siwah.com

Tag: integritas

  • Ada Peran Joki di Balik Karya Ilmiah Dosen

    Di situsnya, Budapest International Research and Critics Institute-Journal yang dikelola MR mengklaim sebagai jurnal terindeks Sinta 3. Padahal, akreditasi jurnal ini sudah dicabut sejak 27 Mei 2022. Konsekuensinya, artikel ilmiah yang terbit sejak 2022 hingga sekarang sudah tidak terakreditasi atau terindeks Sinta lagi.

    JAKARTA, KOMPAS – Sejumlah dosen terindikasi menggunakan jasa joki dalam menerbitkan artikel ilmiah di jurnal internasional. Tim Investigasi Harian Kompas menemukan tujuh artikel ilmiah dosen dari berbagai kampus memiliki penulis koresponden yang sama. Artikel ilmiah bantuan joki ini diduga kuat dibuat untuk kepentingan kenaikan pangkat para dosen.

    Tujuh artikel karya ilmiah yang dimaksud berasal dari dosen Medan, Palembang, dan Pematang Siantar. Adapun tujuh artikel itu antara lain yang dimuat di Journal of Law and Criminal Justice, International Journal of Language and Linguistics, International Journal of Linguistics and Communication, Journal of Islamic Banking and Finance, dan Al Ulum.

    Di artikel dosen-dosen itu muncul alamat email email bukharyahmedal@gmail.com dan ahmedalbukahry@yahoo.com yang terhubung dengan seorang berinisial MR sebagai penulis koresponden. Nama MR menjadi perhatian tim penilai Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Bahkan mereka meyakini MR menjalankan praktik perjokian yang dipesan oleh dosen-dosen itu.

    Tim Kompas mendatangi salah satu alamat di Medan, Sumatera Utara, yang dicantumkan MR, pengelola jurnal BIRCI Jumat (20/1/2023). Alamat itu ternyata rumah orangtua MR. Sementara MR dan keluarga berdomisili di Deli Serdang.

    Salah satu dosen yang terhubung dengan MR adalah HF, dosen Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU). MR memprotes keputusan Kemendikbudristek yang menggagalkan pencalonan guru besar HF. Artikel HF dinilai tidak layak karena muncul di jurnal yang dinilai tidak bereputasi internasional.

    Artikel itu dimuat di jurnal The Social Sciences tahun 2016. Tim penilai Kemendikbudristek memandang artikel-artikel ini dimuat di jurnal yang tidak memenuhi syarat kualitasnya.

    Tim penilai Kemendikbudristek di situs pak.kemdikbud.go.id menjelaskan, Berikut ini kami tampilkan hasil evaluasi yang dilakukan atas dua jurnal dari publisher Medwell, yaitu Journal of Engineering and Applied Science dan The Social Sciences yang diindikasikan tidak memenuhi syarat untuk dapat digolongkan dalam jurnal internasional bereputasi.

    Protes MR menimbulkan tanda tanya karena dia bukan bagian dari tim penulis artikel HF. Saat hendak mengonfirmasi ke HF, dosen perempuan ini menolak berkomentar seraya mengaku sedang di luar kota. Dia tidak mau namanya dikaitkan dengan MR. Namun HF dipergoki berada di kampusnya, Jumat (20/1/2023) sore. Saat ditanya, dia tidak bersedia menjelaskan hubungannya dengan MR. Saya tidak bersedia, ujarnya berlalu.

    Kompas sempat menelusuri keberadaan MR yang jejaknya ada di alamat Jalan HM Said Gang Wongso, Medan. Alamat MR didapat dari Kemendikbudristek yang pernah melakukan investigasi terhadap calo jurnal ini. Rumah MR berada di samping tempat praktik bidan. Penghuni rumah tampak bingung dengan kedatangan Kompas. Ini alamat orangtuanya. Dia sudah tidak tinggal di sini, ujar perempuan yang mengaku istri dari kakak MR.

    Membantu penerbitan 

    MR akhirnya berhasil dihubungi melalui telepon selulernya dan bersedia bertemu di kawasan perbatasan Deli Serdang – Medan. Dia mengakui membantu penerbitan artikel ilmiah HF di jurnal internasional. Kalau saya menerbitkan artikel di jurnal terindeks Scopus, itu pakai email saya biar tidak ribet. Itu tidak melanggar karena artikel terindeks Scopus ada beberapa servis ke penulis, kata MR.

