diri karena jabatan rektor berbeda dengan jabatan struktural lainnya. Bahkan Darni sempat mengeluarkan statemen bahwa dirinya mencalonkan diri agar Pemilukada ditunda.

    Darni maju sebagai calon gubernur berpasangan dengan Ahmad Fauzi, dosen di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Dia mendaftarkan diri ke KIP dengan memanfaatkan penambahan waktu pendaftaran calon sebagaimana amanah Mahkamah Konstitusi dalam putusan sela sengketa tahapan Pemilukada Aceh.(mur/mrd)

    Source : Harian Aceh

  • Golkar Tak Jadi Daftar, Sulaiman Abda No Comment

    BANDA ACEH – Partai Golongan Karya yang sempat dikabarkan akan mendaftarkan pasangan Sulaiman Abda dan Tarmizi Karim batal mendaftar ke Komisi Independen Pemilihan (KIP) hingga batas waktu berakhir pukul 00.00 wib.

    Informasi rencana pendaftaran pasangan ini beredar cepat di kalangan wartawan. Pantauan The Atjeh Post, Tarmizi Karim sempat beberapa jam berada di kantor Golkar Aceh pada Jumat (7/10) malam, menjelang batas akhir pendaftaran ke kantor KIP.

    Tak diketahui pasti kenapa pasangan ini urung mendaftar sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Aceh. Sumber The Atjeh Post di Golkar Aceh mengatakan, Tarmizi datang dengan membawa dukungan dari partai lain. Sebab, electoral trashold Golkar tak mencukupi untuk mendaftar sendiri dan harus menggandeng partai lain sebagai pendamping.

    Sempat pula beredar kabar, pasangan ini didukung Partai Amanat Nasional. Namun, kepada The Atjeh Post, Sekretaris PAN Aceh Tarmidinsyah Abubabakar tegas membantah,”PAN tidak mendukung calon manapun selama belum ada kejelasan soal aturan hukum pilkada.”

    Pukul 00.10 wib, Sulaiman Abda turun dari lantai II kantor Golkar Aceh di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah. Namun, ketika ditanya soal pendaftaran calon gubernur, Sulaiman menolak berkomentar. “No comment,” katanya sambil berlalu menuju mobilnya.

    Dikonfirmasi terpisah, Tarmizi Karim membenarkan rencana mendaftar dari Golkar. “Tapi kalau tidak mendaftar tidak apa-apa juga, berarti kita gak ikut pilkada,” ujar Tarmizi Karim melalui telepon selular.

    Ketika ditelepon, Tarmizi mengaku sedang rapat. Lalu pembicaraan terputus lantaran dia harus melanjutkan rapat. “Nanti kita ngobrol lagi ya,” ujarnya. Klik, sambungan telepon pun terputus.

    Tarmizi Karim adalah mantan bupati Aceh Utara. Pria asal Lhoksukon ini, saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Diklat Kementerian Dalam Negeri. Sebelumnya, ia sempat menjadi penjabat sementara Gubernur Kalimantan Timur. []

    Source : The Atjeh Post

  • Siapa yang Bakal Mengusung Nazar?

    BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Hingga menjelang berakhirnya masa pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur yang ditetapkan Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh hari ini, belum jelas partai mana saja yang bakal mengusung Muhammad Nazar. Nazar pun malu-malu membuka “rahasia” partai apa saja yang bakal menjadi kendaraannya menuju kursi Aceh 1.

    Informasi yang dihimpun acehkita.com menyebutkan, Nazar akan diusung sejumlah partai nasional. Partai yang disebut-sebut bakal menjadi kendaraan politik pria yang kini masih menjabat Wakil Gubernur itu adalah Demokrat, yang harus berkoalisi dengan partai lain untuk bisa mengajukan calon.

    Sumber acehkita.com menyebutkan, Nazar akan diusung Partai Demokrat, yang akan menempatkan kadernya sebagai pasangan Nazar. “Ia berpasangan dengan Nova Iriansyah,” kata sumber acehkita.com, Jumat (7/10).

    Nova Iriansyah merupakan anggota DPR RI asal Aceh yang pernah memimpin Demokrat Aceh. Menurut sumber tadi, Nova dipasang untuk mendulang suara pemilih di pantai Tengah Aceh. Sebab, Nova berasal dari Aceh Tengah.

