siwah.com

Tag: chaos

  • Lagi, Tower PLN Digergaji OTK

    SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE – Aksi pemotongan tower PLN kembali terjadi, Sabtu malam tadi tower PLN Nomor 354 di Desa Matang Sijuk Barat, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara,  roboh akibat digergaji orang tak dikenal (OTK). Robohnya tower tersebut mengakibatkan padamnya aliran listrik di sebagian wilayah Aceh pada  Sabtu malam (7/1/2012).

    Manajer PLN Area Lhokseumawe, Ir Defiar Anis kepada Serambinews.com, Minggu (8/1/2012) mengatakan, dari dua line jaringan pada tower tersebut, hanya satu yang jatuh ke tanah, sedangkan satu line tergantung di atas.

    “Jadi sementara ini, hanya line di atas yang digunakan. Sedangkan untuk perbaikan, kita sedang pesan tower ermegency dari Medan. Mungkin waktu perbaikan butuh dua tiga hari,” katanya

    Sebelumnya, pemotongan tower PLN juga terjadi, Kamis (5/1/2012) lalu pada Dua tower transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 KV milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) Aceh yang berada di Gampong Lueng Sagoe dan Blang Tidiek, Kemukiman Bereue’eh, Kecamatan Mutiara, Pidie, dipotong orang tak dikenal pada keempat kaki sikunya. (bah)

    Source : Serambi Indonesia

  • Imparsial Tuding Kekerasan di Aceh Ulah Tim Operasi Khusus

    JAKARTA–MICOM: Kekerasan di Aceh dalam beberapa hari terakhir bukan kriminal biasa.

    Kekerasan di Bumi Serambi Mekkah itu merupakan operasi khusus untuk membuat ekskalasi atau perdamaian di masyarakat Aceh rusak.

    Penilaian itu disampaikan Peneliti Senior Imparsial Otto Syamsudin Ishak di Kantor Imparsial, Jakarta, Jumat (6/1).

    Menurut Otto, kekerasan di Aceh bukan karena masalah kecemburuan sosial atau masalah ekonomi. Kekerasan di sana merupakan masalah politik, apalagi Aceh akan menggelar pemilukada.

    Pola yang digunakan, kata Otto, kini berubah. Tercatat pada 2011 hingga 2012 sebanyak 17 kali kekerasan dengan korban meninggal 15 dan luka 17 orang. Polanya, yang melakukan kekerasan adalah orang tak dikenal. (MTV/OL-11)

    Source : Media Indonesia

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Penembakan di Aceh Diduga Terkait Politik

    JAKARTA–MICOM: Aksi penembakan yang terjadi di Aceh dinilai merupakan tindak kriminal biasa. Saat ini, suhu politik di Aceh dinilai seperti api dalam sekam terkait pemilu kada di provinisi tersebut.

    “Kalau kriminal biasa seharusnya Polri bisa menangkapnya dalam 1×24 jam. Publik akan menilai kasus ini erat kaitannya dengan momen pilkada,” ujar Wakil Komisi III DPR Nasir Djamil saat berbincang dengan Media Indonesia, Senin (2/1).

    Menurut politisi PKS tersebut, banyak pihak berkepntingan dalam pemilu kada Aceh terutama di jajaran Kementrian Polhukam yang memang sejak awal sangat ingin Pilkada Aceh sesuai tahapan. Ini menurut Nasir sangat erat dengan kelompok-kelompok yang tidak puas dengan kondisi Aceh saat ini.

    “Polri dan TNI sering bilang bahwa senjata ilegal masih banyak beredar di Aceh. Ini salah satu hal yang krusial di Aceh,” paparnya.

    Sangat mungkin apa yang terjadi di Aceh merupakan suatau kejadan yang telah di desain sedemikian rupa, karena banyak hal-hal yang tidak masuk akal jika dikatakan sebagai kriminal biasa.

