siwah.com

Tag: muzakkir

  • In Indonesia, former combatants take up politics

    Located on the westernmost side of Indonesia, the province of Aceh has gained a reputation for conflict since the Free Aceh Movement (Gerakan Aceh Merdeka, widely known as GAM) took up arms in 1974 in an attempt to secede from Indonesia.

    The province adopted Shariah, Islamic principles of jurisprudence, as the basis of its legal system in 2003, while a nine-year Indonesian military occupation of Aceh resulted in thousands of casualties. Armed conflict claimed the lives of Indonesian soldiers, GAM guerrilla fighters, and inevitably, civilians as well. Braving the crossfire, even in residential areas, was a daily event.

    It is now taking time for a new government, which was elected this spring, to encourage their supporters to work within the political system. Having fought against the government for more than three decades, these former guerrilla leaders have now become part of the democratic system. As a result, they must reign in any violence by their constituents and put constitutional principles forward instead.

    The massive 8.9 magnitude earthquake and tsunami that devastated Aceh in December 2004 became the gateway to end the conflict that had been dragging on for more than 30 years. With the scale of the natural disaster, the government and GAM had to prioritize reconstruction over continuing to pursue their political differences. And in 2005, GAM and the government of Indonesia signed a memorandum of understanding in Helsinki, Finland.

    The establishment of local political parties, including the Aceh Party, which is comprised of former GAM combatants, was one of the key stipulations in the Helsinki memorandum of understanding. And in the 2009 legislative elections, the Aceh Party won 42 of 69 seats in the regional Parliament that governs Aceh, winning the majority of the vote in 23 Aceh regencies and cities.

    Despite their lack of political experience, the former guerrilla fighters dominated the seats in the regional parliament and won control of the Aceh government. In one fell swoop, former combatants had switched gears: from armed struggle to politics.

    And last April, for the second time since the peace treaty of Helsinki, Aceh held general elections for its governor, regents and mayors. Zaini Abdullah and Muzakir Manaf of the Aceh Party won elections for governor and vice governor respectively, with 1,327,695 votes (55.78 percent of the total), defeating four other pairs of candidates.

    While voting on election day proceeded largely without problems, the campaign period was colored by violence and intimidation. Between March 12 and April 15, the Aceh Institute, a nongovernmental research organization, identified 77 cases of violence that included intimidation, verbal threats, physical violence, and damage to public property. In some instances, the police found that the perpetrators were members or partisans of the Aceh Party. This suggested that more work is still required to fully complete the transition from a violent struggle to a political one.

    But efforts to maintain peace remain the focus of Abdullah and Manaf’s regional government. “In the first year [of governing], we are going to keep a true peace in Aceh. Furthermore, we are trying to improve the economy for the welfare and prosperity of Aceh’s people,” Abdullah said on April 17, speaking to a group of journalists at his home in the provincial capital of Banda Aceh.

    However, in addition to continuing to speak out publicly against violence, Abdullah and his Aceh party must do more. The potential for violence remains real, as illegal weapons have been circulating widely in the province and election violence continues to be reported. The fact is that there is evidence that violence is still considered a tool for political change. Abdullah must seek support from the government of Indonesia for a more assertive police crackdown on owners of illegal weapons and criminal behavior. Only then will Aceh be safer.

    These former guerrilla leaders have a duty to teach their constituents by example. This means that even though the Aceh Party won seats in the government, peace for all Acehnese will only be preserved when the rule of law prevails.

    Ayi Jufridar is a journalist and novelist. He previously worked for the Asahi Shimbun newspaper of Japan and the Associated Press in Aceh. He is now a correspondent for Jakarta’s Jurnal Nasional daily. THE DAILY STAR publishes this commentary in collaboration with the Common Ground News Service (www.commongroundnews.org).

    Source : The Daily Star Lebanon

  • Muzakir Manaf Siap Perbaiki Ekonomi Aceh

    GAYO LUES – Ketua Partai Aceh Muzakir Manaf mengatakan, dirinya sangat mengenal kondisi masyarakat di Gayo Lues, karena dimasa lalu dirinya sering menjelajahi wilayah ini.

    “Saya tahu bagaimana kondisi masyarakat Gayo Lues, miskin dan susahnya, Ini akan menjadi PR apabila Zikir terpilih nanti,” kata Muzakir Manaf kepada rakyat Gayo Lues pada Deklarasi pemenangan Calon Gubernur/wakil Gubernur Zaini Abdullah- Muzakir manaf, serta Bupati/wakil bupati Gayo Lues Irmawan Yudi Candra di Lapangan SD 1 Pusat kota Blang Kejeren, Gayo Lues, senin (27/2).