    MR, makelar jurnal dosen sekaligus pengelola jurnal (kiri) BIRCI bertemu dengan dua wartawan Kompas Jumat (20/1/2023) di tepi jalan sekitar Deli Serdang, Sumatera Utara. Dalam pertemuan itu, MR menjelaskan bahwa dia sering membantu dosen menerbitkan artikel ilmiah di berbagai jurnal internasional. Setelah kami cek, jurnal internasional itu ternyata bermasalah atau diragukan reputasinya.

    Adapun bantuan MR pada artikel HF adalah membaca ulang naskah artikel, menyunting, dan mengirimkan ke jurnal. “Jadi apa alasan dari Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) mempermasalahkan itu. E-mail saya bisa ada di artikel-artikel lain. Menurut saya ini hal-hal yang tak penting yang diributkan,” kata MR.

    Jadi apa alasan dari Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) mempermasalahkan itu. E-mail saya bisa ada di artikel-artikel lain. Menurut saya ini hal-hal yang tak penting yang diributkan

    Dengan memasukkan namanya sebagai tim penulis tanpa berkontribusi dalam proses riset, statusnya menjadi gift authorship. MR terindikasi menabrak ketentuan Permekdikbudristek Nomor 39 Tahun 2021 tentang Integritas Akademik dalam Menghasilkan Karya Ilmiah.

    Perannya sebagai penghubung artikel ilmiah para dosen tidak selalu rapi. Contohnya ketika dia membantu menerbitkan artikel salah seorang dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) berinisial WD di Journal of Islamic Banking and Finance. Ada kejanggalan dalam artikel tersebut karena dalam daftar isi di situs jurnal tertulis atas nama FP. Namun saat diunduh, nama penulisnya berubah menjadi WD. FP juga merupakan dosen UMSU.

    Dosen Universitas Islam Sumatera Utara HF menolak dimintai keterangan mengenai jurnalnya pada 21 Januari 2023 

    WD kebingungan dengan masalah ini. Dia mengaku artikel yang terbit 2015 itu merupakan miliknya, bukan punya FP. Dia hanya meminta bantuan MR menerjemahkan artikel dalam Bahasa Inggris sekaligus membantu publikasinya di jurnal internasional. Waktu itu saya hanya memberikan sekadar untuk uang minum saja, tidak lebih, kata WD ketika ditanya seberapa banyak uang yang dia kasih ke MR.

    Menjalankan perjokian 

    WD juga kesal karena MR mencantumkan diri sebagai penulis koresponden tanpa sepengetahuannya. “Saya sangat kecewa karena alamat koresponden bukan email saya. Saya minta diubah ternyata tidak diubah juga sampai sekarang,” katanya lagi.

    Terkait masalah ini, Yanuarsyah Haroen, anggota Tim Kenaikan Jabatan Kemendikbudristek (2006-2020) meyakini MR menjalankan pekerjaan sebagai joki. Rekam jejaknya ada di sejumlah artikel ilmiah yang berbeda-beda disiplin keilmuannya. Keyakinan ini semakin kuat ketika MR memprotes karya yang dipersoalkan Kemendikbudristek sementara dia bukan bagian tim penulis. “Dari sini, muncul dugaan bahwa dia (MR) merupakan joki yang menyediakan artikel jurnal bagi para calon guru besar yang tidak punya karya ilmiah,” katanya.

    Dari sini, muncul dugaan bahwa dia (MR) merupakan joki yang menyediakan artikel jurnal bagi para calon guru besar yang tidak punya karya ilmiah

    Kiprah MR sebagai joki sempat diungkap oleh akademisi dan filolog University of Hawaii, Amerika Serikat Ulrich Kozok. Dia membicarakan perangai MR di akun media sosialnya. Uli menjelaskan bahwa Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI) yang dikelola MR termasuk jurnal bermasalah karena menerbitkan ulang artikel ilmiah yang pernah terbit di jurnal lain.

