siwah.com

Tag: obama

  • Rakyat AS Menentukan Masa Depan

    Washington DC, SELASA – Jutaan rakyat Amerika Serikat berbondong-bondong menuju ke tempat-tempat pemungutan suara, Selasa (6/11). Mereka akan memilih presiden AS, anggota DPR AS, dan sepertiga anggota Senat AS, yang semuanya akan menentukan masa depan negara adidaya tersebut.

    Tempat-tempat pemungutan suara mulai dibuka di negara-negara bagian di Pantai Timur AS pada pukul 06.00 waktu setempat (18.00 WIB). Namun, dalam sebuah tradisi rutin, tempat pemungutan suara di Desa Dixville Notch, Negara Bagian New Hampshire, langsung dibuka selepas tengah malam dan penghitungan suara langsung dilakukan.
    (more…)

  • Political Marketing in 2012

    Editor’s Note: I am very pleased to introduce a new contributor to Research Access – Matt Simon. Matt will be writing regularly for Research Access about political marketing and research topics. He worked in Washington, DC, for 23 years as a political writer, magazine editor, and producer, including eight years as producer of “Face-Off,” a national daily debate program featuring US Senators Ted Kennedy and John McCain. He is founder of the Seattle-area Eastlake Digital Group, which specializes in social media marketing. Matt can be reached at mattsimon@q.com.

    Don’t Hurt Me?

    Envy not political marketers—particularly those connected with the 2012 US presidential race. Why? Well, before we get to the specifics of 2012, I’ll start by confessing that my many years in Washington, DC, made it physically difficult for me to type the phrase “political marketer.” I was instantly visited by three ghosts from workplaces past, all with very nervous stomachs, who peered over my shoulder at my screen and said, respectively, “You’re off message!” “Don’t say ‘marketers’!” and, “We’re ‘advocates for a secure tomorrow’—I think. Let me get back to you on the exact wording.”
    (more…)

  • Obama Terancam

    Menurut berita terakhir sejumlah survei nasional tepercaya, kesempatan petahana Presiden Barack Obama dipilih kembali pada pemilihan presiden November mendatang semakin menipis.

    Survei Gallup minggu ini, misalnya, melaporkan bahwa dukungan pemilih bagi Mitt Romney, yang hampir pasti akan diangkat sebagai calon presiden dari Partai Republik, lawan utama Partai Demokratnya Obama, kini mendekati tingkat dukungan Obama.
    (more…)

  • Obama Siapkan Program Ekonomi Baru

    Atkinson, Rabu – Presiden Amerika Serikat Barack Obama tengah menyiapkan rencana ekonomi untuk membangkitkan kembali ekonomi AS. Program untuk menjawab kekhawatiran masyarakat soal tingginya angka pengangguran dan pertumbuhan ekonomi yang lambat itu akan disampaikan saat Kongres AS kembali bersidang, September.

    Pejabat Gedung Putih, Rabu (17/8), mengumumkan, proposal itu termasuk paket pemotongan pajak, pembangunan infrastruktur, dan bantuan bagi jutaan warga AS yang kehilangan pekerjaan dalam beberapa bulan terakhir.

    Untuk mewujudkan program itu, Obama meminta komite khusus di Kongres memutuskan penghematan anggaran lebih besar dari 1,5 juta dollar AS yang ditargetkan pada 23 November. Sebagian penghematan itu yang digunakan untuk membiayai programnya.

    ”Saat Kongres kembali bersidang pada September, argumen dasar saya adalah kami tak bisa memilih antara kebijakan fiskal dan lowongan pekerjaan serta pertumbuhan di sisi lain. Kami harus melakukan kedua-duanya sekaligus,” kata Obama dalam pertemuan dengan pendukungnya di Atkinson, Illinois.

    Rencana tersebut belum diungkap dalam perjalanan Obama ke Minnesota dan Iowa sebelumnya. Selama kunjungan itu, Obama banyak mendapat pertanyaan soal pengangguran dan merosotnya ekonomi.

    Karena itu, Obama juga meminta rakyat mendukung anggota Kongres untuk mencapai kesepakatan dengannya. ”Jika Anda yang mendesak, suara Anda akan lebih didengar daripada saya. Bagaimanapun, Anda yang menempatkan mereka di sana, bukan?” ujar Obama.