    Dikatakan Mualem, sapaan Muzakir, sedikitnya prioritas jangka pendek pertama yang harus dilakukan   dengan memperbaiki ekonomi masyarakat, sebab pengalaman di beberapa negara kemiskinan dapat menghalalkan segala cara.

    “Kalau ekonomi kita buruk semua bisa dihalalkan,” lanjut Mualem.

    Disebutkan, dana otsus Aceh yang mencapai 2 trilyun pertahun, seharusnya setiap keluarga bisa memperoleh minimal 500 ribu per bulan. “Ini program Jangka Pendek, makanya mari kita bersama dibawah PA,” katanya.

    Mantan Panglima GAM ini juga menguraikan beberapa program yang telah di kerjakan Partai Aceh melalui Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), seperti Bandara Iskandar muda yang kinibisa disinggahi langsung oleh pesawat luar negeri. “Sekarang pesawat dari luar negeri bisa langsung mendarat di Aceh, tidak perlu melalui Medan lagi. Begitu PP Sabang yang sudah selesai, ini sebuah kemajuan,” jelasnya.

    Muzakir juga meminta kepada masyarakat untuk memberi dukungan  kepada PA untuk menyelesaikan Qanun dan PP hingga tahun 2013 mendatang.[]

    Source : Atjehpost.com

  • JKA Versi Muzakir Manaf

    GAYO LUES – Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) yang sudah berjalan sekarang bukan pekerjaan orang perorang, tetapi hasil perjuangan PA di DPRA. Kalau selama ini kita melihat JKA seakan dimiliki oleh seorang saja, maka itu pembohongan yang luar biasa.

    “Pelayanan kesehatan Aceh itu di dukung oleh Partai Aceh DPRA, maka lahirlah pengobatan gratis,” kata Muzakir Manaf pada Pidato khususnya di depan ribuan simpatisan Partai Aceh di Lapangan SD 1, Kota Blang Kejeren, Gayo Lues, senin (27/2).

    Namun diakui Muzakir kalau sekarang keadaannya sudah berubah jauh, karena harapan pelayanan yang dimaksud tidak tercapai. “Banyak obat-obatan JKA yang kadaluarsa,” katanya.

    Ke depan, PA akan berjuang untuk pelayanan kesehatan yang lebih baik. Diakuinya, kalau selama ini orang Aceh lebih banyak berobat ke Penang, maka ke depan Dokter Penang yang kita bawa ke Aceh. “Dokter dari Penang akan bekerjasama dengan dokter kita di sini,” ujar Mualem.

    Pelayanan kesehatan ini, kata Mualem, juga menjadi prioritas jangka pendek Partai Aceh. “Kita ingin menjadikan rumah sakit di seluruh kabupaten/kota punya kualitas yang sama sehingga masyarakat tidak perlu ke Banda Aceh lagi, tapi cukup di daerah masing-masing.”[]

    Source : Atjehpost.com

  • Dia Memang Seorang Mualem

    Bertubuh tinggi. Hidungnya mancung, dengan kumis dan janggut. Wajahnya laksana orang-orang dari Timur Tengah, dan juga India. Dialah Sang Panglima yang akrab disapa Mualem. Bernama lengkap Muzakir Manaf, kini memimpin Partai Aceh dan juga komandan tertinggi Komite Peralihan Aceh yang isinya adalah para mantan kombantan Gerakan Aceh Merdeka.

    Dulu, awal mula dia ditunjuk menjadi Panglima GAM untuk menggantikan Abdullah Syafii yang wafat pada 2002, melalui telepon selular saya pernah bicara dengannya dan menanyakan apa yang akan dilakukannya sepeninggalan Tengku Lah –sapaan akrab Abdullah Syafii. Saya hanya memperoleh dua tiga kalimat saja.  Mualem melanjutkan apa yang sudah digariskan Abdullah Syafii. Sejak itu, saya paham Mualem adalah orang  yang sangat hemat berbicara.

    Sembilan tahun berselang, saya ke Banda Aceh. Bersama Yuswardi A. Suud mendirikan www.atjehpost.com. Dan, Mualem adalah tokoh Aceh kombatan yang penting untuk kami wawancara panjang di media online ini. Bukan perkara gampang mengajaknya bicara, dia lebih banyak mendengar, lalu menjawabnya dengan kalimat-kalimat pendek. Kemudian setelah beberapa jam bicara barulah terasa cair dan bicara pun terkadang diselingi canda.

