siwah.com

Tag: profil

  • Rakyat Harus Berkontribusi

    Suhardi Ketum Gerindra

    Partai Gerakan Indonesia Raya membuat gebrakan dengan kampanye merangkul petani dan nelayan pada Pemilihan Umum 2009. Partai Gerindra mengembalikan dan menyadarkan kembali akar keindonesiaan yang berawal dari masyarakat pedesaan sebagai petani dan nelayan.

    Ketua Umum Partai Gerinda Suhardi mengatakan, Pemilihan Umum Presiden Tahun 2014 merupakan waktu singkat, terutama untuk persiapan pemilu dan pendidikan politik. ”Kami mendirikan partai tiga tahun lalu rasanya seperti baru kemarin. Waktu habis untuk verifikasi partai, kampanye, dan melakukan program. Sebagian besar waktu yang ada justru habis untuk proses administrasi,” kata Suhardi dalam wawancara khusus, beberapa waktu lalu.

    Seharusnya yang paling penting adalah pendidikan politik, penyadaran, dan proses berpikir. Orang Indonesia harus sadar untuk memilih pemimpin tidak secara instan. Jangan karena diberi sesuatu lantas memilih seseorang yang sebetulnya tidak mampu bekerja. Pemimpin harus dicari dan membutuhkan waktu memberikan pendidikan politik bagi masyarakat.

    Pendidikan politik yang benar adalah bagaimana mengajarkan rakyat untuk memberi dan berkorban. Di Partai Gerindra, misalnya, 13 juta pemegang kartu tanda anggota diminta menyumbang ke partai dan bukan justru mengharapkan sesuatu dari partai. Seandainya semua anggota memenuhi komitmen memberikan Rp 10.000 per bulan tentu terkumpul Rp 130 miliar yang bisa digunakan untuk pelbagai hal yang menyentuh kepentingan rakyat. Dalam setahun terkumpul Rp 1,5 triliun lebih. Dalam empat tahun terkumpul Rp 6 triliun lebih yang bisa menyaingi dana talangan Bank Century. Iuran Rp 10.000 itu lebih murah daripada membeli dua bungkus rokok per hari.

    Ia menyoroti sikap meminta dan mengharapkan sesuatu itu sudah merupakan perilaku korup yang kecil-kecilan. Sebagai contoh dalam pemilu anggota DPRD banyak yang keluar modal untuk memenangi kursi legislatif, lalu dia berusaha mengembalikan modal.

    Dalam konteks seperti itu perlunya pendidikan politik. Berikut petikan wawancaranya:

    Apakah sempat mengadakan pendidikan politik dalam tiga tahun ini?

    Semoga sempat. Walaupun saya belum bisa menjamin 100 persen, tetapi kami akan melakukan pendidikan bertingkat. Sekarang kami sudah sosialisasi. Seluruh kader pusat dididik dulu menjadi dosen-dosennya. Di DPP kami punya 130 pengurus, dididik dulu mereka dengan tokoh-tokoh nasional, kalangan universitas. Para pengurus DPP mengajar DPD, demikian seterusnya hingga ke bawah. Nanti akan ada kader terapan, kader mandala, kader penggerak, dan saksi di TPS dalam pemilu mendatang.

    Idealnya memang seperti itu. Tetapi, sekarang banyak partai pragmatis?

    Ya, banyak orang menggunakan cara pragmatis. Kalau menjelang pemilu saja ”bagi-bagi” biar uang ini hemat. Padahal, yang benar kan mendidik masyarakat terus-menerus.

    Tetapi, kan, butuh waktu?

    Memang iya. Tetapi, kan, waktu yang kita punya lebih panjang sekarang dibanding yang kemarin (Pemilu 2009). Apalagi Gerindra sudah tidak mengenal lagi musyawarah cabang dan sebagainya. Semua langsung bergerak. Kalau kemarin (Pemilu 2009) menjadi partai paling belakang menentukan caleg, sekarang kami yang terdahulu menentukan caleg.

    Untuk pencitraan, apa yang ditawarkan Gerindra di 2014?

    Terutama tentu delapan aksi program yang tayang sejak pemilihan legislatif kemarin. Itu kami tayangkan hampir ke semua televisi. Seluruh delapan aksi program yang jelas-jelas ada parameternya, ada ukurannya, ada targetnya. Salah satu target yang berhasil, kan, menolak Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang ternyata kami berhasil di tingkat Mahkamah Konstitusi.

    Budaya politik Indonesia, kan, masyarakat masih mengandalkan sosok tokoh terkenal. Gerindra memiliki sosok Prabowo Subianto. Apa strategi Gerindra?