    Program ini akan disampaikan pada September setelah masa libur Hari Buruh yang jatuh pada 5 September. Obama sendiri seusai kunjungan tiga hari ke tiga negara bagian itu langsung kembali ke Washington, dan akan berlibur selama 10 hari bersama keluarganya ke Martha’s Vineyard.

    Obama berjuang mengegolkan program ini di tengah popularitasnya yang menurun. Jajak pendapat Gallup yang dipublikasikan pada Rabu memperlihatkan, hanya 26 persen rakyat AS yang setuju dengan Obama menangani ekonomi AS. Jumlah ini turun 11 persen sejak pertengahan Mei.

    Rencana ini langsung ditentang Partai Republik. Mereka menegaskan kembali posisi Republik terhadap kenaikan pajak dan stimulus ekonomi. ”Berhenti berutang, kurangi pengeluaran. Berhentilah berusaha menaikkan pajak,” kata pemimpin mayoritas Senat, Mitch McConnell.

    ”Terlalu sedikit dan terlambat. Namun, kami mengapresiasi fakta dia menyediakan waktunya untuk bekerja, tak hanya bepergian dengan bus, lalu berlibur ke Martha’s Vineyard,” ujar kandidat presiden dari Partai Republik, Mitt Romney, menyindir Obama. (AP/Reuters/was)

    Source : Kompas.com

  • Kejayaan Partai Teh

    Seharusnya kebijakan ekonomi di negara maju diputuskan setelah pertimbangan matang dan bukan sebagai hasil paksaan sejumlah kecil aktivis ekstrem. Namun, kenyataan pahit itulah yang harus diterima masyarakat Amerika. 

    Setelah disandera beberapa bulan, Presiden Obama dan para pemimpin Kongres baru diizinkan menaikkan batas utang negara pada 2 Agustus lalu. Seandainya keputusan itu ditunda sehari lagi, pemerintah akan dinyatakan default (gagal bayar) atau tak mampu membayar kembali semua obligasinya, menurut Menkeu Timothy Geithner.

    Sebelumnya, kenaikan batas utang itu dilakukan hampir 80 kali sejak Perang Dunia II di bawah presiden-presiden, baik dari Partai Republik yang kanan seperti Ronald Reagan maupun Partai Demokrat yang kiri seperti Bill Clinton.

    Baru kali inilah dipersoalkan oleh Kongres, khususnya fraksi Partai Republik yang sejak pemilu legislatif 2010 menjadi mayoritas di Dewan Perwakilan (House of Representatives), satu dari dua badan legislatif nasional AS. Badan kedua, Senat, masih dikuasai Partai Demokrat. Presiden Obama berasal dari Partai Demokrat.

    Munculnya kelompok baru

    Faktor apa yang membawa Pemerintah AS ke ambang pintu kehancuran kredibilitasnya sebagai pengutang internasional? Inti jawaban saya, munculnya kelompok baru dalam politik Amerika: anggota Dewan Perwakilan dari Partai Republik yang dipilih untuk kali pertama pada pemilu 2010.

    Mereka berjumlah hanya 85 orang, sekitar sepertiga dari anggota fraksi Republik (240 orang) dari total anggota Kongres yang mencakup 435 orang. Ciri-ciri khas mereka: sebuah visi politik sederhana dengan daya tarik kuat, sikap percaya diri tinggi, serta strategi politik canggih.

    Kelompok ini juga menyebutkan diri faksi Tea Party, Partai Teh. Label itu dimaksudkan untuk mengingatkan kita kepada pejuang Revolusi Amerika yang menumpahkan teh di pelabuhan Boston sebagai protes terhadap kebijakan pajak pemerintahan Inggris. Juga untuk mengambil jarak dari Partai Republik meski semua anggota kelompok ini di Kongres mewakili partai itu. Ketika berdemonstrasi, mereka suka mengenakan rambut putih palsu dan kostum patriotik zaman penjajahan. Nyentrik, tetapi semua orang tahu siapa mereka.