    Setelah wawancara itu, saya beberapa kali bertemu dengannya. Terkadang dia bertanya seluk beluk soal seorang wartawan dan media. Dia berharap agar seorang wartawan menuliskan sesuatu sesuai dengan fakta saja. “Saya tak minta agar pemberitaan untuk saya dan lembaga yang saya pimpin itu ditulis yang baik-baik saja, tetapi silahkan kritik kami jika itu memang fakta,” katanya. “Kami juga perlu dikonfirmasi, karena itu di lembaga kami ada juru bicaranya. Dan bersikaplah adil sebagai wartawan.”

    Selama saya berinteraksi dengan Mualem, belum pernah ada sepatah katapun darinya untuk menyudutkan pihak lain lewat pemberitaan, maupun memoles pemberitaan agar lembaganya terlihat sempurna. Dia juga tak meminta agar dirinya diberitakan seperti orang suci laksana malaikat. Dia paham wartawan itu harus bekerja bebas. Sedangkan untuk informasi internal lembaganya, dia membuat sebuah tabloidnya sendiri bernama Beranda.

    ***

    Rumah itu bercat abu-abu dipadu dengan warna putih dan garis merah di pagarnya. Berlokasi di Ulee Kareng, Banda Aceh, Mualem sering berada di rumah ini. Setiap dia ada, selalu saja ramai yang datang. Orang-orang keluar masuk secara bebas, tak ada pertanyaan maupun pemeriksaan yang ketat pada setiap orang yang masuk ke rumah.

    Saya sering datang ke mari dan bertemu dengan Mualem. “Kaleueh khanduri,” begitu katanya saat menyapa. Atau dilain waktu, dia bertanya “kiban na jroh uroenyoe?” Sesekali Mualem juga suka bercanda dengan kalimat, “na wawancara uroenyoe?”.  Dia mengucapkannya sambil tersenyum lebar, kemudian bertanya kondisi keluarga dan anak-anak.

    Mualem murah senyum kepada siapa saja yang menjumpainya. Memang, di awal pertemuan biasanya dia lebih banyak mendengar, namun setelah itu tentu saja percakapan akan berjalan lancar. Dia juga tak begitu suka dengan ‘protokoler’. Bahkan kami sering duduk-duduk di lantai di teras rumah itu bersama tukang, penarik becak, dan juga sopir.

    Kepada mereka, dia biasanya bertanya tentang keadaan di kampung, dan kondisi keluarganya. Bahkan dia lebih memilih duduk-duduk bersama kombatan yang di kalangan ‘bawah’, apalagi jika dia melihat ada mantan kombatan yang datang dengan tali pinggang miring dan hampir putus, pasti dia merogoh koceknya agar si mantan kombatan merapikan diri.  Begitu juga setiap ada orang miskin dari kampung yang datang, tak peduli kombatan atau bukan, dia selalu mengeluarkan dompet.
    Pernah saya melihat dia kehabisan uang. Jika sudah demikian, Mualem akan duduk di ruangan tengah rumahnya dan berdiam diri.

    Itulah sebabnya, ketika dia menjadi salah seorang kandidat Wakil Gubernur Aceh yang diusung oleh Partai Aceh yang dipimpinnya, dia bercita-cita sederhana saja: menghapus kemiskinan di Aceh, membantu anak-anak yatim, membantu eks-kombatan yang masih belum terangkat nasibnya, dan meningkatkan ekonomi rakyat. “Sangat mungkin untuk kita lakukan di Aceh ini,” katanya.

    Dia sering bersedih bila mengingat eks-kombatan yang nasibnya masih tragis di daerah-daerah. “Mereka kadang saya lihat sendal saja sudah mau putus, ada yang warnanya belang,” katanya. “Tragis nasib mereka.”

    Namun, kemunculan Mualem ditingkahi dengan konflik regulasi soal Pilkada Aceh. Terutama menyangkut putusan Mahkamah Konstitusi yang mencabut salah satu pasal dari Undang-undang Pemerintah Aceh. Mualem menilai, itu semacam upaya penggerogotan terhadap kewenangan yang dimiliki olegh Aceh. Padahal katanya UUPA itu adalah produk perjanjian perdamaian di Helsinki. “Undang-undang itu lahir dari darah dan air mata rakyat Aceh,” katanya.

    Kebetulan, pasal ini menjadi masalah di tengah-tengah berlangsungnya Pilkada Aceh, dan pasal yang menyangkut tentang calon perseorangan (biasa disebut calon independen), maka pertentangan pun terjadi. Satu pihak ada yang mendukung calon independen, di pihak lain ada yang menentang calon independen.