    Kegiatan ini disebut pengajuan jamak dan termasuk pelanggaran integritas akademik sebagaimana diatur dalam Permendikbudristek Nomor 39 / 2021. “Artikelnya dalam Bahasa Inggris yang cacat berat sehingga hampir tidak dapat dimengerti, dan juga tidak menambah pengetahuan kita mengenai budaya atau sejarah suku Batak,” kata Uli mengomentari jurnal milik MR seperti dikutip dari laman Facebook-nya.

    Editor: KHAERUDIN

    Source : Kompas.id

  • Bangsa Perlu Bangun Integritas

    public satisfaction to goverment

    Jakarta, Kompas – Penguatan kesadaran akan nasionalisme di Indonesia saat ini membutuhkan keteladanan dari elite politik. Elite harus berusaha memberikan contoh sebagai pemimpin yang lebih memperjuangkan tujuan kebangsaan daripada kepentingan sempit kelompok. Di sisi lain, integritas adalah hal utama yang harus dibangun bangsa ini.

    Persoalan nasionalisme dan karakter bangsa ini kembali mencuat menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus. Menurut sejarawan dan mantan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Taufik Abdullah, di Jakarta, Senin (15/8), saat ini terjadi krisis kepercayaan yang parah dalam tubuh bangsa ini sehingga contoh rasa nasionalisme itu tak muncul, terutama dari elite politik.

    Semangat kebangsaan kalangan elite politik, terutama yang sedang berkuasa, pun merosot. ”Kita kehilangan pemimpin yang mempunyai gagasan dan bekerja untuk bangsa Indonesia. Elite politik saat ini hanya menjadi pemimpin bagi kelompok kecil. Akibatnya, hubungan antara masyarakat dan elite politik seperti terputus,” katanya.

    Masalah lain, kualitas elite politik saat ini rendah karena sebagian besar terdiri dari politisi yang berpikir pragmatis. Mereka disibukkan berbagai transaksi, negosiasi, atau deal jangka pendek. Ini berbeda dengan politisi zaman kemerdekaan yang merupakan tokoh intelektual, terbuka terhadap berbagai gagasan besar, dan selalu mengutamakan agenda bangsa.

    Untuk mengatasi situasi ini, pemimpin harus kembali merujuk pada tujuan berbangsa dan bernegara, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Disebutkan, pemerintahan negara Indonesia dibentuk untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Negara Indonesia perwujudan dari kedaulatan rakyat.

    ”Semestinya para elite kita bekerja untuk mewujudkan semua tujuan bernegara itu. Kesampingkan berbagai kepentingan pribadi, termasuk partai politik, demi memperjuangkan tujuan berbangsa yang lebih besar,” ujarnya.

    Selain itu, Taufik Abdullah memandang perlunya menanamkan optimisme bagi bangsa ini. Kondisi bangsa ini kian memprihatinkan akibat didera korupsi, politik transaksi, dan potensi konflik antarkelompok masyarakat. Namun, di tengah semua kondisi itu, perlu disuntikkan harapan bagi masa depan bangsa.

    ”Kita perlu simbol yang memberikan harapan bagi masa depan bangsa. Tidak harus dari politik, bisa juga dari olahraga. Kabarkan juga berita yang membanggakan bagi bangsa ini,” ujarnya.

    Integritas sebagai karakter

    Sebaliknya, Rektor Universitas Paramadina, Jakarta, Anies Baswedan dalam Orasi Kebangsaan bertopik ”Melunasi Janji Kemerdekaan, Mewujudkan Masyarakat Adil dan Sejahtera”, Senin, di Jakarta mengingatkan, integritas adalah hal utama yang harus dibangun oleh bangsa ini. Walau belakangan integritas mengalami penurunan, pada dasarnya bangsa Indonesia memiliki integritas sebagai bangsa.

    Ketika bangsa ini dibangun, pendiri bangsa memiliki integritas itu. Mereka jujur dengan idealisme dan nasionalisme yang tinggi serta berkorban untuk bangsa. Walaupun diakui ada masalah dalam birokrasi yang memiliki kemampuan teknis rendah, rakyat melihat pemimpin yang otentik dan memiliki integritas. ”Mereka selesai dengan masalah dirinya. Karena itu, mereka tampil sederhana dan punya kemauan untuk apa adanya,” katanya lagi.