    Pertengahan Agustus lalu, Nazar pernah menyiratkan kemungkinan berduet dengan Nova. “Nova masuk dalam bursa. Ia mewakili daerah Tengah,” kata Nazar dalam bincang-bincang dengan acehkita.com, Agustus lalu.

    Namun Ketua Partai Demokrat Aceh Mawardy Nurdin enggan menyebutkan kandidat yang bakal diusung partainya. “Itu menjadi kewenangan Majelis Tinggi partai,” kata Mawardy Nurdin kemarin.

    Mawardy menyebutkan, partainya akan berkoalisi dengan partai nasional. Nama-nama kandidat yang masuk survei Demokrat adalah Muhammad Nazar, Ahmad Farhan Hamid, dan Tarmizi A. Karim.

    “Semua yang kita survei, masuk bursa,” lanjutnya.

    Demokrat dikabarkan akan mendaftarkan jagoannya ke KIP Aceh hari ini. Sebab, hari ini merupakan tenggat bagi kandidat mendaftarkan diri. Nazar juga menyiratkan akan mendaftar pada Jumat (7/10). “Dari koalisi partai,” kata dia soal kendaraan yang digunakan untuk melaju ke Aceh 1. []

    Source : Acehkita.com

  • Farhan Siap Maju Aceh 1

    Banda Aceh – Wakil Ketua MPR Ahmad Farhan Hamid mengatakan dirinya siap maju menjadi salah seorang calon gubernur Aceh dalam pilkada mendatang selama dirinya diusung oleh sejumlah partai nasional dan lintas partai.

    “Kalau hanya diusung Forum Lintas Partai Politik Aceh (FLP2A). Saya belum tentu maju menjadi salah seorang calon gubernur Aceh mendatang,” ucap mantan Anggota DPR-Ri dalam silaturrahmi calon gubernur Aceh dengan FLP2A, Selasa, 20 September 2011 di hotel Sultan Banda Aceh.

    Menurut Anggota DPD RI asal Aceh ini, dirinya akan maju apa bila didukung oleh sejumlah partai besar dan FLP2A, kalau hanya forum ini saja tidak mungkin maju, karena apabila ada beberapa parnas besar dan forum lintas partai bersama-sama mengusung dirinya akan akan ada kekuatan utnuk membangun Aceh.

    “Jadi atau tidak saya sebagai calon gubenrur pada Pilkada ke depan ini tidak tergantung pada saya, tetapi kemauan bersama, ada beberapa partai meminta saya agar saya menjadi gubernur, saya katakan jangan dulu, saya tidak mungkin menyatakan diri sebagai gubernur, nanti apa kata orang,”sebutnya.

    Farhan berharap FLP2A bisa menjadi titik awal dalam mempersatukan partai-partai lainnya, serta menjadi pendorong dirinya untuk maju dalam dalam Pilkada ke depan. Ada beberapa Parnas besar di Aceh, kata Farhan, meminta dirinya untuk maju sebagi calon gubernur Aceh dan juga meminta untuk segera mendeklarasikannya, namun Farhan mengaku tidak mau tergesa-gesa memenuhi permintaan tersebut.

    Dalam silaturrahmi tersebut, Farhan juga memaparkan kondisi Aceh yang sangat memprihatinkan dan banyak hal yang harus dibenahi kedepan, “Siapapun dia calon gubernur kedepan banyak yang harus dilakukan untuk membauat Aceh lebih maju lagi,” ungkap putra kelahiran Samalanga, Kabupaten Bireun.

    Forum Lintai Partai Politik Aceh adalah kumpulan 25 partai politik nasional dan lokal. Forum itu dipimpin Ketua Partai Keadilan dan Persatuan PKPI Aceh Firmandez. Selain Firmandes, Forum Lintas Partai ini juga dimotori oleh beberapa politisi seperti Erli Haris (PKB), Tengku Muhibussabri (Partai Daulat Aceh), Ir Syafruddin (Partriot), Irmawan (PKB), Karimun Usman (PDIP), Zainal Sabri (Gerindra), dan Syahruddin Budiman (Hanura).

    Source : The Globe Journal

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Kungfu Politik Muhammad Nazar

    Muhammad Nazar

    RUMAH bercat krem ini langsung berhadapan dengan lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Tiba pukul 09.30 WIB, Sabtu 17 September 2011, saya langsung menuju pos penjagaan di sebelah kiri rumah. Sejumlah polisi berpakaian lengkap, dan ada juga beberapa orang berpakaian rapi sedang asyik ngobrol. Lamat-lamat terdengar, mereka bicara soal penceramah agama. Kadang serius, sesekali mereka terbahak-bahak.