    “Tetapi sebenarnya, bukan itu yang jadi persoalannya. Yang paling mendasar adalah mengapa pasal itu dicabut,” katanya. “Bagi saya, bukan tentang ada tidaknya calon independen (calon perseorang), tetapi esensinya adalah soal UUPA yang suatu saat akan kehilangan maknanya.”

    ***

    Persoalan UUPA ini bergulir ke sana ke mari. Terkadang liar tak menentu, bahkan menyentuh ke persoalan sensitif lainnya. Ada yang mencoba mengecilkan persoalannya, ada yang berusaha memanas-manaskan situasi agar bisa mengail di air keruh, ada pula yang berupaya membantu menengahinya. Tentu ada pula yang memanfaatkan kekisruhan ini untuk kepentingannya sendiri.

    Mula-mula proses ini bergulir di DPRA, kemudian melibatkan partai politik nasional, hingga kemudian ke ruang rapat di Kementerian Dalam Negeri, bahkan sampai pula ke ruang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, hingga hari ini persoalan UUPA ini belum kunjung datang penyelesaiannya. Kegundahan Mualem tentu makin menjadi.

    Persoalan ini bergulir tak berujung hingga berakhirnya batas waktu pendaftaran untuk Pilkada Aceh, pada Jumat 7 Oktober 2011.

    ***

    Berbaju kotak-kotak biru. Kali ini Mualem berada di kantor Partai Aceh. Ini adalah kali pertama dia mengadakan konferensi pers selama proses Pilkada Aceh berlangsung. Di sini dia mengumumkan sikap Partai Aceh menyangkut Pilkada Aceh 2011 ini. “Dalam hal pencalonan kami sebagai kandidat di Pilkada Aceh sangat bergantung kepada kejelasan sikap pemerintah tentang penyelamatan Undang- Undang Pemerintah Aceh (UUPA),” kata Mualem.

    “Kami tidak memiliki ambisi menjadi eksekutif jika persoalan ini tidak diselesaikan dan ini adalah tugas utama Partai Aceh dan bagi siapapun yang berkuasa di Aceh,” katanya. “Perhatian utama kami untuk saat ini bukanlah soal pergantian kepemimpinan atau perebutan kekuasaan di Aceh. Perhatian utama kami adalah penyelamatan UUPAsebagai wujud perjuangan rakyat Aceh selama 35 tahun.”

    “Kami menilai ada upaya sistematis dari kelompok tertentu yang belum perlu kita sebutkan di sini untuk mengurangi kewenangan Aceh yang tertuang dalam UUPA. Upaya ini juga bentuk pelecehan terhadap martabat DPRA sebagai lembaga Perwakilan Rakyat Aceh yang seolah-olah untuk kepentingan hukum dan demokrasi.”

    Hingga akhir batas waktu pendaftaran Pilkada Aceh belum juga muncul kejelasan sikap pemerintah dalam persoalan UUPA, maka itu Mualem tak mendaftarkan diri di Pilkada Aceh ini. Dia berpegang teguh pada prinsipnya, bukan untuk kepentingan pribadi. Dia memang seorang Mualem, seorang pemimpin. []

    Source : The Atjeh Post

  • Mualem: Secara Politik Kami Berbeda

    BANDA ACEH – Ketua Umum Partai Aceh Muzakir Manaf hadir dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke 65 tahun. Bersama para pejabat kepolisian dan pemerintah, mantan Panglima GAM yang akrab disapa Mualem itu terlihat sempat semeja dengan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf.

    Itu pemandangan yang menarik. Maklum, keduanya berseberangan dalam politik pada Pilkada Aceh 2011 ini. Di satu sisi Partai Aceh menyatakan menolak calon independen, sedangkan Irwandi hendak mencalonkan diri lagi lewat jalur independen.

    Itulah sebabnya, wartawan berebut bertanya soal Muzakir soal semeja dengan Irwandi itu. Tak lupa mereka mengulangi pertanyaan soal calon independen.

    Berikut kutipan wawancaranya.

    Kenapa Partai Aceh menolak kehadiran calon independen?

    Kita, kalau independen tidak lagi, hanya dibenarkan satu kali di Aceh. Sebab saat itu kita tidak ada kendaraan untuk  menopang pemilukada 2006. Tapi saat ini kita suda ada partai sendiri, kendaraannya sendiri,  kenapa kita musti pakai Independen lagi.

    Lalu bagaimana dengan keputusan Mahkamah Konstitusi?