    “Kenapa para pekerja yang menjadi sasaran? Kenapa pekerja Telkom? Kenapa masyarakat Aceh yang bersuku Jawa? Ini skenario untum terjadinya konflik vertikal antar suku,” kata Nasir.

    Nasir meminta agar Polri jagan menganggap remeh dan kecil masalah ini dan perlu ditegaskan Aceh adalah wilayah bekas konflik bersenjata sehingga harus dilihat secara serius setiap aksi kekerasan yang ada di wilayah Serambi Mekkah. “Ini sekaligus menjadi pembuktian SBY, bahwa negara tidak boleh kalah dengan kejahatan,” tegasnya. (HZ/OL-04)

    Source : Media Indonesia

  • Aceh Terus Dihantui Penembakan Misterius

    BANDA ACEH, KOMPAS.com — Jumlah korban penembakan misterius di Provinsi Aceh terus bertambah. Kasus penembakan pada malam pergantian tahun 2011 ke 2012 belum terungkap, Senin (2/1) lalu polisi kembali disibukkan oleh aksi penembakan pada Minggu pukul 20.00.

    Peristiwa kali ini menewaskan satu orang dan mencederai satu orang setelah sejumlah orang tak dikenal memberondongkan tembakan ke sebuah kedai kopi di Dusun Blok B, Desa Seureuke, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.

    Dengan demikian, dalam tiga hari terakhir, lima warga tewas dan delapan warga luka berat akibat penembakan dalam tiga kasus di tiga tempat yang berbeda di Aceh.

    Sabtu malam terjadi dua penembakan di dua tempat berbeda. Pertama, penembakan di Desa Blang Cot Tunong, Kecamatan Jeumpa, Bireuen, yang menewaskan tiga pekerja proyek galian kabel optik Telkom dan melukai tujuh pekerja. Para korban adalah warga Jember dan Banyuwangi, Jawa Timur. Aksi kedua terjadi di Desa Ilie, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, menewaskan satu karyawan toko boneka, Dimas Wagino (40), asal Medan, Sumatera Utara.

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Aceh Ajun Komisaris Besar Gustav Leo mengungkapkan, penembakan di Desa Seureuke menewaskan Suliadi (37) dan melukai Edi Karyanto (35). Keduanya adalah petani dan warga lokasi transmigrasi di Desa Seureuke.

    Pada saat kejadian, kedua korban sedang duduk santai di kedai kopi tersebut. Selain Suliadi dan Edi, di kedai kopi itu juga ada tujuh orang yang sedang duduk menikmati kopi. Sekitar pukul 20.00, empat orang tak dikenal menaiki dua sepeda motor datang. Seorang dari mereka sempat bertanya tentang arah jalan kepada warga di kedai kopi itu.

    ”Tiba-tiba salah seorang di antara mereka memberondongkan tembakan senjata api otomatis ke arah warga yang sedang duduk di warung kopi. Satu orang tewas dan satu orang lainnya luka berat terkena tembakan. Para pelaku kemudian langsung kabur ke arah Lubok Mangku, Aceh Timur,” tutur Gustav.

    Kepala Kepolisian Resor Aceh Utara Ajun Komisaris Besar Farid BE menduga, senjata yang digunakan pelaku adalah jenis AK-47. Dugaan ini berdasarkan temuan beberapa selongsong peluru di lokasi kejadian.

    Selain menembak dua orang di kedai itu, para pelaku juga menembaki empat rumah warga di Dusun Blok B sekitarnya saat melarikan diri.

    Berdasarkan data di Kepolisian Daerah Aceh, sepanjang 2011, di daerah itu terjadi 46 kasus kekerasan bersenjata api. Dari jumlah kasus itu, tercatat 16 orang tewas. Namun, dari 46 kasus itu, baru 24 kasus yang terungkap. Sebanyak 37 orang ditangkap. Polisi sejauh ini menyita 17 senjata api, 40 granat, 250 peluru, 4 sepeda motor, dan 4 mobil.