    Kami tahu Pak Prabowo sudah dikenal dan dikagumi masyarakat. Wajah saya tidak dikenal di masyarakat sehingga leluasa untuk bertanya di masyarakat bawah. Saya, kan, sering naik ojek, sering ke pasar, atau bertemu tukang bangunan, dan kalau ditanya mereka memberikan tanggapan positif tentang sosok Prabowo. Kami tidak salah menjagokan Pak Prabowo.

    Sudah jelas calon presiden? Atau, kalau koalisi bisa jadi wakil presiden?

    Oh, kalau Prabowo tidak. Kami tidak mungkin ditawar soal itu. Apa pun yang terjadi, kami harus mencalonkan Pak Prabowo sebagai presiden. Kami akan berjuang bahwa setiap partai boleh mengajukan calon presiden.

    Kalau tidak bisa bagaimana?

    Kita, kan, belum tahu ini berapa persen (ambang batas parlemen). Perolehan suara kami sendiri sesungguhnya tidak terlalu buruklah. Beberapa waktu lalu sudah ada beberapa partai yang bergabung ke Gerindra. Sekarang sudah ada 3-4 partai yang ingin bergabung lagi dengan kami. Secara logika awam, perolehan suara bisa tiga kali lipat.

    Ada kabar kedekatan pemikiran antara Prabowo dengan SBY, apa mungkin ada peluang berkoalisi?

    Kami mengajukan kritik terhadap pemerintah dan Demokrat. Tetapi, komunikasi tetap dijaga.

    Kerja sama dibina terus, ya?

    Kami berusaha jangan sampai negeri ini tambah merosot. Jangan sampai kacau terus. Supaya perpindahan pemerintahan itu terjadi dengan sangat konstitusional sehingga negara ini selalu berangkat dari sesuatu yang lebih baik. Jangan malah rusak lagi, wah, bagaimana kita. Makanya, kami bersikap kalau ini yang menang ya dibantu dong, bantu habis sehingga negeri ini menjadi lebih baik daripada kemarin. Makanya, kami selalu memberi masukan, begini loh sebaiknya. Mereka (Demokrat) sudah punya kewenangan untuk berbuat baik, dengan dukungan dari pemilihan sehingga masyarakat akan ikut sendiri. Contoh kecil adalah masalah harga cabai yang naik. Daripada menanam (bunga) gelombang cinta, kan cabai lebih bermanfaat. Kita akan senang kalau semua orang kecukupan pangan. Ada 235 juta kilogram beras yang dihasilkan setiap hari.

    Kalau Gerindra berkoalisi dengan Demokrat, jadi bagaimana ya?

    Kami yang dipanggil loh. Kami tidak ingin disebut koalisi karena sudah oposisi.

    Kalau tahun 2014 bagaimana?

    Oh, untuk 2014, ya, selama teman-teman yang bergabung dengan kami mengikuti visi misi kami dalam membangun negara. Tetapi, kalau kontradiktif ya sulit. Tapi, rasanya kan semangat kebangsaan sudah sama.

    Atau mungkin pula koalisi dengan Golkar?

    Ya enggak tahu karena, misalnya, kan pernah terlontar Golkar ini mengajukan Pak Ical (Aburizal Bakrie) sendiri ya.

    Sebetulnya berapa sih anggota Gerindra?

    Dulu kami punya 13 juta pemegang KTA (kartu tanda anggota). Tetapi, nyatanya kami hanya 4,2 persen di DPR. Entah kenapa? Kalau di provinsi tidak, kami mendapat 10 persen kursi. Berarti kan mirip juga dengan jumlah pemegang KTA. Di Jawa Tengah itu 10 persen, di Jawa Barat 9 persen, Jawa Timur 9 persen, DKI 7 persen.

    Didapat dalam waktu berapa lama?

    Dalam satu tahun kurang. Belum punya kader, belum punya saksi. Besok (tahun 2014) kami punya enam juta saksi. Saat ini kami juga tidak mau dianggap angkuh. Kami juga ingin program kami dipakai oleh pemerintah karena targetnya kan rakyat mampu.

    Tetapi, banyak resistensi dari kepentingan-kepentingan liberal?

    Bicara soal kaum liberal, coba lihat Amerika Serikat. Amerika Serikat sebentar lagi kekurangan pangan. Coba lihat datanya. Produksi gandum turun 30 persen, beras juga turun 30 persen. Mau makan dari mana? Lihatlah di Indonesia, kami punya potensi gandum dan beragam produk pangan.

    Source: Kompas.com

  • PROYEKSI POLITIK: Meraih Kepercayaan Rakyat

    deklarasi damai

    Saat berdiri tahun 2006, Partai Hati Nurani Rakyat identik dengan sosok ketua umumnya, Wiranto. Namun, disadari, hal itu tidak akan lestari. Hanura kini ingin menciptakan figur-figur muda yang diwacana- kan publik. Langkah selanjutnya adalah konsolidasi partai agar bisa membangun jaringan akar rumput.