    Tuntutan khas Tea Party adalah perlawanan pada segala bentuk kenaikan pajak, no new taxes. Kenaikan batas utang negara harus disertakan dengan pemotongan anggaran pengeluaran setimpal. Sama sekali tidak boleh disertakan dengan pajak baru dalam bentuk apa pun, termasuk penutupan lowongan dalam struktur perpajakan yang sedang berlaku. Mereka mengalahkan bukan hanya Presiden Obama dan mayoritas Senat yang Demokrat, tetapi juga kepemimpinan partai mereka sendiri, Partai Republik, di Dewan Perwakilan.

    Kemenangan Tea Party disebabkan terutama oleh keberanian politik. Mereka berhasil meyakinkan semua orang, baik teman maupun lawan, bahwa mereka tidak takut pada ancaman gagal bayar. Tegas mereka, lebih baik gagal bayar—suatu hal yang belum pernah terjadi dalam sejarah Amerika—ketimbang kenaikan pajak.

    Mereka menolak beberapa tawaran murah hati, berlapang dada, dari Presiden Obama bersama pemimpin Partai Republik. Di dalam tawaran-tawaran itu masih ada unsur pajak meski kecil dibandingkan dengan pemotongan pengeluaran. Macam-macam alasan diajukan untuk melunakkan posisi mereka, seakan-akan bahaya gagal bayar tak sedahsyat diyakini orang lain, termasuk para ekonom, pebisnis, dan bankir.

    Namun, pada dasarnya mereka mengandalkan ketakutan umum itu untuk memaksakan kemauan mereka. Mereka percaya betul bahwa Obama akan tunduk ketimbang membiarkan kas negara tak mampu melunasi utang Amerika. Mereka benar.

    Semakin apresiatif

    Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari cerita ini? Sebagai pengamat politik Indonesia, saya semakin apresiatif terhadap kebijakan ekonomi sejumlah presiden, termasuk Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Ancaman politik yang mereka hadapi berasal dari kiri dalam bentuk tuntutan populis dan antiglobal, bukan dari kanan seperti di Amerika. Akan tetapi, selama ini mereka mampu mempertahankan garis besar kebijakan ekonomi yang pro-pasar dan terbuka kepada dunia.

    Pada waktu yang sama, kalau saya adalah orang Indonesia, saya akan bersikap lebih skeptis terhadap peran global Amerika. Syukur alhamdulillah, sebuah malapetaka dihindari kali ini.

    Namun, hal itu tidak menjamin bahwa Pemerintah AS akan terus bertindak secara bertanggung jawab selaku pemain global. Ternyata kebijakan ekonominya terlalu mudah dijungkirbalikkan oleh kelompok aktor kecil dengan visi sempit, tetapi dengan dedikasi dan keterampilan politik tinggi.

    R William Liddle Profesor Emeritus, Ohio State University, Columbus, OH, AS

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • “Ngobama”

    Saya yakin andai ada sesi tanya jawab dalam pidato di Balairung Kampus UI, Depok, Rabu (10/11), banyak hadirin yang curhat kepada Presiden AS Barack Obama. Soalnya dia mendadak jadi pemimpin idola yang kita rindukan walau cuma mampir di Jakarta 19 jam saja.

    Curhat pertama begini. ”Bapak dua kali membatalkan lawatan ke sini karena bencana kebocoran minyak Teluk Meksiko dan memperjuangkan RUU jaminan kesehatan. Kenapa para pemimpin/politisi kami malah ke luar negeri saat ada bencana di Wasior, Mentawai, dan Merapi?”

    Curhat nomor dua lain lagi. ”Bapak warga minoritas, tapi bisa jadi presiden. Kok bisa? Sukar dibayangkan itu terjadi di sini karena hampir semua etnis dan agama minoritas dimusuhi atau diserbu. Pemerintah berpangku tangan saja!”

    Sekarang curhat nomor tiga. ”Pak, apa benar mau membantu pemberantasan korupsi? Kalau benar, tolong cepat-cepat kirim agen-agen FBI menyidik korupsi Century. Kalau bisa, kerja sama kemitraan strategis mencakup pula bantuan ahli-ahli AS mengurai banjir dan macet Jakarta!”

    Pidato Obama bukan saja mengundang curhat, tetapi juga tangis. Saya dua kali diundang menyaksikan pidatonya ketika merayakan kemenangan Pilpres 2008 di Chicago, November 2008, dan dilantik sebagai presiden di Washington DC, Januari 2009.