    Pola sistematis

    Aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Aceh, Hendra Fadli, mengatakan, rentetan penembakan misterius di Aceh akhir-akhir ini berbeda dengan penembakan-penembakan sebelumnya. Hal ini dapat dilihat pada pola dan sasaran penembakan yang cenderung mirip.

    ”Ini penembakan misterius dengan sasaran warga pendatang dari kelompok etnis tertentu. Ada upaya sistematis dari pelaku untuk menciptakan ketakutan pada kelompok etnis tertentu yang dijadikan sasaran sehingga berpotensi menimbulkan kebencian antarkelompok etnis di Aceh,” katanya.

    Rangkaian penembakan ini juga terjadi saat polemik antar- elite politik di Aceh terkait pemilu kepala daerah (pilkada) masih berlangsung. ”Melihat situasi politik itu, jelas ini bukan kriminal murni,” ujar Hendra.

    Direktur Lembaga Bantuan Hukum Banda Aceh Hospi Novizal Sabri mengatakan, jika skenario keresahan antarkelompok etnis, seperti misi penembakan, terwujud, tidak hanya Pilkada Aceh yang terganggu, tetapi perdamaian di Aceh juga terancam.

    Skenario itu bisa berlangsung karena entitas sipil dan elite politik di Aceh saat ini mulai kehilangan spirit untuk menjaga perdamaian. Hampir semua energi dan perhatian ditujukan pada polemik pemilu kepala daerah yang tak kunjung berujung.

    Gustav membenarkan adanya kecenderungan pola yang sama dalam rangkaian kejadian penembakan misterius di Aceh akhir-akhir ini. Pelaku lebih dari satu orang, menggunakan sepeda motor, senjata AK-47, dan dengan sasaran orang dari kelompok etnis tertentu.

    Polisi juga menduga, tiga kasus penembakan terakhir di Aceh itu terkait dengan penangkapan dua dari empat pelaku penembakan pos penyimpanan bahan bakar minyak di area base camp Tim Survei Minyak dan Gas, Sawang, Aceh Utara, 23 Desember 2011. Dua pelaku yang ditangkap berinisial M (27) dan I (29). Dua pelaku lain, S dan L, masih dalam pengejaran.

    Jangan anggap remeh

    Wakil Ketua Komisi III DPR Nasir Djamil, Senin, di Jakarta, meminta polisi tidak menganggap remeh maraknya kasus penembakan di Aceh belakangan ini. ”Jika peristiwa-peristiwa itu merupakan tindak kriminal biasa, seharusnya polisi sudah dapat menangkap pelaku dalam 1 kali 24 jam setelah kejadian,” ujar wakil rakyat asal Aceh tersebut.

    Sementara itu, Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo menyatakan, Markas Besar Polri dan Kepolisian Daerah Aceh masih menyelidiki penembakan yang terjadi di Aceh. Polisi belum dapat menyimpulkan keterkaitan kasus itu dengan pilkada.

    Namun, menurut Timur, dulu kasus serupa pernah terjadi dan merupakan tindak kriminal biasa. Pelakunya kini diproses hukum. (HAN/NWO)

    Source : Kompas.com

  • Penembakan Misterius di Aceh, Soal Pilkada?

    VIVAnews – Aksi penembakan brutal mewarnai pergantian tahun di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Empat orang tewas pada dua insiden yang berbeda.

    Penembakan pertama, terjadi menjelang tutup tahun 2011, tepatnya pukul 20.30 WIB, Dimas alias Wagino tewas ditembak orang tak dikenal di depan tempatnya bekerja di kawasan Simpang Ilie, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh. Pria yang bekerja sebagai penjaga toko Istana Boneka ini tewas mengenaskan dengan peluru tertanam di kepala bagian kiri.

