siwah.com

Tag: internal marketing

  • Penggabungan ke Akar Rumput Jadi Tantangan

    JAKARTA, KOMPAS — Berkembangnya gerakan kerelawanan politik menjadi salah satu indikator semakin matangnya demokratisasi di Indonesia. Namun, ruang lingkup gerakan yang cenderung elitis sehingga belum banyak menyentuh masyarakat akar rumput menjadi tantangan terbesar kerelawanan jika ingin mendorong perubahan tatanan politik agar jadi lebih inklusif.

    ”Saat ini gerakan kerelawanan umumnya masih ada di kalangan terdidik perkotaan dan kelas menengah. Gerakannya cenderung masih elitis, belum masif, karena belum menyentuh kelompok sosial lainnya, seperti buruh atau petani,” ujar pengajar Sosiologi Komunikasi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Semarang, Triyono Lukmantoro, Rabu (18/5), di Semarang.

    Padahal, menurut Triyono, gerakan kerelawanan akan bergulir kian menjadi besar dan konsisten jika mampu menggabungkan dua kelas sosial, yakni kelas menengah yang mampu mengartikulasikan ide dan masyarakat akar rumput yang merupakan basis massa terbesar di Indonesia.
    (more…)

  • Aceh’s complex internal politics

    The province of Aceh is certainly one of the most interesting and complex in Indonesia today, and in the lead-up to the elections of April 9, the internal complexity of the region is coming to the surface once again.

    For too long Aceh was seen through the somewhat myopic lens of media headlines: It was thought to be one of the most dangerous parts of Indonesia due to the bitter and prolonged struggle between the Aceh Independence Movement (GAM) and the state’s security forces; and then the advent of the tsunami of 2004 cast the province in the light of a blighted zone where time had come to a standstill.

    (more…)

  • Polemik Pemilukada Akibat Ego Kelompok

    Lhokseumawe | Harian Aceh – Ketua Pusat Kajian Konstitusi Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh Mukhlis Taib menilai polemik terkait Pemilukada Aceh yang terjadi belakangan ini bukan karena persoalan hukum, tapi ego kepentingan politik kelompok tertentu.

    Yang muncul sekarang persoalan politik yang mempunyai kepentingan dan keinginan tersendiri, bukan karena persoalan hukum. Kalau persoalan hukum, misalnya, terkait Qanun Pemilukada, itu bisa dibahas kenapa deadloc. Tapi kalau menyangkut kepentingan dan tetap mempertahankan ego, ini yang menjadi masalah. Ini perlu diwaspadai, karena ada pihak yang akan mengambil keuntungan,” kata Mukhlis Taib saat dihubungi, Jumat (22/7) sore.

    Menurut Mukhlis, sesuai ketentuan hukum Pemilukada kali ini bisa dilaksanakan dengan qanun yang lama, karena belum ada qanun baru. Namun karena adanya kepentingan politik, kata dia, kelompok tertentu menciptakan konflik baru. “Persoalan sebenarnya cuma sedikit, tidak diakuinya calon perseorangan. Sayangnya, persoalan ini sekarang digiring melebar ke mana-mana. Jadi ini konflik yang diciptakan sehingga membesar. Padahal mestinya soal calon perseorangan itu biar rakyat yang menilai, biar alam yang menyeleksinya,” katanya.

    Mukhlis mengingatkan bahwa keputusan Mahkamah Konstitusi tentang calon perseorangan sudah final. Apapun kejadian yang muncul, kata dia, keputusan tersebut tidak bisa berubah. “Karena keputusan MK sudah final, maka  harus dilaksanakan. Jika tidak, melanggar hukum. Karena itu, semua harus sesuai mekanisme yang ada. Kalau mau melaksanakan Pemilukada damai, lanjutkan, untuk memperoleh pemimpin yang sehat,” kata mahasiswa program Doktor Ilmu Hukum di Universitas Padjajaran Bandung ini.

    Terkait penghentian anggaran Pemilukada, Mukhlis menilai jika hal itu berdasarkan kepentingan politik maka bisa saja terjadi. Pasalnya, jika kepala daerah menolak permintaan parlemen, dikhawatirkan pemerintahan akan digoyang. Bila permintaan tersebut dipenuhi, kata dia, tentu Pemilukada akan tertunda. “Jika ditunda efeknya berat, pemimpin Aceh mulai dari provinsi sampai kabupaten/kota kemungkinan akan di-PJ-kan. Itu tidak bagus dalam sistim pemerintahan,” katanya.

    Ia juga menyayangkan sikap elit Aceh yang mulai kebiasaan hanya gara-gara mempertahankan ego kepentingannya, kemudian meminta fatwa kepada pemerintah pusat. “Sedikit masalah sudah minta diselesaikan oleh pusat, apakah kita selalu menginginkan seperti itu. Efeknya, daerah dianggap tidak mampu berbuat apa-apa. Pemerintah Pusat akan tertawa, bertepuk tangan sambil mengatakan ‘peucit raya that su, sapeu han bereh’,” kata Mukhlis.(nsy)

    Source : Harian Aceh

    Posted with WordPress for BlackBerry.