    Berikut cerita Ketua Umum Partai Hanura Wiranto tentang target Hanura untuk eksis dan melewati ambang batas parlemen (parliamentary threshold) tahun 2014.

    Persiapan apa yang dilakukan Hanura untuk tahun 2014?

    Partai Hanura belum wacanakan capres karena sedang fokus pada tahap konsolidasi organisasi tahap kedua. Hanura sedang revitalisasi organisasi. Kami sedang fokus bagaimana Hanura tetap eksis pada 2014. Sejak awal, Hanura membangun dirinya dengan model partai organik. Jadi, kebijakan tidak selalu top down yang disertai dengan fulus. Setiap tingkatan mampu bekerja dengan membiayai diri sendiri.

    Kami sudah selesaikan tahap konsolidasi organisasi seperti munas tahun lalu. Musda di 33 provinsi juga selesai. Muscab juga sudah 70-80 persen selesai. Sekarang sudah ada komposisi baru dalam kepengurusan partai. Ada AD/ART baru. Pemimpin yang sekarang sudah bukan yang diangkat lagi. Sekarang dipilih secara demokratis.

    Jadi tidak lagi mengandalkan figur Wiranto?

    Awalnya, yang dijual memang nama saya. Orang belum tahu apa itu Hanura. Dalam waktu tiga tahun, Hanura belum kuat untuk jual namanya. Jadi, saya bilang, jual nama saya. Akan tetapi, ke depan, sebagai parpol tidak bisa seperti itu. Kami mulai ambil tokoh-tokoh muda yang masuk Hanura. Berangsur-angsur mereka diberi peran sehingga terjadi akselerasi pengenalan figur Partai Hanura. Kinerjanya kami sampaikan lewat teman-teman di DPR. Oh, Hanura itu gigih. Itu strategi marketing. Wiranto lama-lama harus ada di belakang. Untuk 2014, walau masih tergantung akselerasi, lebih bagus kalau tokoh-tokoh muda ini jadi alternatif.

    Jadi sudah membuat strategi untuk menyesuaikan diri dengan UU Parpol yang baru?

    Kami adjustment, penyesuaian kinerja dengan UU Parpol yang baru. Misalnya, ada aturan harus ada mahkamah partai. Kami sudah punya badan kehormatan partai. Minimal, sudah mengantisipasi hal yang akan muncul dan ternyata cocok.

    Langkah apa lagi untuk konsolidasi?

    Kami juga membangun budaya organisasi. Kan, ada adagium kalau partai politik kotor, tidak ada sahabat yang abadi, yang ada hanya kepentingan. Kami tidak ingin seperti itu. Ada sikap-sikap yang mulia dan elegan. Kami sedang bangun budaya organisasi Hanura.

    Bagaimana konkretnya membangun budaya organisasi itu?

    Langkah konkret, saat kerja politik di DPR dan DPRD. Kelihatan, kan, kalau Hanura tidak akan berkoalisi dan beroposisi dengan lembaga pemerintah. Akan tetapi, kami akan melihat kebijakannya. Kalau kebijakan itu membela kepentingan rakyat, kami langsung mendukung, langsung berkoalisi. Akan tetapi, kalau ternyata kebijakan itu bertentangan dengan rakyat, tidak menguntungkan rakyat, kami langsung masuk ke kelompok oposisi. Jadi, kami lebih enak. Tidak oposisi dan koalisi permanen. Buta dan tuli pakai kacamata kuda, salah-benar itu kebijakan koalisi. Kalau kebijakannya menaikkan harga BBM saat rakyat sengsara, kami bisa langsung tolak. Akan tetapi, kalau sudah koalisi permanen, harus ikut. Nah, kami tidak ingin seperti itu.

    Contoh, kasus Bank Century. Betapa gigihnya Partai Hanura untuk selalu menyatakan ”usut, usut, usut”. Kami gigih bergeming dengan lobi dan kompromi. Saudara Akbar Faisal, kami katakan, perjuangan Saudara adalah perjuangan partai. Membela rakyat, membongkar kebobrokan. Laksanakan!

    Bagaimana sekarang kondisi organisasi Partai Hanura?

    Sekarang kami sudah 100 persen di provinsi dan kabupaten/kota, di kecamatan sudah 80 persen, targetnya 90 persen. Kemudian tiap kecamatan kami buatkan tingkat ranting di kelurahan. Tema munas dan musda selalu membangun organisasi yang solid dan merakyat di semua tingkatan. Partai tanpa organisasi yang solid bagaimana memenangi persaingan yang begitu ketat.

    Bagaimana dengan pragmatisme rakyat yang kemudian membuat ada pola money politics?