    Ratusan warga mewek, mulai dari yang menangis meraung-raung sampai yang hanya menitikkan air mata. Mereka yang menangis tak pandang bulu: tua, muda, kaya, miskin, hitam, putih, sendiri-sendiri, atau beramai-ramai. Saya bersumpah ikut sedikit terharu!

    Jika berpidato, Obama memang enggak pernah curhat. Tetapi, ia reach out mendengarkan curhat rakyat. Akibatnya, rakyat merasa punya teman berbagi dan berharap hidupnya bisa lebih baik. Itu sesuai dengan slogan kampanye kemenangan Obama, ”Yes We Can” (Bersama Kita Bisa).

    Mengapa Obama pandai menampung curhat? Kini saya tahu jawabannya: 50 persen karena ia orang awam yang tak sudi berpura-pura dan 50 persen karena rakyat kecewa kepada Presiden George W Bush selama delapan tahun memerintah.

    Obama sebenarnya kurang pandai berpidato, makanya ia disarankan tetap memakai teleprompter. Namun, ia jujur dalam menyampaikan isi dan cara menyampaikan pidato dengan gaya profesor rendah hati. Seperti kata pepatah, the singer, not the song.

    Rakyat AS tergila-gila kepada Obama karena sebal kepada George W Bush. Fenomena ini lebih kurang sama dengan yang dialami 5.000 hadirin di Balairung UI, yang tergila-gila pula kepada Obama karena merasa sebal terhadap kelakuan para pemimpin kita.

    Jadi, ”Obamania” di sini cuma sekadar kompensasi politik. Kini di negaranya Obama mulai menghadapi masalah, tetapi popularitasnya tak menurun drastis, masih rata-rata 40 persen. Dan, sampai sekarang ia praktis belum tersaingi untuk jadi presiden 2012-2016.

    Nah, Obama sebenarnya bukan melawat, cuma ”mampir” ke Jakarta dari India, on the way ke Korea Selatan dan Jepang. Kita boleh saja gembira karena rakyat Australia dan Guam pasti kecewa batal dikunjungi oleh ”Obama the rock star”.

    Meski tak pernah menulis lagu dan menjual CD, karisma Obama tak kalah dibandingkan dengan Mick Jagger. Mereka mampu menyedot puluhan ribu penonton sekali manggung. Makanya Obama ngotot mau pidato di UI untuk reach out ke berbagai kalangan yang diwakili 5.000 undangan saja.

    Tampak sekali Obama enjoy-enjoy aja. Buktinya ia bolak-balik ngomong Indonesia, menyimpang dari teks di teleprompter. Tiap kali mengucapkan bahasa kita, matanya berbinar dan senyumnya lebar memperlihatkan deretan giginya yang seperti permen Chiclets.

    Setidaknya Obama menjawab curhat kita melalui tiga hal pokok: pembangunan, demokrasi, dan toleransi. Ia paham kesenjangan masih besar, demokrasi bermasalah, dan kebinekaan terancam. Tak heran ia paham tiga hal ini karena, katanya, ”Indonesia bagian dari diri saya.”

    Benar, untuk ketiga soal itu kita mungkin lebih tahu. Namun, kita kok baru sadar dan prihatin tiga soal besar tersebut masih saja melilit bangsa yang sudah merdeka 65 tahun ini justru ketika diucapkan oleh seorang Obama?

    Jawabannya mudah: selama ini kita kurang sadar dan prihatin karena ketiga soal itu hanya diucapkan sampai pada tingkat wacana semata-mata oleh mulut-mulut pemimpin kita. Pidato mereka kosong tanpa makna karena mereka selalu ”lain kata lain perbuatan”.

    Saya yakin Obama senang bukan kepalang walau cuma mampir. Buktinya ia bilang, ”Pulang kampung nih!” Setidaknya ia juga puas melahap habis berbagai suguhan yang bukan cuma sate dan bakso, melainkan juga tongseng, somay, gado-gado, sampai sop buntut.

    Lawatan Obama tak lebih dari nostalgia belaka yang bersifat simbolis saja. Mungkin sebagian dari pejabat kita yang ”sok genting”, sampai-sampai sapi-sapi dan kambing-kambing kurban di pinggir jalan enggak boleh ikut nonton Obama karena ditutupi terpal.

