siwah.com

Tag: risman

  • Catatan Risman: Musuh Bersama

    Membaca butir kelima dari rilis Seuramoe Irwandi – Muhyan beberapa waktu lalu ingatan saya langsung tertuju pada sebuah tempat yang agak mirip, dulu. Apa itu?

    Untuk itu, izinkan sedikit untuk merekontruksi sebuah ingatan lama yang siapa tahu masih bisa menggelitik kita untuk menemukan makna yang bisa membuka mata hati. Jika tidak semua, satu atau dua orang, cukuplah.

    Dulu (2008), bagi pelintas jalan T Iskandar, Ule Kareng, pasti akan berpapasan dengan sebuah papan reklame atau baliho, yang peletakannya persis berada dalam area Mesjid Ule Kareng.

    Tentu saja, jika dilihat dari arah hadapannya saya yakin pesan yang terdapat dalam papan reklame ini tidak diutamakan untuk para jamaah mesjid apalagi bagi pelintas jalan. Pesan dengan latar belakang peristiwa penandatanganan Mou Helsinki itu –sepertinya—lebih diutamakan bagi mereka yang sedang menikmati secangkir kopi, sambil melakukan obrolan ringan tanpa judul di Warung Kopi Solong.

    Kita sentuh sedikit tentang Warung Kopi Solong untuk sekedar ilustrasi saja. Inilah salah satu warung kopi di Banda Aceh, yang tidak hanya ditongkrongi ureung Aceh tapi juga ureung dari belahan Gampong dan berbagai bagian Donya.

    Bagi penikmat kopi dan obrolan per-group di Solong ini tidak cuma dilakukan oleh abang-abang becak tapi juga oleh semua kalangan. Ada banyak jurnalis, dan juga para aktivis. Ada juga usahawan sekaligus juga ada pejabat negara. Politikus hingga pekerja dilembaga donor juga kerap duduk di warung satu ini. Bahkan, pihak-pihak yang dulunya bersitegang, sekarang di Warung Cek Nawi ini bisa duduk bareng sambil berkisah dengan selingan tawa yang kadang meledak tiba-tiba.

    Kita kembali lagi. Sebenarnya, isi pesan papan reklame itu biasa saja. Di sebut biasa, karena salah satu potongan dari ungkapan itu sudah umum diketahui, bahkan sejak rezim Orde Baru pertama sekali menguasai jalur politik kekuasaan. Bisa jadi pula sejak bangsa ini berhadapan dengan Belanda.

    Terakhir, kalimat itu justru dipakai oleh kekuatan massa rakyat untuk melawan dan mengakhiri masa kejayaan Orde Baru yang ditandai dengan berakhirnya kepemimpinan Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia.

    Di internasional pun, kalimat yang terdapat pada papan reklame itu sangat popular terutama setelah peristiwa WTC di Amerika Serikat. Dengan kekuatan dan pengaruh politiknya, Bush berhasil mengajak banyak pihak untuk memburu Osama Bin Laden. Selanjutnya, Bush juga berhasil mengajak para sekutunya untuk mengakhiri kekuasaan Presiden Saddam Husein di Irak. Dan, terhitung sejak WTC hancur terorisme menjadi sangat popular sehingga walau pun difinisinya masih kabur tapi sejumlah kebijakan dan tindakan sudah berlangsung terhadap mereka yang masuk dalam katagori terorisme.

    Kala Aceh masih dalam kepungan konflik bersenjata, kalimat yang tertera di papan reklame itu juga sering muncul. Pernah dalam sebuah ulasan satu media nasional menurunkan analisis yang akhirnya menyimpulkan bahwa untuk mengakhiri gerakan perlawanan yang dilakukan GAM maka hanya ada satu cara, yakni seluruh kita mendukung kebijakan pembatasan yang diterapkan oleh Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD) Mayjen Endang Suwarya dan menempatkan GAM sebagai “Musuh Bersama”.