    Kami tidak ingin menyerah pada pragmatisme. Kalau menyerah, kita akan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk membayar pada saat nanti pemilu. Uangnya dari mana? Pasti korupsi atau memanfaatkan teman-teman di DPR untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya. Kami sadar, ada pertempuran antara idealisme dan pragmatisme. Terkadang memang menyakitkan, idealisme kalah dengan pragmatisme karena kondisi masyarakat yang sulit. Kami ingin dipercaya masyarakat.

    Pendidikan politik sampai ke bawah, bagaimana caranya?

    Sudah ada rencana, tim pemenangan pemilu sudah kerja keras 10 bulan ini. Yang memimpin Yuddy Chrisnandi. Program utama kami bisa punya kelompok pemasar sampai ke level ranting. Itu sebabnya partai harus sampai ke ranting karena merekalah ujung tombak untuk bisa komunikasi dengan masyarakat. Tanpa itu, nonsense. Kita harus bicara dengan kampanye yang sifatnya hura-hura dan ekspose fisik. Kalau kita bicara level yang paling bawah, kita bicara komunikasi politik.

    Anda masih percaya dengan kesadaran politik masyarakat?

    Saya percaya itu tidak mudah. Demokrasi bisa berjalan saat kami punya pendapatan yang cukup. Akan tetapi, kami tidak tahu kapan. Kami akan mencoba menembus sampai dicintai dan dimiliki publik.

    Berapa pemegang kartu anggota Hanura?

    Target kami 29 juta, harus sudah tercapai sebelum tahun 2014. Sekarang terdaftar 10 juta.

    Hasil Pemilu 2009 mengejutkan, di DPRD bisa unggul, sementara di DPR hanya 17 kursi?

    Tidak, karena ada permainan. Harusnya, kan, ada equal antara DPRD dan pusat. Akan tetapi, kan, ada faktor-faktor X yang tidak terjamah. Dari 32 kursi, turun terus jadi 17. Pas saat itu jadi syarat pencapresan.

    Ke depan bagaimana?

    Dari awal saya gigih kasih pesan ke teman-teman di DPR. KPU dan KPUD harus dimasuki unsur parpol. Biar ada cross check. Jangan kemudian independen, dikooptasi oleh satu kekuasaan. Independen itu kinerja, bukan asal-usul. Kalau tidak dijaga, pasti akan berulang.

    Bagaimana dengan wacana ambang batas parlemen 5 persen, atau penyederhanaan daerah pemilihan?

    Penyederhanaan partai jangan sampai hanya demi 1-2 parpol. Jangan sampai kita bertabrakan dengan UUD, memasung hak politik rakyat. Hanura, kan, tadinya 2,5 persen. Kami bisa terima angka moderat, kan, 3 terutama untuk pusat.

    Apakah yakin dengan 3 persen itu? Bagaimana dengan koalisi atau konfederasi?

    Kalau 3 persen, ya, kami yakin. Kami sudah adakan pembicaraan dengan delapan partai kecil. Hanura jadi payungnya. Akan tetapi, yang kami ajak bicara, eh, masuk ke partai lain. Artinya memang ada pragmatisme.

    Soal kepemimpinan nasional 2014, Anda termasuk sering disebut-sebut juga?

    Bahwa nama saya termasuk unggul, Alhamdulillah. Kami belum mewacanakan. Masih terlalu dini untuk partai yang ingin berkembang. Jangan sampai buka fron untuk mengganggu konsolidasi organisasi. Kami harus fokus, jangan sampai banyak tugas.

    Akan tetapi, kita, kan, masih sarat dengan politik figur?

    Iya, karena lebih banyak lihat popularitas daripada kualitas. Kader-kader muda jadi sulit tembus. Track record mereka belum dilihat publik yang lebih lihat tokoh-tokoh lama.

    Masalahnya, tidak ada figur lama yang kuat pada 2014 setelah Ibu Mega menyatakan mungkin tidak akan maju dan Pak SBY tidak bisa lagi?

    Nanti juga akan muncul. Kan, sudah terlihat di survei-survei, kan. Tidak usah sekarang, kan. Kan, masih lama juga.

    Kepemimpinan nasional tahun 2014 seperti apa? Apakah akan mencari pemimpin yang tegas, mengingat banyak masalah yang harus dituntaskan?

    Itu hukum alam. Saat jenuh dengan gaya kepemimpinan tertentu, masyarakat akan mencari alternatif yang lain. Akan tetapi, masih tergantung banyak hal, sifat masyarakat yang belum politis dan pragmatis.

    Target Hanura pada 2014?

    Eksis. Di atas PT (parliamentary threshold). Membesarkan partai sebesar-besarnya, baru dari situ bicara kekuasaan.

    Jadi, tidak akan muncul calon dari Hanura?

    Belum tentu. Bisa iya atau tidak. Itu nasib.

    Source: Kompas.com