    Anies menggarisbawahi, ketika integritas turun, gejala yang muncul adalah maraknya korupsi. Saat ini, integritas menjadi barang langka yang ditemukan di kalangan pemimpin. ”Hari ini integritas malah ada di rakyat, seperti ditunjukkan Ibu Siami dari Surabaya,” katanya.

    Teten Masduki dari Transparency International Indonesia juga menilai korupsi sebagai musuh yang harus dikalahkan dengan semangat nasionalisme. Dahulu musuh hadir dalam sosok penjajah. Sekarang kemiskinan dan korupsi sebagai musuh yang tidak bisa dikompromikan. ”Kita harus merdeka dari korupsi ini, yang tidak berani dihadapi pemimpin dan cenderung mengabaikannya,” katanya.

    Menurut Anies, seharusnya pemimpin dapat menginspirasi bangkitnya integritas sebagai karakter itu. Namun, sebelumnya pemimpin harus bisa dipercaya. Hal utama untuk bisa punya integritas adalah tidak adanya beban masa lalu. ”Untuk bisa dipercaya itu, pemimpin dulu yang harus punya integritas, kompetensi, kedekatan dengan rakyat, dan tidak punya kepentingan dengan baik,” ujarnya.

    Oleh karena itu, Anies menggarisbawahi perlunya pemimpin otentik. Pemimpin yang otentik dengan menjadi dirinya sendiri inilah yang berani untuk mengambil terobosan di tengah politik uang yang luar biasa mahal sehingga merusak seluruh tatanan dan integritas bangsa.

    Di sinilah pemimpin perlu hadir. Pasalnya, semua mengetahui masalah ini, tetapi tak ada yang bertindak. Presiden seharusnya mengajak pimpinan partai politik bicara. Inilah cermin dari kepemimpinan modern yang bisa berkomunikasi dengan otentik, tak hanya mengandalkan strategi pencitraan yang memesona.

    Paralel dengan itu, masyarakat, terutama kelas menengah, harus memiliki sikap untuk ikut merasa memiliki masalah bangsa. Saat ini, kelas menengah hanya menjadi penonton dengan mendiskusikan, tidak bergerak, lalu meminta pemerintah menyelesaikan masalah bangsa itu.

    ”Anak muda jangan berorientasi pada dirinya sendiri, tetapi pada hasil kolektif,” kata Anies Baswedan.

    Teten juga menggarisbawahi partisipasi publik. Masalah bangsa tak bisa diserahkan kepada Presiden semata.

    Merdeka masih formalitas

    Sebaliknya, Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq dan Sekretaris Eksekutif Konferensi Waligereja Indonesia Benny Susetyo Pr, Senin, secara terpisah di Jakarta mengingatkan, kendati sudah 66 tahun resmi memproklamasikan diri, kemerdekaan Indonesia masih dirasakan sebagai formalitas saja. Kemerdekaan dan kedaulatan untuk rakyat banyak yang masih belum terwujud.

    ”Secara formal kita sudah merdeka 66 tahun. Namun, untuk kedaulatan politik, ekonomi, dan budaya, kita masih harus berjuang,” kata Fajar.

    Kebijakan politik luar negeri Indonesia, menurut Fajar, belum bisa mencerminkan kedaulatan Indonesia. Dalam pengiriman tenaga kerja Indonesia, negara belum mampu melindungi warganya. Negara belum bisa menghargai nyawa warganya.

    Pada penegakan hukum, masyarakat juga skeptis. Hal itu karena hukum di Indonesia bisa diperjualbelikan. Keadilan hanya dirasakan segelintir elite yang memiliki uang dan kekuasaan.

    Bangsa ini, kata Benny, tidak hanya terjajah korupsi yang dilakukan elite politiknya yang lebih ganas ketimbang penjajah konvensional. Mental penjajah menguasai elite. Akibatnya, masyarakat tetap tertindas perilaku elite politik yang memperkaya diri sendiri. Rakyat semakin telantar dan miskin.

    Kemerdekaan juga belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.(edn/iam/ina)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.