    Saya harap Anda terhibur ikutan ngobama atau, dalam bahasa Inggris, Obama-ing. Arti nge dalam bahasa Betawi lebih kurang ”iseng saja”, misalnya nge-mal (iseng keliling mal). Untung dia hanya 19 jam di sini. Kalau enggak, banyak facebooker membuat grup ”Dukung Obama Jadi Presiden”. Budiarto Shambazy

    Source: Kompas.com

  • Obama Serang Yuan

    Seoul summit
    Seoul, Kompas – Dalam komunike G-20, para pemimpin sepakat bekerja sama mencegah volatilitas pasar dan bersedia menyeimbangkan ekonomi gobal yang memang timpang, ditandai dengan defisit besar anggaran Pemerintah Amerika Serikat, sumber gejolak pasar.

    Akan tetapi, dalam pernyataan tersendiri, para pemimpin jauh dari kesan harmonis. AS menyerang yuan dan menyebutnya sebagai pembuat masalah.

    Pertemuan puncak negara-negara anggota G-20 hari Kamis (11/11) ditutup Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak dengan kesimpulan bahwa para anggota G-20 setuju bekerja sama membahas segala persoalan. Demikian dilaporkan wartawan Kompas, Simon Saragih, semalam.

    Tak lama kemudian Presiden AS Barack Obama melakukan jumpa pers tersendiri di tempat yang sama dengan menyebut satu per satu wartawan AS yang hadir dan wartawan non-AS hanya mendengar. ”Yuan itu menyebabkan iritasi, bukan saja bagi AS melainkan juga mitra dagang China yang lain,” kata Obama menjawab pertanyaan wartawan AS, yang menanyakan bagaimana perasaannya soal perilaku China terkait yuan.

    ”China yang kuat kita terima karena berguna bagi kemakmuran dunia dan juga AS. Namun, China juga harus menunjukkan tanggung jawab internasional dengan membuat kurs yuan merupakan refleksi keadaan pasar sebenarnya,” ujar Obama.

    China selama bertahun-tahun membeli dollar AS dan melakukan intervensi di pasar untuk menekan kurs yuan. Tidak seharusnya China terus menggenjot ekspor dengan melemahkan kurs yuan dan saatnya meningkatkan permintaan domestik agar berguna bagi perekonomian negara lain,” kata Obama.

    AS selalu mengkritik China dengan tuduhan bahwa China menumpuk surplus berupa cadangan devisa lebih dari 2,5 triliun dollar AS. Hal ini, menurut Obama, juga didorong dengan pelemahan kurs, yang membuat produk ekspor China menjadi jauh lebih murah dari seharusnya.

    China menjawab

    Kantor berita Xinhua pada hari yang sama juga memberitakan isi pidato Presiden China Hu Jintao, yang ditujukan khusus kepada G-20. Hu meminta AS untuk mengambil tindakan yang bertanggung jawab. ”Negara-negara maju harus mengambil tindakan bertanggung jawab dan mempertahankan kestabilan kurs,” kata Presiden Hu.

    ”Komunitas dunia harus memperbaiki sebuah kerangka untuk pertumbuhan yang kuat, berkesinambungan, dan berimbang serta meningkatkan kerja sama pembangunan … mengutamakan perdagangan yang terbuka,” tutur Hu.

    Bagi China, ketidakseimbangan yang dialami AS, berupa defisit anggaran dan perdagangan yang besar, lebih karena kebijakan ekonomi makro AS yang lebih mengandalkan utang ketimbang mengandalkan tabungan domestik dan penerimaan pajak.

    Source: Kompas.com

  • Obama: Saya Banyak Didoktrin tentang Pancasila

    Obama di balairung UI Depok
    JAKARTA – Banyak poin penting yang disampaikan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam kuliah umum di Kampus Universitas Indonesia (UI). Salah satunya, tentang pentingnya pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

    “Saat saya belajar di Indonesia, saya banyak didoktrin tentang Pancasila. Dan saat ini demokrasi sebagai makna dari Pancasila sudah berjalan baik di Indonesia,” kata Presiden Obama dalam pidatonya, Rabu (10/11/2010).