    Menurut saksi mata, sebelum ditembak, korban sebelumnya dikejar-kejar oleh dua orang yang diduga pelaku. Mereka mengendarai sepeda motor jenis Supra X dan memakai tas pinggang. “Tiba-tiba di depan toko boneka itu, terdengar ledakan. Terdengar dua kali letusan senjata,” katanya.

    Wagino yang bertubuh tambun pun roboh dengan timah panas bersarang di kepalanya. Masih menurut saksi, dua pelaku menembak korban dengan menggunakan senjata laras pendek. Hingga kini motif penembakan tersebut belum jelas. Polisi masih menyelidikinya.

    Tak lama berselang, di lokasi yang berbeda, tiga pekerja penggali kabel Telkom tewas akibat diberondong peluru. Mereka tengah berada di mess pekerja Telkom di Desa Blangcot, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireun. Delapan lainnya mengalami luka-luka. Penembakan terjadi sekitar pukul 21.00 WIB.

    Kabid Humas Polda Aceh, AKBP Gustav Leo, membenarkan adanya penembakan tersebut. Semua korban berasal dari Jawa. Tiga korban tewas adalah Sunyoto, 28 tahun asal Jember, Suparno (31 tahun) asal Jember, dan Daud (30 tahun) asal Banyuwangi.

    Sedangkan korban yang mengalami luka berat yakni, Andri (15 tahun) asal Jember, Hasan, (35 tahun) asal Jember, Kirul (30 tahun) asal Jember, Imam, 27 tahun asal Jember, Kopral, 32 tahun asal Banyuwangi, Aan, 40 tahun asal Banyuwangi, dan Bonjol, 30 tahun asal Banyuwangi.

    Gustav mengatakan, pelaku penembakan mess pekerja Telkom hanya satu orang dengan mengenakan helm. Datang dari Jalan Raya Medan Banda Aceh, tiba-tiba mendekati mess pekerja. “Dia kemudian langsung memberondong tembakan ke dalam rumah pekerja yang sedang istirahat,” jelasnya.

    Kemudian, lanjut Gustav, pelaku keluar rumah ke arah jalan. Diduga naik sepeda motor bersama rekannya. Lokasi penembakan berjarak 10 meter dari Jalan Raya Medan Banda Aceh, Bireun.

    Warga Pendatang

    Kepolisian Daerah Aceh masih mengembangkan dan mengumpulkan barang bukti terkait dua aksi penembakan brutal tersebut. Kabid Humas Polda Aceh, AKBP Gustav Leo mengatakan, polisi masih mengumpulkan barang bukti dan memeriksa keterangan saksi-saksi.

    Saat ini, polisi telah meminta keterangan 40 saksi termasuk korban yang  kondisinya sudah mulai membaik. “Semuanya kami minta keterangannya, ini sangat membantu meskipun kami belum bisa memastikan motifnya,” kata Gustav.

    Dia mengatakan, aksi penembakan pekerja galian kabel Telkom di Bireun berbeda dengan kasus penembakan penjaga toko di Kawasan Ilie Ulee Kareng Banda Aceh. Sebab kata Leo, sebelum menghabisi penjaga toko dengan dua timah panas, pelaku sempat berbincang-bincang dengan korban.

    “Tadi kami sudah menyelesaikan olah TKP di Ulee kareng. Tiga orang saksi sudah diperiksa. Juga ditemukan proyektil peluru di sela-sela boneka yang dipajang di toko itu,” kata Gustav Leo.

    Dia tak berani mengkaitkan aksi tersebut dengan  penembakan pekerja yang terjadi di Aceh Utara 4 Desember 2011 lalu. Penembakan itu juga menewaskan tiga pekerja perusahaan kelapa sawit dengan kejadian pemberondongan pekerja penggali kabel Telkom di Bireun.

    Menurutnya, meski dua peristiwa itu korbannya adalah sama-sama warga pendatang, namun belum ada benang merah di antara dua peristiwa tersebut.
     