    Mendadak mereka berhenti bicara tatkala saya menyapa dan menyampaikan tujuan saya datang untuk bertemu Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar. Setelah menyebut identitas, tanpa proses berbelit seseorang di antaranya langsung masuk ke rumah dari pintu garasi samping kiri.

    Sambil menunggu, saya coba mengusir kebekuan di pos jaga. “Tadi diskusi Teungku Saiful ya,” saya bertanya. Saiful adalah khatib salat Jumat yang digebuk orang saat khutbah di masjid Keumala, Pidie, dua pekan lalu. “Ooohhh…. Bukaaan,” serempak mereka menjawab. Kebekuan pun kembali menyergap. Malu juga. Inilah akibatnya kalau sok tahu. Mau bertanya apa lagi? “Wah, asyik juga ada telivisi ya,” saya coba pada keramahan berikutnya. “Biasa saja Bang,” jawab polisi di situ, tapi dengan wajah yang ramah juga. Alamak, mati kutu jadinya.

    Syukurnya, kegiatan seperti ini terhenti dengan datangnya seseorang yang mempersilahkan masuk ke rumah melalui pintu samping kiri. Duduk di sofa coklat muda yang tak bisa dibilang baru, di sebelah kiri ada meja rapat. Dinding rumah dari wallpaper warna coklat tua. Kelihatannya tak terawat, sudah mengelupas di sana sini.

    Mendongak ke atas banyak bekas bocor, terlihat banyak warna hitam menodai gipsum plafon putih. Jangan-jangan rumah ini belum pernah diperbaiki setelah tenggelam akibat tsunami pada 24 Desember 2004. Di sini ditemukan 97 jenazah manusia.

    ***

    “Bapak masih tidur,” pemberitahuan yang tiba-tiba dari seorang pria itu membuyarkan lamunan saya, dahi saya berkerut. “Tadi, jam tujuh pagi baru tidur, semalaman menerima tamu terus,” dia seperti menerka pertanyaan dari benak saya. Tanpa menghiraukan dia menghidangkan segelas kopi, reflek mata saya langsung melihat penunjuk waktu di dinding. Lima menit lagi pukul 10.00 pagi. Tak apa saya tunggu sebentar lagi.

    Bagitu jarum jam menunjuk ke pukul sepuluh, telepon selular saya berdering. “Sudah ada di rumah ya? Tunggu sebentar saya baru bangun, laptop pun masih di atas perut saya ini. Saya mengetik sampai tertidur barusan,” di ujung telepon itu jelas suara Nazar. “Baik,” saya menjawab singkat saja. Saya memang sering agak ragu untuk menyebut apa ketika menyapa pejabat satu ini. Biasanya saya akan memanggil “Abang” untuk setiap tokoh yang saya wawancara.

    Lahir di Ulim, Pidie (sekarang masuk wilayah kabupaten baru Pidie Jaya) pada 1 Juli 1973, usianya lebih muda enam tahun dibanding saya. Dia menjabat sebagai Wakil Gubernur Aceh di usia 34 tahun. Jadi lebih mudah menyapanya dengan singkatan dari jabatannya saja “Wagub”.

    “Ayo, kita sarapan dulu,” berbaju batik coklat Nazar nongol dari lorong rumahnya yang menuju ke ruang makan. Nggak jelas, ini waktunya sarapan pagi atau makan siang. Saya ikuti saja. Nah, ini juga sebuah ruang makan yang nggak ada penataannya. Barantakan. “Memang begini keadaannya, jadi santai sajalah,” kata Nazar setelah melihat mata saya yang liar merayap ke seluruh ruangannya.

    Kami melahap nasi berlauk udang goreng, eungkeut keumamah, dan sayur bayam. “Jika begini kondisi rumah, berantakan dan tak terurus, kenapa tak menempati rumah pribadi saja,” saya bertanya. “Saya belum bangun rumah, yang ada rumah mertua saya di Banda Aceh ini,” katanya. Istrinya, Dewi Mutia, putri seorang saudagar di Banda Aceh.