    Musuh Bersama?
    Yap. Kalimat identifikasi inilah yang terdapat dalam Papan Reklame (baliho) dulu itu. Lengkapnya, kalimat pernyataan sekaligus penegasan itu adalah; “Yang Merusak Perdamaian Musuh Kita Bersama.” Agak mirip bukan dengan butir ke lima di rilis yang dikirim ke media oleh Seuramoe Irwandi – Muhyan?

    Sekilas, isi papan reklame itu memang amat relevan dengan situasi kala itu (seputar tahun 2008). Serangkaian peristiwa kekerasan yang kerap terjadi saat itu memang menimbulkan kekuatiran terhadap kesinambungan perdamaian yang saat baru berusia 3 tahun (2005 – 2008).

    Terakhir, tragedi kekerasan Atu Lintang awal Maret 2008 semakin menambah rasa kuatir, dan rasa itu mungkin saja mengantar kita untuk sampai pada kesimpulan yang ujungnya melahirkan rumusan sebagaimana pernah dinyatakan oleh Pangdam Iskandar Muda yang tertera dalam papan iklan reklame, yakni “Yang Merusak Perdamaian Musuh Kita Bersama.”

    Isi pesan itu kelihatannya lebih dekat dengan militer karena isi pesan yang sama juga dapat kita temukan dalam Kalender Duduk/Meja 2008 yang juga diproduksi oleh Pangdam Iskandar Muda.

    Tentu wajar manakala ada yang nakal bertanya apa butir kelima pada rilis Seuramoe Irwandi – Muhyan itu lahir dari masukan pihak militer? Saya yakin tidak. Tapi bisa saja lahir dari pikiran-pikiran yang sepaham dengan cara pandang atau paradigma militeristik. Moga ini hanya sebatas dugaan.

    Kita abaikan saja dugaan itu. Ada pertanyaan lebih substansi untuk diajukan yakni apakah terminologi “Musuh Bersama” bisa kita pakai –sebagai salah satu cara efektif– untuk menjaga keberlangsungan perdamaian Aceh?

    Sebagaimana sudah pernah dikisahkan di atas maka bisa disimpulkan bahwa terminologi “Musuh Bersama” umum dan kerap digunakan oleh mereka yang berkuasa.

    Dulu, Pemerintah Orde Baru kerap disebut berhasil mendapatkan legitimasi untuk menumpas orang-orang yang diklaim bahkan diduga sebagai PKI setelah PKI dinyatakan sebagai “Musuh Bersama”.

    Amerika berhasil mengkampanyekan terorisme sebagai “Musuh Bersama” dan dengan terminologi itulah Osama Bin Laden diburu, begitu pula dengan Irak dan Saddam Husain-nya. Dan, kini, setiap sesuatu yang berkaitan dengan terorisme (sebagai musuh bersama) sebuah kebijakan dan tindakan bisa saja dengan mudah dimunculkan.

    Saya jadi teringat khazanah pemikiran Samuel P. Huntington. Melalui teori “Clash of Culture” sepertinya ia sedang mencoba mendesak agar apa yang disebutnya sebagai clash of civilization itu terjadi. Karena itu kemudian banyak pengkritik menyebut teori Huntington dengan sebutan self fullfilling prophecy (atau ramalan yang diinginkan terjadi).

    Meski tidak semua ramalan harus terjadi namun melalui suatu pendekatan konspirasi yang dibangun secara sistematis maka sangat mungkin untuk menjadikan seseorang atau sekelompok orang sebagai outgroup untuk kemudian berubah menjadi “Musuh Bersama”

    Karena itu, terminologi “Musuh Bersama” bisa kita cari akarnya pada teori evolusi manusia yang menegaskan perasaan curiga dan agresi terhadap orang lain (outgroup). Bahkan, sebuah kejahatan bisa mendapat hukuman dalam ingroup namun mendapat pembenaran jika terjadi terhadap outgroup. Dan, “Musuh Bersama” besar dugaan menjadi alat legitimasi terhadap mereka yang disebut sebagai perusak perdamaian (outgroup).