    Kita akan mengikuti apa saja yang ada di UUPA dan sesuai dengan MoU Helsinki. Keputusan MK saya tidak tau, mungkin itu putusan keliru, atau mungkin saja punya maksud tertetu, tapi saya tidak tahu. Putusan MK, putusan yang keliru kerena tidak menghiraukan apa yang telah disepakati.

    Bila ada calon Independen apakah Partai Aceh akan membaikot pemilu?

    Itu kita lihat nanti, kita tidak bisa membicarakan sekarang.

    Soal duduk dengan Irwandi, apa yang diceritakan?

    Itu masalah pribadi, saya tidak bisa katakan di sini, kenangan lamalah, kita curhat kembali.

    Apa merasa terkejut ketika diajak Kapolda Iskandar Hasan duduk semeja dengan Irwandi?

    Tidak, karena disitu ramai, ada Kapolri, Pangdam, pokoknya disitu lengkap lah.

    Bagaimana hubunga Anda dengan Irwandi?

    Secara pribadi baik, namun beda secara politik biasalah di alam demokrasi.[]

    Source : The AtjehPost

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Reuni Irwandi – Muzakir di Ulee Lheue

    reuni muzakkir manaf & irwandi

    Di bawah pohon cemara, di antara hembusan angin laut Ulee Lheue, Gubernur Irwandi dan Muzakir Manaf saling melempar canda dan tertawa lepas. Kapolda Aceh Inspektur Jenderal Iskandar Hasan menjadi ‘seulangke’ dua sahabat yang sedang berseteru itu.

    _________________________________________

    Kapolri Jenderal Timor Pradopo baru saja turun panggung, usai memberi sambutan dalam peringatan hari ulang tahun ke-65 Bhayangkara di samping Polsek Ulee Lheue, Banda Aceh, Jumat pagi, 1 Juli 2011. Kini, tiba saatnya acara makan bersama sejumlah pejabat daerah.

    Di bawah pohon cemara dan hembusan angin laut Ulee lheue, mereka menikmati aneka makanan yang disajikan. Di meja paling depan, duduk Gubernur Aceh Irwandi Yusuf. Di sampingnya, ada Kapolda Aceh Inspektur Jenderal Iskandar Hasan, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, Ketua DPRA Hasbi Abdullah, Pangdam Iskandar Muda Mayjen Adi Mulyono dan Kajati Yusni. Mereka duduk melingkar di  sebuah meja bulat yang disediakan di antara tumpukan pasir di tepi pantai.

    Di meja belakang mereka, duduk mantan Panglima GAM Muzakir Manaf, pemangku jabatan Wali Nanggroe Malik Mahmud, Walikota Banda Aceh Mawardy Nurdin dan Wakil DPRA Sulaiman Abda.

    Usai seremonial dan makan nasi Padang, Kapolda Iskandar Hasan tiba-tiba membalikkan badan menghadap ke arah Muzakir Manaf yang duduk persis di belakangnya.  Iskandar bangkit dari kursinya dan meraih tangan Muzakir, lalu menuntunnya untuk duduk di kursi yang dia duduki sebelumnya. Posisinya persis di sebelah Gubernur Irwandi Yusuf.

    Muzakir yang mengenakan setelan jas hitam langsung menyalami Irwandi yang tak beranjak dari tempat duduknya. Adegan berikutnya sungguh di luar dugaan: mereka terlibat pembicaraan akrab. Sesekali mereka berbisik, lalu diiiringi tawa lepas. Persis dua sahabat yang lama tak bertemu. Momen langka selama tiga menit itu tak dilewatkan begitu saja oleh para fotografer. Klik..klik…

    Entah siapa yang mulai, Kapolri dan Pangdam yang semula duduk di meja yang sama, lalu bangkit membiarkan Gubernur Irwandi dan Muzakir Manaf. Sesaat kemudian, Kapolri berada di belakang mereka dan berbincang dengan Malik Mahmud sambil berdiri.

    Tak lama terdengar suara Kapolda,”ayo foto bersama, ayo foto-foto dulu.” Seperti dikomando semua pejabat yang hadir berkumpul di belakang Irwandi dan Muzakir yang masih duduk di kursi. Kapolri lalu meminta Pangdam duduk di samping mereka. Kapolri sendiri memilih berdiri di sebelah Malik Mahmud.

    foto bersama kapolri & muspida aceh

    Dan, klik…klik..klik…kamera bekerja. []

    Source : The Atjehpost

    Posted with WordPress for BlackBerry.