    ****

    Sebilah samurai Jepang tergeletak di sebuah meja yang dipenuhi berbagai penghargaan di ruang tamunya. Ketika saya tarik dari sarungnya, warna besinya kusam ada ukiran yang menyiratkan tanda tentara Jepang. “Samurai itu memang kenang-kenangan dari tentara Jepang,” katanya. Di dekat pintu, ada sebuah kursi akar kayu gruphal (kayee grupai untuk membuat peti jenazah).

    Hanya ada tiga foto Nazar bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang tergantung di dinding ruangan ini. Selebihnya adalah lukisan yang di antaranya berserak di berbagai sudut. Tampaknya dia suka seni lukis. “Ada 50 lukisan yang saya simpan di rumah ini,” katanya. Sebagian besar adalah kaligrafi. Salah satunya, ada kaligrafi karya Said Akram yang menggambarkan ayat-ayat Al-Quran keluar dari sebatang pohon yang sudah terpotong, berlatar kerusakan alam dan kebakaran.

    Selain kaligrafi, ada juga karya Mahdi Abdullah, berupa lukisan tiga lembar daun pisang berdiri, di dua daun pisang tersembul tangan orang yang sedang shalat. “Ini bermakna, tentang kondisi daerah kita yang menjalankan syariat secara malu-malu,” kata Nazar.

    Tentu saya tak pernah berniat mendebatnya tentang pemahaman ilmu Islam. Dia sejak masuk Madrasah Ifitidayah Negeri (MIN) sudah bisa membaca bahasa Arab. Di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) dia sudah menjadi guru ngaji. Maklumlah, ayahnya Meurah Ja’far memang seorang imam masjid yang juga guru di Ulim. Garis keturunan mereka dari Meurah Hanafi, seorang ulama yang diutus Kerajaan Meureudu untuk menjadi penasihat militer di Kerajaan Deli.

    Ketika kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry, Nazar sudah terlibat dalam berbagai aktifitas yang bernuansa politik. Puncaknya ketika menjadi Koordinator Presiden Sentral Informasi Referndum Aceh (SIRA) yang gaungnya menggema ketika sejuta rakyat Aceh digerakkan berkumpul di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.  Dia sempat menjadi Ketua Divisi Politik Majelis Tinggi Gerakan Aceh Merdeka, dan Meuntroe Malik Mahmud (sekarang Pemangku Wali Nanggroe) menunjuknya menjadi anggota tim drafter Undang-undang Pemerintah Aceh.

    Setelah konflik berganti damai, Nazar menjadi Wakil Gubernur Aceh. Dia mendampingi Irwandi Yusuf. Sekarang namanya muncul sebagai kandidat calon gubernur Aceh. Kendati bertekad maju dengan partai politik nasional, dia tak menentang jalur independen. Kini dia menjadi rival Zaini Abdullah dari Partai Aceh, dan Irwandi Yusuf yang kembali masuk bursa melalui jalur calon independen. Ini kelak menjadi sebuah catatan politik yang menarik di Aceh.

    ***

    “Ada dua soal bagi seseorang ketika muncul menjadi kandidat pemimpin,” kata Nazar. “Maju ke dalam kancah calon pemimpin lalu menjadi bahan tertawaan, atau justru ditertawakan sebab tak mau terjun dalam kancah demokrasi pemilihan pimimpin.” Nah, jelas saya bertanya Nazar berada di sisi mana. “Ya, saya tentu tak mau menjadi bahan olok-olok.” Karena itu ikut dalam Pilkada Aceh? “Ya”.

    Hm, jangan bertanya soal visi misi di sini. “Dari barang-barang yang ada di rumah ini, saya lihat banyak yang bernuansa seni, ya” saya bertanya soal seni. Nazar menjelaskan bahwa dia memang banyak juga belajar seni, apalagi jurusan di IAIN dia mengambil jurusan sastra Arab.

    “Jangan lupa, budaya dan politik itu ada kaitannya. Politik haruslah disempurnakan dengan sastrawi. Pidato politik itu sastra, yaitu seni retorik yaitu prosa. Lihat saja di Aceh banyak sastra, Hikayat Perang Sabil juga sastra. Al-Quran juga disampaikan secara sastra. Bahkan untuk memasuki wilayah jin pun memakai sastra yang kita sebut mantra.”