    Bahayanya sudah tentu bisa diduga manakala “Musuh Bersama” sebagai sebuah legitimasi digunakan oleh mereka yang berkuasa. Sebuah kelompok (ingroup) yang sudah sejak lama mengelola parkir di sebuah terminal misalnya bisa saja langsung menyerang orang lain (outgroup) yang disebut sebagai musuh bersama karena datang, padahal hanya sekedar bertanya.

    Sebuah kelompok kedaerahan bisa saja hanya meloloskan pejabat asal kampungnya (ingroup) begitu calon pejabat asal daerah lain diposisikan sebagai (outgroup) plus sebagai “Musuh Bersama” hanya karena calon pejabat itu terlihat lebih mendukung kelompok lain, misalnya.

    Contoh terakhir, dengan terminologi “Musuh Bersama” sebuah rezim bisa saja mendapatkan legitimasi untuk memburu kelompok-kelompok tertentu dengan menyatakan kelompok itu sebagai pengganggu perdamaian padahal sesungguhnya rezim yang ada sedang tidak mampu menyelesaikan problem penyediaan lapangan kerja bagi rakyatnya yang sudah terlalu lama menganggur akibat konflik atau sedang linglung akibat angka harapan hidup yang rendah padahal jasa kesehatan sedang gencar dipeugah hebat tat.

    Ini tentu hanya perumpamaan dan sangat mungkin terjadi karena sejak dini terminologi “musuh bersama” sudah mulai dimunculkan.

    Padahal, separah apa pun konflik terjadi, tetap saja tersedia ruang yang amat lebar untuk menemukan jalan penyelesaiannya selama kemauan dan tekat untuk mengakhiri konflik itu tersedia. Sebaliknya, sekecil apa pun benih konflik, tetap saja ada pintu belakang atau jalan tikus untuk membuat benih itu tumbuh subur menjadi pohon konflik terutama jika memang ada pihak-pihak yang berkehendak untuk itu.

    Satu hal yang pasti adalah manakala para pemimpin negeri dan masyarakat sebisa mungkin memiliki komitmen yang tegas terhadap perdamaian dan pada saat yang sama memahami betul liku-liku “jalan perdamaian” dan likok “jalan konflik” maka pasti bisa di atasi sehingga kedua jalan yang manakala bertemu akan menjadi garis batas pertempuran/konflik dapat dicegah.

    Dengan demikian, saya memandang betapa terminologi “Musuh Bersama” sesungguhnya tidak menyumbang apa-apa bagi keberlanjutan perdamaian Aceh. Bahkan, sebaliknya, dengan terminologi itu, berbagai pihak bisa saja menjadikannya sebagai alat untuk bertindak keras terhadap orang atau kelompok lain. Dan, umumnya terminologi ini digunakan oleh mereka yang tidak amanah dalam kekuasaannya atau sebaliknya memang sedang menggunakan cara tidak sehat untuk merebut atau memelihara kekuasaannya.

    Dalam perspektif resolusi konflik, perdamaian lebih mungkin dijaga manakala seluruh usaha mengisi perdamaian ditempuh dengan cara-cara yang demokratis, menghormati hukum sekaligus menghormati komitmen-komitmen yang pernah ada.

    Tentu saja pembangunan secara demokratis, damai dan berkomitmen tidak semudah membalik telapak tangan. Untuk itu lah dialog tidak boleh tersumbat. Satu pihak saja menutup ruang dialog dengan lawannya dan hanya berbicara sendiri dengan pendukungnya semata maka konflik sudah pasti terjadi. Siapa yang berani memulai bicara dengan lawannya dialah yang berhak digelar pribadi pendamai.

    Di sinilah dibutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya populis (meu aneuk muda india) melainkan juga komunikatif karena potensi perusak perdamaian paska sebuah perjanjian lebih banyak bermain di level atas ketimbang di akar rumput.