    Hal itu, lanjut pria yang pernah menjalani masa kecilnya di Jakarta ini, terlihat dari proses pemilihan langsung yang sudah dilaksanakan di Indonesia.

    “Memilih anggota parlemen juga sudah dilaksanakan secara langsung. Di tengah masyarakat Indonesia yang dinamis pertahankan terus demokrasi itu,” pinta Obama.

    Poin lain yang juga disitir Presiden Obama adalah kerjasa sama Indonesia dengan Amerika yang terus ditingkatkan.

    “Saya baru saja menandatngai perjanjikan kerjasama di bidang ekonomi dan Industri. Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga sudah tumbuh baik dengan lebih dari 50 persen menghasilakn produk ekspor,” jelasnya.

    Kekuatan lain yang juga dimiliki Indonesia, kata Obama, adalah sumber daya alam yang sangat memadai.  
    (ded)

    Source: okezone.com

  • Obama: Indonesia Bagian dari Diri Saya

    Obama di balairung UI Depok

    DEPOK, KOMPAS.com — Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, merebut simpati dan decak kagum dari Indonesia karena perhatian besar dari salah satu pemimpin negara terkemuka di dunia ini kepada negara di mana ia sempat besar bersama ayah tiri dan ibu kandungnya selama 4 tahun. Dalam pidatonya di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Barack Obama memuji ketabahan ataupun keuletan bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana alam yang berlangsung belakangan, terutama bencana Gunung Merapi.

    “Indonesia bagian dari diri saya,” demikian potongan kalimat yang diucapkan Obama secara fasih dalam bahasa Indonesia untuk mengungkapkan betapa besar ia merasa terlibat dalam duka Indonesia terhadap bencana alam yang terjadi belakangan. Di balik pengantar yang cukup menyentuh ini, Obama juga menyampaikan guyonan sederhana dengan mengucapkan beberapa kata yang sempat diucapkan secara lantang saat ia sempat berada di Jakarta pada masa kanak-kanaknya.

    ” Sate…bakso,…enak ya,” ucapan lantang Obama dalam bahasa Indonesia itu spontan mendapatkan sambutan gelak tawa dari para hadirin di Balairung UI. Jimmy Hitipeuw

    Source: Kompas.com

  • Kenapa Mega Datang ke Istana Tadi Malam?

    megawati hadir di istana negara
    JAKARTA, KOMPAS.com – Kehadiran mantan Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri di Istana Negara, tadi malam, mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, Mega kerap tidak pernah memenuhi undangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di sejumlah momen.

    Politisi senior PDI-P Pramono Anung mengatakan, kedatangan Mega bukanlah hal yang tiba-tiba diputuskan. “Ibu diundang sebagai mantan presiden kelima. Kalau dilihat dari tempat duduknya, secara protokoler, beliau itu menduduki sebagai mantan presiden kelima. Jadi kalau duduk sebagai istri Ketua MPR tentunya tempat duduknya tidak di situ. Tetapi sebagai mantan presiden kelima, tempat duduknya di samping Michelle,” ungkapnya di Gedung DPR, Rabu (10/11/2010).

    Menurut Wakil Ketua DPR ini, Mega diundang langsung oleh Presiden Yudhoyono. Pramono juga yakin, Kepala Negara juga mengundang mantan Presiden ketiga BJ Habibie.

    Pramono menambahkan kedatangan Mega menunjukkan bahwa demokrasi di Indonesia sudah berjalan dengan baik meski memiliki posisi politik yang berbeda. Apalagi, kunjungan Obama memperoleh perhatian yang luar biasa dari dunia internasional.

    “Sehingga kehadiran Ibu Mega semata-mata untuk memperlihatkan bahwa proses demokratisasi di republik ini sudah mengalami kematangan,” tandasnya.

    Menurut catatan Kompas.com,  ini adalah kedatangan Megawati pertamakali ke Istana memenuhi undangan sejak ia dikalahkan Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilu presiden 2004. Sebagai mantan Presiden, Megawati selalu diundang menghadiri upacara kemerdekaan 17 Agustus di Istana Negara. Namun, ia tidak pernah datang.
    Caroline Damanik ? ?Editor: Heru Margianto

    Source: Kompas.com