    Saya cuma mendengarkannya saja hingga kemudian dia yang bertanya, “mau tahu sebuah hadih maja baru?” Saya mengangguk. “Beueh bangai peugadoh beu-e, puga nanggroe peudeueng Agama.” Ya, saya tahu maknanya, “singkirkan kebodohan hilangkan malas, membangun negeri tegakkan agama. Istilah yang menarik. Maksudnya. “Itu yang menjadi keinginan saya.”

    Ah, dia mulai jenuh diajak bicara terus. Saya diajaknya keliling rumahnya hingga ke dapur. “Ini kolam renang saya,” katanya. Menunjukkan sebuah kolam ikan selebar dua meter di belakang rumahnya. Jelas dia bercanda. “Dan itu mobil pribadi saya,” katanya sambil menunjuk sebuah Honda Jazz warna merah keluaran tahun 2009.

    ***

    Di luar terlihat tamu-tamu sudah mulai berdatangan. Saya tentu tak ingin membuat mereka lelah menunggu, sebab itu saya pamit. Sambil melangkah keluar rumah, dia berbisik, “sudah lihat foto di status blackberry masanger saya yang terbaru?”  Dia bertanya. Saya tentu penasaran. Rupanya, ada gambar Nazar sedang beraksi bak seorang master kungfu dari Shaolin. Di statusnya tertulis, “kembali latihan kungfu untuk persiapan khatib Jumat depan.”

    Hm….

    Source : Atjeh Post

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Demokrat Rekomendasikan Nazar dan Tarmizi Jadi Cagub

    Banda Aceh – DPP Partai Demokrat merekomendasikan dua nama bakal calon gubernur Aceh yakni Muhammad Nazar (wagub sekarang) dan Tarmizi Karim (mantan bupati Aceh Utara) yang akan diusung dalam Pemilihan Kepala Daerah mendatang.

    “Kami sudah lama menggodok bakal calon gubernur Aceh. Dan kini DPP merekomendasikan dua nama tersebut,” kata pengurus DPP Partai Demokrat Nova Iriansyah di Banda Aceh, Jumat malam.

    Anggota Komisi V DPR RI dari fraksi Partai Demokrat mengatakan hal itu dalam pertemuan dan silaturahim dengan Forum Lintas Partai Politik Provinsi Aceh (FLP2A). FLP2A adalah gabungan sebanyak 25 partai politik lokal dan nasional peserta Pemilu legislatif 2009.

    Namun, katanya menambahkan, hingga kini DPP belum memutuskan siapa dari kedua nama bakal calon yang direkomendasikan tersebut.

    “Yang sudah jelas, DPP menghendaki posisi sebagai bakal calon wakil gubernur (cawagub) dari kader partai,” kata dia menjelaskan.

    Sementara itu, Ketua FLP2A Firmandez mengatakan kehadiran Nova Iriansyah dalam pertemuan dan silaturahmi tersebut untuk menyampaikan visi dan misinya jika diusung sebagai cawagub Aceh.

    “Kami ingin mendengarkan apa visi dan misinya jika nanti diusung sebagai cawagub pada Pilkada yang dijadwalkan Nopember 2011. Partai politik yang tergabung dalam FLP2A hanya ingin mendengar visi dan misi dari sejumlah nama yang berkembang maju ke Pilkada Aceh,” katanya menjelaskan.

    Dari 25 partai politik lokal dan nasional yang tergabung dalam FLP2A itu hanya lima partai yang memiliki kursi di DPRA antara lain PKPI, PBB dan Partai Daulat Atjeh (lokal).

    “Meski tidak semua partai politik yang tergabung dalam FLP2A itu memiliki kursi di DPRA, tapi kami memiliki kekuatan besar berdasarkan perolehan suara (pemilih) sebesar 17 persen lebih sebagai salah satu syarat untuk mengusung kandidat gubernur/wakil gubernur Aceh,” kata Firmandez.

    Dari sejumlah nama yang muncul sebagai bakal calon gubernur Aceh, ia menjelaskan telah menyampaikan visi dan misinya di forum lintas partai ini yakni Darni Daud, Muhammad Nazar, dan Nova Iriansyah. Sedangkan Ahmad Farhan Hamid dan Tarmizi Karim, dijadwalkan pekan depan.(MNA-ANTARA)

    Source : The Globe Journal

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Jaring Kandidat, Golkar Perhatikan Tiga Aspek

    BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Untuk menjaring kandidat kepala daerah baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, Partai Golkar akan memperhatikan tiga aspek. Ketiga aspek itu harus dipunyai oleh kandidat yang bakal diusung dalam pemilihan kepala daerah Aceh nantinya.

    Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Akbar Tandjung saat berkunjung ke kantor DPD Partai Golkar Aceh, Ahad (21/8) pagi. Kedatangan Akbar ke Banda Aceh, setelah melakukan kunjungan kerja di Takengon, Aceh Tengah, dan Bireuen. Sabtu (20/8) malam, Akbar menempuh perjalanan darat Takengon-Banda Aceh.

    Menurut Akbar Tandjung, tiga aspek yang selalu menjadi perhatian Partai Golkar yaitu aspek elektabilitas (keterpilihan) dari seorang kandidat. Aspek kedua yaitu persepsi masyarakat.

    “Bagaimana perspektif bagi kepentingan masyarakat. Dan yang penting, sejauhmana dia berkomitmen dalam rangka memberikan dukungan terhadap visi dan misi Partai Golkar,” kata pria yang akrab disapa Bang Akbar ini pada wartawan, Ahad.

    Sementara aspek terakhir yang sangat menentukan, kata Bang Akbar, adalah soal komitmen kandidat untuk memajukan Aceh. “Kita juga melihat komitmen kandidat secara keseluruhan dalam memajukan Aceh. Ini sangat penting,” ujar mantan Ketua Umum Partai Golkar ini. “Tiga hal itu menjadi parameter kami dalam menentukan keputusan.”

    Lantas, siapa yang bakal diusung Golkar? Bang Akbar belum mau membocorkan. Menurutnya, Golkar akan melihat waktu yang tepat untuk mengumumkan kandidat yang bakal diusung pada pilkada Aceh nantinya.

    Akbar sedikit bongkar rahasia. “Pak Darni salah seorang calon yang diajukan ke Pusat,” kata dia. []

    Source : Acehkita.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Zaini Bicara Soal Calon Independen

    zaim kandidat partai aceh

    BEUREUNUN – Kandidat Calon Gubernur dari Partai Aceh, dokter Zaini Abdullah, berkeyakinan Pemerintah Pusat dapat menyelesaikan kisruh politik yang terjadi di Aceh saat ini. “Kita tunggu saja,” kata Zaini di hadapan ribuan massa yang ikut khanduri menyambut ramadan di Masjid Baitul A’la Lil Mujahiddin –masjid Abu Daud Beureu-eh–, Beureunun, Pidie, kemarin. 

    Tentang calon independen dalam pilkada Aceh, Zaini mengatakan tak sedikitpun mengkhawatirkannya. “Yang kita takut jika kewenangan Aceh akan hilang dan satu persatu pasal dalam Undang Undang Pemerintah Aceh akan dihilangkan,” kata Zaini.

    Mahkamah Konstitusi menghapuskan pasal 256 UUPA, itulah yang menyebabkan kisruh politik terjadi. “Namun kami yakin, pemerintah pusat masih dapat menyelesaikan kisruh politik yang terjadi saat ini,” katanya lagi.

    Zaini menceritakan beberapa penyebab konflik antara Aceh dengan Pemerintah Pusat. “Konflik di Aceh itu sering disebabkan kesalahan Pemerintah Pusat dalam mengurus Aceh,” katanya.

    Misalnya, pada masa Abu Daud Beureueh, terjadi perjanjian Ikrar Lamteh. Namun dikemudian hari terjadi penghianatan perjanjian dan hanya tinggal nama saja perjanjian Lamteh.

    Itu sebabnya, kata Zaini, konflik terulang pada 1976. “Banyak korban yang jatuh,” katanya. “Konflik berakhir melalui adanya perjanjian mou helsinki. Dan sekarang Mahkamah Konstitusi mulai mencabut pasal-pasal dalam UUPA yang adalah produk Helsinki itu,” katanya.

    Zaini berharap, kali ini perjanjian harus dijalankan secara jujur dan ikhlas oleh Pemerintah Pusat. “Hari ini dalam masa masa pilkada, situasi semakin panas. Kita berharap pemerintah mengambil sikap yg bijaksana untuk menghindari konflik horizontal,” katanya.

    Dia menghimbau seluruh rakyat Aceh bersatu dalam Kepentingan Aceh. “Dalam hal calon independen, mengapa kita menolak, Sebab UUPA adalah penjabaran dari MoU Helsinki yang diimplementasikan dalam UUUPA,” kata Zaini.