    Dengan demikian, apakah pantas manakala seruan menjaga perdamaian masih menggunakan terminologi Musuh Bersama? Pastinya, baliho di lintasan jalan T. Iskandar Ulee Kareng itu kini sudah berganti dengan baliho bergambar Kepala Rumah Sakit Jiwa yang meski sudah kadaluarsa tapi masih saja terpampang. Hom Hai![]

  • Bincang Politik Risman Bersama Akbar Tanjung: Sudah Tepat Golkar Tak Daftar Pilkada

    BANDA ACEH- Sebagai mantan Ketua Umum Golkar, Akbar Tanjung tahu benar peta politik nasional. Dialah yang kukuh mempertahankan Golkar agar tak oleng ketika rezim Soeharto runtuh. Kini, meski tak lagi menjabat Ketua Umum, Akbar adalah sesepuh yang sering dimintai pendapatnya di partai beringin itu. Sore tadi, Risman A Rahman berkesempatan mewawancarai Akbar Tanjung untuk The Atjeh Post: dari isu politik lokal hingga nasional. Berikut petikannya.

    Risman A Rahman: Kekuatan Partai Golkar di bawah pimpinan Aburizal Bakrie berhasil menggeser posisi Partai Demokrat. Hasil survey terakhir Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan Golkar mampu meraih 18,2 persen pemilih, sementara Demokrat 16,5 persen. Secara politik ini pertanda apa menurut Bang Akbar?

    Akbar Tanjung: Dengan adanya 18,2 % suara itu menandakan  Golkar mempunyai  peluang untuk meraih sebagai pemenang pada pemilu  2014, tapi kita harus dapat merawat dan memimpin iklim yang kondusif ini.

    Survei itu juga kita pahami sering kali persuasif untuk kondisi saat ini, tapi bisa saja untuk pemilu 2014 berubah. Tugas Golkar adalah bagaimana merawat iklim yang kondusif ini hingga 2014.

    Menurut saya, untuk merawat itu ada 3 hal penting, pertama konsolidasi harus terus dijaga dan diperjuangkan. Dijaga supaya infrastruktur organisasi itu bisa terus bisa berfungsi secara efekstif.

    Kedua, melaksanakan program kaderisasi secara terus menerus dan berkesinambungan hingga 2014, karena kaderisasi inilah yang akan mejadi kekuatan inti dan penggerak serta ujung tombak dari partai. Ketiga, Golkar harus secara proaktif menyuarakan aspirasi kepentingan-kepentingan rakyat dan masyarakat dimanapun, baik di pusat maupun didaerah. Ini juga sejalan dengan motto Golkar, yaitu Suara Golkar, Suara Rakyat.

    Jika ketiga hal ini bisa dilakukan dengan sungguh-sungguh maka Golkar akan dapat meraih sebagai pemenang pada pemilihan 2014.

    Dalam konteks keacehan, SBY beberapa waktu lalu menghimbau semua pihak menghormati kekhususan aceh dalam kontek undang-undang Pemerintahan Aceh, bagaimana Akbar menanggapi kisruh politik saat ini?

    Kita semua tentu menghormati semua produk-produk legislatif dalam bentuk perundang-undangan, baik undang-undang maupun qanun yang ada di Aceh, karena qanun itu pastilah representasi aspirasi daripada masyarakat aceh.

    Kedua, kita juga menginginkan Aceh damai. Dengan adanya suasana damai yang telah didapat Aceh dalam beberapa tahun ini harus kita jaga.Untuk meningkatkan kesejahteraan, pembangunan, kualitas SDM di Aceh itu hanya mungkin jika suasananya damai dan kondusif.

    Terus terang saja, saya menangkap suasana yang ada saat ini belum kondusif. suasana yang kondusif mendukung suasana iklim damai ini, itu lebih dilakukan prioritas. Karena kalau misalnya suasana damai yang dibutuhkan kelompok untuk menjamin kesejahteraan Aceh ke depan, saya pikir itu hal yang penting. Dan saya pikir tidak salah kalau itu kita jadikan prioritas.