    Dalam penembakan di barak pekerja perkebunan kelapa sawit itu, korban tewas semua berasal dari luar daerah. Mereka adalah, Hery, Karno, dan Sugeng. Para korban luka diantaranya, Samin, Misman, Harapan, Erik dan Ari Fandi.

    Kapolda Aceh, Irjen Polisi Iskandar Hasan menduga, kasus penembakan pekerja perkebunan dilatarbelakangi persoalan ekonomi. “Saya melihat background-nya ekonomi. Sebab banyak orang-orang yang tidak memiliki kapasitas, tidak diterima bekerja dan kemudian sakit hati. Tapi kami masih mengembangkan ini, tim dari Polda Aceh juga sudah kesana,” kata Iskandar Hasan, Senin 5 Desember 2011.

    Teror Jelang Pilkada

    Wakil Ketua Komisi III DPR, Nasir Djamil, menengarai ada upaya menciptakan konflik horizontal di Nangroe Aceh Darussalam dengan melakukan penembakan terhadap orang-orang suku Jawa yang tinggal di Aceh.

    “Menjelang pilkada memang situasi di Aceh semakin mencekam. Ini desebabkan karena situasi dan menurut saya ada upaya membenturkan antara Aceh dengan komunitas Jawa. Karena yang jadi sasaran kekerasan itu Jawa,” ujar Nasir dalam perbincangan telepon dengan VIVAnews.com, Minggu 1 Januari 2011.

    Jadi, lanjutnya, memang ada skenario untuk menciptakan konflik horizontal antara masyarakat Aceh dengan masyarakat Jawa yang ada di Aceh. “Karenanya kami berharap agar Kapolri itu memerintahkan Kapolda untuk segera menangkap pelakunya,” kata Nasir.

    Apabila polisi tidak mengusut atau tidak menangkap pelaku tindak kekerasan tersebut, masyarakat akan gelisah dan semakin tidak percaya kepada polisi untuk menjadi pelindung masyarakat. Khususnya masyarakat pendatang di Aceh.

    Politisi PKS ini mencermati bahwa peristiwa penembakan yang menyasar orang-orang Jawa di Aceh itu sebagai ulah pihak tertentu yang ingin membuat kondisi Aceh tidak kondusif menjelang pilkada.

    “Menurut saya, dia [pelaku] mulai bergerak dari Aceh Utara langsung ke Banda Aceh, ke pusat kekuasaan. Jadi menurut saya ini sesuatu yang disengaja menjelang pilkada,” kata Nasir.

    Meski begitu, Nasir tidak mau menduga siapa pelaku sebenarnya dibalik aksi tersebut. “Tapi kan ini kondisi yang sengaja diciptakan. Menjelang pilkada, membuat masyarakat menjadi takut dengan kondisi seperti ini gitu lho,” kata legislator yang terpilih dari daaerah pemilihan Nangroe Aceh Darussalam I ini.

    Pilkada Aceh untuk memilih gubernur baru dijadwalkan diselenggarakan pada Februari 2012. Oleh karena itu, Nasir meminta polisi segera mengusut dan menemukan serta menangkap pelakunya agar masyarakat tidak gelisah dan pelaksanaan pilkada pun bisa berjalan dengan baik.

    “Karena kalau ini dibiarkan akan menimbulkan ketidakpastian dan justru akan timbulkan konflik horizontal lagi nantinya. Jadi menurut kami ini sebenarnya tidak sepantasnya terjadi,” kata Nasir.

    “Ini sesuatu yang menurut saya tidak cocok dengan Aceh yang sudah mulai damai. Jadi memang ada upaya pihak-pihak tertentu yang ingin menciptakan chaos, sehingga situasi damai yang sudah dibangun selama ini buyar,” tambah Nasir.
    Laporan: Riza Nasser

    Source : Vivanews.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.