    Source : AtjehPost

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Hari ini, 80 Organisasi Deklarasi Dukung Nazar

    muhammad nazar

    Banda Aceh | Harian Aceh – Puluhan organisasi kepemudaan, kemasyarakatan, tokoh ulama, dan akademisi, Minggu (10/7) pagi ini, akan mendeklarasikan diri untuk mendukung Muhammad Nazar sebagai  Calon Gubernur Aceh periode mendatang. Sementara itu, Partai Golkar Aceh akan mengumumkan bakal calon gubernur yang diusungnya pada Rabu (31/7) lusa.

    “Sekitar 80 organisasi massa, akademisi, tokoh agama, dan berbagai elemen sipil sudah berkoordinasi dengan kami. Mereka akan mendeklarasikan diri mendukung Wakil Gubernur Muhammad Nazar untuk dicalonkan menjadi gubernur dalam Pemilukada 2011,” kata Banta Syahrizal, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Muhammad Nazar Center (MMC), Sabtu (9/7).

    Menurutnya, aksi itu sebagai bentuk nyata dukungan masyarakat terhadap Muhammad Nazar untuk maju sebagai Cagub Aceh. “Massa rencananya akan berkumpul di MMC Banda Aceh serta akan konvoi keliling kota,” katanya.

    Organisasi-organisasi tersebut, kata Banta, sudah sepakat mendukung Muhammad Nazar maju melalui partai politik, baik laokal maupun nasional. “Ini semata-mata untuk penyatuan cara pandang dan jaringan dalam membangun Aceh ke depan,” katanya.

    Partai Golkar

    Sementara itu, Partai Golkar akan mengumumkan calon gubernur yang dimajukan dalam Pemilukada 2011 pada Rabu (13/7) atau dua hari setelah pengurus Golkar Aceh bertemu Ketua Golkar Aburizal Bakrie.

    “Senin lusa, unsur pimpinan Golkar Aceh akan bertemu dengan Ketua Umum Aburizal Bakrie untuk menyampaikan perkembangan politik Aceh terakhir. Jika semua lancar, rencananya Rabu nanti akan diumumkan pasangan calon yang didukung Golkar,” ujar Hendra Budian, Sekretaris Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Golkar, sebagaimana dilansir The Atjeh Post, Sabtu (9/7).

    Menurut Hendra, sejauh ini Golkar belum menentukan siapa yang akan dimajukan sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Apalagi, kata dia, Golkar tidak memenuhi kuota di parlemen untuk memajukan calon sendiri. “Artinya harus menggandeng partai lain dan tentu saja ada konsensus politik yang harus disepakati bersama. Untuk mitra koalisi itu kewenangannya ada di tangan Dewan Pimpinan Pusat Golkar,” ujar Hendra.

    Terkait pertemuan Wagub Nazar dengan Aburizal Bakrie dua hari lalu, Hendra mengatakan Golkar memang berkomitmen untuk membangun komunikasi dengan tokoh-tokoh politik pemenang survei di Aceh. “Dalam survei kedua yang dilakukan Golkar, Nazar memang menempati urutan kedua, posisi teratas Gubernur Irwandi. Namun, karena Irwandi maju lewat calon perseorangan, otomatis Golkar berkomunikasi dengan Nazar,” kata Hendra.

    Meski menurut Hendra, Golkar belum menentukan calon, namun sebenarnya sinyal Golkar akan menggandeng Nazar cukup terang-benderang. Seperti diketahui, Nazar sendiri sudah menyatakan kepincut berpasangan dengan Bupati Aceh Tengah Nasrudin yang juga Ketua Golkar Aceh Tengah. Di sisi lain, nama Nasrudin tidak masuk dalam daftar calon bupati yang diumumkan Golkar beberapa waktu lalu.

    “Itu sebuah sinyal politik. Soal mitra koalisi, kalaupun misalnya Golkar tidak mencapai kata sepakat dengan koalisi partai nasional seperti Demokrat, PAN dan PKS, jangan lupa bahwa Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sudah menyatakan mendukung Nazar. Artinya, Golkar dan PPP saja sudah cukup kuota untuk memajukan pasangan Nazar dan Nasrudin,” ujar seorang sumber.(mrd/apc)

    Source : Harian Aceh

    Posted with WordPress for BlackBerry.