    Terkait paradigma partai Golkar saat ini, kami dari pusat memahami betul apa langkah-langkah yang diambil partai Golkar di Aceh dengan tidak mengajukan calon, karena  kita lebih mementingkan suasana damai yang kondusif bagi kemajuan dan kesejahteraan Aceh.

    Dulu, abang pernah bilang di Prespektif Wimar, walaupun saya orang lama tapi saya bisa kasih harapan baru. Jika itu diterjemahkan pada saat ini kira-kira gagasan terbaru untuk Golkar seperti apa?

    Secara emosional saya tidak bisa dipisahkan dari Golkar apalagi Golkar dalam era reformasi, karena saya memahami betul bagaimana situasi dan kondisi yang kami hadapi pada tahun-tahun 1998 -1999.

    Golkar pada masa itu mengalami situasi yang amat berat, dimana Golkar dihujat dan dicaci maki, bahkan ditempat-tempat  tertentu Golkar ditekan secara fisik. Di mana kantor Golkar dirusak dan orang-orang Golkar dikejar-kejar, termasuk saya sendiri. Oleh karena itu saya tidak bisa lepas dari suasana itu.

    Karena itu saya sangat berkepentingan bahwa Golkar dalam era reformasi ini, tidak selalu mempunyai posisi yang signifikan dalam perpolitikan.

    Terus terang saja saya sedih pada tahun 2009 Golkar menurun, padahal tahun 1998-1999 betul-betul habis-habisan menjaga Golkar agar bisa bertahan, bisa sukses, dan alhamdulillah bisa menang.

    Maka untuk tahun 2014, saya dan saudara Abu Rizal sudah bertekad akan kembali memperjuangkan dengan  bersungguh-sunggguh agar Golkar kembali meraih sebagai pemenang.

    Bagaimana caranya? Saya sudah jelaskan 3 faktor tadi, dan kemudian sebagai kekuatan politik maka  ada 2 dimensi yang penting, yakni dimensi yang berkaitan dengan berkesinambungan dan dimensi yang berkaitan dengan pembaharuan.

    Berkesinambungan artinya prinsip-prinsip dasar yang menjadi dasar plafon partai Golkar yang harus terus kesinambungkan, tapi Golkar harus mampu menyesuaikan diri dengan suasana perubahan–perubahan. Untuk itu, Golkar pun kedepan nanti jika ada perubahan-perubahan harus bisa beradaptasi dalam perubahan-perubahan itu, dengan tidak menghilangkan prinsip-prinsip dasar daripada perjuangan Golkar.

    Baru-baru ini Bang Akbar mengatakan agar SBY tidak mencopot Fadel Muhammad dari menteri. Sayangnya, Fadel sudah dicopot. Apakah ini pertanda ada misteri politik di diri SBY atau di lingkungan SBY? Apakah Abang melihat SBY sedang mencoba menggoyang perahu Partai Golkar yang sedang stabil dan melaju kencang?

    Saya agak terkejut juga dengan pencopotan itu. Soalnya Fadel bukan menteri yang buruk. Prestasinya sebagai menteri cukup bagus. Untuk itu SBY perlu menjelaskan kenapa Fadel dicopot. Tentu saja jika tidak secara terbuka, SBY bisa menjelaskan secara langsung ke Fadel.

    Boleh tau nasehat terkini Abang terhadap Ical (Aburizal Bakrie)?

    Saya harapkan kepada Ical, dia betul-betul dia  bersama-sama dengan kami memajukan Golkar dan lebih fokus kepada upaya-upaya kita untuk menyukseskan partai, terutama sukses kaderisasi dan  sukses memperjuangkan aspirasi rakyat. Kalau kita bisa berfokus pada itu dalam satu dua tahun ini Insya Allah kita akan meraih sukses dalam pemilu 2014 dan juga pada pemilihan presiden nantinya.[]

    Source : Atjeh Post

    Posted with WordPress for BlackBerry.